Cewek Manis Penjual Jagung Bakar


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 23 August 2013

Perkenalkan nama ku Chika. Siang ini seperti biasa aku akan berjualan jagung bakar manis di pinggir jalan raya. Tempat dimana aku mencari nafkah untuk keluarga ku. Iya maklumi saja, aku ini berasal dari keluarga yang bisa dikatakan sederhana. Ibuku seorang ibu rumah tangga sedangkan bapakku adalah seorang buruh. Uang untuk mencukupi keluarga memanglah tidak cukup. Jadi, akulah yang berinisiatif untuk membantu ekonomi keluargaku. Tapi, buatku membantu orang tua adalah kewajibanku sebagai anak. Dan aku pun tidak mau dikatakan anak durhaka karena hanya lenggang kangkung di rumah, sementara bapakku yang mencari nafkah sendirian.

Siang ini aku kedatangan banyak pelanggan yang ingin menikmati suasana di siang hari dengan jagung bakar manisku ini. Dengan banyak pilihan, mereka dapat merasakan nikmatnya dan lezatnya jagung bakar manis buatanku sendiri. Karena, hanya akulah yang membuat dan melayani pelangganku. Dan pada saat aku sedang membuat pesanan pelangganku, aku kedatangan satu pelanggan baru yang baru pertama kali aku lihat. Dia seorang cowok yang perfect menurutku. Bodynya bagus, kulitnya putih bersih, bahkan kalau dilihat-lihat dia seorang pengusaha, karena dia keluar dari sebuah mobil yang mahal entah berapa harganya. Itu sih menurutku. Aku pun tercengang melihat pelangganku ini. Hingga…
“mba, pesanan saya sudah jadi belum?” tanya salah satu pelanggan
“ya bu, ini saya lagi buatkan. Sebentar lagi matang kok bu” kataku dengan sigap menyelesaikan pesanan
Tetap dengan menatap si cowok, aku tetap membuat jagung bakar manis pesanan pelangganku. Dan tiba-tiba dia datang menghampiri tempatku berjualan. Entah ingin membeli atau untuk berkenalan padaku.
“ge-er banget aku. Mana mungkin dia mau sama aku. Cewek yang hanya menjual jagung bakar manis” kataku dengan nada menggerutu

Setelah aku selesai membuat jagung bakar manis pelangganku, dia pun menghampiri ku lebih dekat.
“mba, jualan jagung bakar manis ya” katanya dengan ucapan yang sok
“iya, kenapa?” jawabku dengan sopan. Karena bagiku, bagaimana pun sikap pelanggan ku, aku harus sopan dengannya.
“ada rasa apa saja?” tanyanya lagi
“banyak, mas maunya rasa apa?” tanyaku kembali
“emang saya terlihat seperti mas-mas ya. Kok manggil saya mas?” sambil membuka kacamata hitam yang dia pakai.
Aku pun hanya tersenyum mendengar ucapannya. Dan sesekali aku melihat ke arah dia yang sedang melihat menu rasa yang ada di kaca gerobakku.
Sambil dia melihat-lihat, sambil dia menerima telepon. Entah dari siapa dia menerima telepon, tapi terlihat serius, mungkin dari pacarnya. Terasa lama sekali dia melihat-lihat menu jagung bakarku, tapi tidak ada tanda-tanda dia ingin membeli.

Aku melanjutkan membuat pesanan para pelangganku yang sudah siap menanti kehadiran jagung bakar manisku. Dah akhirnya dia memesan, meskipun hanya 1 tapi aku tidak merasa kecewa.
“mba, jagung bakar pedas manisnya 1 ya. Tapi, kan katanya jagung bakar manis, kok ada yang pedas. Ini sih bukan jagung bakar manis namanya, tapi jagung bakar variasi manis dan rasa pedas” katanya yang sedikit menyinggung hati
“loh, mas mau pesan atau mau mengritik dagangan saya?” jawabku yang kesal
Dia pun terdiam dan hanya melihatku membuat jagung bakar pesanannya. Setelah selesai, dia pun membayar dan kembali masuk ke mobil dan pergi dari tempatku.

Hari sudah menjelang sore. Daganganku habis terjual dan aku langsung membereskan untuk kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah…
“kenapa nak? ko wajahmu seperti orang habis berantem saja?” tanya ibuku sembari membantuku membawa dagangan ku
“itu loh bu, tadi ada cowok yang beli, tapi dia mengritik daganganku” jawabku dengan kesal
“mengritik gimana toh ndo?” tanya ibu kembali
Sudah terlanjur basah, akhirnya aku menceritakan kejadian yang tadi membuatku merasa sakit hati dengan kata-kata pelangganku. Setelah aku menceritakan, aku langsung masuk dan menuju kamarku. Di dalam kamar aku menggerutu akan sikap cowok tadi. Aku berharap esok hari tidak bertemu dengannya lagi.

Keesokan Harinya
Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi. Waktunya aku untuk berjualan lagi. Sambil menuju tempatku berjualan, aku menawarkan jagung manis yang masih mentah kepada tetanggaku. Itung-itung bisa dapat lebih dari jualanku hari ini. Ketika aku akan tiba di tempatku berjualan, dari kejauhan aku lihat ada mobil mewah yang sedang parkir di halaman tempatku berjualan. Aku lihat dari jauh, aku seperti mengenali mobil mewah ini. Dan aku pun teringat oleh cowok songong yang kemarin mengritik daganganku. Semakin ku dekati dan semakin aku yakin dengan mobil ini. Dan ternyata benar saja, ini mobil si cowok songong.

Aku mendekati tempatku berjualan tanpa aku hiraukan kedatangan si cowok songong yang lebih dulu sampai. Dengan sikap cuek, aku bergegas membereskan daganganku. Dia yang duduk santai hanya melihat sikapku yang kemarin terlihat sopan tiba-tiba jadi cuek.

10 menit berlalu, tetap dengan sikap cuekku dan sikap santainya dia. Hingga akhirnya dia memulai untuk berbicara.
“mba, saya mau pesan 2 jagung bakar manisnya. Tapi, saya enggak mau yang pedas, nanti jadi jagung bakar manis pedas” katanya dengan senyum mengeledek
Aku tetap diam tanpa menghiraukan ucapannya. Tapi, yang membuat aku terheran-heran, dia hanya tetap diam duduk manis tanpa menyuruhku mempercepat membuatkan pesanannya. Biasanya pelangganku yang lain selalu menyuruhku mempercepat untuk menyajikan pesanannya. Setelah selesai aku merapikan semua yang akan ku persiapkan, baru aku mulai membuatkan 2 jagung bakar manis dan bukan jagung bakar manis pedas. Cukup lama waktu yang aku butuhkan untuk memenuhi keinginan si cowok songong itu. Akhrinya pesanan yang dia minta sudah selesai ku buat. Setelah selesai aku memberikannya kepada si cowok songong itu.
“nih, 2 jagung bakar manisnya sudah jadi. 2 jagung bakar manis jadinya 20.000″ kataku singkat
“ahh, baru 20.000 belum dagangannya saya beli” tetap dengan kata-kata sok
Aku pun merasa terhina oleh ucapannya. Lalu…
“ya sudah sini bayar, bayar aja lama banget” kataku mempercepat
“sabar dong mba yang manis kayak jagung bakar manisnya, ini juga lagi diambil. Berapa tadi semuanya” katanya mengulang genit
“20.000!!!” kataku marah
“ihh, biasa aja kali mba, enggak usah sewot gitu, enggak sabar ya mau terima uang dari saya” senyum-senyum
Aku sejenak menggerutu di hati
“iya emang gue mau cepat-cepat terima uang dari lu, biar lu tuh cepet pergi dari hadapan gue”
Aku yang masih bengong menggerutu dengan menatap si cowok songong pun tersadar setelah si cowok songong ini menyadarkanku yang sedari tadi bengong sambil menatapnya.
“mba, bengong aja, kenapa saya ganteng ya sampai segitunya ngeliatinnya” katanya pede
“pede banget lu kalau ngomong. Omongan lu segede bom” kataku kesal
“masa sih mba, bilang aja mba suka kan sama saya, kalau mba enggak suka kenapa ngeliatnya lama banget” tersenyum kepedean
“dah sini uangnya, terus lu pergi dah dari sini” kataku sambil mengambil uang yang kebetulan pas dengan harga 2 jagung bakar manis
Dia pun segera pergi meninggalkan tempat ku. Sedikit kecewa dengan sikap ku sendiri kepada pelanggan ku, tapi itu salah dia sendiri yang segitu pedenya bilang kalau dia itu ganteng.
“memang sih ganteng, tapi nyebelin. Kalau dia jadi cowok gue, dah gue unyeng-unyeng tuh cowok. Kesel banget gue sama tuh cowok. Mentang-mentang tajir, ganteng bisa seenaknya mengritik dagangan gue, ganteng sih ganteng tapi pedenya gede banget. Huh. Untung cuma 1 cowok yang kayak gitu, coba kalau 10 cowok kayak gitu, mabok kepayang gue” gerutuku

Hari semakin siang dan semakin banyak pelanggan ku yang datang. Ada yang habis keluar kantor, ada yang baru pulang sekolah dan ada juga yang lagi istirahat karena sudah waktunya untuk istirahat. Setiap kali aku melihat para karyawan yang berada di sini, aku selalu membayangkan bagaimana rasanya kerja di tempat yang gedungnya gede, ber-ac, terus nyaman dan satu lagi, enggak panas-panasan kayak begini. Selalu saja aku berangan-angan bisa kerja seperti mereka. Tapi, terkadang aku pesimis dengan keadaan ku sekarang yang tidak mungkin aku bisa kerja seperti mereka dengan gaji yang lebih dari cukup untuk membantu perekonomian keluarga ku.

Waktu menunjukkan pukul 16.00, waktunya untukku pulang. Dan lagi lagi, si cowok songong itu datang lagi ke tempat ku. Namun aku tetap cuek sambil membereskan dagangan ku untuk ku bawa pulang kembali. Semakin dekat dia menghampiriku semakin aku percepat membereskannya. Dan setelah aku benar-benar siap untuk pulang…
“loh kok udah mau tutup aja. Kemarin kan jam segini belum pulang” tanyanya
“suka-suka gue mau pulang jam berapa, lagian siapa suruh lu dateng jam segini” kataku jutek
“weits, biasa aja dong mba. Enggak usah pake nada emosi yang TERLALU itu kata bang haji Roma Irama. Hahahaha” tertawanya pada ku
“wah, ketauan lu, suka dangdut juga lu, gue pikir lu kagak suka dangdut” jawabku kembali
“hey! Jangan salah, meskipun luarnya MACHO tapi dalamnya CUCO” katanya
“hahahaha… bisa aja lo ngong” kataku
“ngong? lu kata gue kucing kali ngeong” dia pun tertawa
Tak terasa kami bergurau. Tak sadar diri pula kalau aku sedang marah. Aku pun merasa malu lagi karena aku bercanda gurau dengan musuh bebuyutan ku.
“set dah, malu amat ni gue. Gengsi aja gue kayak lagu Syahrini – cinta tapi gengsi, tapi gue mah kagak pake cintanya cuma gengsinya aja. Duh, gimana ni nasib gengsi gue, kalau ketauan tambah malu lagi aja gue, mana ni cowok masih ada di depan gue” gerutuku karena aku baru sadar, kalau dari tadi aku bercanda gurau dengannya.
Dan tiba-tiba…
“oya mba, kita kan sudah lama kenal, kita kan belum kenalan tuh, gimana kalau kita kenalan dulu” katanya menawarkan jasa perkenalan
Sejenak aku terdiam memikirkan jawabannya.
“Kalau bilang “iya” tar dikira niat kenalan tapi kalau enggak rugi juga karena enggak tau namanya”
“mba, gimana mau enggak? kok diem aja sih” ucapnya mengagetkan
“eh ya kenapa?” tanya ku
“jeh sih mba ditanya malah bengong aja. Gue mah enggak usah dipikirin, tar malah sakit loh” jawabnya senyum
Tapi aku hanya terdiam tanpa menjawab sepatah kata pun. Sempat aku melirik ke arahnya dan yang aku lihat dia sedang menanti jawabanku dengan wajah penasaran. Aku pun lalu pergi meninggalkan dia yang masih menanti. Sempat dia menghentikan jalan ku, namun, aku tetap meneruskan langkah ku.
Tepat di tengah jalan, dia menghampiri ku. Masih dengan rasa penasaran, dia pun keluar dari mobil dan menghentikan langkah ku.
“mba, stop” katanya sembari menarik tangan kanan ku
“ihh, apaan sih lu, narik-narik tangan gue, lu kata tangan gue tali kali ditarik” kataku sambil melepas tangan ku
“ya maaf deh. Tapi kan gue mau kenalan sama lu, masa gitu aja enggak boleh sih. Gue bela-belain nih ngikutin lu pergi. Masa lu tega banget sama gue” katanya meminta maaf sembari berlutut untuk ku beri maaf dan menjawab pertanyaannya tadi
“ye udeh, bangun lu kagak enak dilihat sama orang, tar dikira lu abis gue putusin lagi, cepet bangun” kataku membantu dia bangun dari kaki ku. Aku sebenarnya tak ingin memberi tahu siapa namaku, tapi, karena dia memaksa jadi terpaksa aku menerima tawarannya
“nama gue…” kataku singkat
“nama lu siapa?” tanyanya penasaran
“nama gue… C H I K A” jawabku mengeja
“CHIKA… chika gitu maksud lu. Masa jawab gitu aja pake dieja. Huh” jawabnya sedikit kecewa dengan jawaban ku tadi
“masih bagus gue jawab, daripada enggak” jawabku
“kalau enggak dijawab, gue terjun dari langit, biar lu bisa jawab pertanyaan gue” katanya menghibur
“ahh, mana bisa lu terjun dari langit, jadi astronom aja belum tentu bisa lu, paling-paling lu terjun dari mobil doang. Ya sudah, gue mau pulang tar kesorean emak bapak gue nyariin lagi. Dah sana lu pergi dah, kan lu sudah tau siapa nama gue” kataku menghindari dirinya
“mau gue anterin enggak? kan lumayan irit tenaga” menawarkan jaa tumpangan
“enggak usah. Gue bisa pulang sendiri” jawabku sembari berjalan

Aku pun tetap berjalan untuk menghidari si cowok. Sambil ku berjalan, aku menengok ke belakang apakah dia masih menunggu ataukah dia sudah pulang. Dan ternyata dia masih menunggu. Aku pun semakin mempercepat langkah ku agar dia tidak mengikutiku.

Malam pun tiba. Aku yang merasa bosan di rumah, memutuskan untuk keluar rumah, mencari angin agar ku tidak merasa bosan lagi. Namun, lagi dan lagi, aku melihat si cowok songong itu lagi. Dia bersender di muka mobilnya. Aku lihat dari jauh, kelihatnnya dia sedang patah hati. Mungkin. Inginku menghampiri tapi aku gengsi banget. Tapi, aku penasaran dengan keadaannya. Dengan nekat akupun menghampiri si cowok.
“woy, bengong aja lu. Napa lu di sini sendirian, pake pasang muka galau lagi. Wah, abis putus cinte lu ya? masa macho-macho galau, jelek banget jadinya” kataku menghibur dirinya yang memang terlihat sekali galaunya. Aku pun terus menghibur dirinya agar aku bisa tahu apa yang sedang terjadi. Dan dia pun luluh dengan hiburan yang sederhana tapi bisa membuatnya tersenyum.
“gue bukan galau karena patah hati, tapi…” jawabnya setengah sambil merundukkan kepala.
“tapi apa? emang lu punya masalah apa? kok sampai lu keliatan ruwet amat masalah lu” ucapku
“gimana ya, gue bingung harus mulai dari mana, soalnya memang ruwet banget masalah gue. Mungkin kalau lu jadi gue, lu enggak akan sanggup untuk hidup lagi dan bawaannya cuma mau pergi yang jauh aja biar gue enggak punya masalah kayak gini. Berat banget, enggak tahu deh kalau ditimbang jadi berapa kilo” curhatnya padaku yang sedikit menggelitik hati
“ya sudah, lu cerita aja sama gue, siapa tahu gue bisa bantu lu. Kan kita teman” aku acungkan jari kelingkingku agar dia ikut memberi jari kelingkingnya. Dan kami pun saling mengaitkan jari kelingking yang memberi tanda kalau kami sudah aku dan tidak ada kata ribut-ributan kayak yang sudah-sudah

Dia pun mulai menceritakan dengan detail tentang masalah yang sedang dia hadapi. Aku dengan setia mendengarkan ceritanya sesekali aku memberi jawaban yang mungkin bisa membuatnya sedikit lega. Tak terasa 1 jam sudah kami saling curhat-jawab. Aku pun memutuskan untuk pulang, karena taku emak bapakku mencariku yang sudah jam segini belum pulang juga.
“sudah malam, gue pulang dulu ye, takut enak bapak gue nyariin, tar malah brabe lagi” pamitku padanya. Namun, dia kembali menawrkan jasa tumpangannya padaku. Entah karena memang sudah malam takut terjadi sesuatu hal yang tak ku inginkan atau karena aku sudah membuatnya merasa tanpa beban lagi.
“gue anterin pulang ya. Gue enggak mau lu pulang sendirian. Lagian ini sudah malam juga. Ijinkan diriku mengantarkanmu pulang wahai Chika” katanya sambil berlutut bak pangeran yang ingin mencium tangan sang putri.
Aku hanya terdiam dan tersenyum melihat cara dia menawarkan jasa tumpangannya. Lucu menurutku, karena sebelumnya belum ada 1 orang laki-laki yang meninta jasa seperti cowok ini. Di dalam mobil kami berbincang-bincang lagi, tapi dengan topik yang berbeda. Sedikit menyinggung ke masalah percintaan.
“oya, waktu itu kan lu sudah kasih tahu nama lu, sekarang gantian gue yang kasih tahu nama gue. Nama gue Reza, tapi biasa dipanggil Eza. Ya mungkin biar lebih singkat aja” katanya sembari menyetir mobil yang ia bawa
“oya, ngomong-ngomong lu sudah punya cowok belum? ntar ada yang marah lagi kalau liat lu dianterin sama gue, cowok yang gantengnya enggak ada habisnya. Hehehe” jawabnya pede
“pede banget. Gue heran sama lu, pede lu enggak ada habisnya. Gue belum punya cowok, lagian mana ada sih cowok yang mau sama gue, CEWEK PENJUAL JAGUNG BAKAR MANIS yang enggak punya apa-apa, apalagi masalah ekonomi, jauh dari cewek-cewek yang lain” jawabku jujur. Aku sengaja jawab dengan jujur, agar aku tahu bagaimana reaksi dia dengan keadaanku, dan ternyata dia beda dengan cowok-cowok sebelumnya. Dia tidak begitu memperdulikan bibit, bebet dan bobot diriku
“ahh, masa sih enggak ada yang suka sama lu. Meskipun lu cuma penjual jagung bakar manis, tapi kan orangnya lebih manis daripada jagung bakarnya. Gue sih enggak mikirin banget soal orang yang ada didekat gue, asal gue nyaman, senang enggak masalah buat gue. Lagian gue aja malu sama diri gue sendiri, gue cuma bisa menghabiskan uang ortu gue tanpa gue tahu bagaimana susahnya mencari uang. Gue aja pas liat lu, gue sempet mikir, lu aja yang cewek bisa usaha tanpa lu ngeluh, tapi gue enggak bisa” curhatnya lagi sambil tetap menyetir mobil yang sedang menuju perjalanan ke rumahku

Setelah menempuh perjalanan yang cukup membuatku mengantuk aku pun tiba di rumah. Rumah yang sederhana dengan design yang kuno. Aku dan Eza turun dari mobil. Tiba-tiba Eza mengucapkan sepatah kata yang membuatku tercengang tidak percaya, bagaikan mimpi dalam tidur.
“chik, gue boleh ngomong sesuatu enggak sama lu” katanya sambil memegang kedua telapak tangan ku
“ngomong apa? tapi jangan di sini, di teras rumah gue aja mau enggak. Tapi enggak gede tempatnya. Ya, cukuplah buat duduk-duduk mah” menunjuk tempat yang ku katakan. Kami pun menuju teras rumahku. Duduk berhadap-hadapan kayak di sinetron-sinetron gitu. Dia kembali memegang kedua telapak tanganku.
“gue… gue…” terbata-bata, mungkin malu untuk mengutarakannya
“gue apa dan kenapa” jawabku penasaran
“gue… gue suka sama lu” jawabnya lagi, namun dipercepat
“ngomong apa sih lu ngong?” tanya ku pura-pura tidak dengar jelas apa yang dia katakan
“gue suka sama lu Chika manis” senyum-senyum menjelaskan kembali isi hati yang telah lama dia pendam
“hah? lu enggak ngigau kan?” tepuk-tepuk pipi Eza
“enggak Chika sayang. Gue beneran suka sama lu. Dari awal gue liat lu, gue sudah mulai suka sama lu. Lu sudah buat gue lebih menghargai jerih payah ortu gue. Lu juga yang sudah buat gue lebih bahagia tanpa memikirkan masalah yang melanda hidup gue. Lu mau kan jadi pacar gue, kalau boleh jadi istri gue” katanya meyakinkanku

Aku berdiri menuju mobilnya dan bersenderan. Aku memikirkan jawaban apa yang pantas untuknya, karena sejujurnya aku dan dia sangat jauh berbeda. Dia berasal dari keluarga yang sukses sedangkan aku tidak. Aku juga takut ini hanya akal-akalan dia untuk menyakitiku. Namun, dari tatapan matanya dia tidak sejelek yang aku pikir. Sementara aku terdiam, dia datang menghampiriku dan kembali meminta jawabanku.
“Chik, gue tau apa yang lu pikirin. Lu takut kan kalau gue cuma maenin lu, tenang aja Chik, gue serius sama lu, kalau perlu malam ini juga lu gue bawa ke rumah gue biar lu bisa kenal langsung sama ortu gue” bertekuk lutut meyakinkan hatiku
“enggak usah, gue percaya kok sama lu. Tapi, apa lu bisa terima keadaan gue dan keluarga gue yang jauh berbeda sama lu?” menyruruh dia bangun karena aku tidak mau dia seperti ini lagi
“iya Chik, hati gue sudah mantap sama lu. Apa pun keadaan lu dan keluarga lu gue enggak perduli, yang penting lu bisa jadi milik gue. Jawab Chik pertanyaan gue, lu mau enggak jadi pacar dan jadi istri gue?” penasaran menanti jawabanku ini
“iya gue mau jadi pacar lu, tapi kalau jadi istri gue belum tau. Kita jalanin aja dulu, kalau jodoh ya terusin kalau enggak jangan kecewa” jawabku yang membuatnya bahagia dan merasa lebih sempurna hidup ini

Aku pun larut dalam pelukan hangat yang membuatku tidak ingin melepaskannya. Kami pun menjalani hidup dengan cinta dan kasih sayang. Dan setiap harinya dia ikut membantuku berjualan. Aku juga merasa sempurna dalam menjalani hari-hariku yang awalnya sepi tanpa kekasih dan sekarang dengan kekasih yang selalu ada untukku.

The End

Cerpen Karangan: Putri Setiowati
Facebook: Puputchubby Buletsbuletz Ajjah

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply