Cinta Dan Romantis itu Seperti Apa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 May 2019

Tampak seorang lelaki berdiri di pinggiran reruntuhan tembok benteng yang mengingatkan kenangan pahit penjajahan bangsa belanda, Berhembus angin dari pantai yang tepat berhadapan dengan reruntuhan benteng, lelaki itu coba tetap berdiri tegar dari terpaan angin yang mencoba menerbangkan dirinya, Lelaki itu hanya ingin angin itu menerbangkan kenangan pahit tentang seorang gadis dari pikirannya yang masih tersisa sampai saat ini. Sesaat hembusan angin itu membuat pikiranya melayang kemasa di mana dia bertemu dengan gadis yang masih ada dalam pikirannya, tetapi dengan sekejap lelaki itu sadarkan diri.

“Bunuh diri itu tidak baik loh, orang-orang akan mengenang kematian kamu sebagai orang yang gagal.” Suara lembut seorang gadis yang berada tepat di belakang lelaki itu.
“Gu…gu..e nggak mau bunuh diri kok.” jawab lelaki itu dengan menyembunyikan rasa kagetnya.
“Oh… gitu yah, bukan salah gue loh kalau mengira kamu mau bunuh diri karena diantara banyak orang cuman loe doang yang berdiri tepat di pinggiran tembok tinggi, seperti ingin melompat hehehe.” jawab gadis itu dengan santai tanpa ada rasa bersalah.
“loe, tahu nggak kehadiran suara loe tuh yang tiba-tiba justru hampir membuat gue jatuh ke bawah.” jawab lelaki tersebut dengan sedikit kesal.
“hehehe… maaf ternyata kamu kaget yah, lagian kalau ngelamun tuh jangan di posisi berbahaya seperti itu, berisiko tahu.” Jawab gadis itu dengan cengegesan.

“Eh… iya kenalin aku nagisa, Sekarang kamu tahu kan nama orang yang menyelamatkanmu dari percobaan bunuh diri”. Dengan tersenyum gadis itu menjulurkan tangan untuk berkenalan.
“ini cewek ngeledekin gue atau emang senang mempermainkan orang lain Yah” Batin lelaki itu.
“Gini yah gue kan sudah bilang kalau gue nggak mau bunuh diri ingat itu, Nama gue Oga”. Dengan wajah yang Kesal.
“hehehe… nggak usah kesal begitulah wajah loe, guekan cuman bercanda doang kalau kamu jadi kesal gitu, gue makin curiga kalau kamu memang punya banyak masalah dan pengen bunuh diri.”
“Sumpah makin lama ngobrol sama nih cewek bikin gue pengen bunuh diri beneran deh.” batin Oga.
“Terserahlah Loe mau bilang apa, gue juga sudah mau cabut kok dari tempat ini dan loe nggak bakalan liat orang yang mau bunuh diri.” Dengan wajah kesal oga berpaling meninggalkan Nagisa yang masih terus Senyum-senyum karena ngelihat tingkah Oga.
“Makasih yah sudah beritahu nama Loe. ternyata Loe cowok yang lumayan baik” teriak nagisa sambil memandang oga yang telah berlalu jauh.
“Sial nih cewek bikin malu aja, orang-orang jadi pada ngelihatin guekan, kalau gini Gue cepetan cabut dah.” batin Oga.

Kuliah perdana semester baru telah dimulai dan oga sepertinya akan memulai kuliah perdananya dengan telat. Oga masih tampak kebingungan mencari pakaian yang akan digunakan dan sepatunya, Sisa waktu oga 1 jam agar tidak telat mengikuti kuliah perdananya dan sepertinya itu hampir mustahil dengan keadaan jalan yang sudah pasti macet karena jalur untuk ke kampus oga melalui jalur yang padat kendaraan.

Akhirnya oga tiba di kampus, dengan santai menyeruput segelas cappucino panas yang telah dipesan sambil ngegame. Yah sudah pasti oga telat karena sekarang dia ada di kantin kampus bukan di kelas hehehe.

“Sial udah ngebut-ngebut ke kampus pada akhirnya telat juga tau gini gue lanjut aja tidur gue” gerutu Oga.
“Hai… loe yang gila Stop ngomong sendiri, Loe pasti telat yah?” Seorang lelaki menyapa dengan sedikit mengejek.
“Sialan ternyata loe aris, iya gue telat nih gara-gara semalam nemanin hilda sama rina ngengame.” jawab oga dengan lesu.
“loe kalau udah ngegame sama cewek sampai lupa waktu, dasar pemalas.” Dengan senyum ngejek menasehati.
“Iya… aris yang rajin, pagi-pagi gini loe ke kantin karena telat juga kan.” jawab oga dengan ketus.
“Maaf kali ini tebakan loe salah, gue bukan pemalas seperti loe, gue ke sini cuman karena gue disuruh pak herman nunggu di luar sampai jam mata kuliah selesai.” Dengan percaya diri aris menjelaskan alasannya.
“Maafkan aku aris sahabatku yang paling baik ternyata kamu bukan pemalas, ternyata kamu pemalas dan kurang kesadaran diri, Loe disuruh nunggu di luar karena loe telat kampret dan begonya loe masih coba masuk kelas, jadi kesimpulannya loe diusir karena telat dan kurang sadar diri wkwkwkwk.” Dengan tertawa oga menjelaskan keadaan sebenarnya.
“Oga sahabatku tahukah kamu berburuk sangka pada orang lain itu tidak baik, gue dengar dengan baik kok pak herman bilang ke gue dengan sopan. Adek sebaiknya tunggu di luar saja sampai mata kuliah selesai karena sepertinya adek masih ngantuk.” Aris dengan ngotot menjelaskan dan menirukan apa yang dosennya katakan.
“Oke gue nyerah, gak bakalan pernah menang deh gue kalau ngomong sama loe intinya cukup gue aja yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, mari hentikan pembicaraan yang hanya bermanfaat buat loe.” dengan Wajah memelas oga mencoba mengakhiri pembicaraan nggak jelas itu.
“Nah… akhirnya bisa juga gue buat loe paham apa yang sebenarnya terjadi, sekarang tahukan gue itu seperti apa orangnya.” dengan lega dan percaya diri aris merasa berhasil meyakinkan sahabatnya.
“kenapa tiap kali gue ngomong dengan nih orang rasanya pengen berdoa yah tuhanku berikan hamba kesabaran lebih.” Batin Oga.

“eh iya… Kebetulan ada loe di sini bisa bantuin gue nggak Oga?”
“semoga saja permintaannya tidak aneh” benak Oga.
“Selama gue mampu gue bantu kok.” dengan sedikit keyakinan oga mengiyakan.
“beri gue saran dong. Gue bingung kenapa gue setiap ketemuan sama cewek pasti selalu berujung cewek itu cuekin gue setelah pertemuan pertama gue sama mereka?” dengan wajah lesu aris menceritakan..
“ternyata gue salah, percakapan gue sama nih orang tentang telat tadi nggak bermanfaat buat kita berdua” benak Oga.
“Loe itu sebenarnya bisa dibilang ganteng sih bro dengan tinggi badan sekitar 175 cm, berat badan ideal dan paras seperti orang arab dengan hidung lumayan mancung, jadi masalahnya bukan pada fisik, lebih kesikap kayaknya masalahnya, jadi coba deh lebih ngalah sedikit sama cewek!” oga dengan tampang sedikit serius sambil mengamati dan mencoba meyakinkan aris.
“Makasih loh gue baru sadar kalau gue ternyata ganteng berkat penjelasan detail loh oga hehehe. Gue udah sering ngalah kok seperti tempat dan waktunya gue biarin mereka yang tentukan.” dengan wajah yang mulai menimbulkan sepercik kepercayaan diri.
“waduh saran gue kayaknya belum tersampaikan dengan jelas nih, kira-kira gimana yah menyampaikannya dengan benar.” Oga dengan wajah nampak berpikir dan membayangkan betapa emosinya wanita yang diajak ngobrol dengan aris yang tidak mau mengalah.

“Oga loe kok malah senyum-senyum gak jelas gitu, gimana nih ada saran lagi gak?” dengan wajah bingung aris bertanya pada oga yang masih membayangkan sesuatu yang lucu.
“Gue pernah dengar kata teman gue tuh kalau pertemuan pertama tuh cobalah jadi pendengar yang baik buat cewek itu saat sedang ngobrol dan loe berbicara saja secukupnya, dengan begitu cewek tuh bakalan ngerasa loe sangat perhatiin dan cewek itu bakalan merasa kamu sangat peduli dengan semua yang cewek itu katakan!” setelah berpikir cukup lama akhirnya oga menemukan kata yang pas menurutnya.
“semoga nih anak paham dan sadar diri, sumpah gue sudah kehabisan kata.” benak Oga.
“wah… patut gue coba tuh apa yang teman loe bilang kayaknya banyak benarnya juga sih kalau gue terlalu banyak ngomong tekadang cewek tuh gak sanggup pahami apa yang gue omongin, malah jadi bingung tuh cewek. susah juga yah nemuin cewek cerdas yang mampu pahamin gue.” dengan wajah yang penuh percaya diri aris ingin mencoba lagi.
“Nah… semoga berhasil ris dan semoga loe bisa temuin cewek yang bisa memahami loe hehehe.” Dengan senyum lega dan penuh harapan serta sedikit tawa oga menyemangati aris.
“Untung loe punya teman yang pandai yah Oga, jadi loe bisa transfer sedikit kepandaiannya ke gue, coba aja itu kata loe kayaknya bakalan sulit gue terima deh, maaf yah harusnya sesama jomblo gue gak bertanya hal berat sama loe, loe coba juga tuh cara kali aja loe bisa dapat cewek juga.”
“Tolong jangan tanyakan apa yang sekarang saya rasakan tentang apa yang aris baru katakan barusan” benak Oga.
“Eh… iya entar malam jangan lupa datang yah ke cafe F2P PLAYER kita main bareng di sana sama hilda dan rina.” Aris berpaling meninggalkan oga tanpa secuil penyesalan dan diakhiri dengan senyum manis.
“tolong pergi cepet cappocino gue jadi panas lagi ketika gelasnya gue pegang” benak Oga.

Bulan mulai mengambil alih posisi matahari dengan menutupi keberadaanya dan meneruskan sinar matahari yang menyinarinya di bawah langit yang saat ini sedang ada empat orang manusia sedang menikmati malam dengan kepribadian yang berbeda di Cafe F2P Player. Merka sedang menikmati permainan game MOBA Mobile Lajang yang memiliki tiga jalur pertarungan dalam satu arena dengan tujuan menghancurkan tower yang yang berada di base lawan dengan lima pilihan karakter hero berbeda-beda.

“Aris loe aja deh yang buat roomnya.” Perintah oga.
“Oke… Hilda dan Rina kalian sudah ready juga kan.” Dengan wajah serius bertanya.
“Oke… Hilda ready”.
“Oke… Rina ready”.
“Oke… Oga ready”
“Oke… Kita Mulai.” sambil memencet tombol Mulai.
“Formasinya Seperti yang biasa aja yah Aku hero Fighter, Oga Assasins, Hilda Marksman, Rina Mage entar teman gue yang pakai Tanker.” komando kapten Aris dengan tegas pada Anggotnya.
“Oke mulai lah kapten Aris.” Oga yang mulai tidak sabar.

Permainanpun dimulai dengan formasi Rina dan aris di jalur atas Oga berpindah-pindah kehutan dan tiga jalur, Hilda fokus di jalur tengah dan Mr. NoName teman Aris di jalur bawah.
“Oga ngapin loe di jalur atas sana kejaur bawah aja bantuin Mr NoName.” Perintah kapten aris
“Jangan dulu aku harus bantuin kalian di sini soalnya musuh terlalu kuat di sini.” Tolak Oga
“Itu udah gue stun maju sana Oga.” Perintah rina.
“Oke, ciaaatt… ciattt sial gue mampus kalian berdua kenapa mundur.” Dengan wajah sedih karena kematian tragis hero oga.
“Maaf oga serangan musuhnya terlalu kuat.” dengan wajah menyesal rina
“hehehe… tadi kan udah gue bilang kejalur bawah aja kena karma kan loe, emang gitu nasib orang ketiga bakalan ditinggalin saat keadaanya tidak menyenangkan lagi.” dengan tertawa kapten aris menasihati.
“Oga biarkan aku berdua saja di sini dengan aris dia sendiri aja sudah kuat kok ngejaga aku jadi gak ada ruang untuk bertiga di sini.” dengan wajah kasihan Rina menerangkan.
“Rina… kamu juga ikut-ikutan.” dengan wajah yang semakin sedih Oga pasrah.
“Oga… bantu aku di sini membunuh monster hutan ini.” Panggil Hilda.
“Akhirnya ada juga yang membutuhkan kehadiranku.” Oga dengan wajah yang mulai senang.

“Oke monsternya sudah mati sekarang kamu cari jalur lain biar gue sendiri yang atasi jalur tengah!” Perintah Hilda
“Pada akhirnya keberadaanku cuman sementara dan berakhir dengan kesendirian lagi dan tanpa arah jalur yang jelas.” kesedihan berulang oga.
“waduh hero aku tewas butuh beberapa detik buat hidup lagi.” gerutu Rina
“Aku datang mengantikan posisi Rina, aris ayo serang bersama.” perintah Oga.

Permainan telah berlangsung 12 menit dan pertarungan terasa semakin berat.
“Aris kok gue gak liat ada mage lagi sih?” tanya Oga
“Rina kamu masih main kan?” dengan muka penasaran aris bertanya
“Waduh aku lupa tadi kita lagi main yah, maaf ternyata pertandingannya belum selesai geser loe Oga cari posisi lain.” dengan santai dan rasa bersalah rina kembali ke permainan dan ogapun kehadiranya terhapuskan lagi.”

setelah pertandingan selama 15 menit Pertandinganpun berakhir dengan kekalahan kapten haris dan kawan-kawan.
Akibat kekalahan tersebut kapten Aris dan kawan-kawan memutuskan untuk mengakhiri permainan malam ini dan akan dilanjutkan hingga ada pemberitahuan kapten haris berikutnya.

Kapten Aris yang belum bisa menerima kekalahan masih memasang wajah kesal dan rina si pelupa cuman memandangi kapten Aris dengan rasa bingung dan heran. Suasana bermain gamepun berubah menjadi suasana ngobrol dan review hasil pertandingan tadi.

“Aris sudahlah nggak usah kesal lagi nanti kita main bareng lagi dan balas kekalahan kita.” dengan wajah tegar oga coba merubah suasana hati aris.
“Emangnya si Aris lagi kesal sama siapa Oga, dari tadi gak ada yang ngejahilin atau ngeledekin dia kok?” dengan santai rina membuat aris semakin kesal.
“Rina… film korea kemarin yang kamu tonton jalan ceritanya bagus gak?” tanpa merasa ada yang lagi kesal hilda bertanya.
“Lebih sedih dari yang pernah kita nonton di rumah kamu hil… dan pemeran cowoknya penghayatan perannya dalam banget.” seakan tak pernah mengucapkan kata yang salah rina mulai berbincang hal lain.
“wih… boleh pinjam dong yang kemarin aja sedih banget saat tuh cowok menyelamatkan kucing kesayangan cewek yang dia suka sampai kakinya terkilir gak kuat aku tahan tangis.” mrs baper hilda mulai menunjukan taringnya.
“Tadi pertandingannya ngeselin banget yah banyak kesalahan tim” Si kesal aris mulai menyalahkan.
“Oooo… kamu dari tadi kesal karena kekalahan pertandingan tadi?” si mrs pelupa Rina mulai sadarkan diri.
“Iya aku juga sedih banget tadi gak ada yang ngebantuin di jalur tengah aku sendirian loh kalian pada gak peka, kalian gak tahu apa sulitnya sendiri menjaga tower di tengah.” Mrs baper hilda semakin baper.
“Udah jam 09:00 malam nih balik yuk.” dan spesialis mengakhiri pembicaraan Mr oga mulai bersabda.

Berkat sabda Mr Oga akhirnya Pasukan kapten Aris membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing dengan saling berboncengan motor Aris dengan rina dan Oga dengan Hilda.

Udara malam semakin dingin hingga menembus jaket dan kesesakan jalan mulai terurai dengan tujuan yang berbeda-beda dan tampak dua manusia berbeda gender sedang berboncongen dengan motor satria uhuk dengan warna merah dan hitam sedang menikmati keindahan kota.

“Oga kamu sadar gak sikap cuek loe di kampus itu terkadang membuat jengkel orang-orang apalagi geng gue mereka tuh pada jengkel banget sama loe?” dengan pelukan erat hilda bersuara tepat di telinga.
“Emangnya kenapa mereka harus jengkel gue kan gak pernah ganggu atau merendahkan mereka?” dengan memperhatikan jalan sahut oga.
“Bagi cewek populer kampus seperti mereka itu dicuekin oleh seorang cowok itu merupakan penghinaan bagi mereka, loe ingat kan si nami pernah minta tolong ke loe buat ngambilin pulpennya dan loe terus jalan aja?” cerita hilda dengan wajah serius.
“hhmm… waktu itu yah bukannya gak mau nolong sih tapi saat itu kan dia lagi gak bawa barang apa-apa di tangannya dan posisi pulpenya lebih dekat dari dia, dianya aja yang manja.” dengan santai oga menjawab.
“sepertinya nih cowok emang gak peka deh dengan perasaan wanita.” benak hilda.

“Hilda kamu meluknya terlalu kencang gue susah napas nih.” gerutu Oga.
“Kamu ngerasa apa saat aku peluk gini Oga.” Pancing hilda tetang kepekaan Oga
“Aku ngerasa nyaman sih karena rasa dinginnya angin malam sedikit berkurang, tapi jangan terlalu erat banget jadi sulit nafas aku.” dengan keadaan bisa bernafas lega lagi jawab oga
“Selain itu apalagi yang kamu rasakan?” hilda terus memancing kepekaan Oga
“Eh iya… si nami tadi yang kamu ceritain ke aku jengkel karena gue karena kejadian itu yah?” Oga mencoba mengalihkan pertanyaan.
“Iya dia jengkel banget sama kamu, btw kamu belum jawab loh pertanyaan aku sebelumnya?” dengan ketus nami terus bertahan dari pengalihan Oga.
“Jadi selain nami teman geng kamu semuanya jengkel sama gue?” Oga terus mengalihkan pembicaraan.
“Sejauh mana kamu bisa mengelak dari pertanyaan itu oga.” Batin Hilda.
“Iya… nami, erza, dan nana bahkan anggota baru geng gue juga bakalan jengkel deh ketemu sama loe di kampus, tapi ingat yah gue nggak termasuk dan gue gak pernah benci loe, eh iya selain rasa hangat apalagi yang kamu rasa saat aku peluk?” hilda mengulang pertanyaan dan terus menekan Oga.
“turun sekarang hilda…!” perintah Oga
“Waduh si Oga marah yah sama Gue?” batin hilda
“turun hilda sudah sampai itu mama kamu tungguin depan pintu.” ucapan Oga membuat lamunan hilda buyar.
“Huffftt… ternyata gue disuruh turun bukan karena dia marah tapi karena sudah sampai. Makasih yah Oga.” hilda dengan keadaan sedikit shock
“Bye hilda sampai jumpa besok istrahat sana besok kan loe kuliah pagi.” pamit oga sambil memasukkan motornya di rumah yang berada tepat depan rumah hilda

Cerpen Karangan: Fahmi Indra S
Sekian dulu yah maafkan aku yang masih penulis pemula ini jika banyak tanda baca dan kata yang salah, eh iya nagisanya tadi sakit perut jadi munculnya cuman sebentar di part ini nantikan lagi yah nagisa dan yang lainya di Part 2. Kirim Kritik dan saran kalian di gamersa6434[-at-]gmail.com kalia aja kritik dan saran kalian bisa ngebuat gue jadi penulis pro hehehe… #JanganLupaBahagia.

Cerpen Cinta Dan Romantis itu Seperti Apa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jodoh Pasti Bertemu

Oleh:
Hari Senin, hari yang sangat melelahkan itu karena aku mengawali hariku dengan upacara yang sangat membosankan ditambah aku anggota OSIS, hari itu sebenarnya bukan tugasku menjadi petugas, tapi Mika

Cinta Itu Sederhana

Oleh:
“Cinta yang indah adalah jika kita mencintai seseorang dengan ikhlas tanpa balasan dan tanpa satu alasan apapun” Pagi yang cerah menyelimuti alam ini, ak terbangun dari tidur yang lelap.

Tanda Tanya

Oleh:
Tuhan seakan mempunyai rencana terhadap jalan cinta yang Ia berikan, berawal dari senyuman dan hanya sekedar sapa-menyapa, tak ada niat untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman berkenalan.

Cinta Dalam Secangkir Kopi

Oleh:
Uap tebal yang menyembul dari cangkir tebal berisikan cairan hitam pekat, menyeruak menabrak dinding-dinding wajahku dan terakhir menyentuh hidungku dengan aroma khas kopi sebuah kafe. Tanganku mengangkat cangkir tersebut

Love Hour (Part 3)

Oleh:
“Tiga, dua, satu!” Agung memberi aba-aba dan tepat setelah jingle radio ini berakhir, suaraku pun mengudara. “Selamat malam, best pals! Kembali lagi di gelarannya Love Hour dan kali ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *