Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 July 2016

Aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku pun memiliki teman dekat yang kemana-mana selalu berempat, mereka bernama Citra, Indah, dan Rara. Walaupun kami berempat tapi kami itu lebih akrab atau lebih suka cerita berdua berdua, seperti misalnya aku lebih suka cerita atau curhat ke Citra dan Indah pun lebih sering curhat dengan Rara.
Suatu hari Citra bercerita kepadaku.
“Re nggak tau kenapa, gue kok ngerasa ada yang aneh dari diri gue, kalo gue ketemu sama Gio”. Kata Citra.
“Aneh gimana? lu nya aja yang lebay kali”. Ledek aku.
“Ih lu mah ngeselin. Re gue ngerasa tiba-tiba jantung gue berdetaknya gak beraturan kalo gue lagi deket sama dia”.
“Artinya lu jatuh cinta tuh sama dia”.
“Mungkin aja kali yaa, tapi kan lu tau sendiri dia itu cueknya minta ampun”.
“Ya lu usaha dong buat narik perhatian dia”.
“iya gue coba deh, tapi gimana caranya?”.

Seiring berjalannya waktu Citra mulai mencoba mendekati Gio, tapi Gio selalu membuat kesan yang menyakitkan dan mengecewakan buat Citra. Entah karena apa dia memberi tanggapan yang hingga membuat Citra sampai terkadang menangis ketika setelah mencoba mendekatinya. Apa mungkin karena Gio tak suka dengan sikap Citra yang agak kekanak-kanakan atau karena ia menyukai orang lain. Sebagai sahabatnya aku hanya dapat memberinya nasihat, karena kalau ingin marah kepada Gio pun aku ini siapa, walaupun kami sekelas tapi aku tidak begitu dekat dengannya. Berbeda dengan Citra, dia sudah kenal dan dekat dengan Gio semenjak masa MOS, bahkan dulu dia sempat diantar pulang olehnya dan mereka pun saling curhat satu sama lain, jalan-jalan bareng dan melakukan hal lainnya selayaknya teman dekat yang kenal dari dulu. Tapi kini semuanya hanya tinggal kenangan bagi Citra.

Dia pernah bercerita kepadaku bahwa dia rindu masanya dengan Gio yang seperti dulu, dia merasa bahwa akhir yang seperti ini adalah salahnya, salahnya karena ia menyimpan rasa cinta untuknya, sedangkan Gio hanya ingin mereka berteman dan tidak lebih dari itu, maka dari itu semenjak Gio tau perasaan Citra yang sebenarnya akhirnya dia menjauh. Entah apa maksudnya Citra pun tak mengerti.

Waktu terus berlalu dan hari berganti hari terkadang aku kasihan melihat Citra yang selalu curhat kepadaku tentang pahitnya tanggapan-tanggapan rasa yang diberi oleh Gio.
“Cit udahlah.. lu cari lelaki lain yang lebih baik dari dia”. Nasihatku.
“Ngga tau kenapa Re, gue tau dia bales rasa gue dengan penuh sayatan di hati sampe sampe hati gue sakit banget, tapi gue belum bisa buka hati untuk yang lain”.
“Sebenernya apa sih yang lu suka dari dia sampe lu segininya banget”.
“Gue juga gak ngerti apa yang menarik gue, sampe gue bisa segininya sama dia”.
“Awas lu disantet sama dia”. Ledekku menghiburnya.
“Lu mah aneh-aneh aja, emangnya zaman semodern sekarang masih ada main dukun-dukunan begitu”.
“Yeeee lu kira di zaman modern kaga ada dukun?”.
“Udah deh ah, lu mah malah bahas dukun”.
“Ya lagian lu ditanya kenapa suka sama dia, malah jawab gak ngerti. Ya kan aneh”.
“Ya udahlah gak penting”. Aku merangkul Citra dan menepuknya memberi tepukan semangat.

Suatu hari akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh, seperti ada yang memperhatikanku, tetapi memang benar sesekali aku melihat ke arah Gio, dia sedang memperhatikanku. Tapi aku menyangkal terhadap itu, mungkin saja dia sedang memperhatikan Citra, karena aku dan Citra duduk bersebelahan. Mungkin akunya saja yang terlalu keGRan ingin diperhatikan. Dan aku berpikir kalau dia memperhatikan Citra berarti tandanya dia mencoba untuk membuka hatinya dan sedikit memberi kode bahwa ia ingin dekat lagi bersamanya. Aku langsung bicara ke Citra bahwa sedari tadi Gio memperhatikan kita atau lebih tepatnya kamu. Dia langsung salah tingkah alias salting, karena saking senangnya dia tidak dapat mengendalikan dirinya sampai teman di kelas merasa aneh akan sikap Citra yang kegirangan itu. Dan tidak sadar dia pun meremas-remas tangan aku dan sok-sokan nahan untuk berteriak agar tidak dikata gila oleh teman yang lainnya. Sedangkan aku hanya tersenyum saja selebar-lebarnya menghadapi teman yang seperti itu. “Padahal hanya diperhatikan apalagi disapa, dasar orang jatuh cinta”. Celetukku dalam hati.

Keesokan hari di kelas temanku yang lain bercerita, sebut saja nama dia Faya. Dia itu siswi terimut di kelas, karena menurut aku dia orangnya kecil, mungil, lucu, dan cabe rawit kali ya.
“Re, kamu tau gak?”.
“Ya nggak lah, belum dikasih tau”.
“Aku perhatiin sepertinya ada lelaki di kelas ini yang suka sama kamu deh”.
“Oh ya, siapa emang? aku gak merasa Fay”.
“Kamu mah kurang peka”.
“Mungkin, siapa emang Fay?”.
“Mmmm tuh orangnya” wajahnya sambil menunjuk ke arah siswa laki yang baru datang
Aku membalikkan badan, lalu melihatnya penasaran, aku tersenggruk dan batuk, tapi sebenarnya tidak ingin batuk “kamu gak salah Fay?”.
“Aku benar Re, serius”.
“Kamu bohong kan?”.
“Ngapain sih aku bohong Re?”.
“Kamu tau darimana kalau dia suka sama aku?”.
“Ya aku tau, dari cara dia liat kamu, perhatiin kamu”.
“Kamu jangan bilang ke siapa-siapa kalau dia suka sama aku terutama Citra”.
“Kenapa ke Citra gak boleh? dia kan teman dekatmu, kamu mau menyembunyikan ini?”.
“Plis Fay, aku gak mau persahabatanku dengan Citra hancur hanya karena Gio.”
“Oke aku bisa menyembunyikannya, percayalah. Tetapi suatu saat sesuatu yang disembunyikan bakal keliatan juga Re”.
“Aku ngerti, makasih ya Fay atas info dan sarannya. Maaf kalau kamu keberatan karena aku menyuruhmu untuk menyembunyikan sesuatu. Aku akan jaga kepercayaanmu”.
“Iyah Re, aku gak keberatan kok. Santai aja”. “Ga keberatan untuk apa?”. Tiba-tiba dari belakang Citra menyambar. “Eh lu udah datang? Sejak kapan disini?” Tanyaku agak terkaget. “Baru ajah, oh iya lu udah kerjain PR belum?” Tanya Citra, mengabaikan pertanyaannya yang pertama. “Udah nih” menyodorkan bukunya. “Syukurlah”. Dalam hatiku lega.

Di sepanjang pelajaran berlangsung Citra selalu memperhatikan Gio, dia selalu membicarakan apa yang sedang Gio lakukan, dia tanpa hentinya memperhatikan Gio sampai terkadang Gio tidak sengaja melihat ke arahnya dan mereka saling bertatapan, Citra senang sekali dikala itu. Karena ia bisa melihat sorot matanya yang kata dia matanya itu indah. Tapi menurutku biasa saja. Hanya saja bulu matanya yang lentik itu memang indah dan manis untuk dilihat.
Hari selalu berganti begitu pun waktu selalu berlalu, aku dan Faya masih menjaga dan menyembunyikan rahasia ini, walau terkadang Faya hampir pernah tergelincir dengan cerita itu. Tapi ia mampu memiringkan dan mempermainkan kata.

Aku dan Citra kian hari semakin nyaman layaknya saudara yang kemana-mana selalu berdua dan curhat berdua sampai terkadang kita menangis berdua. Dan pada satu hari aku dengan Citra sedang mengobrol, tiba-tiba dia menanyakan.
“Re, lu suka gak sama Gio?”. menunjukkan wajah yang penasaran.
“Hah.. maksudnya?”. Jawabku, aku terkaget mendengar pertanyaannya yang seakan-akan dia tau kalau Gio suka sama aku.
“Maksud gue, lu tertarik gak sama dia?”.
“Ya nggak lah, lagian gue juga gak terlalu deket sama dia dan dia pun jutek banget gitu, bahkan gue jarang banget ngobrol sama dia”. Jawabku.
“Lu gak bohong kan?”. Tanyanya meyakinkan.
“Ih apa sih lu, masa iya gue bohong sama sahabat sendiri. Apalagi tentang laki yang lu suka”. Jawabku tenang.
“Tapi awas aja kalo lu sampe suka sama dia”. Balasnya dengan alis yang agak diciutkan.
“Lu tenang aja, gue bukan tipe teman yang makan teman kok”. Jawabku meyakinkannya.

Setelah pembicaraan itu berakhir, sebenarnya aku agak sedikit takut juga, karena aku berpikir kalau seandainya Citra tau tentang Gio yang suka sama aku, aku takut dia bakal pergi dan membenci aku. Tapi aku juga agak merasa sedikit aneh dengan sikap Gio yang akhir-akhir ini terkadang dia terus memperhatikan aku, lalu dia membantuku membawakan absen tapi aku langsung mengambil absen dan pergi meninggalkannya begitu saja dan ketika aku sekelompok dengannya dia meminjam bukuku dan presentasi menggunakan buku aku. Sebenarnya aku tak mengerti apa maksud dari semuanya itu, walau terkadang aku juga pernah memperhatikannya untuk meyakinkan bahwa Gio memperhatikanku, ternyata memang itu benar dan terkadang Citra pun memperhatikan gerak-gerik aku dengan Gio yang mungkin menurutnya agak aneh, dan Citra berpikir bahwa ada sesuatu di antara aku dan Gio.

“Re, kok kayanya gue merasa bahwa Gio selalu memperhatikan lu deh, bukan gue”.
Aku tersentak mendengar pernyataan Citra.
“Ah.. lu ada-ada aja, mana mungkin dia perhatiin gue”. Jawabku mengelak.
“Iya gue serius, apa jangan-jangan dia suka sama lu”. Wajahnya sinis.
Bagaikan ada petir yang menyambar diriku ketika Citra berkata seperti itu, jantungku seperti tiba-tiba berhenti berdetak.
“Lu jangan berpikiran gitu dong, pokoknya gak mungkin dia suka sama gue”. Jawabku agak sedikit menyantaikan diri, agar Citra tidak merasa curiga.
“Mmmm ah mungkin itu hanya perasaan gue aja kali yaa”. Jawabnya.
Aku menghela napas ketika akhirnya dia menyudahi kecurigaannya, aku berpikir ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh Faya, bahwa sesuatu yang disembunyikan pasti suatu saat akan terlihat juga. Aku bingung harus bagaimana dengan keadaan ini, kalau aku ungkapkan yang sebenarnya aku tak tega harus melihatnya sakit hati sedangkan perasaanku pun akhir-akhir ini memang agak aneh semenjak Gio memperhatikan aku, aku takut kalau aku pun jatuh cinta kepadanya. “Tuhannnn… beri aku petunjuk dan jalan keluarnya”. Celetukku dalam hati.

Pada suatu hari tiba-tiba Citra tidak seperti biasanya, dia agak menjauhi aku dan selalu menghindar dariku. Aku bingung apa yang terjadi dengannya, dalam hatiku bertanya-tanya apa dia sudah tau tentang aku dan Gio, atau karena ada hal lain yang menyakiti hatinya hingga dia begitu kepadaku.
“Cit.. kenapa?”. Tanyaku ketika dia sedang menundukkan kepalanya di atas meja.
“Nggak papa”. Jawabnya sambil mengangkat kepalanya lalu pergi meninggalkanku.
Aku merasa aneh padanya. Aku bertanya dalam hati “Apakah aku punya salah kepadanya? Ah mungkin dia sedang ada masalah dengan keluarganya”. Celotehku dalam hati meyakinkan diri. Aku langsung berdiri dan berjalan mengikuti Citra.
“Cit tunggu, Cit.. Citra.. tunggu”. Teriakku sambil berlari kecil mengejarnya. Lalu aku berhasil meraih tangannya.
“Lepasin” sambil membanting tangannya dan melepaskan tanganku di tangannya.

Aku tadi melihatnya, dia meneteskan air mata. Aku tak tahu harus bagaimana, aku rasa dia sudah tau semuanya hingga dia sebegitunya bersikap padaku. Aku merasa bersalah padanya pokoknya semua kesedihannya kini adalah salahku. Aku membalikkan badan dan tak sengaja aku melihat Gio, dia pun sepertinya melihatku. Aku langsung berjalan cepat dan mengabaikan pandangannya serta sapaannya. Aku sedih karena hanya masalah ini hubungan persahabatanku retak. Ketika semuanya sudah agak tenang dan reda, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya sekali lagi kepada Citra.
“Cit, gue tau, gue ngerti lu sedih dan pastinya hati lu sakit banget karna udah tau semuanya”. Pernyataanku padanya.
“Kenapa lu setega itu sama gue”. Jawab Citra meneteskan air mata.
“Gue tau gue emang salah, seharusnya gue ngomong dari awal, kalo sebenernya..”
“Stop, berhenti.. gue gak mau denger.” Jawabnya sedikit teriak dan menutup kedua telinganya.
“Gue minta maaf.”
“Lu kira maaf lu bisa nyembuhin sakitnya hati gue?” sambil mengusap air matanya. “Sebenernya gue gak terlalu sakit kalau emang Gio suka sama lu, tapi yang buat hati gue sakit karena cerita itu gue denger dari Rara. Sedangkan lu sendiri pun udah tau juga”.
“Iya gue ngerti, emang bener gue gak bilang semuanya ke lu, karena gue pengen lu tetep bahagia bisa menyukai Gio, dan bahagia bisa diperhatiin Gio. Karena seandainya kalau gue ceritain ini dari awal lu nya bakal sakit hati mulu karena orang yang lu perhatiin ternyata merhatiin orang lain”. Kataku menjelaskannya.
“Iya merhatiin lu, bukan gue. Gue benci sama lu pengkhianat”.
“Cit gue minta maaf, jujur gue gak menyimpan rasa ke Gio”.
“Terserah lu, gue gak peduli”.
“Apa lu segitu bencinya sama gue? Gue gamau kita kaya gini, gue gak mau persahabatan kita hancur karena masalah laki-laki”. Celotehku mempertahankan persahabatan.
“Gue juga gak mau persahabatan gue hancur, tapi lu yang membuat semuanya hancur”.
“Harus berapa kali gue bilang Cit, gue minta maaf, gue minta maaf”.
“Tapi maaf Re, hati gue masih belum bisa nerima apa yang terjadi, gue masih syok dengan semuanya. Mungkin seiring dengan berjalannya waktu perlahan-lahan gue bisa maafin lu”.
“Oke, gue tunggu ketulusan hati lu untuk bisa maafin gue”.

Semenjak cerita yang selama ini Faya dan aku sembunyikan akhirnya datang pada waktunya untuk Citra dapat melihat yang sebenarnya. Maka dari itu pelajaran yang dapat aku ambil dari persahabatan kita ini adalah segimana pintarnya kita menyembunyikan sesuatu dari orang terdekat, suatu saat pasti bakal terkuak juga. Setakut-takutnya kita mengungkapkan sesuatu yang sangat berarti yang dapat melukai hati orang terdekat lebih baik kita ungkapkan sendiri kepadanya, daripada orang lain yang mengungkapkannya pasti lebih sakit mendengarkannya.

Cerpen Karangan: Cahya Ningsih
Facebook: Cahya Ningsih

Nama : Cahyaningsih
Lahir di Cirebon, 24 Mei 1999

Cerpen Cinta Bertepuk Sebelah Tangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Aku Masih Cinta

Oleh:
Kediri, 8 maret 2014 Pagi yang cukup dingin, kota Kediri bahkan belum sepenuhnya bangun, beberapa orang lebih memilih berbaring di ranjangnya yang hangat dibandingkan keluar. Tapi kereta-kereta ini seperti

Nana dan Nina

Oleh:
Di salah satu sekolah swasta Yogyakarta, ada 2 anak yang menjalin persahabatan sejak mereka bertemu saat kelas X di SMA-nya. Nina dan Nana. Mereka bersekolah di sekolah islami. Tidak

Mungkin Kau Akan Menyadari

Oleh:
Pagi yang cerah aku terbangun dari tidurku, kubuka tirai jendela kamar dengan senyuman hangat sang mentari. Hari ini adalah hari minggu. Yupz, tepat sekali hari ini adalah hari libur.

Bukan Sepasang Merpati

Oleh:
Mereka berdua tertawa bersama-sama setelah mendengar kata-kata dari seorang teman mereka. Sudah lebih dari tiga kali mereka di sebut pasangan serasi, padahal Rana dan Azam hanyalah teman biasa. Rana

Dipecundangi Mimpi

Oleh:
Adinda, aku hampir kalah oleh mimpiku sendiri, aku dipecundangi dengan keadaan. Masih mau kah dirimu dengan sang pencundang adinda? Adinda, di suatu pagi yang tenang dan dingin aku terbangun,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *