Cinta, Cita dan Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Nasihat, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 April 2014

Cinta cinta dan cinta adalah suatu kata yang nggak ada matinya untuk dibahas. Kata yang mempunyai makna yang luas dan arti yang berbeda dalam masing-masing individu. Love is never die adalah benar, karena dari masa ke masa “Cinta” tetap menjadi “Trending topic”.

Saat pertama aku lahir ke dunia, cinta telah menyertaiku. Sebelum aku diberi nama Ajeng Citra Reynaldi, tuhan telah memperkenalkanku dengan cinta yaitu cinta dari mama dan papa. Kemudian mama dan papa mengajarkanku untuk cinta pada tuhan, kakek, nenek, kakak, tetanggaku, hingga hewan kesayangan mama dan mbak Vio yaitu Leon si kucing yang hobi buang hajat sembarangan tanpa rasa bersalah. Menjijikkan…!!

Namun untuk belajar mencintai lawan jenis, orangtuaku tidak mengajarkanku. Secara naluri, aku belajar mencintai dan tertarik pada pria pada awal masa pubertas. Pertama kali aku merasakan cinta pada temen sekelasku di kelas 1 SMP 45 Merah Putih, Malang.

“Kenalkan namaku Daufik Firdaus panggilannya Dafid, nama kamu siapa?” tanyanya padaku sambil mengulurkan tangan. Dia berdiri di depan bangkuku, setelah berkenalan dengan teman sebangkuku.

Aku tidak langsung menjawab untuk memperkenalkan diri. Karena aku sedang sibuk mencoba memperbaiki pulpenku yang ada 4 pilihan warna dalam satu tempat. Entah mengapa, pulpen itu rusak saat aku mencoba memilih dua warna sekaligus.
“Ada apa? pulpen kamu rusak ya?” tanya Ivi, teman sebangkuku.

Aku hanya mengangguk tanpa menolehkan wajahku. Di benakku hanya terbayang wajah seram mbak Vion. Saat ia tahu pulpennya yang aku ambil diam-diam dari tasnya telah rusak. Sebenarnya ini kesalahan mama, masak aku dibelikan gambar Power Rangers sedangkan pulpen mbak Vion bergambar Hello Kitty. Seharusnya mbak Vion dibeliin yang polos tanpa gambar kan dia udah masuk SMA.
“Sini, aku coba baikin” kata Dafid yang tanpa menunggu jawaban dariku, mengambil pulpen dari tanganku.

Dafid mencoba memperbaiki pulpen Hello Kitty itu. Sementara itu aku dan Ivi menunggu dengan H2C alias Harap-Harap Cemas. Akhirnya pulpen yang sok manis itu bisa kembali seperti semula.
“Terima kasih ya? siapa tadi nama kamu? Dafid ya? Perkenalkan namaku Ajeng Citra Reynaldi, cukup kamu panggil Ajeng” Kataku dengan penuh semangat.

Dafid hanya mengangguk dan tersenyum. Oh My God!!! ternyata dia cakep banget, apalagi hidungnya yang mancung itu. Aku pun membalas senyumannya. Lalu Dafid pergi keluar dari kelas, sementara aku tetap memandanginya.
“Cie… cie… kamu suka sama dia ya?” goda Ivi sambil menyenggol bahu kananku.
“Apaan? ke kantin yuk ntar ku traktir”.

Setiap hari aku suka merhatiin Dafid di kelas, di kantin, di tempat parkir dan semua sudut di sekolah. Aku suka banget sama dia tapi rasa itu tiba-tiba hilang. Karena dia suka sama makanan yang paling aku benci di dunia ini yaitu paetae alias pete. Informasi ini didapatkan, saat aku mewawancarainya mewakili JSP (Jurnalis Siswa Prestasi yaitu ekstrakulikuler jurnalis di sekolah) untuk mengisi profil siswa berprestasi untuk majalah sekolah. Saat itu Dafid meraih juara 1 Lomba Catur se- kota Malang. Sumpah gue ilfeel abisss sama dia.

Hari pertama
Sabtu, 12 Januari 2013 pukul 15.48 di lapangan basket SMA Tunas Bangsa, Aku dan Reifan resmi jadian. Dia adalah pacar pertamaku dan aku juga pacar pertamanya. Sebenarnya aku lebih berharap Denny, kapten basket yang nembak aku. Tapi setelah aku melakukan wawancara dengannya, bukan dia yang nempel ke aku malah aku dideketin sama anak buahnya. Walaupun se-sekolah mengakui dia lebih tampan daripada Denny.

Hari kelima
Emang ya? Kalau sudah punya pacar maunya hubungin si dia terus. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur, bahkan di tengah-tengah tidur rela bangun bentar hanya untuk membalas sms pacar atau sekedar memberikan ucapan “Good Night”. Tiap hari pulang-pergi sekolah bareng naik motor boncengan. Lumayan, motorku bisa istirahat.

Hari kelima belas
Saat jam istirahat pertama, Reifan nyamperin aku ke kelas hanya untuk say “Hai”. Tanpa rasa canggung dia masuk ke kelas, padahal dia kelas XI-IPS 2 sedangkan aku kelas XI-IPA 1. Beberapa teman sekelasku yang ada di kelas godain kita. Sementara aku yang terlanjur malu, nyuruh dia keluar dari kelas.

Hari kedua puluh dua
“Langsung antar aku pulang aja” kataku ketus tanpa melihat wajahnya sambil mengambil helm dari motor.
“Ada apa? Aku kan udah janji ajakin kamu nonton untuk merayakan kamu terpilih jadi ketua Pemuda Jurnalistik” Reifan membatalkan niatnya untuk memakai helm.
“Kamu nonton sama Reni aja, tadi aku lihat kamu seneng banget dihapus keringatnya. Nggak takut ketularan panu, jangan-jangan kulitnya putih karena kena panu. Trus panunya nempel di handuknya lalu kamu kena panu”
“Ajeng, kamu cemburu ya? Kan Reni anak cheerleader jadi wajar kalau aku akrab sama dia. Anak basket dan tim cheers itu kan emang harus saling mendukung” Reifan mencoba memberikan pengertian.
“Akrab? Aku pengen kamu bisa jadi ketua basket bukan sok-sokan kayak ketua basket. Seharusnya kamu fokus latihan bukan fokus ketawa-ketiwi sama Reni. Kamu nggak ngehargain aku, pacar kamu. Aku yang dari pulang sekolah sampai jam 5 sore nungguin kamu latihan basket. Aku yang kamu kecewain selesai latihan bukannya nyamperin aku, pacar kamu malah deketin Reni”
“Ajeng, jangan marah ya? Beneran aku nggak ada perasaan apa-apa ke Reni” belum sempat Reifan memegang tanganku, aku pergi dari parkir motor.

Hari kedua puluh tiga
“Assalamu’alaikum… Halo, ada apa Rei” setelah dua puluh kali aku tidak mengangkat telepon darinya.
“Wa’alaikumsalam… Ajeng ngapain kamu bocengan sama Aldo tadi siang? Lalu kalian pergi ke mana?” tanya Reifan dengan penuh emosi.
“Kenapa tanya?”
“Ajeng, aku ini masih pacar kamu. Seharusnya sebelum keluar sama cowok lain ngomong ke aku. Kenapa kamu nggak bilang ke aku sih?”
“Ngapain? Mamaku sudah ngasih izin. Lagian aku dan Aldo pergi ke percetakan untuk majalah sekolah nggak sok mesra-mesraan kayak tim basket dengan anak cheers” jawabku ketus.
“Ajeng, kenapa harus bahas masalah itu lagi?”
“Udahan kan tanyanya? Aku udah ngantuk pengen tidur” aku menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Reifan.

Hari kedua puluh empat
Aku dan Reifan masih berantem.

Hari kedua puluh lima
Aku dan Reifan baikan, setelah dia meminta maaf dengan mengirimkan sebuah video yang berisi foto kita. So sweet… serta yang membuat aku lebih melting, waktu aku dengerin backsongnya Adera – Lebih Indah yang dicover Reifan dengan alunan musik piano.

Suasana siang di taman alun-alun hari minggu cukup ramai. Aku dan Reifan duduk berteduh di bawah pohon sambil menikmati es krim. Anak-anak yang asyik bermain, satu-persatu meninggalkan taman bersama orangtuanya atau baby sitter.

“Hari rabu, aku ada pertandingan basket dengan SMA 5 Harapan. Kamu nonton ya?” Reifan membuka suara setelah lama kita larut menikmati es krim.
“Jam berapa? dimana pertandingan basket diadain?”
“Jam setengah 3 di GOR, kamu ada acara nggak?”
“Ada atau nggak ya?” godaku.
“Kalau sibuk, nggak apa-apa kok” Reifan berpura-pura memasang wajah sedih.
“Nggak sibuk, sayang” aku mengoleskan es krim di hidungnya, “Nanti kita berangkat bareng ya?”.
“Tenang sayang takkan ku biarkan kau jalan kaki” kata Reifan sok puitis.
“Gombal.. lagian ngapain Jalan kaki? Angkot banyak”
“Ya udah, nona naik angkot saja”
“Reifan…” teriakku manja.

Reifan tertawa sambil menikmati es krim kembali. Kita merasa geli, saat melihat seorang anak yang mengendarai sepeda namun bergaya seperti Valentino Rossi lengkap dengan jaket dan helmnya. Sementara mulutnya yang mungil tak berhenti berbunyi menirukan suara motor.

“Kapan diklat basketnya?” tanyaku
“Minggu ini, hari sabtu dan minggu. Nanti pas hari sabtu, kamu bawa motor sendiri ya?” kata Reifan.
“Ok, itu nanti ada acara pemilihan ketua basket kan?”
“Ada, emangnya kenapa?” Reifan menatapku heran.
“Ehm… ntar pas pertandingan, kamu maksimal ya? Biar ntar bisa kepilih jadi ketua tim basket sekolah” aku melihat ke arah anak yang lucu tadi.
“Insya Allah… cita-cita kamu apa?”
“Kenapa tiba-tiba kamu tanya tentang itu?”
“Nggak apa-apa, kamu kenal Ria Andansari?” aku menggelengkan kepala, “Dia sepupuku, katanya dia satu SMP sama kamu tapi kakak kelas”.
Aku diam menunggu penjelasan selanjutnya.
“Dia bilang kalau sejak SMP, kamu sudah aktif di ekskul jurnalistik dan pernah menjadi ketua redaksi juga”
“Owh… aku ingin jadi penyiar berita suatu saat nanti” kataku sambil memandang langit.

Aku menatap laptopku dengan mata yang sayu dan jemari yang hampir pingsan. Seharian ini, aku mencari artikel mengenai kesehatan dan memilih beberapa puisi kiriman teman yang bisa dimasukkan ke blog. Aku ingin blog sekolahku ini bisa menjadi sarana refrensi mengerjakan tugas sekolah dan hiburan. Bukan diisi dengan gosip atau isu yang nggak jelas sumber informasinya.

“Sayang, sudah jam berapa? kok belum tidur” kata mama sambil membuka pintuku tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
“Tinggal dikit kok, Ma” jawabku tanpa menoleh ke arah Mama.
“Ya, mama tidur dulu dan adik jangan sampai tidur larut malam. Ingat, besok sekolah” mama menutup pintu kamarku kembali.

Akhirnya tugasku selesai, aku melirik jam di meja belajarku. Mama benar sekarang sudah larut malam, angka menunjukkan pukul 22.18. Sebelum berlayar ke negeri impian, aku membuka handphone untuk mengecek apakah ada pesan dari Reifan.
Dari: Reifanku 03/03/2013 21:05
Besok kamu berangkat ke sekolah bawa motor sendiri ya?
Soalnya aku kecapekan habis ikut diklat
Pulang sekolah, kita pergi ke Cafe Mawar ya?
Good night n love you 🙂

Kalau ada yang bilang kota Malang adem, aku akan membantahnya. Menurutku semua kota sama saja, kalau sudah siang matahari akan dengan bangga memancarkan aura panasnya ke bumi. Aku sampai ke Cafe dan langsung menuju lantai 2. Di meja no.4, Reifan duduk menungguku sambil mendengarkan musik dari smartphone.
“Maaf lama, tadi aku ke Pak Abdul buat omongin tentang blog” kataku sambil meletakkan tas ke lantai.
“Woles, aku ngerti. Gimana ujian kimia?” tanya Reifan.

Jawabanku harus tertunda saat seorang waiter datang. Aku dan Reifan memesan untuk makan siang. Waiter mencatat pesanan kami dengan teliti dan tak lupa sebelum meninggalkan kami, ia menawarkan paket terbaru di Cafe ini.
“Tadi asam-basa cukup menyenangkan” jawabku tersenyum setelah waiter meninggalkan kami.
“Ehm… Dasar anak IPA” cibir Reifan.
“Apaaan sih?” aku berpura-pura akan melemparkan vas bunga ke kepalanya.

Pesanan kami pun datang. Kita menikmati steak ayam dan orange juice. Jangan pernah ditanya, apa yang terjadi saat cewek dan cowoknya makan bareng. Suatu hal yang selalu terjadi adalah cowok selalu makan lebih cepat daripada cewek dan makanan si cewek akan dimakan oleh si cowok apabila si cewek tidak sanggup menghabiskannya. Aku heran sama cowok, mulutnya kok cepet banget gilingin makanan.

“Gimana acara diklat kemarin?” tanyaku setelah kulihat dia telah menghabiskan makanannya.
“Makan dulu diselesaiin, habis itu baru ajak ngomong” kata Reifan menyuapiku.

Aku nurut saja, lagian yang bayarin dia bukan aku. Namun harus bagaimana lagi, perutku sudah berteriak tidak sanggup. Aku pun memasang wajah melas agar Reifan saja yang menghabiskan makananku. Reifan tersenyum dan menghabiskan makananku dengan lahap. Aku merasa yakin resep badan tegap dan tinggi 174 cm ini didapatkan dari banyak makan.

“Oh ya? besok aku akan mewawancarai Ogi” ceritaku antusias, “Dia hebat, bisa mendapatkan juara 1 Olimpiade Matematika Nasional. Sumpah keren abis”.
“Ogi siapa?”
“Ogi anak IPA 2, yang baru-baru ini bikin heboh kalau mulai hari kamis kemarin jadian sama si tulalit, Ana” jawabku kesal.
“Kok baru diwawancarai? kan dia dapat juaranya 2 minggu yang lalu”
Aku hanya mengangkat kedua bahuku.
“Diklat kemarin seru, kita dikasih pelatihan hardskill”
“Oh ya? terus siapa yang tepilih jadi ketua tahun ini?” tanyaku.
“Tahun ini, Denny yang terpilih kembali untuk menjadi ketua” bangga Reifan.
“Denny? kok nggak kamu yang jadi ketua?” tanyaku kecewa.
“Sayang, Denny itu leader yang top banget. Lagian kenapa kamu pengen banget aku jadi ketua basket?” tanya Reifan halus.
“Kenapa? kamu sudah janji sama aku, kamu ingat kan?” Aku menatap Reifan.
Reifan mengusap kepalanya sambil membuang wajahnya, “Iya, aku ingat”.
“Lalu, mana buktinya?”
“Ajeng, kenapa kamu mau jadi pacar aku?” pertanyaan Reifan membuatku kebingungan untuk menjawab.
“Kamu nggak bisa jawab?” aku tetap terdiam, belum menemukan jawaban.
“Ajeng, terus terang selama ini aku harus selalu jadi seperti apa yang kamu pengen. Kamu nggak pernah bisa terima aku apa adanya. Kamu malu punya pacar kayak aku? Aku yang hanya anggota biasa di tim basket bukan leader kayak kamu”.
“Reifan… kenapa kamu mikir kayak gitu? Aku… aku cuma pengen kamu maju gitu aja” aku berusaha menenangkan Reifan.
“Pengen liat aku maju dengan malu punya pacar kayak aku itu beda tipis” aku diam membiarkannya berbicara.
“Aku rasa hubungan kita nggak bisa diterusin” membuatku bagaikan tersengat petir.
“Reifan… please masalah kita nggak separah itu kan?” bujukku.
“Ajeng, kamu nggak nyadar kalau kamu itu…. kamu itu egois”

Aku sangat amat terasa terkejut dengan jawabannya. Tanpa sadar aku mendorong kursiku ke belakang dengan kasar. Sehingga menimbulkan suara yang cukup keras untuk membuat semua pengunjung di lantai itu memandang ke arahku. Lalu aku mengambil tas, aku ingin segera keluar dari Cafe ini. Aku tidak mengerti dengannya yang merasa terdzalimi olehku. Aku hanya ingin dia tidak diremehin teman-temanku yang selalu menganggap Reifan hanya modal tampang untuk masuk ke tim basket. Tapi mengapa sekarang dia salah mengartikan dukunganku.

“Ajeng, ku mohon jangan pergi” Reifan memegang tangan kananku.
Tak ingin kembali menjadi pusat perhatian di Cafe aku kembali duduk, “Tadi katanya hubungan ini nggak bisa diterusin”.
“Ajeng, aku masih sayang banget sama kamu” aku diam dan tak ingin melihatnya.
“OK, terserah kamu. Aku akan beri waktu 1 minggu untuk kamu berfikir untuk dibawa kemana hubungan ini”

Aku hanya diam memandangnya. Tak ada kata-kata yang bisa ku ungkapkan. Reifan memanggil waiter untuk membayar tagihan. Setelah selesai dia membayar, kita berdua keluar dari Cafe tanpa canda, tanpa mengucapkan good bye.

Hari ini mataku bengkak akibat efek menangis semalaman. Cinta itu rumit, nggak ada definisi yang tepat kecuali kata “rumit” hanya itu di pikiranku. Untuk mengurangi efek bengkak, pagi-pagi aku meneteskan obat mata. Aduh perih banget… tapi lebih perih sakit hati ini yang bikin galau. Yang terjadi biarlah terjadi, kalau aku dan Reifan harus putus biarlah dia mendapatkan yang lebih baik dariku. Tiba-tiba wajah Reni terbayang di pelupuk mataku.

Bel pertanda pulang telah berbunyi, aku dan teman-teman mengakhiri kegiatan belajar mengajar. Tak ingin membuang waktu, aku segera keluar dari kelas untuk menemui Ogi di gazebo. Saat berjalan menuju gazebo, aku melihat Reifan ngobrol dengan temannya di depan kelas. Namun baik aku maupun Reifan tidak saling menyapa.

Proses wawancara berjalan dengan baik. Walaupun lucu, mendengarkan jawaban Ogi yang sangat menjunjung tinggi kosa kata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ternyata Ogi lebih menggemari pelajaran fisika daripada matematika. Nggak terlalu suka aja dapet juara 1 tingkat nasional, apalagi kalau suka bisa-bisa dia dapet juara 1 tingkat internasional. Sebenernya di otak orang pinter itu ada apaan sih.

“Thanks udah mau diwawancarai” kataku mengakhiri.
Ogi hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Ogi, boleh nggak aku tanya sesuatu? Tapi ini sedikit pribadi, ehm.. tapi ini nggak akan aku masukin ke blog atau majalah sekolah” aku ragu-ragu.
“Jika ada yang ingin kamu tanyakan, silahkan”
Aku menarik napas panjang, “Kamu jadian sama Ana? Nggak, maksudku apa yang kamu suka dari Ana? Nggak gitu maksudku.. ehmm”.

Aku kebingungan menyusun kata-kata, agar dia tidak salah sangka denganku. Sungguh!!! aku hanya ingin tahu pandangannya tentang cinta.
“Saya paham maksud perkataan kamu. Menurut saya, cinta bisa terjadi pada setiap insan dan untuk siapapun tanpa memandang perbedaan”.
“Kamu nggak malu, kalo ngledekin kamu gara-gara jadian sama Ana”
“Mengapa kita merasa rendah diri dengan perkataan teman? Ana adalah perempuan yang unik. Jika 1 + 1 = 2, menurut Ana 1 + 1 = 5. Ajeng, kita jangan pernah menuntut orang untuk menjadi sempurna. Sesungguhnya perbedaan lebih indah daripada sempurna”.

Kata-kata Ogi telah membuka mata hatiku. Setelah berpamitan dengan Ogi, aku bergegas menuju kelas Reifan. Karena tidak ada tanda-tanda kehidupan, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Reifan. Namun saat aku menuju tempat parkir, aku melihat Reifan duduk menengelamkan kepala di antara kedua lututnya di depan ring basket. Serta membiarkan 8 bola basket berserakan di lapangan basket.

“Ini lapangan basket bukan kamar” teriakku sambil memunguti salah satu bola basket.
Reifan tersenyum, “Lagi capek banget nih”.
“Ajarin maen basket dong” aku mencoba memasukkan bola ke ring dan berhasil.
“Pengen gabung ke tim basket ya?” goda Reifan.
Aku duduk di sampingnya, “Kamu kasih aku waktu 1 minggu untuk berfikir tapi kenyataannya aku mendapatkan jawabannya dalam waktu 1 hari. Mungkin kamu tertekan selama jadi pacarku. Aku sadar Rei, kamu mau nggak maafin aku?”.

Reifan berdiri mengambil tasnya dan memunguti bola-bola basket, sementara aku masih duduk. Aku ingin menangis lagi, Reifan pergi dari lapangan ini berarti dia telah memutuskan hubungan ini.

“Hey… ayo beli bakso, perutku laper banget”.
Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku menghapus air mataku dan berlari ke arah Reifan.
“Rei, aku pikir kamu akan…”
“Ayo… entar keburu baksonya Cak Jin habis” Reifan menarik tanganku.
Aku tersenyum mengikuti langkah kaki Reifan.

Cerpen Karangan: Fariska Hurun In
Facebook: fariska hurun in

Cerpen Cinta, Cita dan Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Di Balik Hujan

Oleh:
Rintik hujan mewakili rindunya pada seseorang. Pikirannya terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Sudah lama ia tidak bertemu

Sudah Terlambat

Oleh:
Semilir angin menghembus menusuk ke dalam jaket yang ku pakai. Ya, ini sudah musim dingin. Malam sudah tiba dan aku masih berada dalam perjalanan menuju rumahku. Inilah aku Didit.

It’s Not Easy

Oleh:
Dulu, jauh sebelumnya kami begitu akrab. Kami sering membicarakan banyak hal. Dulu kami begitu ringan berdiskusi tentang hidup, cita-cita, dan mimpi-mimpi. Namun, kini tak lagi seperti itu. Tak ada

Dia Mencintai Ku (Part 2)

Oleh:
Hari sabtu pun tiba, aku pergi bersama ayahku. Sampai di sekolah, tepat di depan kelasku aku langsung bergabung dengan teman-temanku dan ayahku langsung masuk ke ruang rapat dengan orangtua

MyCerpen 7: Alien Banci Tulen

Oleh:
“Serius kau tidak akan ikut Jang?” “Tidak Ji. Aku sudah harus pulang!” “Wah! Padahal ini terakhir lo!” “Tenang aja. Masih ada Reunian kan?” “Ya udah. Hati-hati aja Jang!” Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *