Cinta Dalam Hati


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 22 April 2013

Setahun sudah aku mencintai cowok yang selalu hadir dan menemani di setiap hari-hariku. Dia adalah Hendra Bartholomeus, sahabatku sejak kami duduk di bangku SMA. Perkenalan yang tak sengaja membuat kami menjadi sahabat hingga kini. Dan tak ku sangka pula aku jatuh hati ke dia. Sifatnya yang ramah, baik, dan perhatiannya yang membuat aku jatuh hati kepadanya. Tapi, aku tak pernah mengunggapkannya ke dia. Malu yang membuatku hingga sekarang tak pernah menggungkapkannya hingga sekarang. Dan itu pula aku tak pernah mengetahui apa Hendra punya rasa yang sama kepadaku.

***

“Icha” sapa seseorang
Aku terkejut, kemudian membalikkan badan.
“Hendra, kamu ngagettin aja, kebiasaan dech bikin orang jantungan aja. Untung jantung aku gak copot, klo coppot kamu mw apa ngantiin” kataku sebel.
“Hehehe, sorry abisnya loe lucu kalo kaget, jadi gua kagetin dech” kata Hendra cengegesan, dan aku hanya bisa memanyunkan bibir.
“Ih, jelek tau kalo loe manyun kayak gitu. Mending loe senyum tambah cantik hehehe” kata Hendra,
“Hahaha, kamu bisa aja Hendra” kataku sambil tertawa
Sesaat kami terdiam…
“Hm, Icha gua mw cerita ke loe” kata Hendra tersenyum, kelihatannya dia senang banget
“Apa?” kataku sambil membaca buku yang sedari tadi aku baca
“Gua… gua jatuh cinta, gua jatuh cinta Icha” kata Hendra tersenyum, aku tersenyum bahagia,
“Apakah ini jawaban atas do’a ku slama ini” kataku dalam hati
“Apakah Hendra punya rasa yang sama ke aku” lanjutku dalam hati
“Loe taukan Angel, temen SMP gua yang pernah gua ceritain” tanya Hendra, aku hanya mengangguk.
“Gua suka ke dia, gua jatuh cinta ke Angel” kata Hendra
Seketika hatiku tertancap beribu-ribu pedang, rasanya sakit banget ketika mengetahui Hendra menyukai teman SMP-nya yang sering dia cerita kepadaku. Yang dia puja-puja slama ini. Gadis terpopuler dan teman dekatnya Hendra waktu dia di SMP dulu. Yang selalu membuatku menangis tiap malam ketika membayangkan apa yang selalu dia ceritakan tentang teman satu SMP-nya dulu. Tak terasa air mataku menetes.

“Loe gk apa-apakan Icha” tanya Hendra kebingungan, saat melihatku menangis.
“Ehm.. ehm.. aku… ehm… aku gpp koq Ndra” kataku sambil mengusap airmataku, aku gak mau Hendra tau kalo aku sedang menangis
“Beneran loe gpp?” tanya Hendra memastikan
“iya aku gpp koq Ndra, tenang aja. Ehm, bentar ya Ndra aku keluar dulu. Mau ke… ke perpus dulu, ada tugas. Bye Ndra” kataku langsung meninggalkan Hendra yang kebingunan melihat tingkah lakuku tadi.
Aku berlari menuju taman belakang sekolah, tempat biasanya aku sama Hendra pertama kali bertemu dan tempat dimana aku selalu menyendiri ketika aku sedang sedih. Aku menangis sejadi-jadinya disana. Mengeluarkan semua rasa sakit di hatiku.

“Hendra, seandainya kamu tau aku sayang ke kamu, aku cinta ke kamu. Tapi kenapa kamu gak ngerasain itu, kenapa. Aku lebih baik dari dia, aku lebih tulus mencintai kamu, tapi kenapa kamu harus suka ma dia Ndra kenapa” kataku di sela-sela tangisku
“Aku sayang kamu Hendra, aku cinta kamu Hendra. HENDRA AKU CINTA KAMU” teriakku

***

Beberapa hari ini aku jarang ngumpul bareng ma Hendra. Semenjak Hendra jadian sama Angel, aku jarang jalan bareng ma dia, dia juga jarang menyapaku saat aku berada di kelas, maupun di kantin. Bahkan aku sakitpun dia gak pernah menjegukku apalagi mengkhawatirkan ku seperti dulu. Sampai-sampai aku punya kanker otak stadium 4, dia gak pernah tau. Dia terlalu sibuk dengan kehidupan barunya bersama Angel.
Suatu hari, entah kenapa Hendra mencariku. Saat dia berada di kelasku, dia tak menemukanku.
“Eh, bentar-bentar” kata Hendra pada salah satu teman satu kelasku.
“Iya ada apa?”
“Icha hari ini kemana, koq gua dari tadi gak ketemu dia. biasanya pagi-pagi gini dia uadh di kelas” tanya Hendra
“Oh icha, udah seminggu dia gak masuk sekolah. katanya sich dia sakit.” kata temenku satu kelas
“Apa…! sakit, sakit apa dia?” tanya Hendra khawatir.
“Gua juga gak tau, mending loe ke rumah sakit, gua denger-denger dia masuk rumah sakit, udah dulu ya gua mw masuk kelas” kata temenku
Hendra hanya bisa terdiam, kemudian langsung pergi.

@RUMAH SAKIT
“Maaf Sus, kalo boleh saya tanya dimana ruang pasien yang bernama Icha Rastanti” tanya Hendra kepada seorang Suster.
“Oh, Icha Rastanti dia berada di ruang ICU.” kata Suster tersebut.
“ICU Sus, hm ya udah makasih Sus” kata Hendra. Kemudian dia berlari menuju ruang ICU dimana sekarang aku berada.
“Icha loe knapa sich, bikin gua khawatir aja” kata Hendra dalam hati.
Saat dia berada di depan pintu ruang ICU, dia membuka pintu tersebut. Dia melihatku yang tak berdaya di tempat tidurku. Hendra tak percaya kalo aku kayak gini.
“Icha loe koq bisa kayak gini sich” kata Hendra tak percaya, dan aku hanya bisa tersenyum.
“Aku gak apa-apa koq Ndra, aku hanya kecapekan aja koq” kataku berbohong. Aku gak mau Hendra bertambah khawatir dengan penyakitku ini yang menunggu beberapa jam untuk merenggut nyawaku ini.
“Gua gak percaya, loe itu sakit Icha, jujur loe sakit apa. apa loe mau gua tambah khawatir heh” kata Hendra sedikit membentak
Aku hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan kata-kata.
“Icha please loe jujur ke gua loe sakit apa, please” kata Hendra memohon.
“Aku… aaa… kuu punya penyakit kanker otak stadium akhir dan kata Dokter aku gak akan bertahan lama” kataku dalam tangis.
Hendra seketika lemas saat aku jujur tentang penyakitku ini. Aku hanya bisa menangis.
“Gak mungkin, loe pasti bercandakan, pasti Dokter salah, pasti Dokter itu salah” kata Hendra
“Enggak Ndra, Dokter itu benar dan kayaknya waktuku tinggal sebentar Ndra” kataku
“Icha loe jangan ngomong kayak gitu, loe harus sembuh please loe harus sembuh” kata Hendra menangis. Aku gak pernah lihat Hendra menangis. Selama kami bersama, aku gak pernah melihat dia menangis. Baru pertama kali ini aku melihat dia menangis demi aku.
“Maaf Ndra aku gak bisa, aku gak kuat, aku dah capek dengan semua ini. Aku mau istirahat untuk selama-lamanya, tolong ikhlasin aku ya Ndra untuk pergi. Makasih slama ini kamu udah nemenin aku, udah jadi sahabatku, dan mengisi hari-hari terakhir ku dengan senyuman. And izinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya, please” pintaku pada Hendra,
“iya Icha iya” kata Hendra, kemudian memelukku, aku tersenyum puas dan bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang dan bahagia. Kemudian aku menutup mata dengan perasaan bahagia.

***

Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa di cintai
Tak mengapa bagiku, asal kaupun bahagia
Dengan hidupmu, dengan hidupmu
Telah lama ku pendam perasaasn itu,
Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
Bahagia untukku, bahagia untukku
Ku ingin kau tau
Diriku di sini menanti dirimu
Meski ku tunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
Dan izinkan aku memeluk dirimu kali ini saja,
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja,

Disebuah kompleks pemakaman umum, terdapat salah satu makam yang di kelilingi banyak orang yang menggunakan pakaian serba hitam. Di sana pula terdapat seorang pemuda yang memegang nisan bertuliskan Icha Rastanti sambil menangis.
“Cha kenapa loe cepat banget meninggalkan gua. hari-hari gua sepi tanpa loe. Please bangun Cha. Gua kangen senyuman loe, gua kangen suara loe itu. Please bangun icha please” kata Hendra sambil menggoyangkan nisan yang tertancap pada gundukan makam itu.
“Sudah Hendra, ikhlaskan Icha pergi, dia udah tenang disana” kata Bundaku
“Oh ya satu lagi, ini titipan Icha sebelum dia pergi. katanya kalo dia udah pergi, kotak ini suruh kasih ke kamu. Ya udah Tante tinggal dulu” kata Bundaku
“Makasih Tante” kata Hendra.
Kemudian dia membuka kotak yang di berikan oleh Bundaku. Di lihatnya isi kotak tersebut, di dalam kotak tersebut terdapat foto-foto kami saat kami bersama dan terdapat sebuah surat.

“To HENDRA BARTHOLOMEUS
Ndra, mungkin saat kamu terima suratku ini, aku sudah tidak ada di sisimu lagi. Aku mungkin udah pergi tuk selama-lamanya.
Hendra, aku mau jujur ke kamu, selama ini aku suka ma kamu, aku cinta ke kamu. tapi aku gak berani ungkapin perasaanku ke kamu. aku malu Ndra, aku malu. aku juga takut kalo aku jujur ke kamu, kamu akan pergi ninggalin aku sendirian. aku putuskan aku pendam rasa ku ini.
Kamu ingat saat kamu jadian ma Angel, aku sedih banget. apalagi kamu jarang bersamaku. aku tambah sedih, dan sedih banget. aku gak mungkin nunjukan kesedihanku ke kamu, aku gak mau kamu sedih karna melihatku sedih.
Ndra kamu harus janji ke aku, kamu gak bakal nyakitin apalagi membuat Angel kecewa. aku mohon kamu janji ya ke aku. biarkan cintaku ini ku pendam di hatiku, menjadi kenangan terindah selama hidupku
Makasih ya Ndra, kamu udah mau jadi sahabatku selama hidupku.
I LOVE YOU HENDRA
Icha”

Hendra hanya menangis, dia tak menyangka selama ini aku suka ke dia.
“Icha maafin gua, gua bener-bener bodo. Gua gak sadar kalo loe suka ke gua. Maafin gua Cha maafin gua.” kata Hendra dalam tangisnya
“Gua janji Cha gua bakal bahagiain Angel, gua gak bakal buat dia sakit apalagi kecewa. Selamat jalan Cha semoga kamu tenang disana” kata Hendra dengan tersenyum. Kemudian pergi meninggalkan makamku dan juga arwahku yang sejak dari tadi melihat dia.
“Selamat jalan Hendra, aku akan selalu di hatimu walaupun aku gak bisa di sisimu lagi” kataku kemudian arwahku pergi tersapu oleh angin.

THE END

Cerpen Karangan: Devirna Dian Garmay
Facebook: http://www.facebook.com/devirna.garmay

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Cerpen Cinta Sedih Cerpen Patah Hati

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply