Cinta Aku Kamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 June 2013

Gue hidup dalam keluarga yang yang serba berkecukupan yah… Bisa di bilang kaya gitu loh. Gue bersyukur hidup tanpa kekurangan materil. Sehari hari gue selalu tersenyum dan happy. Hingga suatu saat temen gue resi bilang “pasti hidup loe seneng and happy banget yah”. Gue cuma ngerut kening gitu. Eh dia nyambung kalimat nya lagi “habis nya gue lihat loe selalu tersenyum, gak pernah galau badai gitu”. Gue cuma respon perkataan nya dengan senyuman. Because of what?
Karena gue senang banget tak ada yang tau kondisi batin gue yang gimana… Gitu. Sampai sampai temen gue ranbi bilang “andai gue bisa hidup seperti loe, gue ingin abadi di dunia ini.”
Huh… Dia ngayel kali ya.. Hahaha

Keesokan hari di sekolah temen gue cari gara gara, dia juga bikin gue malu. Karena gue kesal banget gak sengaja gue nendang botol kena kepala seorang cowok, gue takut tu cowok bakalan marah. Cowok itu ngelihat gue dan berjalan ke arah gue. Spontan gue berpikir untuk marah duluan ke dia dari pada gue yang dimarahin. “apa? Makanya jalan tu lihat lihat dong!”
Gue kaget banget denger respon nya, dia gak marah tapi… “sorry ya, mungkin gue yang salah”
“haah” (masih bingung)
“o ya, kenalin gue rival” (sambil menjulurkan tangan)
“gue chabi, sorry tadi gue marah marah padahal gue yang salah”
“baguslah kalo loe sadar” (sambil beranjak pergi)
(setelah cowo itu jauh) “ih, nyesel gue minta maaf” (pasang tampang bete sambil jalan pulang).

Di sekolah gue selalu ketemu tu cowo, cowo yang betein tapi ngangenin. Hehe. Tiba tiba temen gue ranbi nanya ”loe kenal ya sama cowok ganteng itu?”, “ya, baru sih” (cuek)
“gue lihat lihat ye, dia sering perhatiin loe”
“ah, perasaan loe aja kali… Udah ah, ke kelas yuk, bentar lagi masuk”
“ya udah”. (sampe di kelas bel langsung bunyi dan pelajaran di mulai)

Tengnongnengnong. Bel pulang pun akhirnya berbunyi. Ini lah saat saat yang gue gak pengen ada dalam hidup gue. Harus pulang ke rumah?

Akhirnya malam berganti pagi, gue bersegera pergi sekolah. Sesampainya di sekolah, rival yang terkenal keren itu nyamperin gue. Tapi gue gak nyangka dia nyamperin gue untuk nanya “kenapa loe bohongin semua orang, kenapa loe gak jadi diri loe sendiri”. Muka gua merah banget tapi untung disana cuma ada gue dan si rival.
“maksud loe?”. “gue tau semua tentang loe, tentang keluarga loe..” (spontan gue hentikan omongannya dengan jari gue) “trus sekarang apa mau loe”. “gue ingin tau semua nya dari loe” (keppoooo banget sih ni cowo) “loe ngomong apa sih, gue gak ngerti” (cemas) “jangan sok gak tau loe, cerita aja, gue janji… Bakalan rahasiain semuanya”
“oke!, gue akan cerita semua sama loe, tapi loe beneran janji kan gak bakalan kasih tau orang lain”, “yups, gue janji, kan gue udah bilang”
“gini.. Gue memang selalu tersenyum, karena gue gak mau di kasihani orang, walau sebenarnya hati gue menjerit dan menangis. Rumah gue selalu ribut oleh pertengkaran nyokap bokap gue, gue serasa tinggal di penjara api. Kalimat kalimat yang gue denger setiap hari di rumah bagai pisau tajam yang mencabik cabik. Kebohongan demi kebohongan pun menghiasi kehidupan gue. Di setiap doa gue, gue selalu meminta agar keluarga gue menjadi keluarga yang benar benar bahagia tapi doa gue gak pernah di jabah. Sampai suatu saat gue putus asa hingga gue berfikir dan berkata sendiri
“tuhan… Buat apa gue hidup… Buat apa gue dilahirkan ke dunia ini… Jika hanya untuk menderita dan mengalami siksaan bathin.. Ambillah nyawa gue… Kembalikan lah gue ke sisi mu tuhan… Gue bosan hidup di dunia yang kejam ini”.
Rival tiba tiba motong kalimat gue “huss… Kenapa loe bicara kaya gitu”
“saat itu gue sedih dan terpuruk banget, tapi akhirnya gue sadar, apa gunanya gue berlarut dalam kesedihan, buat apa gue menangis, toh ga ada yang perduli kan sama gue. Buat apa gue mengrapkan sesuatu yang gak mungkin gue capai, yang akhirnya hanya akan membuat gue tambah terpuruk dalam lubang hitam pekat gelap sempit”
“mulai saat itu juga gue berprinsip ”gue harus selalu tersenyum dan ceria karena kesedihan gue tak aka ada gunanya, biarlah kesedihan ini gue pendam sendiri”
“itulah sebab nya gue gak pernah mau menangis di hadapan temen temen gue dan sejak saat itulah gue gak lagi jadi anak yang suram, gue mendapat banyak temen, temen dari semua kepalsuan seperti yang loe bilang” (terbawa suasana sehingga semua nya terbongkar)

Si ganteng gak berpaling sedikit pun, mata nya melek mulu, padahal cerita gue udah hampir setengah jam.
Tak beberapa detik setelah gue bicara, rival langsung respon “gue sudah tau kok, cuma pengen denger dari loe doang, kasian banget ya hidup loe”.
Gue lansung pasang tampang marah gitu. Eeeeeh… Dia malah tersenyum dan bikin gue heran. Mungkin dia tau kali yee, kalo gue heran, dan dia nyambung kalimat nya. “karena itu, gue akan perkenalkan diri gue ke loe sekali lagi, gue rival. Mulai sekarang gue lah yang akan menampung seluruh keluh kesah loe. Loe gak akan pernah gue biarkan lagi menanggung semua nya sendiri”
Gue super duper kaget and cuma sanggup bilang “what”.
“loe gak ngerti? Mulai saat ini gue pacar loe dan loe pacar gue. Menangis lah sepuas loe di bahu gue, gue akan selalu jaga loe, karena gue sayang sama loe”
Kalimat nya membuat gue nangis, nangis karena seneng, dan tanpa gue sadar murid murid sekelas tontonin kejadian hari itu, mereka bersorak riang. Haha, gue gak tau lagi harus respon apa.

Setelah hari itu hidup gue berubah, gue merasakan kehangatan. Kehangatan yang gak pernah gue rasa. Gue beruntung banget punya pacar kaya rival. Cowo cool, ganteng, kepo, walau sok sok an tapi pengertian.
Keluarga gue masih gitu gitu aja, tapi gue senang karena sekarang gue gak nampung semua nya sendiri.

~ end ~

Cerpen Karangan: Habibul Chair
Facebook: habibul_chair[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Cinta Aku Kamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Menit Pandangan

Oleh:
Udara pagi yang sejuk, membuatku semangat untuk menyambut hari yang bahagia ini. Setelah 3 minggu kita berlibur sekolah, meskipun libur sekolah kemarin bukanlah hari yang membahagiakan bagiku. Karena saat

Kebebasan

Oleh:
Otakku masih bekerja dengan normal, Tapi aku berfikiran bahwa aku sudah gila. Penglihatan dan pendengaranku masih berfungsi dengan baik, Hanya saja, aku beranggapan bahwa aku telah lama menjadi seorang

Sehari Tanpa Musuhku

Oleh:
Seperti anjing dan kucing, tidak pernah rukun. Itulah yang sering dikatakan teman-teman kepadaku dan Ronal, karena kami memang tidak pernah akur. Selalu saja ada hal yang diributkan di antara

Jangan Pernah Berubah Lagi Bunda

Oleh:
Namaku Nigita Amelsa, panggil aku Gita. Aku mempunyai kakak bernama Synta Agta, panggilannya Agta. Nama bundaku Dinda Syafniah, biasa dipanggil Dinda, sedang papaku alm. Harisy Futur, dipanggil alm. Harisy.

Memeluk Duka Dua Wanita

Oleh:
Aku masih ingat saat keluargaku pindah ke kampung tanah tosora pada tahun 1985. Saat itu, aku berumur 9 bulan. Sebelumnya, keluargaku hidup dalam gubuk di kampung bersebelahan yang tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *