Cinta Beda Usia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 December 2015

Cerita ini berawal dari waktu aku masih smp. Namaku Ririn Marika, teman-temanku biasa memanggilku Ririn atau Rika. Biasalah anak ABG biasanya kerjaannya cuma chattingan doang. Saat itu aku baru mengenal internet dan gayaku juga masih cupu, apalagi soal pacaran pun kurang tahu. Dulu aku pernah suka sama kakak kelasku tapi dia tak pernah meresponnya, aku anggap dia menolakku karena sikapnya yang sangat cuek. Aku cenderung lebih suka di kamar dari pada harus main ke rumah teman karena kamar adalah tempat yang spesial bagiku, tempat di mana aku bisa berpikir dan menenangkan hati.

Selama aku sekolah tak pernah ada cowok yang suka sama aku, mereka hanya memandang dari sisi fisikku saja. Tak apa, jodoh itu akan datang dengan sendirinya walaupun aku tak bisa mendapatkan hati cowok yang aku sukai itu. Aku baru saja dibelikan hp baru, ibu memang sayang banget sama aku, tapi kadang aku tak menuruti perintahnya. Agar aku mudah menghubungi teman-temanku, akhirnya aku minta nomor handphone mereka. Dulu nomor handphone yang ada di kontak hp-ku hanya nomor teman cewekku semua, tak ada nomor teman cowok kecuali nomor kakak kelas yang aku sukai itu.

Satu minggu sudah terlewati, saat itu hp-ku berdering seperti ada sms masuk. Ketika aku buka sms, nomornya tidak tercantum dan asing bagiku.
Sms itu tertulis, “hay.” dan aku balas sms dengan penasaran, “maaf, ini siapa ya?”
Nomor asing itu pun membalasnya lagi, “aku Aldi, kamu siapa?”
Aku curiga dan dalam hati berbicara, “kayaknya aku tak pernah punya nomor handphone cowok, apalagi cowok yang namanya Aldi dan kayaknya dia bukan anak SMP.”
Aku menjawabnya dengan nama belakangku, “aku Rika, kamu Aldi siapa ya?”

Dia tak membalas smsku dan membuatku lebih penasaran tentang dia. Keesokan harinya aku berangkat sekolah, aku bertanya-tanya nomor itu dengan temanku. Tak ada temanku yang tahu dengan nomor tersebut. Saat aku main ke rumah teman cewekku, namanya Vika. Aku bertanya lagi tentang nomor itu kepada Vika, kayaknya Vika tahu nomor itu dan tak asing lagi baginya. “kamu tahu nomor ini?” aku bertanya dengan menunjukkan nomor asing itu.
“sebentar, kayaknya aku pernah punya nomor itu. Coba aku cek di hp-ku.” jawab temanku sambil membuka kontak hp-nya. “ini kan nomornya kakaknya Fita -teman satu kelasnya Vika, kalau tidak salah namanya Dwi.” Vika mengetahui nomor itu dan memberitahuku.

Aku sangat kaget dan tak percaya “haaahh, kok dia bisa tahu nomorku. Terus dia ngaku namanya Aldi, bukan Dwi.”
“iya, pertama aku dapat sms dari nomor itu juga ngakunya namanya Aldi, ehh tahu-tahunya Dwi kakaknya Fita.” Vika menjawab dengan tak heran. Hari pun sudah mulai sore, waktunya aku pulang ke rumah. Sampai rumah aku sempat berpikir dan bertanya-tanya pada diriku sendiri, “kok dia bisa tahu nomorku, dari mana? Kalau dari sosmed juga tak mungkin, kan di sosmed nomornya tak diperlihatkan.”

Dia pun sms lagi. “hay.”
“juga, sebenarnya ini siapa sih?” aku membalasnya dengan pura-pura tidak tahu.
“aku Dwi Erlangga, kamu siapa?” dia menjawab dengan nama aslinya dan kayaknya dia masih penasaran denganku.

Aku balas dendam dengan balik tak menjawab sms darinya karena kemarin juga dia tak menjawab pertanyaanku. Setelah itu kita membicarakan akun sosmed dan akhirnya kita tahu nama sosmed kita satu sama lain. Dia mengaku kalau dia kakaknya Fita, dia tahu nomorku dari kontak hp-nya. Terus dia juga kerja di saudaranya yang ternyata saudaraku juga. Saat waktu jam pulang sekolah, aku tak pulang ke rumah karena sore ada ekstrakulikuler pramuka, aku dan teman-teman main ke rumah Fita untuk mengecat tongkat.

Fika bilang kalau di rumahnya hanya ada ibu, nenek, dan adiknya, sedangkan kakak dan ayahnya sedang kerja di desaku. Aku sampai lupa kalau Dwi lagi kerja di desaku. Adiknya Fita pun ke luar dan kayaknya mau main ke rumah temannya. Aku jadi tahu adiknya Dwi yang terakhir, saat itu Fita memanggil adiknya dengan sebutan Aldi. Aku sempat kaget, dan dalam hatiku berkata, “jadi Dwi ngaku namanya itu dengan nama adiknya.”

Dua minggu pun sudah lewat, dia minta untuk ketemu agar dia tahu seperti apa aku, awalnya aku tak mau tapi aku memintanya untuk mengajak adiknya, karena tempat tinggalku di tempat yang sejuk di pegunungan, jadi kita janjian ketemu di jembatan. Aku tidak tahu akan jadi seperti ini, aku malu sama Fita karena aku tidak akrab dengannya walaupun kelas kita sama dan aku jadi tahu Dwi itu orangnya kayak gimana. Beberapa hari kemudian, ternyata dia sudah mengetahui namaku yang sebenarnya, Dwi bilang kalau dia tahu namaku dari Fita. Katanya kalau aku berangkat sekolah, Dwi memandangku terus. Tapi sebelumnya aku tak tahu tentang itu. Selama itu juga dia sudah tahu kalau aku sudah punya pacar, tapi dia tetap chattingan sama aku.

Sudah setengah tahun ini aku menjalin hubungan dengan pacarku tapi akhirnya hubungan kita putus. Aku cerita kepada Dwi kalau aku sudah putus dengan pacarku. Setelah satu minggu aku putus, tiba-tiba Dwi menembakku. Dia bilang kalau dia suka sama aku saat pertama kali dia ketemu aku. Aku sangat bingung untuk menjawabnya karena aku baru kenal dengan Dwi, lagian juga aku belum akrab sama Dwi.

Entah aku kasihan sama Dwi ataupun gimana, aku menerima Dwi untuk jadi pacarku. Ketika aku menerimanya, dia langsung bilang kalau dia lagi di perjalanan mau ke jakarta. Aku sempat nangis, karena aku baru saja menerima cintanya tapi aku ditinggal pergi begitu saja. Mulai saat itu aku mulai cari tahu tentang Dwi. Oh my god, ternyata umur kita selisih 6 tahun. Dulu waktu itu umurku 14 tahun dan Dwi 20 tahun, aku tak menyangka jika selisih umur kita sejauh itu.

Sudah setengah tahun lebih aku sama Dwi, tapi hubungan kita sempat putus nyambung karena dia itu selingkuh. Akhirnya aku meminta persyaratan kepada Dwi, kalau kita putus cuma gara-gara dia selingkuh dan nantinya dia minta balikan lagi, aku tak mau menerimanya lagi. Dia berjanji tak akan selingkuh dan akan tetap menjaga hubungan kita. Aku selalu pegang janji itu dan pada akhirnya hubungan kita tak pernah putus nyambung lagi.

Kini aku melanjutkan ke sekolah menengah kejurusan (SMK). Hampir dua tahun kita pacaran tapi sampai sekarang hubungan kita masih terjaga, sekarang tak ada lagi selingkuh-selingkuhan, tak ada lagi pertengkaran, dan pastinya kita selalu setia. Dwi pernah mengajakku untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius lagi yaitu menikah, tapi aku tak mau karena aku belum cukup umur untuk menikah dan ibuku juga tak memperbolehkanku menikah di usia dini. Aku masih ingin curhat, tertawa bahagia, sedih, bercanda, gosipin orang, dan semuanya bersama sahabatku.

“Dwi, kalau kamu sabar menungguku sampai 4 tahun kedepan, sampai aku lulus SMK dan pastinya sudah bekerja. Baru aku mau menikah sama kamu.” kataku sambil menolaknya.
“iya rin, aku akan sabar menunggumu sampai kamu siap.” ucap Dwi dengan serius mengatakannya.

Cerpen karangan: Rintan Marika
Facebook: www.facebook.com/rintan.marika

Cerpen Cinta Beda Usia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Scouts Selamanya (Part 1)

Oleh:
Suara adzan subuh bergema, begitu juga dengan suara alarm handphone yang berdering memecah telinga seisi tenda, sontak semua terkejut, mereka meraba ke sana ke mari mencari di mana sumber

Akhir Dari Penantian Panjang

Oleh:
“Ketika kamu mencintai seseorang, kamu tidak bisa memaksanya untuk mencintaimu juga. Kamu hanya perlu membuat dia nyaman denganmu karena jika kamu memaksanya, berarti kamu belum mengetahui apa arti cinta

Cara Mencintaimu

Oleh:
Aku tidak tau alasan kenapa aku bisa mencintaimu seperti ini. Dengan segala macam bentuk rasanya, manis, asam, asin, bahkan melebihi nano nano. Yang jelas bukan karena cantik atau manismu,

Detektif Love

Oleh:
Keheningan menjadi penguasa ruangan, semuanya sibuk mengotak-atik ponsel masing-masing, maklum lah anak-anak kos. sore ini aku ada janji untuk pergi jogging bersama pacarku, jam sudah menunjukkan angka 15:00. tapi

Tidak Tahu Diri

Oleh:
Nama gue Dinda. Gue punya pacar namanya Reno. Dia itu ganteng, walaupun gak ganteng-ganteng banget tapi udah ganteng banget di mata gue. Ya jadi, gue punya geng. Di geng

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *