Canda Dalam Tangis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 7 April 2018

Perlahan kubuka lembar buku usang, dengan hiasan debu dan sedikit ukiran dari hewan yang sedikit menggerogoti halaman sampul buku itu. Dalam kenangan masa lalu, ingatan serasa terbuka kembali dikala untaikan kata mulai terbaca, mata yang dengan seksama memandang untaian huruf perlahan mulai menitikkan air mata.

Memori akan masa itu tak pernah sedikitpun terusik, kini bagai mengorek luka lama, membuka kembali kotak waktu yang sudah lama terpendam di dasar ingatan. Sejak dahulu tak seorang pun dapat meramu obat yang dapat pengobati penyesalan, berbagai imajinasi dalam pikiran mengenai mesin waktupun hanya berakhir dalam imajinasi.

Mata yang hanya menitikkan air mata, kini diiringi dengan rasa sakit yang teramat di dada. Sesak… Hingga bernapas merupakan sebuat pemaksaan.. Jari jemariku mulai bergetar, lembaran kertas yang usang kini bak barbel yang begitu berat.

Kata demi kata, kalimat mulai terangkai, pikiran pun mulai bekerja, membuka memori itu kembali. Aku bukan ahli hipnotis, yang sewaktu waktu dapat bermain dengan pikiran, membuang begitu saja, menggangap itu tiada artinya, ingin mata ini terpejam, namun kenangan akan memori itu begitu kuat, mata yang kini tak lagi bersinar karena tertutup oleh airmata itu tak dapat berhenti walau sekejap. Memandang tulisan dalam buku usang itu. Masih teringat jelas tulisan pada bagian paling berharga dalam sebuah ingatan.

Salatiga, 12 maret 2006
Sejuk udara pagi yang terasa, asap tipis kan terlihat dikala kau menghembuskan nafas, daun masing berhiaskan butiran air hujan. Ketentraman yang luar biasa atas nikmat yang telah diberikanNya kepada kita. Nafas ini adalah bukti nyata dari itu. Setidaknya itu yang selalu ada dalam pikiranku,

Perlahan kaki mulai melangkah, halaman sebuah rumah sederhana kini yang kupijak, mulai tercium aroma bunya anggrek yang dengan indahnya menghiasi batang pohon mangga, pohon yang kokoh dengan daun yang begitu lebat. perlahan kudekati pagar kayu yang terbuat dari batang bambu, tersusun rapi dan dengan mantapnya berdiri di atas tanah. Ada kisah di dalamnya, pikirku sambil Nampak secuil senyuman di bibir.

Perlahan mulai kugerakkan tanganku ke atas, sembari merenggangkan sendi sendi yang kaku karena tidur semalam. Kembali kurasakan kenikmatan dalam hal yang kecil itu. Nafas panjang kuhirup, haaaaaah… alangkah nikmat udara pagi ini.

Sejenak ku teringat, telah tiba waktu untuk berangkat menuntut ilmu, masa depan ada di tanganku, walau tak sepenuhya ilmu di sana ada, setidaknya bumbu lain, seperti masakan tak hanya ada asin namun manis dan gurih di dalamnya. Hari itu hari biasa dalam kehidupanku, berjalan dengan datar tanpa ada lubang maupun tikungan di dalamnya. Dia, seorang teman yang tentunya dalam tujuan yang sama berada di sekolah ini, menuntut ilmu, dan membanggakan orangtua. Dia menatapku penuh tanya, dan aku pun demikian, bertanya mengapa dia menatapku dengan tatapan penuh tanya. Oh… sejenak ku teringat, beberapa hari yang lalu ku menyatakan perasaan yang tentutya tidak sebenarnya kepadanya. Dengan ringan tanpa beban mulut ini berkata kalau itu hanya becanda, dan kami pun hanya tertawa.

Semarang, 29 oktober 2007
Beberapa bulan ini kakiku berada di sebuah tahapan baru dalam pendidikanku, pendidikan tinggi yang biasa kita sebut universitas. Di sini kumulai langkahku, belajar dan melakukan hal yang lain yang tentunya ingin aku lakukan. Masih sama, beberapa teman semasa sekolah juga ada di sini, dan DIA juga ada di universitas ini.

Semarang, 1 November 2007
Hidup berjalan dengan biasa, tanpa ada yang terukir dengan tinta berbeda pada hari ini. Beberapa minggu ku tak pulang, bukan rindu yang membuatku ingin pulang tapi lebih karena penyokong kehidupanku di sini sudah mulai menipis, setidaknya itu yang ada dalam pikirku. Siang itu, DIA ingin ikut serta pulang denganku. Baik, mungkin dapat mengurangi rasa bosanku dalam perjalanan, dengan sedikit obrolan basa basi kumulai berbincang dengan dia, sedikit bayang senyum dapat kulihat lewat kaca sepion motorku. Senyum yang dengan mudah akan terbayang ketika ku menutup mata.

Sesuatu yang tidak pernah saya inginkan terjadi, mungkin bukan hari baikku, aku dan dia terjatuh dan membuat kerugian pada orang lain, kehilangan fokus sekejap yang kurasakan mengakibatkan hal itu terjadi, namun dibalik itu ada hal yang patut untuk disyukuri, badan ini tanpa luka sedikitpun dan dia hanya mengalami sedikit luka gores yang tak ingin kuliat ada di jari lentiknya.

Waktu berjalan dan tetap kujalankan motorku, meski telah banyak waktu yang terbuang dalam kejadian itu, lelah, sangat lelah kurasakan, namun tetap kupaksakan mata dan tangan untuk menjalankan roda roda itu.

Hingga rasa syukur tiada tara ketika kami berhasil menginjakkan kaki pada kampung halaman kami, tubuh dan pikiranku sudah tak mampu lagi mengantarkannya hingga ke depan pintu rumah, dengan berat Hati ku harus melepas Dia pulang seorang diri karena memang rumah kami berbeda arah.

Cerpen Karangan: Wiwid Hanif
Facebook: wiwid haniffudin

Cerpen Canda Dalam Tangis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Awal Ku Mengenal Cinta

Oleh:
Awal pertama aku menjadi anak SMP aku beserta teman-temanku yang lain melanjutkan ke sekolahan yang berbeda-beda, ada yang di SMP negeri, swasta dan ada juga yang di madrasah tsanawiyah.

Penyesalan Cinta

Oleh:
“Esti, kamu harus move on dan kembali seperti Esti yang dulu” pinta Rina. “Gak mungkin bisa Rin, aku dan Alan itu sudah pacaran selama 5 tahun dan dia mengkhianati

Popeye For Naura

Oleh:
“Tangannya yang halus dengan hati-hati membelai tubuhku, aku terhanyut bersama senandung merdunya, statusnya tak membuatku tenggelam akan jalannya, dia terus memberitahuku betapa pentingnya arti menghargai, aku pun meninggalkannya dengan

Keterbatasan Cinta

Oleh:
Zahra terbangun dari tidurnya, Ketika hendak keluar tiba-tiba HP Zahra berbunyi, dan dia sudah tau pasti dari Nathan, dan memang benar itu pesan dari Nathan. Nathan Prince: Selamat pagi

Senja Yang Kedua

Oleh:
Mentari senja di pingir pantai menjadi kisah hidupku yang indah dengan lelaki yang kusayang, saat itu sunset menyinari tubuhku dan menjadi saksi kisah cintaku. Awalnya kita bertemu pada acara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *