Cecilia Drawing

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 19 May 2017

Sepertinya aku harus berimajinasi! Setidaknya untuk memberikan sedikit pencerahan pada saraf otakku yang sama sekali tidak berfungsi untuk menemukan ide baru dalam mengatasi masalahku. “Huuhh…,” aku menghela napas panjang, tidak! Hal ini sudah lama tidak kulakukan, karena akan merusak masa depanku. Aku harus berpikir keras lagi mencari solusi untuk tidak mengkhayal/berimajinasi, tidak juga! Otakku kan sedang tidak berfungsi. Baiklah, akan kuputuskan untuk mengkhayal, imajinasiku mulai bekerja membentuk serangkaian kisah yang mungkin akan membantuku. Pertama, akan kumulai dari pertemuan yang tidak disengaja, lalu kami kenalan. Dan setelah kenalan kami akan akrab dalam waktu singkat, lalu dia akan selalu memperhatikanku dan mulai bersimpati dalam padaku dan aku akan memasang wajah dengan ekspresi terbeban seribu masalah. Singkat kisah dia jatuh hati dan bersedia menolongku dalam masalah apapun, jadi… aku terlepas, terbebas beban masalah. Hore! “Imajinasi konyol!” Gerutuku setengah emosi karena imajinasiku pun tak mampu merangkai kisah yang unik dan sempurna, padahal daya khayalku tinggi aku pernah mentesnya dengan berimajinasi diluar batas. Maksudku, aku menghayal di sebuah tempat yang begitu indah dan melukiskan tempat indah itu di kanvas. Dan kamu tahu hasilnya, Sempurna. Mama juga mengakui itu, dan dia selalu menyanjung imajinasiku melalui karya lukisku yang kubuat sesempurna mungkin. Tapi tidak dengan reaksi kakakku saat mengetahui kelebihanku ia malah menuduhku yang tidak-tidak.

“Aku takut kamu akan menyalahgunakan imajinasimu yang luar biasa itu,” ujarnya terkesan sirik. Tentu saja dia sirik! Dia tidak punya kelebihan. “Apa bisa imajinasi salah digunakan?” Mamaku sepertinya terpancing dengan bualan kakakku. “Tentu saja” Suaranya dibuat-buat meyakinkan. Aku tidak diam, bisa-bisa ia akan mengompori Mamaku sampai meledak. “Seperti apa contohnya!” Aku angkat bicara. “Imajinasi kencan sama pacar misalnya.” Jawabnya santai. Mataku terbelalak dan bibirku merapat tak berkutik. Secara jawaban itu tak meleset, aku sangat sering atau bahkan hari-hariku sering kulewati hanya untuk mengimajinasikan cowok keren dan melukisnya. ”Kenapa diam!” Dia membuatku semakin terjebak suasana. Kulirik Mamaku, dia juga tampak menginterogasiku. “Benarkah itu Cel?” “No Mom! Believe to me, Aku tidak melakukan hal semacam itu.” “Are you sure, Baby?” Bisik kakakku. “Don’t Worry, Aku juga sering melakukannya. Imajinasi liar!” Bisiknya lagi tendengar mengerikan lalu pergi begitu saja. Huhh… dia hampir saja merusak reputasi kopolosanku di rumah ini. Mamaku masih terdiam dan memandangku aneh.

Kringngng… Dering handphoneku membuyarkan lamunanku. Aku tersadar. Aku mencari asal suara itu dan ternyata berasal dari di dalam tasku, nama Mama berkedip-kedip di layar handphoneku. “Halo Mama, ada apa?” “Cel kamu di mana? Kamu bisa pulang sekarangkan, ada yang mau ketemu kamu nih.” What! Ada yang mau nemui aku! Siapa sih. Perasaan aku gak punya patner atau klien penting deh, aku kan orang biasa. Syukur ada yang kenal. “Siapa sih, Mam?” Tanyaku penasaran. “Ada deh… nanti juga kamu tahu sendiri.” Huh, pasti berhubungan dengan keluarga. “Ok Ma. Aku pulang sekarang,” klilk! Aku menutup panggilannya. Aku meraih tasku dan melangkah malas-malasan meninggalkan tempat itu.

Samar-samar kudengar suara perbincangan dari balik pintu rumahku. Aku sudah lama sampai, tapi untuk memastikan siapa yang datang aku mengecek sekeliling rumahku. Benar saja! Aku menemukan mobil BMW warna perak yang bukan milik keluargaku, dua bocah rusuh yang kupikir anak monyet kesasar sedang bermain merusakki taman yang terawat, dan juga sepatu bermerk di depan pintu rumaku. Sudah kuduga pasti My Familiy. “Halo… ,” sapaku sambil memasuki ruangan. Serentak mata mereka semua tertuju padaku, itu sudah pasti! Maksudku bagaimana mungki mereka melewatkan momen-momen terpenting saat Princess datang. “Cecilia… kan?” Tanya seseorang menyebutkan namaku. Aku menoleh ke samping mencari si pemilik suara. Dan oh… sejak kapan aku terkenal, seseorang pria tampan bak Dewa Yunani mengenalku. Dia menatapku, seolah mencari sesuatu yang istimewa dariku tapi aku yakin dia tidak menemukan itu. Aku sadar aku tidak menarik dan sama sekali tidak memiliki keistimewaan. Aku tersenyum manis sambil mengangguk. “Kamu masih kenal aku kan?” Tentu saja tidak! Aku sama sekali tidak mengenal dia bahkan dalam silsilah keluarga besar Abraham sekalipun. Aku tidak terlalu akrab dengan para saudaraku di belahan dunia manapun itulah sebabnya kemungkinan besar aku juga tidak terkenal dalam hubungan keluarga. “Aku teman kecilmu,” gumannya gembira seakan menemukan sesuatu yang berharga. Aku mengernyitkan keningku mendengar pernyataan yang kutahu benar atau tidak. “dulu kita sering bermain bersama di taman, tidur sama, bahkan mandi sama, dan bah-” “What!” Pekikku memomtong pembicaraannya. Tidak mungkin! Kami pernah mandi sama. Sungguh, memalukan! Dan… Oh my God.. dia! Iya. Aku mengenalnya, dia Dean Robirrload. “Aku tahu kamu pasti akan sangat malu jika aku mengingatkan semua itu,” katanya sambil tersenyum-seyum nggak jelas, mereka semua melirikku aneh dan aku tidak ingin terjebak dalam hal yang memalukan ini kupikir aku harus menghindar. “Mam aku lelah dan aku harus istirahat! Setidakknya itulah alasan yang masuk akal dan aku langsung melangkah ke kamar tanpa aba-aba dari Mamaku.

Aku melemparkan tasku ke sembarang tempat, aku benci hari ini karena telah mendapat kesiaalan yang sama. Huh… aku menjatuhkan diriku ke kasur yang empuk. Cklik! “Aku butuh tumpangan kamar untuk tidur-tiduran, boleh aku menumpang di sini.” Aku kaget dan langsung melihat siapa yang datang. Dia bahkan tidak mengetuk pintu saat datang dan memasuki kamarku dan bodohnya aku tidak tahu dia mungkin mengikutiku dari belakang. “Maaf kalau aku mengganggumu.” Katanya sambil tersenyum seakan tak merasa berdosa akan apa yang dia lakukan barusan. “Keluar!” Pintaku setengah berteriak, bukannya takut dan bergegas keluar ia malah memasuki kamarku. “Kita sering melakukan ini sewaktu kecil, iya kan?” Dia mengedipkan matanya. “Keluar!!” Teriakku. “Tante yang menyuruhku ke sini karena kalian tidak punya kamar lain untuk tamu.” Aku tidak percaya ini, Mama tahu aku butuh istirahat setelah mendapat masalah besar dan ia malah mengirimkan anak kesasar tak tahu malu ke hadapanku, padahal kamar kakakku kosong! “Baiklah. Kamu bisa istirahat di sini dan aku akan keluar,” kata lalu malangkah.

“Kenapa pintunya susah dibuka!” Tanyaku panik setelah mencoba beberapa kali memutar handle pintu. Tadinya aku berencana akan kabur secepat mungkin dari hadapannya. Dia mengankat bahunya santai seakan menganggap tak ada masalah untuk hal ini.
Aku mencoba lagi tapi hasilnya nihil, dan dia. Dia sama sekali tak peduli. “Mama… mama! Papa… papa…!” Aku berteriak sekencang mungkin. “Mereka sudah pergi semua, ada urusan penting yang harus diselesaikan dengan paman Iyan.” APA!! Mereka sudah pergi ke rumah paman Iyan. Ini celaka besar, handle pintuku hanya dapat terbuka jika seseorang menekannya dari luar, dan semua orang pergi ke rumah paman Iyan yang letaknya sangat jauh dari rumahku dan kemungkinan besar mereka akan pulang malam.

“Kamu pasti sengaja menekan handle pintu ini kan!” Dengusku langsung menduhnya. Dia tebelalak menatapku. “Untuk apa aku melakukan itu!” Dia tidak terima. “Handle pintumu model lama, kuno! Dan kalau aku tahu kita akan terkunci saat menekan handle itu aku tidak akan melakukanya.” “Oh, ternyata kamu cukup gengsi juga. Caramu murahan! Setelah mereka pergi kamu masuk ke kamarku tanpa permisi dan mengunci pintu ini dengan sengaja agar kamu bisa berduaan di sini denganku.” “Terserah!” Dia melemparkan tangannya keudara lalu beranjak menaikki kasurku. Aku mendengus kesal, benar saja! Dia sama sekali tidak peduli dan tidak mau berusaha untuk mencari cara agar pintu ini terbuka. “Kita hanya bisa keluar setelah orangtua kita pulang.” Sahutnya terdengar malas-malasan. Aku tahu, dan hanya itulah jalan satu-satunya berdua denganmu di kamar ini.

Menjijikkan! Aku tidak sepenuhnya mendengar suara itu, kupikir aku masih terlelap setengah sadar. Suara itu sangat indah, alunan musiknya juga terdengan lembut, seakan membangkitkan jiwa dari kesepian. Semakin lama alunan suara itu semakin jelas, mataku sedikit terbuka dan cahaya jingga menyusup melalui ventilasi kamarku. Sudah sore rupanya dan aku tertidur di balik lemari dekat pintu kamarku dan menyandarkan tubuhku di situ. Aku menjulurkan kepala dari balik lemari melihat siapa yang bernyanyi. Oh my God! Aku tidak percaya ini, Dean bisa bermain gitar. Padahal dulu dia sangat kesulitan bahkan benci alat musik gitar karena jari-jarinya pendek, aku juga merasakan yang sama. Tapi itulah misiku sekarang!

“Suaramu bagus dan alunan musiknya juga masuk.” Pujiku sambil mendekatinya. “Terimakasih,” sahutnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. “Padahal dulu kamu tidak menyukai alat musik ini, bahkan nyaris membencinya.” “Aku berusaha untuk menyukai dan mempelajarinya, dan aku bisa.” Berusaha! Dia menginspirasiku. Aku hampir saja lupa segala sesuatu harus didapatkan dengan usaha. Dan aku hanya bisa mengeluh beberapa hari ini tanpa usaha, tapi tidak sekarang, Tuhan sepertinya mengabulkan imajinasi konyolku hari ini. Bukitnya aku menemukan seseorang yang pandai bermain gitar. Aku akan meminta tolong padanya untuk mengajariku. “Tolong ajari aku, aku juga ingin tahu bagaimana cara memainkan gitar.” Dia menatapku tajam, seolah ingin mencari kesungguhan di sana. “Haha… haha…,” dia menertawakanku. “Aku tidak percaya ini Cecil,” dia masih tertawa “Maksudmu apa?” Aku bingung. “Aku tidak percaya gadis seni lukis sepertimu ingin mendekat dengan seni musik.” ”Aku serius, aku ingin belajar bermain gitar.” Lagi-lagi dia menatapku itu. Dan aku menunjukkan kesungguhan di sana. “Okay. Aku akan mengajarimu.” “Benarkah?” Aku melonjak kegirangan karena telah mendapat Dewa Penyelamat gratisan. “Kunci apa saja yang sudah kamu tahu?” Kunci? Gitar punya kunci? “Kunci 1 sampai 25.” Jawabku asalan karena tak mengerti apapun. “Kunci 1 sampai 25?” Wajahnya bingung tapi menunjukkan ekspresi ingin tertawa terbahak-bahak. Hahaha… sudah kuduga dia tertawa lagi. “Oh.. Girl kau membuatku gila.” “Kenapa? Aku menjawab secara logika, kunci 1 sampai 25 itu ada dan jika ingin mendapatkannya secara simple kamu bisa memakai kunci inggris.” “Girl… kita sedang membicarakan kunci gitar, bukan kunci yang digunakan untuk membuka baut atau mur.” Oh ya! Berarti aku salah besar. “So, kunci gitar itu seperti apa? Mungkin sejenis kunci rumah?” “Tidak kunci rumah atau kunci inggris! Kunci gitar itu hanya ada di jari kita. Contonya kunci C, jarimu harus membentuk pola seperti ini,” dia menunjukkan jarinya padaku yang sudah membentuk pola di senar gitar, jari telunjuknya menekan senar kedua, jarinya tengahnya menekan senar ke empat, jari menisnya menekan senar enam. “Itu kunci C, selain kunci C ada banyak kunci lainnya seperti kunci A minor, kunci… bla bla bla,” dia menjelaskan berbagai macam kunci padaku sambil membentuk serangkaian pola kunci di tangannya dan setiap kali ia menanyakan apakah aku sudah paham aku mengangguk saja meskipun mengerti tidak mengerti.
Sejauh ini, dari sekian banyak kunci yang diajarkannya padaku aku hanya mengerti kunci A, B minor, G, C, D, F, E dan yang lainnya yang berhubungan dengan minor aku tidak mengerti.

Pagi ini aku diantar Dean pergi kesekolah, Mama dan Papaku sepertinya telah merencanakan sesuatu yang freak, semacam pendekatan atau lebih tepatnya perjodohan dini. Dean tidak keberatan menerima permintaan Papaku untuk mengantarku pagi ini malah ia sempat tersenyum sambil mengedipkan matanya. “Berhenti di pinggir,” gumanku saat hampir mendapat persimpangan sekolahku. “Okay,” dia berhenti di tempat yang kumaksud. “Sekolahmu bagus tapi sayang sunyi.” Sunyi! Aku segera membuka helmku dan memperhatikan suasana sekitar, benar-benar sunyi. “Cecilia… cecil…,” seseorang meneriaki namaku dari belakang, serentak aku dan dean berbalik badan. Lola dan Jenna rupanya, mereka berlari kecil menemuiku. “Cecil! Kamu harus lihat ini! Sesuatu yang menakjubkan!” Seru lola geregetan. Aku bingung apa yang dia maksud dan apa yang harus aku lihat. Tanpa aba-aba mereka menarikku paksa masuk ke dalam sekolah. “Aku ikut!” Dean melangkah mendekati kami. Kami saling berpandangan satu sama lain. “Kamu ngapain ikut-ikutan, ini sekolah bukan tempat umum.” Protesku. “Ya ampun cecil… dia siapa sih kok keren banget,” guman lola berbisik. “Cecil… dia Dewa Yunani dari mana sih, Pasti Kakak kamu ya.” Tambah jenna sok tahu. “Kamu boleh ikut kok. Mari!” Lola menarik tangan dean lalu mengajak kami mengikuti dia. Aku ingin mencegah tapi lola sudah dulu membawa dean menjauh dariku. Kami berhenti di lapangan dan ternyata semua murid-murid ada di situ, mereka semua mengerumunni mimbar sekolah bahkan sampai berdesak-desakkan. Di mimbar aku melihat tidak ada siapa-siapa di sana, so! Apa yang sedang mereka kerumunni.

“Apa sih yang mereka lakukan di sana”, tanyaku pada jenna. “Memperebutkan kesempatan untuk bernyanyi bersama Rolan.” Rolan! Dia datang ke sekolah kita. Aku hampir tidak percaya bahwa artis lokal dan juga alumni sekolah kami akan berkunjung lagi ke sini, padahal kemarin dia baru saja datang dan mengumumkan bahwa dia akan mengadakan seleksi para siswa perempuan yang bisa bermain gitar dan menyanyi, dan siapapun nanti yang terpilih dia akan membawanya mengadakan konser besar-besaran di beberapa kota besar di Indonesia.

Aku juga harus mengambil kesempatan itu. Aku ingin melangkah memasuki kerumunan orang-orang itu tapi tanganku sudah dulu dicegat. “Mau kemana, ketemu Rolan? Mimpi deh cecil. Kamu udah bisa main gitar gak?” Oh iya! Rolan hanya membawa gadis yang bisa bermain gitar bersamanya, tapi kan ini bukan seleksi? Ini hanya kunjungan, atau mungkin hanya sekedar menyapa. Aku harus menemuinya. “Cecil! Mau ke mana!” Teriak lola. Aku tidak peduli dan terus berlari dan mencoba menerobos kerumunan itu. Aku sempat menoleh ke belakang mereka juga mengikutiku. Dasar! “Rolan… rolan aku fans fanatikmu, rolan…,” aku berteriak sekencang mungkin untuk menarik perhatiannya, bahkan aku melambai-lambaikan tanganku di udara tapi dia tidak menoleh. Aku mencobanya lagi lebih keras, lola dan jenna yang sekarang di sampingku membantuku juga hanya dean yang terdiam tanpa reaksi dan menatap kami sinis tak senang, dan teriakkanku pun berhenti Karena kehabisan napas.

“Gadis-gadis bodoh, percuma berteriak sekuat mungkin dia tidak akan memberikan perhatian sedikitpun pada kalian.” Dean berkomentar. “Dean, kami sedang berjuang untuk mendapatkan perhatiannya, bantu dong dengan suara bassmu,” usul jenna lalu berteriak lagi. “Cowok sombong seperti itu tidak perlu diminta perhatiannya, kalian memang bodoh dan terhina. Bahkan untuk mengulur tangan pun dia tidak sudi. Dia berdiri diam di situ dan menikmati kebanggannya saat dipuja-puji.” “Dean! Shut Up! Kalau kamu nggak suka pergi sana!” Bentakku. “Apa yang kamu lihat dari dia, suaranya, ketampanannya atau..?” “Tidak semua itu. Dia membuatku jatuh cinta.” Kataku sok manis. “Jatuh cinta?” Dia memicingkan matanya. “Kamu tidak sedang jatuh cinta? Kamu hanya terobsesi untuk memilikinya dan rasa obsesimu itu terlalu besar.” “Kamu tidak akan mengerti apa-apa tentang jatuh cinta. Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui itu. Kamu mengerti!” Kataku sedikit lebih keras. “Aku sangat paham tentang itu karena aku sedang merasakannya,” dia berbisik di telingaku. “Dan kamu bahkan sama sekali belum pernah merasakan itu. Sebab itulah kamu tidak mengerti perasaanmu sekarang, jatuh cinta atau terobsesi!” No! Aku menatapnya dan dia tersenyum jahat padaku lalu pergi meninggalkanku. Aku benar-benar tidak menyangka semua ini. Maksudku dia tahu kalau belum pernah jatuh cinta seumur hidupku.

Dean sedang asyik memainkan gitarnya sambil bernyanyi, dan aku akui dia memang ahli dalam bidang itu. Buktinya alunan musiknya ingin membuatku tertidur. “Dean, ajari aku lagi bermain gitarnya. Aku ingin mahir sepertimu.” “Tidak, jika untuk sebuah obsesi,” jawabnya datar. “Obsesi?” Aku bingung. “Maksudnya apa?” “Kamu ingin belajar bermain gitar hanya untuk tujuan tertentu, mendapatkan posisi yang sudah diberikan Rolan. Iya kan?” Tanyanya tak senang “Hei! Ini kesempatan emas, siapapun gadis akan menginginkan posisi itu.” “Belajar didasarkan obsesi besar yang salah, itu hanya akan menjadikanmu serakah.” “Aku tidak meminta nasihat darimu, aku hanya meminta ilmumu!” Gerutuku kesal. “Oh ya! Bakatmu dibidang seni lukis, bukan seni musik! Hanya karena terobsesi pada seseorang kamu rela meninggalkan seni lukis dan berahli ke seni musik yang sama sekali bukan bakatmu. Padahal jika kamu mengembangkan itu dengan obsesi besar yang kamu miliki sekarang kupikir kamu akan memiliki ketenaran yang sama atau bahkan lebih dari Rolan. Karya-karyamulah yang akan membawamu ke puncaknya. Bukan obsesi besar pada seseorang!” Aku terdiam untuk sesaat, mencoba menghayati setiap ucapan yang keluar dari mulutnya, ucapan itu sungguh menyakitkan, tapi mengandung makna yang kuat untuk menyadarkan seseorang, dan akulah yang merasakan kesadaran itu meski belum sepenuhnya.
Benarkah semua yang kulakukan ini didasarkan obsesi, benarkah aku akan menjadi terkenal dengan hasil karya lukisku. Ada banyak ketidakmungkinan yang kupikirkan, seperti adanya pencarian bakat dari seni suara dan musik tapi jarang untuk seni lukis.

“Kemungkinan besar besok aku akan pulang.” Ujar dean membuyarkan pikiranku. “Kenapa secepat itu?” Aku kaget karena tak menyangka waktunya akan secepat itu. “Itu keinginan terbesarmu, kamu ingin aku pulang segera karena telah menganggumu dengan masuk ke kamarmu. Kenapa sekarang kamu terlihat kecewa?” “Siapa yang kecewa! Aku senang akhirnya kamu pergi.” Kataku berusaha menutup-nutupi kekecewaanku, aku masih menginginkan dia di sini untuk membantuku menemukan jati diri. “Baiklah aku mengerti, tapi boleh aku minta satu kenangan darimu?” Tanyanya. Aku mengangguk dengan senang hati. Dia tersenyum lalu menatapku. “Lukiskan sesuatu untukku.” Aku terdiam mendengar permintaan itu, dia begitu terobsesi juga membuatku untuk melukis. Padahal sudah lama aku meninggalkan itu. “Kamu bisa kan?” Lanjutnya mendesakku lagi. Aku tergagap harus jawab apa, tapi berat juga untuk menolak karena ini permintaan pertamanya untukku. “Aku bisa, akan kuselesaikan hari ini.” Jawabku mantap. Aku melihat senyum kemenangan di wajahnya, kemudian melangkah meninggalkanku.

Aku mengambil semua perkakas melukisku, kanvas, kuas, palet, berbagai jenis cat, dan lain lain. Semuanya terlihat using dan berdebu, mungkin karena beberapa bulan terakhir ini aku tidak menyentuhnya. Aku mulai membuat sketsanya dengan pensil, sambil berimajinasi bebas aku terus melanjutkan lukisanku dan membiarkan waktu berjalan.

“Lukisanmu sangat bagus,” pujinya setelah beberapa menit memandang-mandang lukisan itu. “Tapi dari sekian banyak objek yang dapat kamu lukis, kenapa kamu harus melukis sepasang mata?” tanyanya penasaran. Dean benar, tapi aku melukiskan mata itu tanpa sengaja. Saat aku berimajinasi tiba-tiba saja mata itu memenuhi seluruh pikiranku. “Sepertinya aku mengenali mata ini,” gumannya sambil melirikku “Itu matamu.” “Sempurna. Kamu bisa melukis mataku dengan sempurna sampai-sampai aku bisa mengenalinya. Inilah bakat yang sesungguhnya cecil dan kamu harus mengembangkannya, karena aku yakin bakat ini akan membawamu ke tangga ketenaran. Kamu harus yakin akan itu. “Terima kasih untuk semuanya. Aku akan selalu mengingat nasehatmu. “Terima kasih juga untuk lukisan ini. Aku pergi sekarang, Ayahku sudah menunggu lama di sana.” Ia mengulas senyuman kecil padaku lalu pergi menemui ayahnya dan ibunya di halaman.

“Dean!” Panggilku berteriak, dia menoleh ke belakang. “Kita akan bertemu besok di tangga ketenaran, kamu musisi profesional dan aku pelukis terbaik dunia”. “Aku menunggu saat-saat itu. I Love You Cecilia”. Deg, mendengar ucapan itu seketika detak jantungku berhenti, aku tidak tahu pasti apakah ucapan itu sungguhan atau hanya sekedar ucapan saja, tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku akan menunggu hari dimana kami akan bertemu di tangga ketenaran dan akan membahas ucapannya yang terakhir kali padaku. Hari itu pasti akan datang.

Cerpen Karangan: Rafika Silaban (Cira)
Facebook: rafika tiarma silaban
Hay, aku penulis pemula. salam kenal untuk semua teman penulis cerpen, semoga kita dapat saling melengkapi satu-sama lain
Rafika silaban

Cerpen Cecilia Drawing merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kotak Musik Pengungkap Cinta

Oleh:
Sebelumnya aku tidak mengenal dia. Tapi sepertinya takdir berkehendak lain dan menuntutku untuk harus mengenalnya. Aku tak tau pasti kenapa perasaanku selalu tidak karuan jika melihatnya. Perasaan ini berbeda,

Hear My Heart

Oleh:
Kekaguman biarlah tetap menjadi kekaguman. Apa kalian semua pernah merasakan jatuh cinta? disaat hati berbunga-bunga melihat seseorang yang kita sukai lewat di depan kita, membuat jantung ini serasa berdegub

Beringin dan Lagu

Oleh:
Lagu itu mengalun begitu pelan, merdu. Tekanan-tekanan tutsnya begitu terdengar. Lagu itu menumbuhkan aura yang begitu negatif. Membuat bulu kuduk berdiri sehingga tampak dari permukaan. Rambutku terterpa oleh angin

Night Changed (Part 1)

Oleh:
Kelak, kita akan mempunyai dunia masing-masing. Kamu dengan duniamu. Tengah asyik mencari sekaligus menutup lukamu. Sedangkan aku? aku dengan duniaku. Terus berusaha melupakanmu. Waktu bergulir begitu cepat, Kita sama-sama

Pengagum Rahasiaku

Oleh:
Huahh.. Aku menggeliat terbangun. Aku mengerjapkan mata, menyesuaikan dengan kondisiku kamarku yang temaram. “Heii.. Si Neva belum bangun?” aku beranjak turun dari ranjang dan berniat untuk membangunkan Neva. Dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *