Cinta Bersemi di Warung Kopi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 23 December 2021

“Vin, ingat enggak, dulu kita pernah bertengkar di tempat itu,” ucap Mas Amri menunjuk sebuah warung kecil berspanduk ‘Warkop Temu Jodo’ yang ada di seberang jalan dari tempat kami berdiri.
“Yang gara-gara rebutan gorengan itu ‘kan, Mas?” tanyaku memastikan. Kulihat Mas Amri menganggukkan kepalanya, hal itu sontak membuat tanganku gemas untuk mencubit pipinya yang berlesung di sebelah kanannya.

Aku pun seketika teringat pada kejadian lucu satu tahun yang lalu. Peristiwa yang membuatku percaya, bahwa cinta bisa hadir tiba-tiba. Juga hal yang berhasil membuatku menemukan dia, ia yang sejak dua bulan lalu telah berganti status menjadi suamiku.

“Bah, kopi susu satu, ya,” pintaku pada Pak Ilham yang tak lain adalah pemilik warung kopi langgananku. Aku yang begitu menyukai kopi dan tak suka keramaian lebih memilih untuk melepas penat di warkop seperti ini dibandingkan harus berjalan-jalan mengelilingi mall besar yang ada di tengah kota sana.
“Siap, Neng.” Dengan cekatan, pak Ilham meracik kopi pesananku. Usianya yang sudah masuk kepala empat tak menyurutkan semangatnya dalam mencari nafkah untuk keluarga tercinta. “Baru keliatan, Vina. Ke mana aja kamu?” tanya Pak Ilham di sela-sela kesibukannya itu.
“Biasa, Bah. Tugas kuliah, kalau enggak dikejar nanti jadi masalah.” Aku tertawa mengingat betapa banyaknya tugas yang perlu kukerjakan beberapa minggu ini.
“Oalah, semangat atuh kuliahnya, biar cepat dapat gelar sarjana,” kelakar pak Ilham yang berhasil membuatku lebih tenang malam ini.
“Siap, Abah.”

Tak lama, secangkir kopi susu hangat tersaji rapi di depanku. Rasanya, kurang nikmat jika minum kopi tanpa pendamping, hingga akhirnya aku melihat sepotong bakwan goreng yang masih tertinggal di atas nampan biru.

“Eh, itu punya gue, ya! Kenapa jadi lu yang makan?!” kesalku pada seorang pria yang baru saja duduk di bangku sampingku. Pasalnya, ia mengambil gorengan yang hendak kuambil tadi.
“Heh! Jelas-jelas gue yang ambil duluan. Ya gue makan, lah,” sanggahnya terlihat tak terima.
“Kan gorengan masih banyak, kenapa lu ambil yang itu!”
“Ya serah gue, lah. Orang gue penginnya ini, kok. Lu kan juga bisa ambil yang itu.” Dia menunjuk dua buah nampan berisi beberapa macam gorengan yang ada di depannya. “Abah, kopi susu satu, ya,” lanjutnya memesan kopi yang sama sepertiku dan dibalas acungan jempol oleh pak Ilham.

“Gue alergi kedelai,” balasku yang sayangnya hanya tertahan di kerongkongan.
“Kenapa ngeliatin? Masih enggak terima gue yang ambil bakwannya duluan?” cecarnya saat melihatku yang tak sengaja menatap dirinya. “Oh, atau jangan-jangan … lu suka sama gue, ya?” Pertanyaan yang meluncur dari mulutnya sontak membuatku tersedak oleh kopi yang baru saja kuminum.
“Eh-eh, maaf,” sesalnya sembari menepuk pinggangku pelan.
“Jangan ge-er, deh, lu.” Aku yang telanjur kesal menarik tangannya dari pinggangku. “Dan … lu cerewet juga ya jadi cowok.”
“Ya, siapa tau, ‘kan,” ucapnya mengedikkan bahu. “Makasih, Bah,” lanjutnya berterima kasih saat pak Ilham memberikan kopi pesanannya.

“Lu tuh … siapa sih sebenarnya?”
“Gue? Manusia lah,” ketusnya membuat darahku seketika mendidih.
“Mana ada manusia yang ngeselinnya kayak lu. Jangan-jangan lu iblis yang lagi nyamar, ya?” tuduhku menampilkan mimik ketakutan.
“Heh, mulutnya! Kalau ngomong dijaga ya.”

“Kalian ini, berantem mulu. Hati-hati berjodoh, lho.” Ucapan pak Ilham menghentikan sejenak percakapanku dengan pria tak jelas di sebelahku ini.
“Ih, amit-amit.” Jawaban sama yang spontan terucap, membuat kami saling tatap.
“Nah, kan. Abah doain kalian berjodoh, deh.” Tawa pak Ilham mengakhiri perbincangan kita bertiga.

“Lucu juga sih kalau dipikir-pikir. Apalagi kalau dibikin cerita, keren tuh. Judulnya, gorengan penyatu cinta, atau … jodohku nangkring di warkop.” Ucapan mas Amri berhasil membuyarkan lamunanku, hingga akhirnya kami tertawa bersama.
“Iya juga, sih. Berarti doa Abah waktu itu manjur, ya,” ucapku yang langsung diangguki oleh mas Amri. “Gimana kalau kita ke sana, Mas. Sekalian nostalgia, gitu.”
“Boleh, tuh. Ayo,” timpal mas Amri menarik pelan tanganku menuju Warkop Temu Jodo, tempat yang menjadi saksi adanya cinta yang tumbuh di hati kami berdua.

Catatan kaki:
Temu: Bertemu
Jodo: Jodoh
Neng: Panggilan untuk perempuan
Abah: Panggilan untuk seorang laki-laki dewasa, biasanya untuk orang yang lebih tua.

Cerpen Karangan: Elin Maissa
Blog / Facebook: Elin Maisa
Penulis merupakan gadis kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah pada 27 Mei 2004. Lahir di keluarga yang sederhana, tetapi bermimpi menjadi penulis agar bisa mengangkat derajat keluarga. tengah menempuh pendidikan di semester akhir kelas 12.
karya lain bisa di cek di:
FB: Elin Maisa
WP: @elin_maissa27

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 23 Desember 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Cinta Bersemi di Warung Kopi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tentang Sayap yang Patah

Oleh:
“Untuk sayap yang patah, karena mereka yang hanya singgah.” Cewek itu bergumam lirih, tersenyum kecut sembari mengelus burung peliharaannya. Love bird. “Iya kan Bei, aku benar kan?” Bei, burung

Bebas Kok Bablas

Oleh:
Mumuk, mahasiswa tahun ke 3 yang tidak pernah ambil pusing dengan hot news di negaranya, sekarang beda cerita semenjak ia install aplikasi tiktok dua hari yang lalu. “Oh Indonesia

Kesetiaan Bekaskan Luka

Oleh:
Anastasya Adila Putri, gadis manis dan santun itu tengah berada antara hati 2 laki-laki, Dista Anggara dan Aldi Tifano. Walaupun dulu, cinta Dila hanya untuk Dista, tapi kali ini

Hadirnya

Oleh:
Namaku Alya Nur Aini, aku seorang piatu, aku siswi SMPN 2 bina negara, aku merupakan siswi kelas 9F, kelas 9f adalah kelas unggulan di SMPN 2 bina negara. Aku

Tetaplah Bersamaku (Part 1)

Oleh:
“Assalamu’alaikum Bu, Pak.. Nia berangkat,” “Wa’alaikumsalam nduk, seng tenanan yo.. Semoga kamu jadi orang sukses,” “Aamiin,” Tak lama kemudian kereta api gajayanan membawaku hijrah ke kota pelajar, Jogjakarta. Alhamdulillah,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *