Chat Random

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 January 2016

Tahu aplikasi chat random gak? Pasti tahu dong. Itu loh aplikasi semacam sosial media dimana kita bisa chattingan dengan orang tak dikenal. Di situlah, pertama kali aku mengenalnya. Namanya Ares. Lebih tepatnya, Ares Sebastian Culver. Dia berasal dari Inggris. Umurnya 17 tahun. Lebih tua setahun dariku. Dari awal kami ngobrol, aku sudah memprediksi bahwa dia orang yang mudah bergaul. Dia juga suka bercanda. Sayangnya, hingga kini aku tidak mengetahui wajahnya.

Dia hanya mengatakan bahwa dia memiliki mata berwarna hijau, kulit putih dan tingginya 175 cm. Wow, menurut perkiraanku, dia sepertinya tampan. Enhtahlah, itu masih kemungkinan. Sebab, kata orang, orang yang bermata hijau adalah sosok yang menarik. Aku pernah melihat mata hijaunya. Karena dia pernah mengirimkan foto matanya padaku. Jadi, begini ceritanya. Suatu ketika, kami sedang bermain TOD. Lalu saat gilirannya, dia memilih Dare. Aku memberinya tantangan untuk mengirimkan foto matanya. Hanya matanya saja. Karena, aku penasaran sekali dengan mata yang berwarna hijau.

Dari sumber yang pernah aku baca, pemilik mata hijau sulit ditemukan. Jadi, dia termasuk langka bukan? Dan dengan senang hati dia mengirimkan foto matanya. Tahukah kalian bahwa matanya bena-benar indah? Aku benar-benar terpukau karenanya. Awalnya aku sedikit tidak percaya kalau itu mata aslinya. Aku sempat menanyakan padanya, apakah dia benar-benar mengirimkan foto mata aslinya? Dia bilang iya. Baiklah, kali ini aku percaya padanya.

Sudah dua minggu ini, hampir setiap hari aku chattingan dengan Ares. Entah kenapa, aku tak pernah bosan ketika mengobrol dengannya. Rasanya itu menyenangkan. Dan semenjak itu, aku merasakan suatu hal yang aneh pada diriku. Setiap aku chatting bersamanya, jantungku berdetak 3 kali lebih cepat dari biasanya. Tidak hanya itu, rasanya seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di perutku. Ada apa denganku? Saat aku bertanya pada Vania, sahabatku, dia malah tertawa.

Lalu menjawab, “lo tuh ya, polos banget. Tapi, gue maklumin deh. Lo kan belum pernah ngerasain jatuh cinta. Jadi intinya, apa yang lo rasain saat ini tuh namanya cinta. Lo udah jatuh cinta sama dia.” Vania mengakhiri ucapannya dengan senyum jahil khasnya. Tapi, aku bingung juga, bagaimana mungkin aku jatuh cinta padanya? Wajahnya saja aku tidak tahu.
“Tapi… gue gak pernah tahu wajahnya, Van. Jadi, gak mungkin lah gue jatuh cinta sama dia. Mustahil banget tahu gak.” Elakku. Ya, itu sangat mustahil.

“Apa jatuh cinta harus melihat wajahnya? Gak kan. Jatuh cinta itu bisa kapan aja dan kepada siapa saja. Gak perlu lihat wajahnya. Lo bisa saja jatuh pada orang yang membuat lo nyaman saat bersamanya. Baik karena perkataan atau tindakannya. Gue tahu, dia memang gak pernah berbuat apa pun terhadap lo. Tapi, kepeduliannya lewat perkataannya itu bisa bikin lo nyaman bukan? Lo percaya kan sama dia? Sama setiap perkataannya?” Vania menatapku serius.

Iya juga sih, aku percaya sama dia. Semua yang dikatakannya pun, aku percaya. Meski kami tidak pernah bertemu, tapi… entahlah. Hatiku merasa yakin padanya.
“Tuh kan gue bilang apa? Diam bearti iya. Lo percaya sama dia. Dan lo harus mengakui kalu lo cinta sama dia.” mungkin apa yang dikatakan Vania benar. Aku menyukainya, mencintainya.. ya, dia, Ares Sebastian Culver.

Pagi ini aku mencoba untuk memulai chat bersama Ares. Karena, sudah beberapa hari ini, kami tidak mengobrol. Mungkin, kami sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Akhir-akhir ini, aku sedang banyak tugas. Maklumlah, masa liburan sudah habis. Jadi, awal masuk sekolah, tugasnya udah numpuk. Aku kembali fokus pada laptop di hadapanku. Dan mulai menyapanya dengan kata, “hai.” Kebetulan sekali, saat ini Ares sedang online.

Selang beberapa menit, dia membalas, “hai teman, bagaimana keadaanmu?” Langsung saja ku balas.
“Baik. Btw, ke mana saja kamu beberapa hari ini? Kenapa tidak menghubungiku?” Dia membalas lagi.
“Maaf, aku sedang sibuk dengan tugas sekolahku. Oh ya, dua hari lagi aku akan ke Indonesia. Ibuku mengajakku berlibur ke sana dan menghadiri acara pernikahan teman lamanya.” Apa? Dia mau ke Indonesia. Aku gak mimpi kan? Saking senangnya, aku melompat-lompat di atas tempat tidurku dan berusaha untuk tidak teriak, karena sudah tengah malam. Dengan cepat, aku membalasnya.

“Benarkah? Kamu tidak sedang bercanda kan?”
“Aku serius, Dara.” Dia serius? Ahh, aku tidak sabar ingin bertemu dengannya. Tapi, dua hari lagi? Tunggu-tunggu. Bukankah dua hari lagi ayah mengajakku ke Surabaya untuk mengunjungi nenek dan menghadiri pernikahan tanteku? Yah, sayang sekali.

“Memangnya, berapa lama kamu akan tinggal di Indonesia?” Tanyaku lagi.
“hanya dua hari.” Mungkin, ini memang bukan takdirku agar dapat bertemu dengannya. karena, Ayah bilang bahwa kami sekeluarga akan tinggal di rumah nenek selama 3 hari. Dan obrolan kami pun berlanjut tentang kegiatan kami selama seminggu ini.

Sekarang hari Jumat. Hari dimana aku akan berangkat ke Surabaya dan hari kedatangan Ares di Indonesia. Betapa aku menginginkan bertemu dengannya. Mungkin, Tuhan tahu mana yang terbaik untukku. Mungkin saja aku akan bertemu dengannya tetapi bukan hari ini. Entah itu besok, atau di waktu lain. Semoga saja. Semalam, aku sudang packing. Dan kini aku sudah bersiap-siap untuk memasukkan barang ke dalam mobil.

“Daraaa… udah siap belum? Mama tunggu di depan ya.. jangan lama-lama.” Mama memanggilku dengan suara teriakan khasnya.
“iya Ma, nih udah selesai.” Aku buru-buru turun ke bawah dan segera menuju mobil. Usai meletakkan barang-barang di bagasi, aku segera menaiki mobil. Dan mobil pun melaju menuju bandara Soekarno Hatta.

Kini, aku sudah tiba di rumah nenek. Di sini ramai sekali. Banyak saudaraku yang berkumpul di sini. “Oi, ngelamun aja lo.” Tegur sepupuku, Icha.
“mikirin apa sih? Bagi-bagi cerita dong. Gue bosen nih.” Sahut Icha lagi.
“Gue… gue…” duh, apakah aku harus bilang bahwa aku sedang memikirkan Ares? Sepertinya iya. Mungkin saja, dengan begini dapat meringankan bebanku.
“gue?” Icha mengernyit bingung.

“gue lagi galau Cha.. gue lagi kepikiran dengan seseorang. Seseorang yang sekarang mungkin sudah tiba di Indonesia. Seseorang yang sudah membuat jantung gue berdetak lebih cepat akhir-akhir ini. Seseorang yang sudah membuat gue jatuh.” Aku mengakhiri ucapanku dengan helaan napas.
“lo ngomong apaan sih Ra? Gue gak nyambung deh.” Icha menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal. Dia bingung dengan apa yang dikatakan sepupunya. Ya, sudah lama mereka tidak saling berkomunikasi dan saling curhat. Dia sungguh penasaran. Akhirnya, Dara pun menceritakan semua tentang Ares. Bagaimana awal mereka saling kenal dan hal-hal lain seputar Ares.

“Oh, jadi sekarang dia lagi ada di Indonesia. Dan lo sekarang lagi menyesali nasib lo karena lo gak bisa bertemu dengan dia? Hahaha, kasihan banget sih lo.. gue bingung mau bilang apa sama lo. Intinya, yang sabar aja ya.. mungkin Tuhan udah memberikan jalan yang terbaik.” Icha tersenyum menenangkan. Baiklah, aku harus menerima kenyataan. Dan untuk beberapa waktu ini aku harus melupakan Ares sementara.

Hari ini acara pernikahan Tante Imel dan Om Rafa diselenggarakan. Mereka terlihat sangat seras. Tante Imel yang cantik dengan balutan gaun putih yang pas ditubuhnya dan Om Rafa dengan Jas putih yang ia kenakan. Mereka benar-benar cocok. “Ra, lo udah siap belum? Bentar lagi kita berangkat ke gedung resepsinya.” Icha tiba-tiba saja nongol di depan pintu kamarku, sambil berkacak pinggang. “iya nih udah.”

Aku melihat sekali lagi penampilanku saat ini. Dress berwarna peach tanpa lengan dengan panjang di atas lutut, High heels setinggi 5 cm, Make up yang natural, dan rambutku dibiarkan tergerai dengan hiasan bandana di atasnya. Perfect. “udah jangan ngaca mulu. Kasihan kacanya, entar pecah tuh lihat wajah lo.” Icha tiba-tiba menyahut.
“Sialan lo.” Timpalku dan segera turun ke lantai bawah bersama Icha.

Di gedung resepsi sudah ramai. Banyak rekan bisnis Tante Imel dan Om Rafa yang datang. Aku dan Icha, segera memasuki gedung resepsi. “Ra, gue tinggal ke toilet dulu ya.. kebelet nih.” Tanpa menuggu jawabanku, Icha sudah ngacir ke toilet. Sepertinya dia benar-benar sudah tidak tahan. Aku berjalan menuju kursi yang telah di sediakan. Tanpa sadar, aku tidak sengaja menabrak seseorang.

“eh, eh, maaf gak sengaja.” Kataku pada cowok di hadapanku yang kini tengah menunduk sambil merapikan tuxedonya.
“tidak apa-apa.” Ucap cowok itu sambil mengadahkan kepalanya. Mata itu.. aku pernah melihatnya. Mata itu sama seperti mata miliknya. Milik dia yang terus ada dalam pikiranku. “Perkenalkan, namaku Ares Sebastian Culver. Panggil saja Ares. Senang bertemu denganmu nona.” Dia menjulurkan tangannya. Mengajakku berjabat tangan. Aku hanya menatapnya.

Aku bingung. Benarkah ini dia? Dia yang aku tunggu. Tapi, ini memang dia. Kenapa dia tidak bilang bahwa dia akan ke Surabaya dan menghadiri pernikahan tanteku? Tapi, dia kan tidak tahu bahwa aku keponakan Tante Imel dan Om Rafa. Wajarlah kalau gitu. Dan jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku. Aku masih ingin melihatnya di sini, bersamaku. Aku menghembuskan napasku perlahan dan mengontrol detak jantungku yang tak karuan.

“Aku Adonia Adara. Biasa dipanggil Dara. Dan senang bertemu denganmu, Tuan.” Aku membalas jabatan tangannya dan tersenyum. Sama halnya denganku. Dia terlihat terkejut. Namun ia segera menormalkan ekspresinya dan kembali tersenyum padaku.

Cerpen Karangan: Jihan Bobsaid
Facebook: Jihan Bobsaid

Cerpen Chat Random merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjalanan Hidup Dalam Cinta

Oleh:
Perkenalkan nama saya Angga. Mahasiswa aktif UAD semester 2, prodi PBSI. Aku akan bercerita singkat tentang perjalanan cinta dalam kehidupanku. Pada awalnya aku mengenal jatuh cinta pada masuk Sekolah

My Enemy My Boyfriend

Oleh:
Waktu istirahat tiba, Aku dan Naya bergegas ke kantin. Aku langsung memesan bakso kesukaanku. “Nay, kamu mau makan apa? Aku udah pesen bakso”, kataku kepada Naya. “Hmm Aku pesen

Antara Kita

Oleh:
Dalam sebuah keterasingan aku berjalan kaku. Aku tak ingin menoleh sedikitpun ke belakang. Aku ingin terus menatap masa depan. Tapi di depan sana banyak sekali tikungan. Sebenarnya dalam hati

Mungkin Dia Bukan Untukku

Oleh:
“dyan, dyan..” panggil seseorang yang duduk di belakang bangkuku.. “iya dit. Ada apa?” “ini gimana sih caranya?” tanyanya yang terlihat bingung mengerjakan soal matematika. “hehe… Aku juga gak tau

Hujan yang Membuat ini Terjadi

Oleh:
Disabtu malam yang kelabu aku menatap bintang yang indah,ditemani dengan boneka teddy bearku yang seakan tau isi hatiku sekarang . Dimalam itu langit seakan ikut larut dalam kesedihanku,ikut larut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *