Cerita Cinta Ochi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 August 2013

Terkadang cinta itu menyenangkan dan kadang juga menyebalkan. Rasa itu tumbuh jika kita menyukai seseorang. Sama seperti Ochi yang selama ini menyimpan rasa sukanya pada Rion, cowok kece yang disukainya di sekolah. Selama ini Ochi hanya bisa memperhatikannya saja. Kadang ia sering merasa kesal jika melihat Rion jalan berdua dengan seorang cewek.
Bagi Ochi, Rion itu adalah pangeran yang selalu menyinari hatinya. Memang agak sedikit lebay, tapi memang begitulah perasaannya pada Rion. Sebenarnya Ochi ingin mengungkapkan perasaan ini padanya. Tetapi sayangnya, ia tidak berani mengungkapkan perasaan ini langsung pada Rion. Apalagi Rion itu termasuk cowok terpopuler di sekolah. Selain Ochi, banyak cewek lain yang juga suka pada Rion. Itulah sebabnya Ochi hanya bisa memendam perasaan ini dalam-dalam.

Pada saat bel makan siang berbunyi, Ochi melihat Rion dikerumuni para cewek. Seperti layaknya artis yang dikerumuni para fans. Ochi melihatnya dengan kesal. Saking kesalnya, bakso yang ia makan menjadi hancur dan lembek karena terlalu keras ia tekan dengan sendok. Vita pun melihatnya, sehingga ia tidak bisa berhenti tertawa melihat temannya yang sedang kesal seperti itu.
“Ha… ha… ha lo itu lucu banget Chi!” katanya sambil tertawa.
“Lucu kenapa sih?” tanya Ochi dengan kesal.
“Dari tadi gue liat lo marah-marah enggak jelas gitu waktu liat Rion dikerumunin para cewek-cewek. Kasian tau bakso yang tidak bersalah itu jadi korbannya. Mending buat gue aja!” kata Vita sambil nyengir.
“Ikh… apaan sih lo, Vit. Lelucon lo itu enggak lucu tau!” kata Ochi yang masih kesal.
“Nih gue saranin, mending lo ungkapin perasaan lo sama dia. Daripada kayak gitu, lo cuma bisa merhatiin dia doang. Kalo begini terus, mana tau dia kalo lo suka sama dia!” kata Vita.
“Iya sih… lo bener. Tapi enggak ah. Gue enggak berani!” kata Ochi.
“Lo harus buang tuh rasa enggak berani lo itu. Tau gak, cinta itu butuh perjuangan tau!” kata Vita.
“Ye… sok tau banget lo!” kata Ochi sambil nyengir.
Tiba-tiba Rion lewat di depan Ochi. Sekilas Rion memandangnya dan Ochi pun juga balas memandangnya. Mereka berdua pun saling berpandangan dan ketika itu ada seseorang yang tidak sengaja menyenggol bahu Ochi. Kebetulan di meja itu terdapat minuman yang tutup gelasnya terbuka. Akhirnya minuman itu tumpah dan membasahi baju Rion.
“Aduh, sori ya Rion. Gue enggak sengaja!” kata Ochi sambil membantu membersihkan baju Rion.
“Oh… enggak apa-apa kok. Kebetulan gue bawa baju gantinya!” kata Rion sambil tersenyum.
“Oh… gitu. Tapi sekali lagi sori ya. Gue bener-bener enggak sengaja tadi!” kata Ochi.
“Iya enggak apa-apa. Santai aja!” kata Rion yang kembali tersenyum.
Ochi merasa jantungnya berdegup kencang. Tiba-tiba perasaan gugup menguasai dirinya. Apalagi setelah melihat senyumnya Rion membuat Ochi semakin deg-degan dan ditambah lagi wajahnya merah padam.
“Eh Ochi, lo enggak apa-apa? Kok dari tadi diem aja. Lo lagi sakit ya?” tanya Rion yang meyadarkan Ochi.
“Oh… eh gue baik-baik aja kok.” kata Ochi yang tersadar.
“Bagus deh kalau begitu. By the way, nanti malem lo ada acara gak?” tanya Rion lagi.
“Ehm… kayaknya sih enggak. Memangnya kenapa?” tanya Ochi.
“Gue mau ngajak lo nonton. Filmnya sih biasa, tentang cinta. Judulnya Love Story. Dijamin deh lo pasti suka!” kata Rion yang kembali tersenyum.
“Beneran? Oke, jam berapa?” tanya Ochi yang terlihat senang.
“Sekitar jam 7 malam. Nanti gue jemput lo ya, oke!” kata Rion sambil melangkah pergi.
Sontak Ochi tidak percaya pada apa yang barusan terjadi. Rion mau mengajaknya nonton nanti malam. Kejadian itu langka dan jarang dialami Ochi. Selama ini, mana ada seorang cowok yang mau mengajaknya nonton? Dan yang mengajaknya pun adalah Rion! “Ini beneran apa hanya mimpi? Kalau ini mimpi seharusnya aku sudah bangun dari tadi. Tapi, ini jelas bukan mimpi! Rion mau mengajakku nonton berdua malam ini! Akan jadi bagaimana ya nanti?” tanyanya dalam hati.

“Cie… ada yang mau diajak nonton berdua sama Rion nih! Cie… cie prikitiew!” sambung Vita yang menyadarkan lamunan Ochi.
“Apaan sih lo, Vit? Lebay banget!” kata Ochi yang wajahnya memerah.
“Cie… lo pasti seneng kan? Nah, ini kesempatan emas buat lo untuk nembak dia!” kata Vita.
“Hah… nembak dia! Ehm… enggak tau gue. Semoga aja ada kesempatan!” kata Ochi.
“Ya udah, kalau itu terserah lo deh. Tapi, gue doain semoga lo bisa jadian sama Rion nanti!” kata Ochi sambil mengedipkan satu matanya pada Ochi.
“Amin. Thanks ya Vit, lo emang temen gue yang paling baik!” kata Ochi tersenyum.

Akhirnya malam pun tiba. Di dalam kamar, Ochi sudah seperti cacing kepanasan. Bolak-balik tidak karuan sambil melihat jam. Padahal baru jam 6 sore, tetapi tetap saja ia gelisah. Ia pun juga sudah rapi. Padahal 2 jam sebelumnya dia hampir saja pingsan gara-gara belum menemukan baju yang cocok untuknya. Tetapi sekarang dengan baju T-shirt pendek dan celana pensil panjang telah siap menghiasi tubuhnya. Rambutnya pun sudah diblow dengan rapi. Heran deh, dia bisa serapih itu!

Setengah jam pun berlalu. Tapi Rion belum juga datang. Ochi sudah menunggu dengan gelisah. Fikiran negatif pun datang melanda hatinya.
“Ya ampun udah hampir jam 7, Rion belum juga dateng! Apa dia hanya mempermainkanku saja?” pikirnya.
Setelah ditunggu 5 menit kemudian, akhirnya Rion pun datang menjemputnya. Hampir saja dia berfikir Rion tidak datang. Betapa kagetnya Ochi saat melihat Rion yang terlihat cool saat menaiki motor keren yang dikendarainya.
“Hai, Chi. Sori ya gue telat. Tadi gue ada urusan sebentar di sekolah. Lo marah ya?” tanya Rion.
“Enggak kok. Gue enggak marah cuma kesal aja!” kata Ochi dengan ketus.
“Ya… sekali lagi gue minta maaf deh sama lo. Gue bener-bener ada urusan, jadi telat jemput lo! Jangan marah ya!” kata Rion dengan tersenyum memohon.
Di saat melihat Rion memohon seperti itu, entah mengapa rasa kesal itu hilang begitu saja. Apa karena Rion itu adalah orang yang disukainya, sehingga ia menjadi luluh padanya? Perasaan itu hanya Ochi yang tau.
“Iya gue udah enggak marah kok. Jadi gimana? Jadi gak?” tanya Ochi.
“Ya pastinya jadilah. Masa gue udah keren begini, malah gak jadi. Lagipula gue kan yang ngajak lo. Jadi gue harus tepatin janji gue!” kata Rion sambil nyengir.
“Apa tadi lo bilang, keren. Siapa yang keren, malah kerenan motornya daripada lo! Wo! Sombong banget!” kata Ochi dengan sebal.
“Yah… tuh kan marah lagi. Marahnya diundur dulu deh! Kalo begini terus bisa-bisa kita enggak nonton filmnya!” kata Rion.
“Ya udah kalo gitu kita berangkat sekarang!” kata Ochi.
“Oke. Ayo kita berangkat!” kata Rion.
Perasaan Ochi menjadi aneh saat diboncengi Rion. Baru pertama kali ia menaiki motor Rion dan juga diboncenginya. Detak jantungnya kembali berdegup kencang. Bahkan lebih kencang dari yang tadi di sekolah.

Akhirnya mereka berdua pun sampai di tempat bioskop. Karena sudah telat, mereka pun dengan cepat masuk ke gedung bioskop. Setelah membeli tiket dan mencari tempat duduk, film itu pun diputar.
Di tempat duduk itu, Ochi duduk dengan gelisah. Jantungnya kembali berdegup dengan kencang. Bagaimana tidak, orang yang disukainya duduk tepat di sampingnya. Ketika film itu berlangsung, secara tidak sengaja Rion menyentuh tangan Ochi. Ochi pun sadar dan langsung menarik cepat tangannya kembali. Karena sadar Rion telah menyentuh tangannya, ia pun kaget.
“Eh, sori Chi, gue gak sengaja!” kata Rion dengan malu-malu.
“Oh… iya, enggak apa-apa.” jawab Ochi dengan wajahnya yang kembali memerah.

Setelah 2 jam berlalu, film itu pun selesai. Ochi lega karena akhirnya ia bisa keluar dari bioskop itu.
“Ehm… Chi, lo laper gak? Gimana kalau kita makan dulu. Nanti setelah itu baru kita pulang!” ajak Rion.
“Boleh. Kebetulan gue juga laper, he… he… he!” jawab Ochi sambil nyengir.
Akhirnya mereka pun makan di restoran Sea Food. Ketika makan, Ochi melihat Rion yang terus memandanginya tanpa berkedip. Karena risih Rion memandanginya terus, ia pun bertanya.
“Lo kenapa sih Rion, dari tadi ngeliatin gue terus. Emang muka gue ada yang aneh ya?” tanya Ochi.
“Oh… enggak. Gue kaget aja, ternyata lo itu cantik ya?” kata Rion.
Setelah Rion berkata seperti itu, jantung Ochi kembali berdegup kencang. Sampai-sampai Ochi hampir tersedak minuman yang baru diminumnya.
“Uhuk… uhuk, apa tadi lo bilang?” tanya Ochi.
“Udah, lupain aja. Enggak perlu difikirin. Oh ya, menurut lo film tadi bagus gak?” tanya Rion.
“Bagus kok. Emang kenapa?”
“Gue cuma pengen tau pendapat lo aja!” kata Rion.
“Oh… gitu!”
“Iya. Menurut gue cerita itu bagus banget. Sama seperti apa yang gue rasain sekarang sama lo!” kata Rion.
“Maksud lo?” tanya Ochi lagi kaget.
Tiba-tiba keheningan muncul di restoran itu. Sedari tadi Ochi terus memikirkan apa yang terjadi dengan Rion. “Apakah itu tandanya Rion suka sama gue?” fikirnya. Perkataan Vita pun datang menghampiri memorinya. “Dan apakah ini kesempatan buat gue untuk nembak dia sekarang?”
Setelah beberapa lama keheningan itu berlangsung, akhirnya secara tidak sengaja Ochi dan Rion mengucapkan perkataan diluar dugaan mereka berdua.
“Sebenernya… gue itu suka sama lo!” ucap Ochi dan Rion berbarengan.
“Apa? Lo suka sama gue?” tanya Ochi yang tidak percaya.
“Iya. Kalau lo tau dari dulu gue udah suka sama lo. Sejak pertama gue liat lo, gue tau lo itu beda dengan cewek-cewek yang biasa gue temuin. Tatapan mata lo beda dan lo itu baik. Dan gue enggak percaya lo punya perasaan yang sama!” kata Rion.
“Kalau boleh jujur, ya gue juga suka sama lo. Gue juga udah lama mau ungkapin perasaan ini sama lo, tapi gue berfikir lo itu pasti udah punya cewek. Kan lo itu cowok paling populer disekolah.” kata Ochi.
“Paling populer belum tentu punya banyak cewek. Buktinya gue sama sekali belum punya pacar. Dan kalau gue mau jujur, gue sama sekali belum nembak cewek. Cuma lo my first love gue. Gue harap lo mau jadi cewek gue. Tapi kalo enggak, gue enggak maksa lo untuk suka sama…
“Gue mau kok jadi cewek lo. Asalkan lo setia, jujur, dan perhatian, kenapa enggak?” kata Ochi sambil tersenyum.
“Jadi, ini artinya kita resmi…
“Iya, jadian.” Sambung Ochi.
Tiba-tiba Rion pun terdiam dan selanjutnya,
“Yes… yes… yes, akhirnya cinta gue diterima juga sama Ochi. Thanks God!!!” teriak Rion yang kegirangan sampai- sampai kakinya kepentok meja.
“Aduh!” ucap Rion sambil memegangi kakinya.
“Lo gak apa-apa Rion?” tanya Ochi dengan panik.
“Iya gue apa-apa!” kata Rion sambil tersenyum lebar.

Akhirnya mereka berdua pun pulang. Dari semua kejadian yang terjadi pada Ochi tadi, Ochi merasa semua perasaannya campur aduk. Dari kesal, deg-degan, gugup, marah, senang semua bercampur jadi satu. Dan satu hal yang paling penting, akhirnya mereka berdua beneran jadian. Ternyata selama ini Rion juga suka padanya. Memang suatu hal yang tak terduga.
“Terkadang cinta itu datang di saat yang tidak kita duga. Kita selalu hanya bisa terkejut dan menganggap semua ini hanya mimpi. Tapi yakinlah, kalau itu benar adanya. Besok gimana ya reaksi Vita kalau gue ceritain kejadian ini!” fikirnya sambil tersenyum.

*The End*

Cerpen Karangan: Hernita Sari Pratiwi
Facebook: http://www.facebook.com/hernitasarip
Twitter : @hernitanita
Semoga bermaanfaat! 🙂

Cerpen Cerita Cinta Ochi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rasa Yang Tertinggal

Oleh:
Sore itu aku menghadiri sebuah acara reunian bersama kawan lamaku, kawan yang pernah ada saat aku masih berbalut seragam putih biru, mereka yang selalu menghiasi hari-hari ku, tertawa ceria

Rahasia Opa Tom

Oleh:
Mendung berarak pelan, wajahnya yang gelap pertanda segera turun air hujan. Clarine mempercepat langkahnya. Sepatu casualnya bergesekan keras dengan aspal jalan yang kasar. Suaranya menggema di lorong sempit menuju

The Magic of Time (Part 2)

Oleh:
Pagi mulai menusuk tulang-tulangku, aku terbangun dan aku terlambat. “Oh tidak, mereka semua sudah bangun dan aku, ouuh!” Ucapku menggerutu. Aku langsung bergegas ke luar tenda dan semua menatapku.

Awan Vs Jingga (Part 2)

Oleh:
Hari ini Awan memang sedang tidak ada jadwal kuliah. Namun dia tetap pergi ke kampus untuk menemui Jingga. Saat sedang menunggu Jingga di taman kampus, Awan bertemu dengan kekasihnya,

Ketika Senja Bertemu Fajar

Oleh:
Hari senin yang ceria yang mungkin saja menjadi bahagia, dimana tepat hari ini adalah hari pertamaku mengenakan seragam berwana putih abu abu, ya di SMA. “Ibu, Senja berangkat dulu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *