Cerita Cinta Anak Remaja (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 October 2016

Di perjalanan ke sekolah Karin melihat Yoga bersepeda ke sekolah. Apa sekolah?
“Dia mau pergi kemana?” Tanya Karin melihat Yoga berbelok ke lain arah.
“Pak kejar orang itu!” ucap Karin.
Karin berbelok juga kea rah yang sama. Ada yang aneh dengan jalan itu. Kanan kirinya hanya pohon rindang dengan sedikit tanaman bunga cantik. Sedikit? Kamu bercanda?
Sangat banyak bunga cantik menghias tanah kosong itu.
Yoga memberlambat laju sepedanya hingga ia tepat berada di sebelah Karin. Ia berhenti begitu juga Karin yang turun secara bersamaan.
“Ada kamu mengikuti saya?” Tanya Yoga.
“Apa kamu tidak pernah memberi salam atau sapaan kepada seseorang?” ucap Karin dan keluar dari mobil.
“Kamu belum jawab pertanyaan saya, jadi saya belum bisa jawab pertanyaan kamu”
“Ha? Aku? Hmmm… Aku hanya mastiin kamu ngak bolos sekolah” ucap Karin sambil memperhatikan pemandangan di sekitarnya.
“Apa kamu mencoba membohongi saya?” Tanya Yoga tidk percaya.
“Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu” ucap Karin
“Tidak, saya hanya tidak terbiasa dengan orang yang belum terlalu saya kenal. Sekarang jawab!”
“Hmm… Iya. Tapi aku tidak bermaksud apa-apa kok, serius”
Sopir Karin memanggil.
“Mbak Karin! Ibu mbak minta jemput sekarang juga, ada rapat penting katanya”
“Ha? Terus aku gimana Pak? Bilang Ibu naik tumpangan lain aja deh” ucap Karin.
“Apa saya boleh bantu?” Tanya Yoga.
“Tidak ya” lanjut Yoga.
Ia menaiki sepedanya lagi.
“Mau bantu apa?” Tanya Karin.
“Pak. Bapak jemput saja Ibu itu” ucap Yoga. Sopir itu langsung naik dan menyalakan mesin mobil. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Karin membiarkan sopir pergi.
Saat menyadari hal yang baru saja terjadi, Karin melihat mobilnya telah jauh, tidak mungkin dikejar.
“Wait wait wait. Tunggu siapa yang mengizinkan dia pergi?” Tanya Karin masih bingung.
“Saya” jawab Yoga.
“Kamu gila ya. Apa hak kamu mengizinkan dia?” Tanya Karin marah.
“Kamu tanya saya mau bantu apa, jadi itu bantuan saya jika ada yang lain juga boleh” ucap Yoga.
“Wah wah wah. Benar-benar hebat acting nih orang. Kalau lama-lama dekat kamu aku bisa ikut-ikutan gila. Aku pergi” ucap Karin. Ia terus saja memikirkan apa yang baru saja dialaminya. Ternyata prasangkanya saat mendung tadi pagi benar, aka nada sesuatau yang buruk terjadi padanya.
Karin terus lurus mengikuti jalan di depannya.
“Kamu mau ke mana?” panggil Yoga. Namun Karin hanya menoleh sebentar dan melanjutkan perjalanannya.
Hingga Karin menyadari ia tidak tahu apapun tentang jalan ini. Ia berhenti dan berbalik ke tempat semula. Ia menarik nafas dalam-dalam.
“Aku ingin kamu nunjukin jalan ke sekolah” ucap Karin.
“Apa kamu minta bantuan saya?” Tanya Yoga.
“Iya. Tolong”
“Kamu bisa lewat sana untuk kembali ke jalan raya, atau terus lurus hingga sampai di belakang sekolah” ucap Yoga.
“Oke makasih” ucap Karin.
Yoga mengayuh sepedanya dan meninggalkan Karin.
Karin yang berada di sampingnya hanya memperhatikan laki-laki itu yang pergi meninggalkannya.
“Hei! apa kamu tidak mau membantuku?” teriak Karin.
Yoga berhenti. Karin mengejar Yoga yang cukup jauh.
“Saya sudah membantu kamu” ucap Yoga.
“Ha? Kamu baru saja ninggalin aku di sana. Oke oke oke. Semua ini aku yang salah, aku ingin pergi bersama kamu ke sekolah, bukan hanya menunjukan jalan ke sekolah” ucap Karin.
Yoga diam mendengar pernyataan Karin.
“Silahkan naik”
“Benarkah? Wah makasih”

Yoga memilih jalan lurus dari pada berbelok ke jalan raya. Karin menikmati pemandangan di sekitar. Cahaya matahari berusaha menerobos masuk pada daun-daun dari pohon yang berjajar di setiap pinggir jalan. Tidak terdengar apapun selain suara hembusan angin pagi yang segar.
Karin teringat kembali pada kejadian yang ia alami tadi. Ia heran, kenapa tidak ada sedikit pun marah atau kesal di hatinya meskipun Yoga telah berbuat yang aneh padanya. Ia berfikir kejadian tadi itu bukanlah hal buruk yang seperti prasangkanya.

Sesampainya mereka di gerbang belakang sekolah. Gerbang itu sudah tutup dan artinya bel masuk telah berbunyi. Karin turun dari sepeda.
“Oh sial. Kita terlambat” ucap Karin.
Karin melihat Yoga berbelok.
“Kamu mau ke mana?” Tanya Karin.
“Pulang” jawab Yoga.
“Kok pulang?”
“Kamu mau buka gerbangnya?”
“Ngak bisa, ngak bisa gitu. Kamu harus ngak bisa ninggalin aku sendirian” ucap Karin
“Kamu mau ikut saya pulang?” Tanya Yoga
“Ya ngak harus pulangkan” ucap Karin.
“Tadi saya Tanya kamu mau buka gerbang” kata Yoga.
“Buka gerbang ya. Coba dulu deh” ucap Karin.
Karin mencoba membujuk satpam yang sedang bertugas untuk membukan gerbang.
“Terima kasih banyak Pak” ucap Karin
Gerbang itu terbuka.
“Apa kamu masih mau pulang?” Tanya Karin pada Yoga.
Tidak ada jawaban. Yoga mendorong sepedanya masuk. Karin tersenyum, ia merasa laki-laki itu akan kagum padanya.

Mereka berdua masuk dengan hati-hati agar tidak tertangkap terlambat.
“Hmmm… kalian dari mana?” ucap Pak Joko waka kurikulum di SMA LASKAR.
“Oh my god. Semoga hal buruk itu bukan bagian yang ini” ucap Karin.
“Maksud kamu?” Tanya Yoga.
Pak Joko mendekati dua orang siswanya itu.
“Karin, Yoga. Jadi sepasang ya, apa ya?” ucap Pak Joko memikirkan hukuman untu mereka berdua.
“Pak jangan dihukum dong, saya minta maaf Pak” ucap Karin.
“Saya maafin kalian kalau taman samping parker udah bersih, sekalian sama kolamnya” ucap Pak Joko.
Karin hendak menolak hukuman Pak Joko namun Yoga menahannya.
“Kami kerjain itu dulu Pak” ucap Yoga.
“What?” kaget Karin.
“Kami pergi Pak” Yoga menarik tangan Karin.

Ketika sampai di lapangan. Mereka melihat semua siswa memperhatikan mereka berdua.
Hera kaget melihat Karin bersama siswa baru.
“Karin, kenapa?” ucap Hera.

Karin dan Yoga samapi di taman itu.
“Silahkan tuan” ucap Karin
“Apa maksud kamu?” Tanya Yoga.
“Kamu kan yang sangat baik, mau-mau aja disuruh bersihin taman. Ya sekarang silahkan”
“Kamu juga dihukumkan. Ya sekarang silahkan juga” ucap Yoga.
“Ngak”
“Terserah”

Yoga mencabut beberapa rumput liar sementara Karin hanya melihat. Karin merasa dia tidak pantas melakukan semua itu. Setelah selesai membersihkan rumput-rumput itu Yoga pindah membersihkan kolam. Ada beberapa ikan di dalam kolam itu. Karin mendekati Yoga yang sedang memindahkan ikan-ikan ke dalam ember. Karin melihat ikan-ikan itu dan menyentuhnya. Sedangkan Yoga telah selesai mengeluarkan air kolam itu. Yoga menghidupkan kran air dan menunggu hingga air memenuhi kolam itu.
“Ikannya sangat tenang, jadi ingat seseorang” ucap Karin.
“Kamu ingat saya?”
“Kamu ngerasa ya?”
“Sedikit”

Yoga mengambil ikan di dalam ember dan memasukannya satu per satu ke dalam kolam.
“Biar aku coba” ucap Karin.
“Bisa?” Tanya Yoga.
“Tentu”
Karin mengambil ikan yang kecil dan memasukkan dengan hati-hati. karena sangat grogi, Karin menjatuhkan ikan itu sebelum mencapai kolam.
“Ha? Yoga tolong, ikannya ngak mau berenag ke kolam”
Yoga mengambil ikan itu dan memasukannya ke kolam.
“Kata ikannya kamu ngak ikhlas menolong dia” ucap Yoga.
“Ha? Maksudnya apa tu?” Tanya Karin marah. Ia mengambil air di kolam.
“Yoga rasain nih” ucap Karin.
“Ngak bisa diterima” Yoga membalas Karin.

Pekerjaan mereka selesai, bukan maksudnya pekerjaan Yoga. Mereka agak sedikit basah karena permainan kecil mereka.
Karin mengambil tasnya.
“Aku pergi dulu” ucapnya dan tersenyum.
Tidak lama dari itu Yoga menyusul.

Keesokan harinya. Karin datang labih awal dari biasanya, ia berniat untuk memberitahu Hera apa yang dilihatnya beberapa hari belakangan ini. Hera datang dan sesegera mungkin menghampiri Karin.
“Karin kamu denganrin aku ya. Sudah beberapa hari ini aku ngak ketemu Kevin, dan dia juga ngak balas pesan atau angkat telepon. Kamu tau ngak dia di mana?” ucap Hera.
“Hera sebenarnya…” ucap Karin ragu.
“Oh ya Rin bukanya beberapa hari yang lalu kamu nelepon dan nanyain tentang Kevin? Emang ada apa?” Tanya Hera
“Ha? Waktu aku”
Kevin datang tiba-tiba dan memanggil Hera.
“Kevin” Hera meninggalkan Karin yang masih belum selesai bicara. Karin mengikuti Hera dan Kevin pergi kemana. Karin mendengar pembicaraan Kevin dan Hera.

“Hera aku minta maaf ya. Hari-hari ini aku jarang nemuin kamu” ucap Kevin.
“Kamu kenapa dulu?” Tanya Hera.
“Ada orang yang terus gangguin aku, karena takut nanti kamu salah paham jadi untuk sementara aku ngak bisa nemuin kamu, maaf ya” jawab Kevin
“Siapa orangnya?”
“Aku belum bisa cerita sama kamu, takut kamu marah”
Hera dan Kevin pergi.

Sepulang sekolah hari ini Karin berniat menemui Riska di sekolahnya. Mereka sepakat akan bertemu di kafe dekat sekolah itu.
“Ada apa?” ucap Riska.
“Kamu masih dekat sama Kevin?”
“Tentu, malah semakin dekat, kenapa?”
“Aku kasihan melihat kamu” ucap Karin
“Maksudnya?”
“Iya tadi Kevin ngajak jalan Hera dan sepertinya Kevin sangat menyanyangi Hera”
“Jadi Hera manantangku?” ucap Riska.
“Apa yang akan kamu lakukan? Jika sampai Hera tersakiti aku tidak akan peduli kamu saudaraku atau bukan” ucap Karin.
“Kamu ngak mau Hera terluka kan? Kalau begitu suruh dia jauh-jauh dari Kevin” ucap Riska.
“Oke, tapi jangan ganggu Hera”

Sorenya Karin datang ke rumah Hera.
“Karin tumben banget nih, ada apa?”
“Kita bicara di kamar kamu aja ya”
Mereka masuk ke kamar Hera.
“Hera aku minta maaf telah melakukan hal ini tapi kamu harus percaya ini fakta, kamu harus percaya padaku” ucap Karin
“Ada apa Rin?”
“Kevin sebenarnya pacaran dengan Riska”
“Apa? aku ngak suka kamu bergurau seperti ini”
“Aku serius. Sebaiknya kamu putus dengan Kevin”
“Karin kamu ngak seperti ini. Kamu ngak pernah bicara tentang keburukan orang. Ada apa Rin?”
“Aku nggak bisa cerita lebih jauh”

Hera meminta Karin sebaiknya pulang. Di perjalanan Karin hanya memikirkan apa kata-katanya kepada Hera terlalu buruk. Tapi itu adalah kenyataan.
Karin sampai di rumah.
“Karin makasih ya soal tadi” ucap Ibu.
“Iya Bu. Tapi Ibu rapat apa?” Tanya Karin.
“Oh itu Ayah kamu udah di tanah air” ucap Ibu.
“Serius Bu. Kapan kita kumpul? Aku ngak sabar lihat kakak dan saudaraku satu lagi” ucap Karin gembira.

Keesokan harinya. Ia membuat target harus bicara dengan Kevin hari ini. Ia menunggu Kevin di depan kelasnya.
“Kevin!” panggil Karin.
“Hai! Kamu cantik juga dari dekat” ucap Kevin.
“Jangan gila. Apa yang ingin kamu lakukan dengan Hera dan Riska?” Tanya Karin marah.
“Mereka. Hmm.. mereka itu wanita bodoh. Tapi kamu… cantik” Kevin hendak menyentuh rambut Karin.
Yoga yang satu kelas dengan Kevin melihat kejadian itu ketika akan masuk kelas. Ia menatap lama pada Karin.
“Kamu jangan kurang ajar. Aku ingin kamu putus dengan Hera dan Riska, jangan permainkan mereka lagi”
“Sesuai perintahmu, sayang”
“Dasar laki-laki gila”
Karin pergi dari kelas itu.

Setelah jam pelajaran berakhir sesegera mungkin Karin pergi ke atap untuk menenagkan dirinya. Seharian tadi ia tidak bicara dengan Hera dan itu membuatnya merasa bersalah. Karin tidak melihat ada gitar Yoga di sana. Karin rasa hanya dia seorang di sana. Air matanya jatuh dan melewati pipi. Menangis karena merasa kehilangan seseorang dalam hidupnya.
“Kamu menangis karena temanmu atau karena laki-laki itu” Tanya Yoga muncul dari tempat yang sama.
Karin sesegera mungkin menyapu air matanya.
“Apa kamu tidak bisa berkata hallo atau apalah? Kamu selalu muncul tiba-tiba”
“Jawab pertanyaan saya”
“Aku menangis hanya untuk diriku sendiri. Bukan untuk siapapun” ucap Karin.
“Kenapa?”
“Kamu tahu air mataku ini sangat berharga, jadi tidak mungkin aku menangis untuk orang lain”
“Hmm… meskipun untuk orang yang kamu sayang?” Tanya Yoga.
“Tentu. Kecuali Ibuku. Gitar kamu mana?”
“Ada. Kamu mau main?”
“Boleh”
Yoga mengambil gitarnya yang beda di balik pos satpam.
“Ini”
Karin memainkan petikan-petikannya dan menyanyikan lagu dari Sonna Rele, Strong.
Hingga Karin berhenti pada petikan terakhir.
“Bagaimana menurutmu?” tanay Karin.
“Apanya?”
“Jadi kamu juga tidak bisa memberi pujian atau apalah? Oh my god. Sekarang gentian” ucap Karin dan memberikan gitar itu pada Yoga.
Yoga memetik gitar itu dan menyanyikan lagu yang tidak diketahui oleh Karin. Karin terpesona dengan keahlian Yoga dalam bermain dan menyanyi.
Yoga selesai pada akhir lagunya.
“Kenapa? Kamu kagum pada saya?” ucap Yoga.
“Ha? Iya sih. Tapi ngak sekagum seperti apa yang kamu pikirkan. Itu lagu siapa?” ucap Karin.
“Saya”
“Kamu nulis lagu?”
“Kadang-kadang. Sekarang kamu sangat kagum kan?”
“Kegeeran kamu. Kamu kenapa sering ke sini? Apa ngak punya teman?” Tanya Karin.
“Punya, tapi karakter saya lebih suka kesendirian” jawab Yoga.
“Ada ya karakter seperti itu?”
“Kamu sendiri kenapa?”
“Aku… apa ya? Hmmm… mungkin sama dengan kamu”
“Berarti kamu ngak pernah tahu karakter kamu?”
“Itu bukan bagian dari karakterku, hanya hobi”
“Ada ya hobi seperti itu?”
“Berhentilah meniru ucapanku” ucap Karin.
Mata mereka saling bertemu. Dan setelah itu tidak ada yang berani mengeluarka kata-kata lagi.
Karin melihat jam tangannya.
“Aku pulang dulu” ucapnya.
Yoga tidak merespon ucapan Karin. Karin berjalan meninggalkan Yoga.
“Karin!” panggila Yoga
Karin menoleh ke belakang.
“Kita akan bertemu lagi… kan?” ucap Yoga.
Karin mengangukan kepalanya tanpa mengucapakan kata iya. Ia tersenyum dan hatinya sangat bahagia.
Selama perjalanan pulang Karin terus memikirkan tentang hari esok. Ia terus tersenyum dan tertawa sendiri.
“Apa aku sudah gila?” Tanyanya pada diri sendiri.

Seperti biasa Karin melewati rumah Riska lagi. Dan ia masih melihat Kevin mendatangi rumah Riska.
Senyum yang tadinya mekar menjadi hilang seketika saat melihat Kevin begitu mesra dengan Riska.
“Dasar laki-laki kurang ajar” ucap Karin.
Sesampainya Karin di rumah. Ia memikirkan cara agar Kevin menjauh dari kedua sahabatnya, terutama Hera.
“Ini dari Rehan” ucap Ibu. Masuk ke kamar Karin
“Ibu… bikin kaget tahu. Apa itu Bu?” Tanya Karin.
“Kamu lihat sendiri” Ibu memberikan bingkisan yang di bawanya pada Karin.
Dengan segera Karin membuka bingkisan itu.
“Ha? Kaset? Radio lagi. Apa kita punya radio Bu?” Karin mengeluar kan isi bungkusan itu.
“Ada sih. Tapi di gudang. Kamu mau ambil?” ucap Ibu.
“No untuk gudang” ucap Karin.
Karin meletakkan kaset itu di meja belajarnya.

Di rumah Riska. Kevin mencerita semua yang dikatakan oleh Karin pada Riska. Hanya saja dengan versinya sendiri.
“Sepertinya kita harus putus” ucap Kevin
“Why?”
“Teman kamu tidak setuju kita pacaran”
“Teman? Maksud kamu siapa?”
“Karin”
“Iya Karin. Dia memintaku untuk menjauhi kamu dan Hera. Aku sudah jauh dari Engle sekarang dia ingin aku jauh darimu” ucap Kevin.
“Karin ya. Ternyata dia yang mau menantangku”

Pagi ini Karin bersiap-siap dengan semangatnya ke sekolah. Ia ingin memenuhi permintaan Yoga.
Sorenya mereka bertemu dan mulai melakukan petikan-petikan itu.
Di tempat lain Hera dan Riska membuat janji di sebuah kafe.
“Ada apa?” Tanya Hera datang.
“Foto” ucap Riska memberkan foto itu.
Foto yang di dalamnya ada Kevin yang menyentuh rambut Karin.
“Dia saahabat kamukan? Dia telah menuduhku berpacaran dengan Kevin” ucap Riska.
“Kenapa Karin melakukan hal ini?”
“Mudah saja. Dia ingin mendekati Kevin tanpa membuatmu merasa dikhianati”
Dengan mudahnya Hera percaya dengan semua ucapan Riska.

Cerpen Karangan: Dea Safarina
Facebook: Dea Safarina

Cerpen Cerita Cinta Anak Remaja (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


When I Realize

Oleh:
Bercerita mengenai budaya, tentunya setiap kelompok maupun individu memilikinya. Kata orang suatu kebudayaan tidak hanya menjurus bahwa kita harus menjaga atau mempertahankannya saja, melainkan berusaha memajukan dan menghargai karena

Senior High School

Oleh:
“Yeayyy masuk lagiii!!! Gue menang!!” Serunya setelah mendrible bola basket yang terakhir ke dalam ring “Huh curang lo.. tapi kali ini gue ngaku kalah deh, dasar kecil” (walaupun beda

Seberkas Sinar Cinta

Oleh:
Aku begitu terkejut saat selembar kertas berwarna pink bunga-bunga tanpa amplop masuk ke dalam kantongku. Saat itu aku dan seorang teman baru saja pulang dari mesjid melaksanakan solat tarawih.

Seperti Bintang

Oleh:
Dira tersenyum kagum saat melihat Ares berhasil memasukan bola ke dalam ring. Dira begitu memperhatikan permainan basket Ares sampai dia tidak sadar bahwa Alin sudah berada di sampingnya. “Asyik

Get Love

Oleh:
Oke, kembali ke pembicaraan. Denis itu suka sama Aris dan Dimas. Ngomong-ngomong, jangan pikir Denis itu laki-laki, perempuan tahu! Gue cuma bisa bengong lihat Denis kayak orang mendoan, eh,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *