Cerita Cinta Anak Remaja (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 October 2016

Hari pertama tahun kedua di SMA Laskar. Lembaran baru untuknya akan dimulai.
Dia seorang gadis yang cantik, dibalik kecantikannya dia sangat nakal sukanya ngerjain orang yang suka merendahkan orang lain. Tahun lalu siswa yang berkuasa berhasil ditaklukannya hanya dengan akal dan modal bicara. Tapi apakah tahun kedua ini ia masih akan bersikap seperti itu? Itulah Karin siswa SMA LASKAR dan musuh bebuyutannya siswa-siswa SMA SURYA. Sebenarnya SMA LASKAS dan SMA SURYA masih dalam satu kawasan dan satu manajemen, hanya saja yang membedakan mereka harta kekayaan. Siswa SMA SURYA umumnya anak pengusaha semua, sedangkan SMA LASKAR siswanya rata-rata anak orang yang berkecukupan.
Hal itu yang membuat Karin dan teman-temannya sering kali bertengkar dengan siswa SMA SURYA. Hampir setiap sepulang sekolah mereka beradu mulut atau melakukan hal lainnya. Menurut siswa SMA LASKAR karena mereka selalu meremehkan orang yang lebih rendah dari mereka seperti Karin dan teman-teman.
Sebenarnya Karin juga anak seorang pengusaha tapi itu adalah ayah tirnya. Karin tidak pernah mempermasalahkan anak siapa dia dan anak siapa teman-temannya. Dia selalu bersahabat dengan semua siswa di sekolahnya bahkan selalu menjunjung tinggi persahabatanya. Dia selalu menolong temannya yang sedang kesusahan dan butuh bantuaan baik itu keuangaan maupun dukungan.
Karin juga sering mengajak teman-temannya ke rumahnya, melakukan banyak kegiatan seperti memasak camilan bersama, nonton flim horor bersama, mereka juga sering membantu anak-anak di panti asuhan dekat rumah Karin. Mereka menggajari anak-anak itu membaca, menulis, berhitung, dan lain-lain.

Karena Karin anak semata wayang dan ayahnya juga sudah tiada jadi Ibunya Rahmi sangat sayang padanya. Saat usia Karin dua belas tahun Ibunya menikah lagi dengan seorang pria yang katanya sudah punya anak dua. Tapi Karin tidak pernah bertemu atau berbicara dengan saudara tirinya. Selama ini dia bicara dengan kakak tirinya yang bernama Yukirin melalui telephone, sedangkan yang satu lagi Karin tidak tahu nama ataupun data lainnya. Yang dia tau umurnya sama dengan Karin.
Tapi siapapun itu takdir sudah menentukan nasib Karin dan semua itu dimulai dari sini

Hari ini Karin bangun lebih awal karena takut telat saat upacara pertama di tahun kedua, dia turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Saat itu ponselnya berdering, ternyata sms dari Hera sahabat dekatnya.
“Good morning my friend, hari ini seru lho… sampai nanti ya!” Isi pesan dari Hera. Karin merasa heran karena tidak biasanya Hera sepagi ini mengirim pesan.
“Akhirnya sampai juga” Seru Karin menghela nafas karena ia ke sekolah terlambat lagi. Semua siswa sudah tampak berbaris.
“Hah… apa aku terlambat?” tanya Karin saat mencari tempat berbaris
“Tentu saja tidak … Ehh… apa kamu tahu kita kedatangan siswa baru ganteng banget. Tapi dia masuk kelas sebelah” Hera sahabat baik Karin
“Apa peduliku coba?” Karin berkomentar ketus.
“Ehhh… jangan gitu coba lihat baik-baik! Di sampingku ini” Hera melihat laki-laki itu.
Karin mengamati orang yang berdiri di barisan laki-laki paling depan. Cukup tinggi, putih, rambut hitam yang mengkilau dan jawah yang dingin. Dasar sombong, pandangan pertama Karin terhadap orang itu.
“Aku ke belakang saja” Karin pindah berbaris ke belakang. Melihat temannya pindah Hera juga ikut pindah.
“Maaf permisi ya…” ucap Hera karena merasa mengganggu teman-temannya yang lain.
“Hei… kenapa aku yang di depan, aku tidak mau”
“Aku tidak mau di depan”
“Kenapa kalian pindah-pindah sih” terus berlanjut hingga Karin yang tadinya di paling belakang terlempar ke depan.
“Ada apa dengan kalian?” ucap Karin marah dengan teman-temannya. Tiba-tiba siswa baru itu memandang pada Karin. Ia tersenyum sinis pada Karin.
“Siapa namamu?” tanya Hera kepada siswa itu.
“Saya Yoga, senang berkenalan denganmu” Yoga mengulurkan tangannya kepada Hera.

Apel pagi itu selesai dengan perkenalan Hera dan Yoga. Hera melihat Karin sedang sendiri duduk di bangkunya. Hera menghampiri Karin.
“Karin kamu tahu, kemarin aku mendengar cerita buruk tentangmu dari kelas sebelah” ucap Hera.
“Tentangku? Cerita apa?” tanya Karin.
“Mereka bilang selama liburan kamu berteman dengan Riska ketua geng terbesar dari SMA Surya, dan mereka bilang kamu selalu menjelek-jelekan sekolah kita” jawab Hera.
“Iya, banar aku berteman dengannya karena aku baru tahu kalau dia itu punya hubungan keluarga dengan Ibuku, tapi aku tidak pernah berkata yang buruk tentang sekolah ataupun tentang kalian, kamu temanku bukan? Kamu percaya padaku?” ucap Karin.
“Aku tidak marah padamu walaupun itu benar. Tapi aku akan marah padamu jika kamu mengambil Kevin dariku, kamu ingat itu” tegas Hera.
“Hera sudah aku peringatkan padamu jangan dekati Kevin, dia tidak baik untukmu” ucap Karin.
“Baguslah jika kamu beranggapan seperti itu, artinya kamu tidak akan mengambil Kevin dariku bukan? Ya sudah, aku pergi dulu” Hera meninggalkan Karin.
“Terserah…”

Bel pulang berbunyi, Karin membereskan semua barang-barangnya.
“Karin, maaf ya aku tidak bisa pulang denganmu. Aku harus pergi bersama Kevin” ucap Hera.
“Baiklah, kamu hati-hati ya. Jangan sampai diganggu sama anak sebelah”
“Baiklah, sampai jumpa besok”
Karin berada di depan parkiran sekolah menunggu jemputannya. Saat itu ia melihat Yoga ke luar dari sebuah mobil dengan membawa sebuah gitar.
“Apa yang dia lakukan?” Karin terus memperhatikan Yoga hingga dia naik tangga.
“Permisi…” seseorang di belakang Karin hendak mengeluarkan motornya.
“Maaf… apa yang aku pikirkan”
Mobil jemputan Kerin datang.

Sore itu Hera dan Kevin sampai kafe yang biasa mereka datangi. Di sana Hera melihat Riska dan teman-temanya. Melihat Hera datang, pandangan Riska dan yang lainnya berubah menjadi sinis.
“Apa itu pacarnya? Bagaimana mungkin keren sekali” ucap salah seorang teman Riska.
“Kalian jangan seperti itu, dia teman Karin jadi dia teman kita juga” ucap Riska.
“Aku bukan teman kalian, sebaiknya kita tidak di sini Kevin” ajak Hera.
“Wah… Riska sepertinya dia tidak menghargai niat tulusmu. Apa yang akan kamu lakukan” ucap teman Riska.
“Kita akan lihat nanti”

Keesokan harinya Karin berangkat kesekolah. Di perjalanan ia melihat Yoga bersepeda.
Karin membuka jendela mobil yang dikendarainya. Ia ingin menyapa Yoga, sebenarnya hanya ingin mengetahui kepribadian orang itu.
“Hai!” sapa Karin.
Hanya tatapan tajam yang diterima oleh Karin. Yoga bahkan mempercepat laju sepedanya. Meihat reaksi seseorang yang tidak menghargainya Karin menjadi marah.
“Dasar orang tidak tahu sopan santun, rasakan ini ya… Pak tolong ngebut Pak!” ucap Karin pada sopirnya.
“Tapi ini jalan…”
“Hanya sampai orang bersepeda itu ketinggallan jauh Pak” lanjut Karin. Sopir itu mengiyakan permintaan Karin dan melaju dengan kecepatan yang sangat kencang. Karin melihat Yoga ketinggallan jauh. Alangkah senangnya hati Karin melihat semua itu.
“Makanya jadi orang jangan sombong” ucap Kari senang.
Sepuluh meter lagi ketika akan sampai di sekolah, ternyata terjadi hal yang tidak diinginkan oleh Karin. Saat melewati sebuah jembatan, ternyata ban mobilnya kempes.
“Pak… kenapa mobilnya?” Tanya Karin.
“Bannya kempes…” jawab sopir itu.
“Kenapa bisa begini… Pak kalau diganti sama ban serep berapa lama?” Karin mulai cemas, karena nanti terlambat datang ke sekolah.
“Butuh waktu ngak lama lah, kalau bagi saya” ucap sopir itu memuji dirinya.
“Mana sampai waktunya ini Pak… malah ini masih jauh lagi…” ucap Karin kesal.
“Ya udah naik angkotan lain dulu aja…” ucap sopir itu mencoba memberikan solusi.
Karin merenungkan apa yang dilakukan setelah ini, naik angkotan umum atau menunggu mobilnya selesai diperbaiki. Karin memilih untuk naik angkotan umum, ia segera menepi dan dilambaikannya tangan setiap ada angkotan yang lewat. Sekian banyak ia melambaikan tangannya, semakin nihil hasilnya. Semua angkotan sudah dipenuhi oleh penumpang.
“Apa yang salah dengan yang aku lakukan?” tanyanya pada dirinya sendiri.
“Kamu salah besar!” ucap Yoga yang tiba-tiba muncul tanpa disadari oleh Karin.
“Kamu! Kenapa kamu berhenti disini? Ingin menertawai aku…” ucap Karin
“Saya ingin menawarkan bantuan kepadamu, kamu mau?”
“Bantuan apa?”
“Naiklah!”
“Naik apa?”
“Ini” Yoga menunjuk sepedanya.
“Aku tidak mau” tolak Karin.
“Terserah…” Yoga lanjut mengayuh sepedanya dan meninggalkan Karin.
Karin melihat jam tangannya.
“Lima menit lagi” kagetnya.
Karin melihat Yoga yang masih belum terlalu jauh.
“Tunggu aku! Aku ingin menerima bantuanmu” teriak Karin sambil berlari. Yoga mendengar teriakkan itu dan behenti, ia menoleh ke belakang.
“Gadis aneh” ucap Yoga.
Karin sampai di tempat Yoga berhenti, ia langsung menaiki sepeda itu tanpa ada basa-basi apapun. Yoga melanjutkan perjalanannya.

Sesampainya di sekolah.
“Terima kasih” ucap Karin ketika turun dari sepeda.
“Untuk apa?”
“Bantuan kamu”
“Itu tidak perlu. Yang saya tahu orang sombong itu tidak butuh balasan apapun, bukankah saya begitu?” ucap Yoga.
“Bagaimana kamu bisa tahu jika aku…”
“Jika kamu apa?”
“Tidak jadi. Aku masuk duluan” ucap Karin lalu pergi.
“Gadis aneh” ucap Yoga.

Sesampainya di kelas, Karin melihat Hera sedang duduk termenung di bangkunya. Ia menghampiri Hera dan meletakan tasnya di meja.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Karin.
“Aku sedang menunggumu” jawab Hera.
“Ada masalah ya… bagaimana kencanmu dengan Kevin kemarin?” Karin duduk di samping Hera.
“Mereka mengganguku” ucap Hera.
“Siapa?” Tanya Karin dengan sikap cuek.
“Teman barumu, anak seberang sana” Hera menatap Karin. Karin mengerutkan kening ketika tahu temanya melihatnya seperti itu.
“Riska… dia bukan temanku, dia itu saudaraku. Kamu tahukan aku juga baru mengetahuinya ketika ada acara perayaan di kantor Ibuku. Lagian baru-baru ini kita kan ngak bentrok lagi sama mereka” jelas Karin.
“Apa dia tidak tahu jika aku adalah temanmu? Dan kenapa dia menggangu kencanku kemarin” ucap Hera.
“Astaga! Jadi kencanmu dan Kevin gagal ya… Wah! Bagus” ucap Karin dan tertawa.
“Jadi kamu sekongkol dengan saudaramu untuk menggangu hubunganku?” Tanya Hera dan marah.
“Aku tidak sejahat itu Hera, jika itu kebahagianmu maka akan aku dukung” jawab Karin, ia memeluk Hera dan Hera membalas pelukan Karin.
“Aku punya cerita seru. Walaupun kami tidak jadi kencan tapi Kevin mengirimi bunga, coklat, dan surat cinta. Sangat romantis” kata Hera
“Hei girl! Ini zaman apa coba? dia masih main surat cintaan. Ngak romantis kali” komentar Karin.
“Kenapa kamu iri padaku, karena tidak ada yang mengirimiku surat? Jangan iri nanti kamu juga akan dapat itu. Dan saat kamu dapat surat cinta pertamamu, hatimu pasti akan berbunga-bunga selama semingguan aku yakin itu” ucap Hera.
“Are you sure? Kalau gitu kita taruhan!” ajak Karin.
“Aku tidak mau” ucap Hera.
“Kenapa? Kamu takut padaku?” Tanya Karin.
“Aku harus berbenah diri untuk kencanku minggu depan jadi aku tidak tidak terlalu punya waktu. dan yang paling aku waspadai adalah jika nanti aku kalah, kamu akan menyuruhku melakukan hal yang aneh-aneh” jawab Hera.
“Minggu depan, apa maksudmu?” Tanya Karin.
“Hanya prediksiku, kamu akan mendapat surat cintamu minggu depan” jawab Hera.
“Dasar sok tahu… jika benar itu terjadi aku tahu siapa yang memberiku surat” ucap Karin dan ia tersenyum.
“Kamu sudah punya seseorang di hatimu? Siapa?” Tanya Hera penasaran.
“You ” jawab Karin.
“Terima kasih atas leluconmu yang tidak lucu itu baby” ucap Hera jutek. Hera pergi meninggalkan Karin.
“Ya! Hera apa benar leuconku tidak lucu? Bagaimana cara membuat lelucon yang lucu?” teriak Karin. Sadar tidak ada respon dari temannya, Karin berhenti bicara dan tertawa.

Bel pulang bebunyi. Karin menyempatkan diri sebentar untuk datang ke tempat favoritnya. Saat sampai di tempat itu Karin kaget, ia melihat sebuah gitar bersandar di dinding.
“Apa ada orang di sini?” Tanya Karin. Menurutnya jarang sekali orang yang mau datang ke tempat ini. Atap lantai tiga, tempat itu berada di samping gudang sekolah disana ada pos satpam yang sudah tidak lagi berfungsi. Walaupun sunyi tapi setidaknya suara angin terdengar di sana, apalagi sesuatu yang luas terbentang di atasnya.
Karin tidak menghiraukan keberadaan gitar itu, ia pergi melihat-lihat pemandangan yang dapat dilihatnya dari atap itu. Karin menghidupkan handphonenya dan memasang earphone di telinganya. Memainkan lagu kesukaanya dan bersenandung sedikit demi sedikit.
Karin mendekati pos satpam dan duduk di bangku tua yang ada di situ. Ia sangat menikmati hembusan angin yang menyentuh pipinya.
“Aku juga suka lagu itu” ucap seseorang.
Karin melepaskan earphonenya dan menoleh ke belakang. Seseorang berdiri di sana, di balik pos satpam itu. Karin mendekati orang itu.
“Kamu! Sejak masa kamu di sini?” Tanya Karin.
“Tadi” jawaban singkat yang di terima Karin.
“Aneh” balas Karin.
“Apa yang aneh?”
Tidak menjawab pertanyaan orang itu Karin kembali ke tempatnya semula dan menghidupkan kembali music yang didengarnya.
Tanpa Karin sadari ternyata di sebelahnya telah duduk Yoga. Karin menahan diri untuk tidak mengucapkan kata aneh lagi, ia mengalihkan pembicaraan pada topik yang lebih baik.
“Kamu mau dengar?” Tanya Karin, memberikan salah satu bagian earphone itu.
“Boleh saya dengar?”
“Kenapa tidak”
“Ya, saya ngak tahu” ucap Yoga, yang sangat tidak nyambung.
“Boleh” ucap Karin, memberikan senyuman terpaksa.
Mereka mendengarkan lagu itu hingga habis.
Karin melepas earphonenya yang kemudian diikuti oleh Yoga.
“Apa yang membuat kamu menyukai lagu ini?” Tanya Karin.
“Bagus” jawabnya. Jawaban yang menyebalkan bagi Karin.
“Aku paham maksudmu” ucap Karin sabar.
Handphone Karin berbunyi. Sebuah pesan dari sopirnya muncul. Tanpa membuka pesan itu Karin sudah mengetahui isinya.
“Aku harus pergi. Apa kamu hanya berdua kesini?” Tanya Karin.
“Maksudnya?”
“itu” Karin menunjuk pada gitar yang bersandar di dinding.
“Saya sendiri saja” jawab Yoga.
Karin mengambil tasnya dan pergi. Ia menoleh ke belakang sebentar. Melihat laki-laki itu, menurutnya dia sangat dingin sulit tersenyum. Karin berjalan lagi. Ia melihat gitar yang bersandar di dinding dan memperhatikanya sebentar.
Karin merasa itu gitar yang sama dengan yang pernah sentuh. Ia tiba di lapangan parkir sekolah dan mencari jemputannya.
“Pak!, langsung jalan Pak” ucap Karin pada sopirnya.

Sore itu sangat mendung, langit bahkan terlihat sangat menyeramkan. Hera sampai di kafe yang ia janjikan dengan Kevin. Ia membuka pintu dan dilihatnya segala sisi kafe. Tenyata Kevin masih belum datang. Hera memesan minuman hangat untuk mengisi waktunya kalau-kalau Kevin lama.
Minuman itu datang, Hera meneguknya sedikit. Dipandangnya ke arah jendela. Hujan telah turun dengan lebatnya. Hera mulai meragukan akan kedatangan Kevin.

Selama perjalanan pulang Karin terus saja memikirkan sikap orang ditemuinya di atap.
“Apa benar dia setampan itu? Iya dia tampan tapi bagaimana sikapnya sangat buruk? Apa aku harus lebih mengenalnya?” banyak pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban terlintas di benaknya.
Tanpa disadari Karin tersenyum sendiri menatap hujan di luar.

Karin hampir sampai di rumah, ia memasuki gerbang perumahan. Dua rumah terlewati, ia melihat rumah Riska. Mereka tinggal di perumahan yang sama. Di halaman rumah Riska, Karin melihat Kevin sedang memarkir motornya di tempat yang teduh. Dan di pintu, Riska berdiri seperti dia menunggu kedatangan Kevin.

Karin menghidupkan ponselnya dan menelepon Riska.
“Hallo Ris! Apa kabar kamu?” sapa Karin.
“Oh Karin kamu baik sekali telah mau menanyai kabarku, sayang” ucap Riska.
“Tentu aku baik padamu. Saat melewati rumahmu aku melihat Kevin di sana, sejak kapan kamu mengenalnya?” tanya Karin.
“Belum lama” jawab Riska.
“Lalu ada bisnis apa dia ke rumahmu? Ku lihat kalian sepertinya dekat sekali” lanjut Karin.
“Bagaimana aku bisa jauh darinya, sayang? Aku selalu saja merindukannya” kata Riska.
“Apa maksudnya tu?”
“Apa kamu benar-benar penasaran?”
“Berhenti bergurau dan katakan yang sebenarnya!” tegas Karin. Ia telah sampai di rumah.
“Aku dan Kevin baru jadian, dia adalah pacarku” ucap Riska
“Sial… aku tidak ingin kamu membodohiku lagi, jadi katakan yang sebenarnya!” teriak Karin. Ia sangat marah.
“Itu benar sayang, apa kamu perlu bukti?”
“Kevin itu pacarnya Hera, bukankah sudah kuceritakan kepadamu” ucap Karin
“Aku benci membicarakan wanita itu. Telpon akan kututup, lebih baik aku bicara dengan Kevin” ucap Riska dan mematikan handphonenya.
Di kamarnya Karin memikirkan fakta yang baru saja diketahuinya. Ia merasa kasihan dengan Hera.
“Tidak! Tidak ada yang boleh menyakiti Hera” ucapnya.
Karin mencoba menghubungi Hera.
“Hallo, Karin ada apa?” ucap Hera.
“Kamu di mana?” Tanya Karin.
“Aku di kafe tempat aku janjian dengan Kevin” jawab Hera.
“Apa Kevin bilang dia akan datang?” Tanya Karin lagi.
“Aku tidak menerima berita apapun darinya. Jangan kawatir akan akan menunggunya hingga datang” jawab Hera.
“Aduh… gimana ya… Sebaiknya kamu pulang Hera” saran Karin.
“Maksud kamu? Emang Kevin kenapa?” Tanya Hera.
“Aku tidak tahu. Aku tutup dulu ya, Hera hati-hati”
Karin melempar handphonenya ke sofa dan ikut berbaring.
“Apa yang harus aku lakukan?” ucap Karin dan menggigit kukunya.

Tenyata mendung dari sore kemarin juga belm pergi. Saat menatap ke luar jendela kamarnya Karin merasakan akan ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.
“Bu aku berangkat dulu” ucapnya saat melihat ibunya duduk di meja makan.
“Kamu ngak sarapan dulu?” Tanya Ibu.
“Aku ngak biasa makan pagi, Ibu tahu kan?” jawab Karin, mengencangan ikat tali sepatunya.
“Hmm… Kalian sama saja” ucap Ibu.
“Dengan Raihan? Apa iya Bu?” Tanya Karin gembira.
“Ya”
“Kapan aku ketemu dia Bu?” Tanya Karin.
“Nanti juga ketemu sendiri”
Karin diam.
“Aku pergi dulu”

Cerpen Karangan: Dea Safarina
Facebook: Dea Safarina

Cerpen Cerita Cinta Anak Remaja (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta, Cita dan Kita

Oleh:
Cinta cinta dan cinta adalah suatu kata yang nggak ada matinya untuk dibahas. Kata yang mempunyai makna yang luas dan arti yang berbeda dalam masing-masing individu. Love is never

Dia Adalah Zeze

Oleh:
Namanya tak mungkin ku lupa. Zulfa Zakia, biasa ku panggil Zeze, awalnya dia nggak mau. Tapi karena aku selalu enak memanggil demikian, dia nggak lagi marah. Malah sepertinya suka

Surat Yang Tak Tersampaikan

Oleh:
Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Entah kenapa tidak ada yang membuatku tertarik untuk keluar, selain mencoret coret kertas di hadapanku dengan sebuah drawing pen. Sambil menegak

Dilema Hati Seorang Perempuan

Oleh:
Entahlah sudah berapa lama aku termenung di sudut kamarku, akau masih tak habis pikir mengapa semua ini terjadi, sejak pertemuan denganmu seminggu yang lalu membuat aku semakin gundah gulana,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *