Catatan Harian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 June 2017

Masih kusimpan kisah yang indah dalam balutan kertas putih. Warna sampulnya yang manis membuat aku selalu ingin menggenggamnya. Sudah lama aku tak membuka jilidnya, Catatan yang bertempat di sana melukis bayangan tentang kisahku dulu. Aku tak begitu banyak mengingat setiap kejadian itu. Tapi karena aku tahu ini takkan mudah diingat dan sulit dilupakan, Aku menyimpannya dalam deretan kata yang tak mampu lagi dicerna. Tulisannya yang mulai kusam dan debu yang menghiasi setiap sudutnya itu mengingatkanku padamu yang kini selalu di sampingku.

Desember 2017…
Terik matahari menyengat kulitku yang tengah berjalan di antara trotoar. Ramainya orang di kota ini membuat aku sulit mendapatkan pekerjaan. Setelah sekian lama aku menunggu. Akhirnya aku diterima di sebuah Perusahaan, Kaw KIM Karawang. Aku tahu ini hanya keberuntungan yang tak boleh kulewatkan, Aku tak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Orangtuaku tergolong sederhana. Namaku Jifa, Aku tak begitu pandai berbicara. Hingga suatu hari aku bertekad untuk lebih berani berbicara agar tak selalu dihina. Hari-hari yang kulewati tak begitu indah, Sebab setelah kecelakaan bus yang merenggut nyawa kedua orangtuaku membuat aku kehilangan semangat hidup. Uang asuransi yang mereka tinggalkan membuat aku sedikit bisa menjalani kehidupan yang amat perih tanpa orangtua dan saudara. Hanya rumah ini yang selalu membuatku mengingat mereka.

Sejak dulu, Aku selalu ingin punya teman. Di sekolah, SMA NEGERI 1 KARAWANG. Semua teman menjauhiku karena aku hanya orang miskin. Aku bisa sekolah di sana pun karena Beasiswa. Terkadang mereka mendekatiku hanya agar aku mengerjakan soal-soal mereka. Padahal yang kutahu, Siswa di sana tergolong siswa berprestasi. Aku begitu muak hidup di antara mereka, Orang-orang yang tak pernah menghargai orang lain. Aku pun sama, Tak pernah ingin terlahir dari keluarga tak mampu. Aku juga ingin seperti mereka, Hidup dengan tenang tanpa hinaan. Tapi aku harus selalu berjuang demi keluargaku, Karena hanya aku yang mereka miliki. Andai saja aku mempunyai seorang saudara yang selalu siap membantu. Membagi beban dengannya. Ini sangat mustahil!

Berbulan-bulan aku bekerja di sana, Semua jerih payahku habis untuk keperluan hidupku sehari-hari. Sisanya kutabung di sebuah Bank. Lelah yang selama ini hinggap di seluruh tubuh, Pikiran yang tak habis-habisnya dan kesepian yang bersarang di sini. Aku membunuhnya dengan tawa dan senyum palsu. Aku tak ingat berapa kali aku terjatuh dan bangkit lagi. Tak ada satu pun orang yang mau peduli.

Keesokan pagi…
Seperti biasa, Setelah usai sarapan dengan mie instan. Aku bergegas pergi dari rumah dengan menggunakan motor peninggalan ayah. Meskipun terlihat tak layak pakai, Mesinnya masih bagus dan untuk orang seperti aku mengapa harus malu? Rumahku cukup jauh dari tempat aku bekerja. Belum lagi kemacetan yang sering terjadi menyita waktu mengharuskan aku berangkat lebih pagi. Tempat kerja yang seharusnya menjadi surga bagiku terlihat seperti neraka. Karyawan yang datang terlambat dihitung bekerja setengah hari. Mencari pekerjaan memang susah, Tapi apakah harus mereka memperlakukan kami seperti ini? Tak cukupkah Kami hidup menjadi budak yang takut akan banyaknya peraturan. Ingin untung tapi tak mau rugi. Aku selalu mengeluh karena beban derita yang kutanggung sendiri. Apa ini yang disebut yang Maha Adil? Bahkan sakit pun mereka tak peduli yang penting Kami tetap bekerja, Belum lagi lembur setiap hari tapi gaji tak sepadan. Ingin sekali aku melempari mereka dengan kotoran ayam, Orang kaya memang selalu seenaknya sendiri. Apa tuhan tahu tentang ini? Tak adakah niatnya untuk mengutuk mereka?.

Saat di tengah perjalanan pulang…
“Aaaaaaahhhhh” Aku menabrak seseorang. “Kamu tak apa-apa? Cepat bangun, Apa kamu terluka” Tanyaku, “Aaaaaaaah iya, Kepalaku sakit”. “Cepatlah, Kita harus segera ke rumah sakit”. “Ah ti tidak usah, Bawa aku ke rumahmu. Cepat, Seseorang mengejarku” Katanya, “Ah aku tidak mau. Aku tidak mengenalmu”. “Kalau kamu tidak mau, Aku akan melaporkanmu ke polisi” Ancamnya, “Ah baiklah-baiklah. Cepat naik”.

Sesampainya di rumah…
“Sebenarnya kamu ini siapa? Apa kepalamu masih sakit?”. Tanyaku “Namaku fahri, Iya kepalaku masih sakit. Apa aku boleh tinggal di sini bersamamu? Sepertinya kamu tinggal sendiri”. (Sepertinya Aku harus berpura-pura sakit). “Memangnya orangtuamu tak akan mencarimu? Kamu sudah gila ya? Berapa umurmu? Kamu dikejar siapa tadi?” Tanyaku menyelidik, “Aku sudah tak punya orangtua, Pertanyaanmu banyak sekali. Kepalaku tambah sakit”. Katanya. “Ya sudahlah kamu boleh tinggal di sini, Tapi hanya hari ini saja”. “Tolonglah aku, Ada yang ingin membunuhku. Aku ingin bersembunyi di sini. Lagipula sepertinya kamu lebih tua dariku, Jadikan aku adikmu” Katanya, “Haah, Adik?” (Sejak dulu, Aku memang menginginkan seorang adik. Apa aku iyakan saja, Tapi apa ini tak apa? Apa kata orang nanti?). “Baiklah, Tapi jawab semua pertanyaanku tadi. Maka aku akan mempertimbangkannya” Kataku. “Aku ini sebenarnya sengaja menabrakkan diri, Agar kamu mau menolongku. Kepalaku juga tidak sakit. Hanya aku sedikit lelah, Orang yang mengejarku memang benar ada. Dia ingin membunuhku. Aku ini masih murid SMA, Umurku 16 tahun. Kalau kakak ini siapa?” Tanyanya. “Omong kosong apa? Kau baru saja menipuku, Bagaimana bisa aku percaya ada yang ingin membunuhmu. Terus mengapa harus aku yang kamu jadikan korban? Kamu penipu yang hanya ingin mengambil barang-barangku ya?”. “Enak saja, Aku ini cowok keren. Mana mungkin aku seorang penipu. Banyak perempuan yang tergila-gila padaku. Selain tampan aku ini kaya, Untuk apa aku mau tinggal di rumah sejelek ini? Aku begini karena aku butuh bantuanmu, Tolonglah kak”. Katanya lagi, “Ih amit-amit deh ini anak. Jangan panggil aku kakak, Panggil aku jifa. Baiklah, Bodo amat sama kisah hidupmu. Aku capek, Aku mau istirahat. Awas saja kalau kamu menggangguku dan macam-macam. Aku giling kamu”. “Ah iya deh, Aku janji tak akan mengganggumu. Kamu lebih seram darinya. Selamat beristirahat jifa. Semoga kamu mau menerimaku sebagai adikmu” Katanya.

Aku pun merebahkan tubuhku dan bergegas tidur. Hari ini sangat melelahkan, Untung saja aku selalu merapihkan kamar ayah dan ibu sehingga anak itu bisa tidur di sana. Anak itu sepertinya masih polos dan berkata jujur, Apa salahnya aku mempercayainya? Lagipula sepertinya ini menyenangkan. Aku mempunyai seorang adik!

“Bangunnnnnn kak, Banguuuuunnn”. “Arggghhhhhh kamu ini, Ngapain di kamarku? Keluaaaarrrrr”. “Aaaku ini kan adikmu, Aku hanya ingin membangunkanmu. Ini sudah siang”. “Apa? Apa kamu bilang, Jam berapa sekarang?”. “Jam 6 kak”. “Apa? Haaaaaaahhh kenapa kamu baru membangunkanku sekarang? Jangan panggil aku kakaaaaak. Aku sepertinya sudah gila. Itu karena kamu”. “Kenapa karena aku jifa? Kenapa kamu berteriak-teriak seperti itu? Aku merasa terhina. Aku belum pernah diomeli begitu. Hiks hiks”. “Ah sudah-sudah jangan nangis, Aku telat tau. Kamu manja sekali sih”. “Hiks hiks, Mamaaaaa aaku ingin mama pulang”. (Ini anak, Merepotkan sekali). “Fahri, Aku minta maaf. Sudah ya, Jangan nangis lagi. Aku janji deh gak akan galak lagi sama kamu. Sampai kapanpun mamamu takkan pulang”. “Aaaahhh sudahlah fahri aku telaaaaatttt”.

Sial, Kenapa aku memimpikan anak itu? Aku juga sulit sekali tidur karena terus memikirkannya. Siapa yang tega ingin membunuhnya? Sepanjang perjalanan, Aku selalu membayanginya.

“Wah wah wah, Lihat. Kau terlambat jifa. Hari ini kau dihitung bekerja setengah hari ya”. “Maaf pak, Maafkan saya. Tolong pak jangan begitu, Saya kan cuma telat setengah jam. Tolonglah, Kasihani saya pak”. “Tidak jifa, Ini sudah peraturan, Kau pikir ini perusahaan punyamu dan mulai minggu depan semua karyawan masuk pukul 6 pagi”. “Kau gila ya pak, Perusahaan macam apa ini? Apa karena saya miskin terus kalian bisa-bisanya membuat peraturan seperti itu. Saya ini bukan robot”. “Bicara apa kau jifa? Kau mau dipecat hah, Dasar orang miskin tidak tahu diri”. Aku menampar si tua bangka itu. “Brengsek kau jifa, Kau akan menyesal”. “Saya tak akan menyesal dasar tua bangka, Saya akan mengundurkan diri. Tak perlu dipecat”. “Hah pergilah anak tidak tahu sopan santun sebelum aku membunuhmu”.

Hari ini aku sangat sial, Baru saja setengah bulan sebelum kontraknya habis aku sudah kehilangan pekerjaanku. Dunia ini sungguh kejam, Begitu menurutku. “Jifa kamu sudah pulang”. Tanyanya “Aku mengundurkan diri, Mereka menghinaku. Panggil aku kakak”. “Kamu ini aneh, Setelah aku ingin memanggilmu jifa kamu malah menyuruhku memanggil kakak”. “Cepatlah, Jangan kurang ajar seperti itu”. “Tidak mau, Kamu ini! lalu kalau kamu tidak bekerja. Kita mau makan dari mana?”. “Terserah, Aku akan mencari pekerjaan lain”.

Hari-hari yang kelam kulewati dengannya. Hingga suatu hari, Aku diterima bekerja di sebuah tempat karaoke. “Apa? Yeeeee kamu sudah dapat pekerjaan jifa. Kita bisa makan enak dong. Kamu bekerja di mana?” Tanyanya. “Di perusahaan, Sudahlah kamu tidak perlu tau”. Pekerjaan seperti itu tak mudah aku jalani. Perlu banyak kesabaran menghadapi laki-laki jal*ng yang hanya memikirkan kesenangan. “Dasar laki-laki mes*m”. (Plaaaaakkk) laki-laki itu menampar dan menjenggut rambutku. “Perempuan jal*ng, Beraninya kau padaku. Kau akan merasakan akibatnya”. “Panggil managernya”.

“Jifa, Seharusnya kau harus tahan. Kau harus kuat jika masih ingin bekerja di sini”. “Maafkan aku madam, Jangan pecat aku. Aku hanya tidak ingin direndahkan. Aku harus menghidupi adikku. Dia sangat senang aku sudah bekerja” Kataku “Baik-baiklah terhadap mereka. Kau sudah bekerja cukup bagus. Jangan diulangi”. Aku sudah tak kuat lagi menjalani hidup, Kalau bukan karenanya mungkin aku sudah mengakhiri hidupku. Aku harus berjuang demi adikku.

“Jifa, Kenapa dengan mukamu? Kamu diganggu seseorang? Siapa? Beritahu aku, Akan aku hajar dia”. “Tidak fahri, Aku hanya terjatuh”. “Terjatuh katamu? Tidak hanya hari ini kamu seperti ini. Aku sangat menyayangimu. Jangan bohong padaku”. “Fahri, Aku juga menyayangimu. Kamu adikku satu-satunya. Sebaiknya mulai saat ini aku ingin kamu bersekolah dan menggapai cita-citamu. Tenang saja, Aku sudah cukup untuk membiayaimu”. “Benarkah? Terimakasih jifa”.

“Hari ini kamu libur?”. “Iya fahri, Ayo kita senang-senang”. “Yeeeee horeee”. Dunia Fantasi, Kami menaiki semua wahana yang ada di sana. “Jifa kamu terlihat cantik, Sebenarnya berapa umurmu?”. “Kamu sedang memuji kakakmu ini? Sebaiknya cepat kamu cari pacar”. “Haaaaahhh memangnya kenapa jifa?”. “Aku takut kamu suka padaku, hahahahaha. Aku bercanda. Sudahlah kita ini beda 4 tahun, Aku ini kakakmu. Mana mungkin kamu menyukaiku”. “Memangnya kenapa? Lagipula kamu bukan kakak kandungku. Aku bisa saja menyukaimu”. Kata-katanya terus mengiang di telingaku. Bahkan kakak kandungnya pun tak sebaik aku, malah ingin membunuh adiknya sendiri karena harta. Apa aku benar-benar telah jatuh hati padanya? Aku terus memikirkannya, memperhatikan dan memimpikannya.

3 tahun berlalu…
“Jifa, Bapak harap kamu mengerti. Kalian sudah dewasa. Anak gadis dan anak laki-laki tinggal bersama selama itu, Kami takut terjadi sesuatu pada kalian. Dia bukan adik kandungmu. Kalian harus tinggal terpisah”. Aku tidak ingin berpisah darinya. Hanya menunggunya keluar sekolah dan bekerja. Cukup membiayai hidupnya sendiri, Apa aku bisa hidup tanpanya?

“Arggghhh tolong lepaskan aku, Aku mohon”. “Jangan munafik, Tidurlah denganku. Kau ini kan pel*cur. Aku bayar berapapun yang kau mau” Katanya, “Iya, Tolong lepaskan aku dulu”. “Jifa, Kamu bekerja di sini? Kamu menjual dirimu? Jadi selama ini kamu memberiku uang haram? Kamu menjijikkan. Aku mencintaimu jifa, Aku pikir kamu perempuan baik. Seharusnya aku sudah curiga, Seharusnya aku tak percaya padamu. Aku sungguh bodoh sudah jatuh hati padamu”. “Fahri, Kamu salah paham. Ini tak seperti yang kamu bayangkan. Mengapa kamu bisa berada di sini? Kamu pikir ini mudah bagiku? Aku menyayangimu. Aku ingin kamu hidup lebih baik dariku”. Laki-laki itu melepaskan pelukannya “Apa-apaan ini? Kau mencintai wanita jal*ng ini?”. Fahri menghajar laki-laki itu “Dia bukan wanita jal*ng, Dia adalah calon istriku”. Aku tak mempercayai kata-katanya, Fahri menarik tanganku menjauhi laki-laki itu.

“Jifa, Seharusnya kamu bilang padaku. Kamu tak perlu melakukan ini demi masa depanku. Jika aku tahu kamu semenderita ini, Aku takkan pernah mau bersekolah. Aku ingin bekerja membantumu. Aku sangat mencintai kamu, Aku tak ingin kehilangan kamu. Aku tahu ini sulit, Kamu bukan sekedar kakaku. Kamu separuh hidupku”. “Fahri, Kamu sadar dengan ucapanmu? Sungguh fahri, Kamu sudah dewasa. Kamu sudah jadi adikku yang tumbuh besar, Aku tak percaya kamu mengatakan ini pada kakakmu”. “Jifa, Tolonglah. Jangan anggap aku adikmu lagi, Aku benar-benar jatuh hati padamu. Bagaimana aku harus membuktikannya? Jangan anggap aku masih kecil, Apa selama ini perhatianku kurang cukup untuk memperlihatkan aku cinta kamu. Akhir-akhir ini aku curiga dan mengkhawatirkanmu. Aku mengikuti ke mana kamu pergi, Maafkan aku jifa”. “Fahri, Aku juga mencintai kamu. Sejak lama, Bahkan sejak aku bertemu denganmu”. “Jifa, Menikahlah denganku”.

Akhirnya aku dan fahri menikah setelah fahri lulus sekolah, Aku berhenti dari pekerjaanku. Kakaknya fahri meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat, Semua harta peninggalan orangtua mereka jatuh ke tangan fahri. Kami hidup bahagia dengan kedua anak kami. Dan aku merasakan hidup seperti mereka, Menjadi orang kaya! Ternyata bukan kekayaan yang membuat Kebahagiaan. Cinta dari suami dan anak-anakkulah yang membuat aku bahagia! (Mama, Mama sedang baca apa? Mama ayo kita keluar. Ayah sudah menunggu)

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Facebook: Octavhianie Dheea

Cerpen Catatan Harian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Kau dan Kenangan Kita

Oleh:
Sore itu kami sedang menikmati hembusan angin pantai nan indah dan sejuk. Iringan lagu pengamen pantai membuat suasana hati kami berbunga-bunga karena lagu yang dinyanyikan sangat tepat dengan suasana

Titania’s Life (Part 3)

Oleh:
Daffa yang kesal diacuhkan oleh Titan segera menarik tangan Titan, sekarang mereka saling berhadapan. Tapi pandangan Titan tertunduk. “Kamu kenapa?” Tanya Daffa. Titan tak menjawab pertanyaan Daffa. Wajah Titan

My Angel

Oleh:
3 Juli 2014, pukul 23.30 di taman kota, terlihat seorang gadis dengan kuncir kuda yang rapi sedang berlari mengejar anak anjing yang sedang berlari di depannya. Gadis itu berusaha

Apa Arti Rasa ini?

Oleh:
Hari ini tanggal 11 agustus 2011, di sekolahku mengadakan acara buka puasa bersama yang dimeriahkan oleh band Letto dan tim marawis sekolahku, awalnya dibuka oleh penampilan marawis yang sangat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *