Cahaya Cinta Sejati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 9 February 2016

Impian adalah sebuah keinginan, bayangan masa depan yang diharapkan. Aku punya banyak sekali impian, dari yang sederhana sampai yang terasa mustahil untuk terwujud. Aku ingin membanggakan kedua orangtuaku dengan prestasi. Aku bermimpi menjadi seorang penulis terkenal suatu saat nanti, aku ingin pergi ke bulan memegang bintang, aku ingin tinggal di suatu planet selain bumi yang mana planet tersebut dihuni oleh mahluk-mahluk khayalanku, yaitu mahluk seperti manusia tetapi memiliki sayap yang indah dan bisa terbang, tumbuhan yang cantik dan berwarna-warni serta hewan-hewan yang lucu, dan dapat bicara layaknya manusia. Namun semua impianku masih di ujung pena.

Namaku Berliana Jingga Syakila, orang-orang biasa memanggilku Jingga. Aku tinggal di sebuah kota besar, kota metropolitan di negeri ini, yaa aku tinggal Jakarta. Aku tinggal bersama bunda, ayahku bekerja di luar negeri, pulangnya setahun sekali. Sekarang aku bersekolah di salah satu sekolah menengah atas di kota ini.
“Bunda, Jingga berangkat dulu yah Assalamualaikum,” aku berpamitan pada bunda.
“Waalaikumsalam, hati-hati yah sayang, belajar yang rajin, pulangnya jangan malem-malem,”
“Iya Bunda.” Aku pun bergegas pergi menuju ke sekolah.

Jam sudah menunjukkan pukul 06:45 tetapi tidak ada taksi yang kosong, semua taksi yang lewat penuh. Kalau seperti ini aku bisa terlambat ke sekolah.
“Yuk naik!” tiba-tiba ada menawarkan boncengan padaku, ternyata Boy, seniorku. Dia adalah cowok terpopuler di sekolahku. Aku pikir daripada aku telat ke sekolah tidak ada salahnya aku terima tawaran Boy.
“Thanks yah,”
“Santai ajaa kali, gue antar ke kelas yah?”
“Emm gak usah,”
“Gak apa-apa lagian kelas kita kan satu arah,”
“Ya udah deh.”

Boy menggandeng tanganku dan memberikan senyum manisnya. Aku merasa jantungku berdebar seribu kali lebih cepat dari biasanya. Tuhan, apakah ini yang disebut cinta. Tak terasa sudah sampai di depan kelasku. “Makasih yah udah nganterin sampe kelas, aku masuk dulu yah. Bye.” Kemudian aku masuk ke kelas dengan disambut hujanan pertanyaan dari teman-tamanku yang kepo.

“ciyee Jingga, lo jadian kapan sama Boy?” tanya Angel.
“Kok lo bisa sih jadian sama Boy, gimana ceritanya?” kata Tasya.
“Buat ngerayain jadian lo sama Boy, gimana kalau kita nonton tapi lo yang bayarin,” ajak Fifi.
“Haduuuh lebay banget sih lo semua, gue tuh belum jadian sama Boy. Tapi boleh juga tuh Fi tawaran lo, udah lama gua gak nonton,” jawabku.
“Ya udah nanti pulang sekolah kita nonton,”
“Oke..”

Tettetttt.. bel masuk berbunyi. Semua siswa masuk kelas dan mengikuti pelajaran sampai kelas usai. Setelah pulang sekolah, aku dan teman-teman pergi jalan ke mall membeli makanan, minuman, dan barang-barang yang sebenarnya tidak begitu perlu untuk dibeli. Kemudian kami nonton film di bioskop langganan kami. Tak terasa sudah larut malam, bunda pasti khawatir. Kami pun pulang ke rumah. Sampai di depan rumah, aku melihat bunda dari jandela, ia sedang tertidur di atas sofa, mungkin ia ketiduran karena nungguin aku pulang.

“Tok.. tok.. tok… Assalamualaikum,” beberapa kali aku mengetuk pintu dan akhirnya bunda terbangun dan membukakan pintu. “Waalaikumsalam, Jingga jam berapa ini? masuk!” Aku masuk dan disuruh duduk oleh bunda.
“Jingga, kamu nakal yah, jam berapa ini kenapa kamu baru pulang?” tanya bunda dengan raut muka penuh kecemasan.
“Maafin Jingga yah Bunda sayang tadi Jingga ada urusan sebentar, maafin yah. Bunda kayaknya cape banget, istirahat yuk di dalem.”

Keesokan harinya aku berangkat sekolah seperti biasa, yang membuat tidak biasa adalah Boy sudah ada di depan rumahku untuk menjemputku agar berangkat sekolah bareng. Semakin hari aku semakin deket sama Boy hingga akhirnya kita jadian. Tuhan, aku senang, bahagia sekali bisa merasakan anugerah luar biasa yang Engkau ciptakan yaitu cinta, semoga Boy adalah cinta sejatiku. Aku menikmati setiap detik, menit waktuku bersama Boy, aku sangat senang karena dia begitu perhatian, dia mengajakku pergi ke pesta ulang tahun temannya besok malam, tentu saja aku tidak bisa menolak ajakannya tersebut.

“Jingga, nanti kamu langsung pulang yah Bunda ingin makan malem bareng kamu,”
“Haduwwh Bunda, lain kali aja yah Bunda, Jingga ada urusan, Jingga berangkat sekolah dulu yah assalamualaikum,”
“iya tapi Jingga, Jinggaa… emmm waalaikumsalam.” Aku langsung bergegas pergi tanpa menghiraukan panggilan bunda.

Setelah pulang sekolah, aku dan Boy pergi ke mall untuk membeli gaun yang akan ku pakai nanti malam setelah selesai memilih gaun yang cocok kami pun makan di restoran dekat mall.
Kemudian aku pulang ke rumah Boy dan ganti baju kemudian kami pergi ke pesta itu. Aku dan Boy bagai sepasang putri dan pangeran dari negeri dongeng, sangat serasi kami berdansa dan menari dengan romantis. Di waktu yang sama bundaku di rumah sudah mempersiapkan makanan yang spesial untuk makan malam denganku, tapi sampai hari larut malam Jingga belum juga sampai di rumah. Bunda tetap menunggu Jingga pulang. Kring, kriing… telepon rumah berbunyi, kemudian bunda mengangkatnya.

“Apakah benar ini keluarga dari Berliana Jingga Syakila,”
“iya saya Ibunya, ada apa yaa?”
“Begini Bu, saudara Jingga baru saja mengalami kecelakaan bersama rekannya, sekarang keadaannya kritis dan harus segera dioperasi saya harap Ibu segera datang ke sini,”
Air mata tiada lagi dapat tertahankan dari kedua mata Bunda, dengan lutut bergetar dan tubuh lemas terkulai bunda pergi ke rumah sakit seorang diri.

“Dokter, dokter gimana keadaan anak saya dok?”
“Maaf Ibu, Ibu tenang dulu,”
“Bagaimana saya bisa tenang dok, anak saya bagaimana?”
“Begini Bu, Jingga mengalami luka yang sangat parah di bagian kakinya, dan harus dilakukan amputasi karena jika tidak ini akan membahayakan nyawanya Bu,”
“Apa?! amputasi dok?”

Bunda tidak punya pilihan lain, dia tidak mau kehilangan anaknya, dengan berat hati dia menyetujui agar Jingga diamputasi. Setelah 5 jam menunggu, akhirnya dokter ke luar dari ruang operasi.
“Dok gimana keadaan anak saya?” tanya bunda penuh kecemasan.
“Alhamdulillah operasinya berjalan dengan baik, keadaan Jingga sudah mulai membaik, sekarang dia sedang istirahat,”
“Saya boleh masuk dok?”
“Silahkan Bu,”

Sementara di lain ruangan, Boy sedang dirawat, dia hanya mengalami luka ringan saja. Rupanya setelah pulang dari pesta malam itu, mereka mengalami kecelakaan. Teman-teman Jingga menjenguk Jingga, tak lama kemudian matanya mulai terbuka. “Aku di mana?” tanya Jingga sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
“Kamu di rumah sakit sayang, kamu jangan banyak bergerak dulu,”
“Bunda, maafin Jingga Bunda, Jingga lupa malam itu adalah malam ulang tahun Bunda, maafin Jingga Bunda.”
“Iya sayang gak apa-apa.”

“Bunda, kenapa Jingga gak bisa ngerasain kaki Jingga, Bun?” Bunda hanya menunduk menahan air mata, ia tak sanggup melihat keadaan Jingga. Jingga membuka kain yang menutupi kakinya dan ia sangat terkejut melihat kaki kanannya sudah diamputasi. “Aaaaa.. gak mungkin, aku gak mau cacat!!”

Jingga histeris dan masih belum percaya dengan semua yang terjadi, bunda dan teman-temannya mencoba menenangkan namun ia begitu syok dengan keadaan ini. 3 minggu kemudian Jingga sudah ke luar dari rumah sakit dan bisa pulang ke rumah. Nampaknya Jingga masih depresi dengan keadaannya. Ditambah lagi Boy tidak pernah menjenguknya sama sekali, ia seolah hilang di bumi. Teman-teman Jingga pun enggan bermain dengannya lagi. Terakhir terdengar kabar bahwa sekarang Boy jadian dengan Fifi sahabat Jingga.

“Jingga, kamu harus ikhlas Nak, serahkan semua sama Tuhan,” ucap bunda. “Gak Bunda, Tuhan itu gak adil, Jingga gak mau jadi orang cacat, semua orang menjauhi Jingga memandang Jingga sebelah mata hanya karena sekarang Jingga cacat, Jingga benci jadi orang cacat!”
“Kamu gak boleh ngomong gitu sayang, Tuhan itu gak akan nguji seseorang di luar batas kemampuannya, jadi Jingga harus kuat, ambil hikmahnya saja, dengan keadaan ini Jingga jadi tahu mana orang yang benar-benar tulus sayang sama Jingga mana yang hanya memanfaatkan Jingga saja,”
“iya Bunda, makasih yah bunda bunda selalu ada buat Jingga, gak seperti cowok ber*ngsek itu,”
“huss jangan gitu, sekarang kamu harus semangat, masih banyak orang-orang yang keadaannya lebih buruk dari kamu tapi ia tetap bisa menjalankan hidupnya.”

Aku tidak tahu jika tidak ada bunda, mungkin aku tidak akan sanggup menjalani semua ini, Cahaya cinta sejati dari bundalah yang membuatku kuat dan tabah menerima semua ini, bertahan dengan keadaan yang pahit ini dan bersemangat menggapai semua impianku. Perlahan aku mulai membuka lembaran baru yang lebih baik, melupakan semua yang pernah terjadi dan menjadikannya sebuah pelajaran berharga.

Menulis adalah hobiku sekarang, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama bunda dan mengerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada hanya berhura-hura saja menghabiskan uang seperti dulu. Aku mulai nge-blog dan menulis beberapa artikel, cerpen serta novel. Kata bunda aku berbakat dan punya potensi jadi penulis profesional, aku hanya tertawa kecil, bunda berkata begitu karena ingin menyenangakan hatiku saja, pikirku.

Ternyata bunda mengirim tulisanku pada penerbit, dan mereka tertarik dengan tulisanku dan menawarkan untuk menerbitkan tulisanku. Tentu saja aku sangat bahagia mendengar hal itu. Setelah novel aku selesai diedit, kemudian besok adalah launching novel aku yang pertama, aku benar-benar tidak menyangka akhirnya aku bisa menjadi seorang penulis sungguhan dan ini semua berkat bunda, terima kasih bunda atas segala curahan kasih sayangmu engkaulah sumber cahaya cinta sejati yang membuatku tetap bersinar walaupun dalam keterbatasanku.

Cerpen Karangan: Fuji Astuti
Facebook: https://www.facebook.com/fujii27

Cerpen Cahaya Cinta Sejati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kedana dan Kedini

Oleh:
Di sebuah desa yang indah, hiduplah sebuah keluarga. Keluarga itu terdiri dari 3 orang, Ibu, Kedana dan Kedini. Kedana dan Kedini itu anak yang nakal. Pada suatu hari Ibu

Salah Orang

Oleh:
Satu tahun telah berlalu, tapi aku belum bisa melupakan Dani yang hampir tiga tahun mengisi hati ku. Rasa rindu pada sosok dia yang menyayangi aku dan keluargaku. Sampai sekarang

Antara Tugas dan Cinta Polri

Oleh:
Inilah sebuah kisah cinta dari salah seorang anggota POLRI, sebuah kisah cinta dimana harus ia bagi dengan tugasnya dalam mengabdi dalam negeri. Sebut dia Gufron, Muhammad Gufron Firdaus yang

Kesahatan itu Mahal Harganya

Oleh:
Nisa menarik nafas dalam-dalam. Pikirannya kosong menerawang ke langit. Dua mata pelajaran hari ini menguap begitu saja. Bahkan sampai jam terakhir, tidak ada satupun materi masuk ke otaknya. Otaknya

Di Tengah Hujan

Oleh:
Kenalin aku Aya duduk di bangku kelas 3 SMP, aku punya teman namanya Dana dia sama kaya aku kelas 3 SMP juga. Aku berteman dengannya sudah lama. Sejak kami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *