Catatan Harian Si Angsa Hitam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 15 May 2017

Makassar, Senin, 2015.
Pagi menyapa wajah mengantukku yang nongol di jendela. Matahari belum sepenuhnya terbit, ternyata masih pukul 08;30. “What?!! Gua kuliahnya jam 08;15. Tapi, mataharinya kok belum nampak. Mungkin masih tidur” ucapku sembari tersenyum dan melakukan beberapa gerakan pemanasan tubuh. “Goblok, goblok, makanya jangan dipelihara gobloknya” gerutuku pada diri sendiri. Segera kuambil langkah seribu menuju kamar mandi. “Oh, Tuhan kasihanilah hambamu yang tengil ini semoga aku tidak telat, amin” ucapku hikmat, kemudian memutar keran air. Bunyi khas air keluar dari kran yang sudah kubuka tidak terdengar.
Saudara-saudara seperjuangan, sebangsa dan setanah air. Pagi ini air di kostku mengalami kemacetan panjang sekitar 13 meter. “Saya masih belum tahu apa penyebab macetnya air itu. Namun, kemungkinan besar penyebabnya bisa jadi karena tunggakan yang belum sepenuhnya dibayar” tegas Bapak pemilik kost ‘Pondok Tonggak’. Namanya pak Sondak. Keadaan ini bila dibiarkan terus menerus tanpa ada campur tangan dari pihak yang berwenang maka, bisa dipastikan bahwa kami -sekitar 10 orang anak kuliah akan berangkat ke kampus tanpa melakukan ritual umum yaitu mandi. But, who’s care!

Aku melangkah mantap menuju ke kampus. Sebuah kampus swasta yang baru-baru ini menyabet gelar kampus swasta terbaik. Kususuri gang-gang sambil sesekali bersenandung dan menyapa beberapa kucing yang berpapasan denganku. Ayolah, jangan kalian menganggapku aneh. Aku hanya mengaplikasikan sila ke tiga dari Pancasila ke dalam kehidupan sehari-hari. Aku mencintai perbedaan, dan menghargai sesama penghuni bangsa ini. Senandungku hilang ditelan asap kendaraan. Kini aku harus menunggu para monyet yang sedang beratraksi ria. Macet lagi. Mengertilah monyet-monyet kecil, imut, manis, berbulu dan lincah. Aku harus ke kampus dan kalian seenaknya memakai jalan setapak ini sebagai tempat sirkus? Ah, maksudku tempat atraksi kalian. Lagipula hari masih terlalu dini untuk kalian bekerja. Monyet-monyet ini telah melemahkanku.

Anganku melayang tinggi meliuk-liuk di udara, kelilipan asap kendaraan dan bertarung melawan angin. Meninggalkan aku yang setia berdiri, menunggu. Hampir satu jam, akhirnya monyet-monyet itu mengakhiri kegiatannya dengan wajah sumringah. Aku segera mempercepat langkah setelah merogoh kocek demi membayar monyet-monyet itu. Padahal aku hanya dipaksa menonton. Huh! Sama-sama monyet nakal, uang makanku berkurang dua ribu rupiah.

Gerbang kampusku tercinta sudah di depan mata. Dengan perasaan bangga dan berbunga-bunga serta lapar yang mulai melanda, aku memasuki kawasan kampus dengan wajah datar seperti biasa. Tak ku pedulikan angin yang memainkan anak rambutku, atau beberapa pasang mata yang terpaksa harus menatapku. Pukul 10;05 terlambatlah sudah diriku. “Mata kuliah pertama telah berakhir bahagia dengan beberapa tugas yang menemaninya sepanjang semester” begitulah kira-kira maksud dari ucapan sahabatku Jully. “Baiklah. Aku akan mengisi mata kuliah pertamaku di kantin. Para cacing sedang melakukan pertunjukkan di ususku, kawan” ucapku sumringah. Jully hanya nyengir kancil mendengar penuturanku yang menurutnya terlalu jujur untuk seorang gadis kurus sepertiku. Oh my God, rasanya aku akan menyumpal mulutnya dengan tahu isi setengah matang, atau sambal sukun mentah. Sahabatku itu memang labil. Ketika aku berkata bohong dia akan marah besar, dan apabila diriku berkata jujur dia akan marah kecil. But, it isn’t the problem.

Seperti itulah ceritaku hari ini. Setelah kantin selesai kujenguk. Aku akan menjenguk si perpustakaan yang paling kucinta. Aku memang ke kampus tidak mandi dan hanya menggunakan tissu basah. Tapi siapa yang peduli? Lagipula aku tak pernah berminat untuk memiliki seorang pacar. Aku normal. Hanya saja, aku telah menyukai seseorang.

Sekian.

Cerpen Karangan: ALis W

Cerpen Catatan Harian Si Angsa Hitam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bersamaku Di Istana Bintang

Oleh:
Mobil berwarna silver itu melaju kencang di jalanan yang cukup lengang. Di dalamnya seorang gadis berada di balik kemudi mobil itu. Hujan semakin deras mengguyur. Isak tangisnya tak juga

Hujan

Oleh:
Rintik hujan mulai membasahi atap rumahku… entahlah, mungkin dia sudah tidak kuat menampung segala air yang ada di dalam dirinya… dan mulai menumpahkan segalanya ke atas bumi. Aku ingin

Move On

Oleh:
Aku merebahkan diri di atas tempat tidurku, terasa lemah semua anggota tubuhku. Tiba-tiba saja hati sayu pilu dan menangis sendirian, entah mengapa tiba-tiba terasa sangat rindu pada Faisal, terasa

Khitbahlah Aku!

Oleh:
Brukk…!!! Tubuhku terpental jauh kepinggiran jalan dan serasa tubuhku kesakitan karena tubrukan tubuhnya. namun lelaki di depanku ini hanya mengulum senyum sambil menggaruk-garuk kepalanya. “kamu siapa sih?” tanyaku padanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *