Bye Canopus!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 December 2012

tetesan embun pagi memenuhi seluruh bagian kaca bis dengan rapih. Tak ada satu celah pun yang kering pagi ini. Semuanya terlihat damai, pojokan bis yang terisi banyak serakan sampah pun tak mengganggu penglihatan. Suasana yang tenang, udara yang segar, dan cahaya matahari semakin mendukung kedamaian dipagi yang cerah 2 desember 2012 ini. Akhirnya bis tiba di pemberhentian, rem mendadak membuat Vega yang sedang asik mendengarkan alunan merdu petikan piano waltz dari iPodnya terkejut. Gumaman tersirat dari mulutnya. Dengan perlahan ia berdiri dan meninggalkan kursi kedua dibelakang pengemudi yang dari tadi ia duduki, berjalan menuju pintu keluar, menginjakkan kakinya diatas aspal hitam yang mengkilat. Berjalan hingga akhirnya kepalanya merasa dingin karena dinaungi kanopi hijau yang melindungi pos pemberhentian bus ini.

“hey canopus! Aku kembali” suaranya yang lembut dengan senyum ceria yang tersungging dibibirnya menyiratkan makna bahwa ia sangat menantikan momen momen ini—bertemu teman teman lama, terutama canopus. Vega gadis cantik bertubuh mungil, memiliki rambut hitam pekat gelombang sebahu, dan mata coklat yang berkantung sangat cocok berpadu dengan gamis abu polos yang ia kenakan dengan celana jeans biru yang pas di badannya. Gelang berhuruf V diimbangi manikmanik colat kayu disekitarnya terpasang rapih dikanan tangan Vega, jam tangan berbentuk bintang polos berwarna ungu yang keci terpasang di kiri tangan anak ini Sekaligus tas selempang kulit polos yang ia gantungkan dibahu kanannya semakin membuat Vega terlihat match hari ini dengan gayanya yang powerfull.

**
Canopus, itu adalah sebuah pangkat bagi seseorang yang selama ini gue sukai—cintai—sayangi. Asta, perasaan itu muncul sangat lama setelah gue deket sama dia. Dulu, Asta pernah menanyakan apa kabar gue, apa yang gue lakuin, dan bercengkrama apapun yang kita fikirkan—setiap malem dateng. Itulah alasan gue memberi dia pangkat canopus, nama bintang paling terang kedua dilangit. Dia bersinar saat malam tiba.Menghiasi hari-hari gue walaupun hanya sesaat. Tapi, semua itu ga lama, harapan gue musnah untuk bisa lebih dekat dengan Asta setelah ia menghilang. Lingkungan kita memang sama, apapun hal kecil yang gue lakuin, pasti ada sangkut pautnya dengan Asta, itu titik lelah gue buat ngehindar dari dia yang bertingkah seakan dulu gapernah ada apaapa. Gapernah ada dia yang ngucapi selamat malem ke gue, atau apapun itu yang terus tersimpan rapih dimemory gue yang sempit ini. Bahkan itu makin bikin perasaan gue tumbuh. Perasaan itu tumbuh as a yarn which grow to be a cloth. Gue gabisa ngehindar, dan lama kelamaan, semua yang asta lakuin like an emptying hope—saat gue tau dia punya pacar. Ga ada cerita, atau curhatan dia. Tapi perasaan gue gapernah ilang buat dia—sama sekali. Hingga.Saat.Ini. As an admirer

**

Ia terus melangkah melewati arus para pejalan kaki pagi ini disisi jalan menuju sebuah tempat tujuan utamanya. Tanpa terasa ia akhirnya sampai disebuah tempat yang sudah penuh dengan beberapa wajah yang ia rindukan,takasing lagi bagi Vega melihat wajah wajah itu.mereka sedang bersanda gurau di ruang tengah rumah itu. Belum menyadari kedatangan tamu yang mereka tunggu.Vega berjalan menghampiri mereka dan “AAAAAAAAAAAAA VEGAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

**

Langkahku terhenti tepat didepan rumah yang tak asing lagi bagiku, wajah wajah yang tak asing lagi bagikupun membuat semua beban yang aku bawa terasa ringan.Tanpa permintaan siapapun aku siap menyunggingkan senyuman terindah yang aku miliki saat aku melihat mereka. Mereka masih belum sadar aku ada dibelakang mereka, mataku masih sibuk mengamati satu per satu wajah teman temanku yang sedang bercanda gurau didalam ruang tengah rumah ini berharap bintang canopus ku masih ada disini, ditempat ini, dengan dia yang dulu, dan perasaanku yang masih sama padanya hingga detik ini. Tapi, “AAAAAAAAAAAAAAAAAA VEGAAAAAAAAAAAAA” teriakan nyaring dara, cinta, halda, gres, andrea, andre, dio, ciko, canopusku, dan semua teman teman yang ada disana membuat kupingku yang cuman dua ini dan masih memasang headset yang tersambung iPod sangat sakit.
“Vegaaaa!!!! Lu ko makin tinggi!” komentar dara menghampiri ku dan dengan cepat memelukku erat, begitu pula halda dan andrea.
“aaaa kangen kaliaaaan tau” suaraku akhirnya keluar, masih bingung apa yang harus aku katakan—terlalu bahagia.
“idih, gimana disana? Mana oleholehnya ve? Welcome back here!!!!” halda menyambung dengan senang, menggenggam tanganku erat sampai aku tak bisa bernafas.
“nanti gue ceritain semuanya” aku masih tersenyum, bingung ingin melakukan apa melihat mereka yang antusias saat aku kembali, semua sibuk mengambil posisi, aku pun ditarik mereka duduk, suasana semakin hangat saat temanku yang paling cablak Dio bercerita dengan cara konyolnya, semua tertawa terbahak bahak, ah bintang canopusku. Dia duduk dengan tenang bersama dengan dio, andre dan yang lainnya dihadapanku. Tak ada yang berubah, dia masih sama dengan bintang canopusku dua tahun yang lalu tenang, cuek, dan senyum manis tersinggung dimulutnya yang kecil. dia belum menjabat tanganku sama sekali, mengucapkan selamat datang padaku, dia memang seperti itu. Tak pernah berubah. Dan mungkin akan selalu begini. Dan perasaanku yang tidak akan pernah berubah sejak 4 tahun lalu padanya. Mataku terus terpaku padanya, seakan seluruh dunia beku saat ini.Hanya aku yang dengan tenang menatapnya dengan puas, mungkin sudah terlalu lama aku tak melihatnya, senyumannya, celotehan cablaknya, dan caranya memperdulikanku terkadang sebagai seorang perempuan. Membalas semua kerinduanku dua tahun lalu yang meninggalkan kota ini untuk menuntut ilmu di kota keraton Yogyakarta. Akhirnya terbalaskan, melihat bintang canopusku yang bersinar selama aku mau, selama aku bisa, untuk sisa hari ini, hari yang cerah, hari yang damai.Tanpa ada satupun temantemanku—sahabatku yang tau tentang perasaan ini termasuk bintang canopusku sendiri.

**

Vega memang tidak merencanakan banyak acara untuk hari ini dihari kedatangannya pulang kebandung. Hanya ingin bercanda gurau bersama teman teman lamanya yang dulu sering melukis goresan di kanvas kehidupan vera. Masa remaja yang begitu indah, begitu penuh liku.
Suara adzan berkumandang, waktunya solat dzuhur tiba.Mereka berhenti sejenak dari suara bising dan teriakan teriakan kecil akibat kejailan kejailan dio yang menggema diruang tengah rumah dio ini. Vera, Cinta, Halda, Andrea, Gres, dan yang lainnya bergegas untuk mengambil air wudhu ke kamar kecil rumah dio yang sudah tak asing lagi bagi mereka karena terlalu sering bermain dirumah ini walau hanya untuk diam dan mendengarkan cerita masing masing dari mereka. Dipojokan rumah pintu krem yang ditengahnya terpampang kaca bergambar angsa yang menjadi kamar mandi dirumah dio dimasuki satu per satu dari mereka mengambil wudhu.
Vega berjalan menuju ruang musola disebelah kamar mandi tadi, dengan perlahan ia berjalan takut tergelincir karena kakinya yang masih basah,
“eh anak jogja mana oleh olehnya? Dih sombong nih” suara sindiran yang mengagetkan vega, tepat didepannya Asta—si bintang canopus vega berdiri bersandar ke dinding musola terlihat santai menanyakan itu pada vega yangsedang berjalan. Vega terhenti, sedikit kaget
“ta.. lu belum ngucapin selamat dateng ke gue— udah minta oleh oleh ajaaaa hee” jawab vega yang berdiri diam terpaku dihadapan Asta. Mungkin Vega sedikit terkejut, tapi dia cukup handal untuk menutupi kegugupannya, dan menutupi perasaannya saat berhadapan dengan bintang canopusnya itu.
“hahaha, okey. Welcome back Vega Zahra Hamdani!” suara tawa Asta begitu lembut, lalu ia menyodorkan tangannya ke hadapan Vega dengan santai. Mengartikan niatnya untuk menjabat tangan teman lamanya ini.
Vega sedikit terkejut, bingung, dan ada tersirat perasaan senang dalam dirinya. Dengan cepat ia membalas dengan tangan dan alis yang diangkat “sayang gue punya wudhu ta hehe, nanti aja ya. By the way, thanks for your greeting! Nice to hear that words from you” Vega pun meninggalkan Asta yang tangannya masih terangkat, vega menepuk bahu asta lalu melewatinya dan masuk musola. Sedangkan Asta masih terdiam, menyipitkan matanya, dan tersenyum.

**

Vega menatap jendela mushola rumah dio sambil melipat mukena yang baru saja ia gunakan. Melihat pemandangan jalanan depan rumah dio yang sangat tenang. Tiba-tiba mobil avanza putih melewati jalan pelan, vega melihatnya, jantungnya berhenti berdetak sesaat. Heran melihat mobil itu. Milik siapa mobil itupun vega tak tau tapi entah hatinya seakan tegang melihat mobil itu melewati jalan. Ia segera beristigfar, mengelus wajahnya yang sudah tidak basah, dan pergi meninggalkan mushola kembali keruang tengah rumah dio yang sudah penuh dengan temanteman perempuannya. Vega heran, taka da dio, canopus, dan laki laki lainnya?
“yang cowo pada kemana?” Tanya vega kebingungan
“itu abis nganter Asta keluar, dia kan mau pindah ga” jawab halda seadanya
“PINDAH?!” vega kaget, “kemanaaaa…” suaranya merendah, lemah mendengar asta pindah.
“iya asta mau pindah ke luar kota ga, ini udah dari lama ibunya kasih tau. tapi dia nyempetin maen dulu tadi. Emg tadi dia gabilang? ” jawab halda sekenanya lagi
“naek mobil putih tadi?” Tanya vega masih heran
“iya ga”
Perasaan vega tak bohong, perasaan yang ia rasakan lemas saat melihat mobil itu melewati jalan. Itu benar benar Asta. Asta pergi, Vega rasa badannya mau remuk, badannya lemas, tak kuat menompang lagi, nafasnya sulit ia kendalikan. Baru saja ia tersenyum bahagia kembali dari kota ia menuntut ilmu, melepas kerinduannya melihat bintang canopusnya. Tanpa hitungan jam bintang canopusnya pergi, meninggalkannya tanpa pamit. Tanpa satu celah pun vega tau apa yang ada dipikirannya kali ini. Vega tak kuasa memendam perasaannya, kacau, dia ingin marah pada temantemannya.
“kalian kenapa ga ada yang ngasih tau? gue kan baru dateng?” nadanya sedikit tinggi saat vega mengatakan ini, dia tak mampu membendung kekesalannya.
Semua yang ada disana, termasuk dio, andre, dan yang lainnya yang baru saja masuk dari teras halaman dio kaget mendengar suara vega yang bernada tinggi itu. Mereka bingung, baru pertama kali melihat vega semarah ini. Padahal Asta? Asta hanya seseorang yang biasa saja dihadapan Vega selama ini menurut mereka.
“ga, ikut gue yu” secepat kilat cinta menarik tangan vega dan membawanya ke dapur. Vega tak berdaya, ia hanya mengikuti kemana tangannya ditarik cinta.
“boleh gue Tanya sesuatu ke elu ga?”
“iya, sok aja ta, apaan?”
“ini soal.. Asta”
Vega kaget, baru menyadari perubahan drastis dirinya saat tau Asta pergi.Mungkin ini membuat sahabatnya ini curiga. Atau bahkan, jangan bilang kalau cinta bisa nebak kalo Vega suka sama Asta?
“kenapa ta?”
“terlalu mudah gue bisa tebak perasaan lu sekarang ga”cinta memulai pembicaraan “dan sikap elu gue liat lagi setelah beberapa tahun kita ga ketemu, disaat yang sama”
“gue ga ngerti apa yg lu maksud ta?” Vega gelagapan dan masih bingung
“lu sampe kapan mau tutupin perasaan lu itu dari Asta? Dari dua tahun yang lalu sebelum lu pergi ninggalin kita, gue tau kalo lu itu suka sama Asta ga, dan ternyata perasaan itu belum ilang kan sampe sekarang?”
“ta.. kenapa lu bisa….” Vega kaget, didalam benaknya ia termasuk seseorang yg handal menutupi perasaannya selama ini.
“Ga, sorry kalo gue gabisa bantu apa-apa.Maaf gue gabilang Asta mau pindah. Gue kira setelah dua tahun lu ninggalin tempat ini, lu udah ga ada rasa sama asta..tapi tingkah lu tadi cukup nunjukin bahwa lu masih sayang sama Asta sama halnya dengan dua tahun yang lalu. Maafin gue ga”
Vega menatap sahabatnya itu, tak mengerti apa yang harus ia keluarkan, matanya memerah, setetes demi setetes air mata meluncur dari mata mungilnya, tanpa panjang kata, ia sudah berada dalam pelukan Cinta, menumpahkan semua kekesalan, rindu yang dari dulu ia pendam sendiri, dengan sahabatnya yang tanpa ia duga mengetahui perasaannya pada Asta.
“gue udah cape ta, tapi perasaan ini gapernah ilang. Berjuta-juta orang jogja udah ngampirin gue. Tapi hati gue stuck in him. And he don’t know till now, till he gone and I don’t know when can I tell him about this feeling. Gue harus gimana ta ” semua itu keluar dari mulut vega, tanpa ragu cinta mendengarkannya, tersenyum pada sahabatnya yang sudah lusuh sembab oleh air mata. Dan kembali memeluknya.Mereka pun hanyut dalam pelukan. Ga ada suara vega yang merintih lagi sedih.
“yaudah, sekarang kita kerumah asta dulu ya, gue ada yang mau diambil dirumah Asta. Dio dititipin kunci sama mamanya asta ko”

**
Kamar ini kosong , terlihat luas, karena semua barang pemiliknya sudah tiada. Tempat tidur yang sudah tak diselimuti bedcover , Meja belajar yang dulu dipenuhi barang barang tak penting milik asta, Laptop, buku lusuh, hingga buku yang menurut Vega sangat berharga—buku ucapan ulang tahun Asta yang dibuat Vega dan teman temannya saat Asta melewati ulang tahunnya yang ke 15. Semuanya kini hanya digantikan oleh debu yang hari demi hari akan memenuhi meja ini. Pandangan Vega terhenti saat ia melihat pojokan kamar Asta, tempat Gitar kesayangannya selalu tersimpan rapih, yang dulu sering mereka semua mainkan bersama, dan membuat Vega sangat terkesima melihat gerakan lembut Asta saat memainkan gitarnya.Hingga Vega hingga kini menyimpan perasaan kagum pada diri Asta yang sulit ditebak itu. Itu dulu..semuanya sudah hilang. Bersamaan dengan semua barang barang milik asta yang sudah tak ada di tempat semula.

Vega kembali ke tempat meja belajar asta berdiri, menelusuri dengan matanya, dan tangannya tanpa izin membuka laci kecil yang slotnya sedikit macet itu.Didalam lemari itu ada secarik kertas putih kusam, polos.Entah kenapa Vega termenung melihat kertas itu. Mengambilnya..

“ga, ayo kita pulang. Buku nya udah ketemu” Cinta tibatiba masuk ke kamar Asta, mengagetkan Vega yang terlihat sedang berfikir itu.
“duluan keluar aja ta.. gue nyusul” jawab Vega.
“mm.. okey” Cinta pun bergegas keluar, mengerti maksud Vega. Yang mungkin ingin lebih lama mengingat kenangan lama yang dulu pernah mereka semua lewati bersama Asta. Yang bagi Vega mungking sangat berarti.
Vega mengambil bolpoin dari tasnya. Menyimpan Kertas kusam yang sedari tadi ia pegang ke meja belajar Asta.

————————————————————————-
‘Asta, thanks for being my inspiration. I like you, Without no one knowing. Admire you in every second. Saw you with another girl, and let my tears fell from my eyes cause you date with other girl. And now, you’re gone. I don’t even know your feeling yet. Bye ta. Finally I know that this is the end of us.Sometime.. I hate, when I know that I love you. But, I just let my self stand behind the moon.
Vega’
————————————————————————-
Tangan Vega tanpa sadar menulis kan kata-kata yang sebelumnya tak terfikirkan oleh Vega. Vega melihatnya, lega, ia segera memasukan secarik kertas tersebut. Kertas pengakuan Vega terhadap perasaannya sendiri pada Asta, yang entah kapan akan diketahui Asta suatu saat nanti jika ia kembali. Vega menatapnya sekali lagi, dan akhirnya iapun menutup laci itu.Ia mengerti bahwa pada akhirnya inilah yang ia rasakan. Setelah semua perjalannya yang dulu pernah ia lewati, Vega pun berharap suatu saat nanti kertas ini bisa berada ditangan Asta. Kapanpun itu.

“canopus, semoga kita bisa ketemu lagi” Vega bergegas keluar dari kamar itu, melewati pintu kayu jati berwarna coklat kamar asta, dan keluar melalui ruangtamu yang lengang dengan barang.Menutp pintu rumah Asta, memperhatikan Cinta mengunci Rumah itu. Deburan angin sore itu membuat matanya terkantuk, menyadari bahwa cuaca sangat bersahabat dengannya. Vega tersenyum, memandangi dahan dahan pohon yang ikut bergoyang megikuti irama angin, berjalan keluar dan menghilang dari sudut pagar rumah Asta yang kini sudah tergembok kuat pergi bersama cinta. Akhirnya Kisah penantiannya berakhir sore ini.

inspired from : my wonderful dream & canopus

Cerpen Karangan: Debi Zahirah Hariwijaya
Blog: http://debikembarandiba.blogspot.com

SMAN 22 Bandung
follow me
@DebiZahirah
tumblr
debikembarandiba.tumblr.com

to find my story or another poem just visit and follow
official blog
http://debikembarandiba.blogspot.com/
my poem blog
http://trytomakeart.blogspot.com/

thanks ^ ^
have a nice reading

Cerpen Bye Canopus! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mawar dan Vas Porselen

Oleh:
1 Januari 2008 Aku mengayuh sepedaku dengan kencang tak peduli walau jalan ini curam. Hari ini untuk pertama kalinya aku pergi menonton film dengan Carissa, gadis yang aku sukai.

Apa Harus Cantik (Part 1)

Oleh:
Namaku Cika Afriska. Aku punya kakak perempuan yang nggak cantik-cantik banget, namanya Diana. Kak Diana itu, walaupun nggak cantik-cantik banget, dia punya banyak mantan pacar. Sekarang, Kak Diana sedang

The Love Story of My Life

Oleh:
Sembari duduk di pinggir sungai, Aku menghabiskan waktu istirahat sekolah yang sangat membosankan, angin-angin genit mulai menghembus kecil seraya membisikan kepadaku bahwa selama aku masih bernafas, aku akan menunjukkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *