Call From The Past

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 1 March 2017

Untuk kesekian kalinya, aku merenggangkan badan dan menguap. Hari ini, pekerjaanku banyak sekali. Gara-gara sekretarisku cuti, aku harus mengerjakan semuanya sendirian.

“Miss, sudah larut, lebih baik Miss selesaikan pekerjaan Miss besok pagi. Miss harus istirahat,” lagi-lagi robot pelayanku mendatangi ruang kerjaku ini.

Yah, dia ada benarnya juga sih. Aku harus bangun pagi besok untuk menghadiri rapat di kantor pusat. Aku membereskan meja kerjaku dan beranjak meninggalkan ruang kerja itu.

“Terima kasih untuk saranmu. Aku akan tidur sekarang. Tolong buatkan aku kopi besok pagi,” kataku padanya.
“Tentu, Miss. Selamat tidur,” robot itu pun pergi ke “kamarnya”.

Aku menyalakan lampu tidur dan menyelinap di balik selimut. Malam ini hujan turun deras sekali dan membuat suasana menjadi dingin. Aku menutup mata dan mulai terlelap.

“Callissa…”

Sebuah suara yang lembut memanggil-manggil namaku.

“Aku sudah lama menunggumu, Callisa…”

Tunggu, rasanya aku kenal suara ini.

“Hei… Callisa? Ayo bangun!” Sebuah tangan yang dingin menyentuh kulitku.

Aku terperanjat dan langsung membuka mataku. Ruangan ini… bukan kamarku…

“Wanda?? Di mana kau?” Panggilku sambil mengucek-ngucek mataku. Wanda adalah robot pelayanku yang tadi malam menyuruhku untuk segera tidur.

“Hahahaha… aku bukan Wanda, Lissa. Kau pasti belum sadar sepenuhnya,” suara yang tadi membangunkanku terdengar lagi. Aku mengerjap-ngerjap untuk melihat seseorang yang sedang duduk di ujung ranjang. Seorang laki-laki berkulit pucat, berambut kelam, bermata abu-abu, dan memiliki wajah yang dingin namun cukup memesona.

“Siapa kau?”

Laki-laki itu berdiri dan menghampiriku. Dia membungkuk dan menatapku dari dekat. Jarak antara wajahnya dan wajahku hanya berkisar sekitar 1 jengkal saja.

“Kau yakin tidak mengenalku?” Senyum menggodanya tersungging.

“Tidak sedikit pun,” jawabku singkat.

“Yah… anggap saja aku adalah laki-laki tertampan sedunia dan kau adalah gadis yang beruntung bisa mendapatkan aku,” katanya dengan nada yang menurutku menyebalkan.

Aku menelengkan kepala. “Sungguh, aku tidak mengerti maksudmu.”

Dia tertawa lagi. Dia menarik tanganku dengan keras hingga aku berdiri dan jatuh tepat ke pelukannya.

“Hei!” Aku memukul tangannya dan berusaha melepaskan diri. “Akan kumasukkan kau ke penjara!”

“Atas dasar apa? Menggodamu?”

Aku mendengus kesal. “Anggaplah begitu. Aku ini direktur utama di perusahaan RPI dan aku adalah aset berharga mereka. Mereka akan melakukan apapun padamu.”

“Ini bukanlah masamu yang sudah canggih itu,” suaranya menggelitik telingaku. “Aku sudah menunggumu sejak lama, dari sebelum kau lahir ke dunia. Dan sekarang kau ada di sini tapi kau bahkan tidak mengenalku?”

“Berhenti bercanda. Aku harus menghadiri rapat penting hari ini!” Aku menyikut dadanya dan langsung menghindar darinya.

Laki-laki itu mengelus dadanya. “Pergilah, tapi suatu saat nanti, kaulah yang akan datang padaku.”

Seketika pandanganku menjadi kabur dan gelap begitu saja.

“Miss, bangun! Anda akan terlambat jika tidak segera bersiap-siap!” Kali ini terdengar suara Wanda.

Aku terlonjak dengan nafas terengah-engah. “Wanda, ini benar kau kan?”

“Tentu saja, Miss. Aku Wanda, pelayan pribadimu,” jawabnya singkat.

Aku mendesah lega. “Terima kasih sudah membangunkan aku. Aku akan mandi dulu.”

Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandiku. Mimpi tadi benar-benar menggangguku. Seusai mandi dan berpakaian, aku turun ke lantai 1 rumahku dan segera sarapan. Untungnya, Wanda menyiapkan sandwich salmon yang menggugah selera sehingga aku dapat melupakan mimpi itu sejenak.

Aku berangkat ke kantor pusat R.P.I dan segera masuk ke ruang rapat. Sejujurnya aku agak gugup. Rapat ini akan dihadiri oleh CEO RoboLite Group yang tidak pernah kutemui sebelumnya. Begitu masuk, aku benar-benar terperangah. Di tempat yang disediakan untuk CEO RoboLite Group, ada seorang laki-laki yang tidak asing bagiku. Dia adalah laki-laki yang ada di mimpiku semalam!

“Nah, karena Ms. Callissa sudah datang, bisa kita mulai rapatnya?” Tiba-tiba suaranya memecah keheningan ruangan itu.

Aku berusaha konsentrasi dan duduk di tempatku sendiri. “Si… silakan…” ujarku gugup.

“Tidak usah gugup, Ms. Callisa,” bisik laki-laki itu yang sialnya duduk tepat di sebelahku.

Seusai rapat, aku cepat-cepat pergi ke cafetaria kantor dan membeli secangkir teh hangat serta sebuah muffin blueberry. Setelah membayar, aku duduk di meja 2 kursi dan mulai menikmati camilan itu sembari membaca berita hari ini lewat ponselku. Saat sedang asyik membaca, terdengar suara deritan kursi di depanku. Aku mengangkat wajahku dan mendapati laki-laki sialan itu sedang duduk di depanku dengan senyum menggodanya.

“Wah.. wah.. apa kau tidak sarapan tadi pagi?” Katanya sambil setengah tertawa.

“Pukul 10, saatnya camilan pagi hari,” jawabku sekenanya. Aku menyeruput tehku lagi dan kembali asyik dengan ponselku.

“Riefal,” ujarnya tiba-tiba.

“Maaf?”

“Itu namaku,” jelasnya. “Aku yakin kau bahkan tidak tahu namaku.”

Aku hanya mengangkat bahu. “100 poin untukmu.”

Dia menarik ponselku dengan begitu cepat dan menaruhnya di atas meja. “Aku hanya sementara di sini. Kuharap kau juga bersiap-siap sebelum waktunya tiba.”

Aku menatapnya dengan tajam. “Oke, katakan apa maumu dan berhenti menggangguku!”

“Aku tidak sedang mengganggumu, Sayang. Dan yang aku inginkan hanyalah menjemputmu.”

Dia menjentikkan jarinya dan seketika orang-orang di cafe itu mematung, seolah-olah waktu telah berhenti.

“Ini tidak lucu. Berhentilah bermain-main!” Aku beranjak dari kursiku.

Riefal ikut berdiri dan mencegatku. Dia memegangi tanganku dan menariknya. “Sayangnya aku sedang tidak bermain.”

Sebuah sinar terang menyilaukan mataku. Dan saat aku membuka mata, aku berada di atas awan, melayang-layang sementara di bawahku, kehancuran ada di mana-mana. Gedung tempatku bekerja telah rata dengan tanah. Daerah itu seolah habis dilalap api dalam semalam.

“Ini yang akan terjadi jika kau tidak ikut bersamaku,” Riefal masih berada di sebelahku. “Kepergianmu menyebabkan ketidakseimbangan di alam ini.”

“A..apa maksudmu?”

“Kau adalah putri matahari, dan aku adalah pangeran bulan. Kau pergi dari tempatmu karena tidak terima dengan keputusan ayahmu yang ingin menghancurkan dunia manusia. Kau berniat untuk pergi ke dunia manusia dan menjadi manusia sungguhan agar ayahmu tidak menghancurkan dunia itu. Aku ada di sana saat itu. Aku sebagai tunanganmu berusaha mencegahmu, namun kau terjatuh ke dalam portal dengan ingatan terhapus. Selama bertahun-tahun, aku berusaha menemukan keberadaanmu. Dan sekarang, aku berhasil menemukanmu,” dia memegang tanganku lagi. “Tolong kembalilah, Callisa. Dalam beberapa hari ke depan, matahari akan menghanguskan dunia manusia karena tidak adanya penopang dari kekuatanmu. Keluargamu berusaha mempertahankan keseimbangan matahari agar dapat terus berfungsi seperti biasanya, tapi tentu saja itu tidak akan bertahan lama. Kumohon kembalilah, Putriku..”

Sekejap, aku ingat kembali tentang keluargaku yang sebenarnya dan segala hal yang sempat terhapus dalam ingatanku. Dan kini aku ingat tentang Riefal, putra raja Bulan yang juga merupakan sahabatku sejak kecil. Laki-laki yang sangat aku sayangi.

Aku balas menggenggam tangannya dengan kuat. Air mataku mulai mengalir. “Aku rindu padamu, Riefal.”

Riefal menarik pinggangku dengan lembut dan menyambutku dalam pelukannya. “ayo kita pulang.”

Cerpen Karangan: Charissa E
Facebook: Choco Caramella

Cerpen Call From The Past merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


In Love With Solmed

Oleh:
“Ika, pliss.. susu strawberry gue jangan diminum donggg.. ahh lo mahh..” kata gue. Hai gue Felis . Si Ika tadi itu solmed gue dari tk sampe sekarang nama asinya

Cintaku Nyangkut di Kantong Kresek

Oleh:
Desiran angin menggerak-gerakkan benda itu, butiran tetes air hujan satu persatu jatuh dari benda yang kami sebut kantong kresek yang sebenarnya adalah sebuah kantong plastik hitam. Benda itu sesekali

Langit Senja Kita

Oleh:
Aku selalu ngak mengerti kenapa aldora selalu melihat ke arah langit sore setiap kami pulang rapat OSIS di sore hari. Tapi aku ngak pernah melewatkan memperhatikannya dengan kegiatannya itu

Aku Pulang

Oleh:
Aku kembali! Di tempat inilah aku dilahirkan. Semua berawal dari tempat ini. Sudah lama aku tinggal di kota orang. Tetapi, tak sekalipun aku melupakan kotaku ini. Banyak kenangan yang

What’s Wrong With Me

Oleh:
“Pagi, Von,” sapa Farrel. “Lagi apa, sih? kayaknya fokus banget.” “gue lagi ngerjain makalah biologi, nih, harus dikumpulin hari ini. Ugh!” gerutu Ivone. “Oh, mau gue bantu? Kelas gue

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Call From The Past”

  1. Tanda Tanya Tampa Titik says:

    Great cerpen

  2. Charissa says:

    Thank you;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *