Cerita Lama


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 12 July 2012

Seorang wanita termenung di atas tempat tidur sambil memangku sebuah buku tebal yang akan menjadi teman tanpa suara dirinya pada pukul 01.00 dini di tanggal 1 April 2009 serta sebuah pena. Setelah beberapa saat terpaku, dia mulai menuangkan coretan-coretan di buku tebal tersebut, sambil melayangkan ingatannya lima tahun lalu.
010404
April Mop. Itu awal dari semuanya. Sebuah kebodohan yang menurut wanita ini hanya akan bersifat sementara. Dia dengan sang pria saling berhadapan di dalam kelas. Si pria menjawab “iya, gue mau”. Wanita ini hanya bisa berkata dalam hati “hah?ini kan cuma main-main, kenapa bisa begini?kenapa dia serius?gawat, gue kejebak permainan gue sendiri, apa kata temen-temen nanti kalo tau endingnya gini?gue ga mau dianggap perasaan gue beneran” . Ternyata sahabat si cewek berependapat lain. Mereka bilang, “Coba aja, kalo nantinya lo sayang sama dia ya lanjut, kita ga tau gimana ke depannya, kan?”. Wanita menjawab, “oke gue coba, toh ga mungkin gue bilang ni cuma iseng doang, dia serius gitu”.
1 minggu . . . 2 minggu . .
Si wanita merasa kalo dia sudah cukup kenal semua tentang si pria, sifatnya, kebiasaannya, keluguannya, hingga wanginya. Dia merasa, mungkin dia sudah mulai menyukai si pria. Perasaan yang dangkal sekali untuk seseorang yang telah menjalin suatu hubungan selama dua minggu. Tidak lama setelah rasa suka itu muncul, dia merasakan adanya rasa sayang. Si wanita senang dengan “gaya” pacaran mereka yang khas anak-anak (yang mereka sebut ‘cinta monyet’), tidak seperti kebanyakan teman sebayanya yang berpacaran dengan gaya “sok dewasa”. Si wanita terhanyut dan merasa nyaman disamping orang yang disayanginya. Dia senang melihat si pria cemburu, melihat perilaku dia yang terlalu kekanakan, serta keluguan dan kepolosan si pria. Dia tahu dengan jelas, kalau dia sayang sama pria ini, dan rasa sayang itu sudah cukup dalam.
7 minggu . . .
Di hari ke-49 masa kebersamaan mereka berdua, si wanita sadar kalo perasaannya ga boleh lebih dari rasa sayang, ga boleh terus tumbuh menjadi rasa cinta, karena menurut dia, rasa cinta dapat menimbulkan keegoisan. Dia ga mau, karena hubungan mereka ada ada yang tersakiti atau mengorbankan hal-hal yang lebih penting dari sebuah “pacaran”.
2 bulan . .
Si wanita memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Dia telah memikirkan banyak hal selama satu minggu terakhir. Satu hal yang paling menyiksa dirinya, yaitu di dua bulan itu, dia mengerti ada suatu perasaan yang timbul dari seseorang yang juga dia sayang. Perasaan itu tertuju untuk si pria, yang selama dua bulan ini membuat dia merasa nyaman. Selain itu, dia merasa kalau mereka baru punya rasa sayang, yang apabila diakhiri, perasaan itu akan cepat memudar dan mereka ga bakal merasakan apa yang orang bilang dengan ‘patah hati’, kemungkinan terburuk, mereka hanya akan merasakan ‘syndrome putus’ yang hanya menimbulkan kekecewaan. Si wanita egois? Jawabannya iya, sangat egois. Dia hanya bisa menduga, tanpa menyadari dan tanpa mau tahu perasaan dan keadaan sebenarnya.

Hari itu, yang wanita ingat, mereka sedang mengikuti ujian. Surat ‘pemutusan’ tersimpan di tasnya dengan rapi. Setelah semua kesiapan dan mendapatkan saat yang tepat, dia memberikan surat ke si pria.
Si wanita dihujam berbagai pertanyaan oleh temannya dan teman si pria, “Kenapa lo mutusin dia?Lo sebenarnya sayang kan sama dia?jujur dong sama perasaan lo. Bla bla bla…..”. Si wanita hanya bisa mengangkat bahu, sambil memberikan jawaban-jawaban konyol yang dia pikir mungkin bisa memberikan pembelaan diri. Si wanita membohongi hati dia sendiri, wanita menjawab, “dia childish, gue cuma suka-sukaan doank, perasaan gue dangkal, gue ngerasa ga cocok sama dia”. Sebenarnya, saat itu wanita ingin sekali bilang kalau dia ga mau hal ini terjadi, dia ga mau melepas si pria, di sayang si pria. Tapi kata-kata itu dia tahan, dia ga mau semua jadi tambah kacau, dia ga mau terlihat rapuh di depan teman-temannya, dia harus mencoba keras menyembunyikan bekas tangisannya semalam. Dia ga mau mereka tahu alasan sebenarnya, tidak terkecuali kepada si pria. Teman-teman wanita hanya bilang “oh gitu”, tapi tidak dengan teman si pria. Ia yang juga merupakan tempat curhat wanita menanggapi hal ini dengan berkata sambil memasang wajah marah, dia bilang,”Tau kenapa dia selalu childish di depan lo?itu karena dia mau nunjukkin sifat aslinya ke lo, biar lo ngerti dia, dan ga sembunyiin apapun dari lo”. Saat itu wanita hanya merasa bodoh, karena tidak bisa memberikan alasan apapun kepada teman pria.
Hari besoknya sehabis ‘pemutusan’ , si pria minta bicara berdua. Dan lagi-lagi, keegoisan wanita muncul. Dia bilang,”gue ga mau ngomong berdua, gue mau temen-temen gue ikut “. Bisa ditebak, saat itu si pria marah, yang menurut si wanita itu pertama kali dia melihat si pria marah. Si pria saat itu langsung membalikkan badan dan bilang ke temannya,” udahlah, dianya aja ga mau diajak serius, kita balik aja”.
Semua kacau buat si wanita, terlebih parah lagi, dia ternyata telah jatuh cinta kepada si pria, sangat sangat cinta. Lagi-lagi, cukup dia yang merasakan semuanya, tidak boleh seorang pun yang tau.
Surat wanita dibalikin lewat teman pria, keadaannya sudah berbeda dibandingkan saat pertama diberinya kepada pria. Surat itu sedikit basah, dan terdapat lunturan-lunturan tinta. Teman pria bilang, “dia nangis abis baca itu, dia bilang, kenapa disaat gue bener-bener sayang sama dia, hubungan kita malah harus berakhir”. Tamparan keras buat si wanita, pikirannya kosong, ternyata si pria merasakan apa yang dia rasakan. Dugaannya selama ini salah, yang dia pikir tidak akan menyakiti hati pria malah berbalik. Tapi, yang dia sesali adalah, kenapa perasaan itu ga didenger langsung dari pria, kenapa harus lewat perantara.
1 tahun . .2 tahun . .
Mereka jalanin kayak biasa, tepon-telponan, sms-an, tetap keep contact walaupun berada di sekolah berbeda. Masalah dulu ga pernah mereka ungkit-ungkit lagi. Semua perasaan dia pendam sedalam-dalamnya. Wanita mencoba berhubungan dengan pria-pria lain walaupun tanpa ada rasa suka ke mereka. Selama tiga tahun pun, dia belum bisa membuka hati maupun pikirannya buat orang lain, dan dia ga mau berusaha keras untuk itu. Dia ga mau si pria hilang dari kehidupannya.

Sampai pada akhirnya ada suatu hal yang membuat dia harus membuang perasaan itu sejauh mungkin. Di hari itu, si pria dating ke rumahnya. Mereka makan malam bareng. Di mobil,si pria bilang, “Cerita-cerita donk ke gue hal apa aja, kita kan SAHABAT. Lo lagi deket sama siapa, lagi ngerasa apa, lagi sedih atau apapun, cerita aja. Gue dengerin kok”. Si wanita bilang,”iya, tenang ajaa. Lo juga ya cerita-cerita”. Habis pembicaraan itu mereka berdua diam. Setelah itu, kalau pria mengirim pesan ucapan ‘met tidur’, di akhir pesan selalu ada tulisan ‘gudnite sahabatku’. Wanita hanya bisa menerima semua kenyataan bahwa tidak ada harapan lagi buat perasaan dia.
Hari ini, tanggal 1 April 2009, dia akan coba nglupain semua perasaannya, dan menerima pria sebagai sahabat. Dia pikir, tidak mau kehilangan pria untuk kedua kalinya, walaupun dalam status yang berbeda, sahabat.

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Cerpen Persahabatan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply