Cinta Datang Terlambat (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 July 2015

“Tak ku mengerti, mengapa begini..
Waktu dulu ku tak pernah merindu..
Tapi saat semuanya berubah, kau jauh dariku,
Pergi tinggalkanku…”
Aku tengah mendengarkan lagu kesukaanku, Cinta Datang Terlambat. Lagu yang dinyanyikan oleh Maudy Ayunda, artis cantik yang mempesona. Ketika sedang asik-asiknya mendengarkan lagu itu sambil tidur-tiduran di kamar, terdengar ketukan yang agak kasar di pintu kamarku.
“Ria.. Ria..”, terdengar jelas sekali kalau itu suara Lia dan Fia. Bukannya bergerak membukakan pintu, aku malah membalikkan badan menghadap ke tembok dan berteriak, “Masuk aja. Gak dikunci”
Terdengar derap langkah kaki mereka masuk dan mengunci kembali pintu kamarku. Aku pun berbalik badan dan mendapati mereka berdua datang disertai sekantong cemilan.
“Ceileh.. Siang-siang gini, malah dengerin lagu galau,” celutuk Fia sembari duduk dan meraih bungkusan berisi jajanan tadi.
“Iya, aku lagi galau” Ucapku sambil melepas headset dan ikut duduk di lantai bersama mereka. “Oya? Galau napa? Jangan bilang deh mikirin Andi lagi,” Kali ini Lia yang bertanya.
“Bukan, galau masalah yang lain lagi,” jawabku pelan sambil menyalakan notebook dan memutar lagu Cinta Datang Terlambat. “Aku capek jatuh cinta diam-diam kaya gini.”
“Sama Rio? Tuh, kan.. Kamu sih, giliran kemarin dia suka, malah kamu tolak, kamu caci maki. Malah tetap bertahan sama Andi. Liat deh sekarang ujung-ujungnya gimana, Andi nyelingkuhin kamu kan?”
“Aduh.. Aku juga gak ngerti kenapa sekarang aku bisa suka sama dia. Apa ini karma ya? Karma kok dalem banget sih, jadinya? Waktu itu kan, aku masih pacaran sama Andi. Ya wajar lah, aku marahin dia. Dan aku caci maki dia, itu kan karena dia ngomong yang aneh-aneh gitu. Aduh, udah deh. Jangan bahas masalah selingkuh itu lagi,” Aku berkata lemah dengan wajah terbenam di antara kedua lutut yang ku tekuk di depan dada. “Seandainya bisa memilih, aku gak akan mau ada proses aku jatuh cinta dengan dia seperti ini.”

Suasana hening sesaat, hanya terdengar suara sedang makan dari kedua sahabatku tersebut, dan suara lembut lagu yang ku putar.
“Mungkin memang ku cinta.. Mungkin Memang ku sesali..
Pernah tak hiraukan rasamu, dulu..
Aku hanya ingkari, kata hatiku saja..
Tapi mengapa kini, cinta datang terlambat…”
Lagu itu pun seakan merasuk ke relung-relung hatiku, seakan meruntuhkan pertahananku. Lirik yang sangat menusuk, sangat sesuai dengan keadaanku. Airmata pun menetes perlahan, aku terisak dalam keheningan waktu di kamar ini.

Lirik lagu yang begitu tajam, mampu menggores hatiku. Aku tak mengerti, mengapa cinta di hatiku ini datangnya sangat terlambat. Ketika Rio sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadapku, saat itulah aku baru menyadari, ternyata aku jatuh cinta dengannya. Hatiku yang sempat terluka karena dikhianati, berhasil dia obati. Bahkan dia buka kembali. Dan ketika aku merasakan semua itu, dia tidak lagi merasakan hal yang sama.

Tangisku baru berhenti ketika Lia menegurku, “Ria,” panggil Lia pelan. Aku tidak menjawab, hanya mengangkat wajahku yang tadi ku benamkan. Ku tatapi kedua sahabatku itu. Wajah mereka sangat prihatin melihat keadaanku.
“Terus kamu maunya gimana, Ria?” tanya Fia sambil menepuk pundakku. “Kalo kamu memang suka, hilangkan gengsi kamu dan deketin dia,”
“Tapi.. kalo aku ngedeketin dia, ya dia pasti curiga lah sama aku. Dulu kan kalian tau sendiri, aku jutek setengah mati dengan dia.”
“Ya tapi mau gimana lagi, Ria? Daripada kaya gini, kan kamu sakit sendiri. Aku juga ngerti kok, perasaan kamu. Udah deh, baik kamu sama Anwar aja. Atau kalau perlu, cari yang baru deh. Banyak kok, yang lebih dari mereka.” Lia menasehatiku dengan tegas. Dia berkata dengan raut wajah yang serius, sangat berbeda dengan karakter dia yang sebenarnya.
“Kalo kaya gini, aku gak bisa tinggal diam, nih. Aku bantuin deh. Tenang aja.” Kata Fia menghiburku. Kata-katanya sedikit membuat pencerahan di hatiku. Ada harapan kalau aku akan berhasil mendekati Rio. “Serius?” tanyaku menatap wajah Fia dan Lia bergantian.
“Tenang aja. Pasti aku bantuin deh. Nanti aku calling-calling juga sama Nanda. Oke?”
“Duh.. kayanya aku bakalan buka biro jodoh, deh. Kan bagus banget tuh,” celetuk Fia sambil tertawa renyah. “Loh, kok bisa gitu sih, Fia? Masa sekolah tinggi-tinggi, kamu Cuma mau buka biro jodoh,” Aku pun mulai tertawa mendengar canda Fia. Airmata yang tadi masih membekas di pipi, ku hapus dengan kedua telapak tangan.
“Ya bisa lah. Dari kemarin, aku jodohin orang mulu. Kamu mau aku jodohin, Lia juga mau aku jodohin dengan Abangku. Duh.. tinggal akunya yang sendirian. He.. he.. he..”
Kontan saja kami bertiga tertawa. Suasana yang tadinya sendu, berubah menjadi ceria lagi karena canda Fia. Aku pun melupakan sejenak masalah hatiku. Kami pun mengobrol ngalor ngidul seperti biasanya jika kami sedang berkumpul.

Beberapa hari kemudian, kami melaksanakan Try Out kabupaten. Sebagai siswa kelas IX, saat-saat Try Out adalah saat yang lumayan menegangkan bagi kami. Kebetulan, ruanganku adalah ruangan satu. Dan ruangan satu terletak di kelas IX-B. Aku pun kegirangan. Bagaimana tidak, selama 4 hari nanti, ruanganku dan ruangan Rio berdekatan. Aku di ruangan 1, dan dia di ruangan 3. Hanya helat satu ruangan. Kesempatan itu tidak ku buang sia-sia, sepanjang waktu sebelum bel masuk dan bel pulang berbunyi, aku selalu menatapinya.

Sofia yang tau hobby baruku itu, membantu ku dengan caranya sendiri. Tapi, lagi-lagi aku harus kecewa. Hingga hari kedua, dia tidak kunjung menegurku sama sekali. Bahkan, ketika dia berbicara dengan teman-teman sekelasnya tepat di sampingku, dia tidak menegurku sama sekali. Betapa sakit hatinya aku. Biasanya, dia sering sekali menegurku. Bahkan menjahiliku. Sikapnya yang biasanya selalu terkesan akrab dan ceria, tiba-tiba seperti tidak mengenalku sama sekali. Aku hanya terdiam saja. Sambil menahan sakit di hati.

Pagi itu, cuacanya cukup cerah. Ini adalah Hari Try Out ketiga. Dengan mata pelajaran yang akan diuji, yaitu Bahasa Inggris, aku pun santai-santai saja. Tidak seperti ketika yang diUji adalah Matematika dan IPA, aku selalu menatap buku sepanjang waktu bel belum berbunyi.

Entah aku yang datang terlalu pagi atau apa, sekolah masih dalam keadaan sepi ketika aku datang. Aku pun berjalan menuju ke ruanganku,
“Ria, sini..” terdengar suara panggilan. Aku yang tadinya berjalan menunduk, kontan saja langsung mengangkat wajahku dan mencari sumber suara. Oh ternyata Reza. Dia melambaikan tangannya ketika aku mencari sumber suara.
Aku pun berjalan ke arahnya. Dia tengah duduk-duduk di kursi panjang yang terletak di depan ruangan 3.
‘Inikan ruangan nya Rio,’ gumamku dalam hati. Aku mengekor Reza dan beberapa teman lainnya yang datang lebih dulu untuk duduk di kursi panjang itu.
“Yang lain mana?” Tanyaku pada Reza. “Belum datang lah..”
“Eh.. Fia ultah loh, hari ini,” kataku sambil menarik-narik lengan baju Tengku.
“Fia kan? Mana dia? Belum datang ya?”
“Iya.. belum. Eh.. itu dia datang. Cuekin aja…”, “OK”.
Kami pun diam dan tidak menghiraukan Fia. Tapi hal tersebut tidak berlangsung lama, karena aku tidak tahan tidak berteguran dengan sahabtku itu. Kami pun bercanda riang hingga tidak sadar kalau sekolah sudah ramai oleh kedatangan siswa kelas IX yang mengikuti Try Out hari itu.

Karena beranda ruangan mereka kami kuasai, murid-murid kelas IX-B yang beruangan di ruangan 3 pun mengalah, mereka memilih bersantai di beranda ruangan 2 daripada memilih menggusur kami. Ketika aku, Fia, Lili, Riana dan Lia akan pergi ke tempat teman-teman berkumpul di depan ruangan 1, tiba-tiba ada seseorang berujar,
“Hee… sombong semua nih yang lewat mah.”
Kontan saja aku langsung menoleh, aku mengenal suara itu. Itu kan suaranya Rio. Suara merdu yang selalu membuat tingkat pendengaranku meningkat tajam dalam waktu hanya 1 detik. Aku pun menjawab, “Ye.. dia yang sombong kok malah bilangin orang sombong, sih?” kataku sambil berlalu.
Belum sempat sampai di ruangan 1, Fia menggodaku, “Ciee.. ditegur Ria.. ditegur…”, “Ah biasa aja.” Kataku menanggapi Fia. Padahal, dalam hatiku berbunga-bunga.. Senang banget… Duh gak nyangka pula bakal ditegur. Aku pun hanya senyum-senyum sendiri saja hingga bel masuk berbunyi.

Sampai Di rumah, aku membuka laptop dan membuka akun Twitterku. Aku membuat tweet, “Pilih mana, pilih orang yang masih mencintai kita, tapi kemarin dia baru menghianati cinta kita. Atau orang yang kita suka, tapi dia sudah memiliki pacar.”

Keesokkan harinya, Fia berencana akan memanggil Rio agar Rio ngobrol denganku barang sebentar. Semalam, aku dan Fia SMS-an mengenai Rio dan cowok yang Fia suka.
“Besok kesempatan terakhir ruangannya satu deret. Mumpung deketan, harusnya kamu berani deketin dia. Jangan buang kesempatan berharga besok.” Itu isi pesan Fia semalam. Aku pun menyanggupi usul Fia. Dan berencana akan menegur Rio besoknya.

Sepanjang waktu sebelum bel, aku hanya menatapi Rio.
“Ayo Ria.. aku bakal nemenin kamu deh. Ayo”
“Enggak ah, Fi.. gak berani. Kayanya, gak usah aja deh. Aku gugup.”
“Ayoo… Aku temenin. Ini kesempatan terakhir ruangannya deketan. Ayo..” Fia bersikeras membujukku. Tapi aku menolak. Dan akhirnya, perjuangan Fia pun harus ditunda, karena bel masuk menandakan peserta Try Out harus bersiap, sudah berbunyi.

Aku mengerjakan Try Out dengan sedikit gelisah. Gelisah antara bingung menjawab soal di hadapanku, dan gelisah memikirkan Rio yang selalu berputar-putar di kepalaku. Aku selesai setengah jam lebih awal dari waktu yang ditetapkan dalam mengerjakan soal-soal Try Out.

Sepanjang sisa waktu, kegelisahanku semakin menjadi. Terkadang, aku masih memikirkan Andi. Jujur. Aku masih belum bisa melupakan dia hingga detik ini. Aku masih memiliki perasaan terhadapnya. Tapi mau gimana lagi, aku gak mau kembali ke pelukannya. Aku cukup tersakiti dengan penghianatan yang dia lakukan terhadapku. Dia memang sempat mengajakku untuk kembali padanya. Tapi.. ah.. hati ini terlalu sakit.
Sedangkan Rio. Aku memang mengharapkannya. Tetapi, dia kan tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapku. Dia hanya menganggapku Cuma teman biasa. Just “FRIEND”. Kepalaku benar-benar sakit.

Tak lama kemudian, bel berbunyi. Menandakan waktu mengerjakan soal Try Out habis, dan sudah saatnya pulang. Aku, Fia, Lili, Riana, Lia dan beberapa teman lainnya duduk-dudukan di depan gerbang sekolah menunggu jemputan. Sekalian menunggu Rio lewat. Ketika Rio lewat, Fia dan Lia memanggilnya.
Fia dan Lia menghampiri Rio yang berhenti karena namanya dipanggil. Aku memilih menunggu mereka dengan pura-pura tidak melihat dan ngobrol dengan teman-temanku.
“Ria.. Sini..” panggil Fia dan Lia berbarengan.
Jantungku langsung terasa berdebar semakin cepat. Bagaikan robot, aku pun melangkah mendatangi mereka. Duhh… disitu ada orang yang aku suka lagi. Jantungku semakin berdebar-debar saja.
“Ada apa?” tanyaku pura-pura bego. Padahal aku suudah tau kenapa Fia dan Lia memanggilku.
“Ini Rionya. Tadi katanya ada perlu. Ngomong gih.” Kata Fia.
Aku pun menoleh ke Rio dan mendapati wajah yang Mengalihkan duniaku itu. Duh.. debaran jantungku semakin gak karuan. Dengan mengumpulkan segala keberanian, aku pun bertanya,
“Rio, kamu belum baikan kah, dengan Andi?” tanyaku. Padahal pertanyaan itu Cuma basa-basi.
Aku berharap dia merespon dan mengerti arti tatapan ku kepadanya. Ternyata, jawaban yang dia lontarkan, sangat jauh dari harapan yang ku inginkan. Hatiku langsung terasa patah saat itu juga.
“Belum.” Hanya itu jawabannya. Singkat. Padat dan jelas. Sehabis berkata “belum”, Rio langsung membalikan badannya, dan berjalan meninggalkan kami yang kebingungan.
“Udah? Gitu doang?” aku seakan tidak percaya dengan apa yang baru terjadi. Angan-anganku buyar seketika. Harapan akan disapa dan ngobrol, atau dihiraukan langsung luluh lantak. Aku seakan tidak dihargai. Aku kecewa. Hatiku terasa perih.

Kenapa aku harus merasa sakit hati? Kenapa aku harus merasa marah? Rio kan bukan siapa-siapaku. Kami Cuma sekedar teman, walaupun aku memiliki perasaan terhadapnya.
Teman-temanku berkata, “Aduh Ria. Kamu tuh datangnya telat. Dia itu buru-buru.”
“Iya. Kalo gak mikir, aku bakal nyeplos nih ke dia tadi tentang perasaan kamu.” Kata Lia.
“Sama. Aku juga gak tahan pengen bilang tadi,” kata Fia dengan wajah greget.
Aku hanya terdiam. Buat apa lagi aku mengharapkan orang seperti itu. Sepertinya aku harus melupakannya. Reaksinya terhadapku tadi susah sangat jelas menunjukkan apa yang dia rasakan. Aku hampir menangis.

Fia, Lili dan Lia menyeretku ke warung Soto di seberang sekolahh. Selera makanku sudah hilang. Aku tidak ingin makan. Aku hanya memesan es kelapa dan makaroni saja. Setelah mendaapat pesananku, aku pun pulang.

Sampai di rumah, aku langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Masih dengan seragam sekolah. Hanya saja, jilbab sudah ku lepaskan. Aku menangis di atas tempat tidur, sedih rasanya. Apa sebegitu tidak pentingnya aku. Apa segitu tidak perlunya aku? hingga jawabannya tadi sangat tidak memuaskan dan langsung pergi meninggalkanku.
Aku menangis hingga puas. Aku pun memikirkan. Apakah aku harus melupakannya? Atau terus menantinya. Aku pun juga tidak mengerti. Dan aku tidak tau harus berbuat apa.

Jujur, aku menyesal telah tak menghiraukan rasanya dulu. Entah mengapa, sekarang aku bisa jatuh cinta dengannya. Dia yang mengobati lukaku karena diselingkuhi Andi. Dia berhasil membuka pintu hatiku yang tertutup rapat untuk cowok lain, dan hanya terbuka untuk Andi selama dua tahun 6 bulan. Aku harus bagaimana. Aku pun tak tau. Yang pasti, aku sangat menyesal, semua ini terjadi.

Rio. Andai kamu tau. Kalau aku memiliki perasaan terhadapmu. Menolehlah ke belakang. Di belakangmu ada aku. Ada aku yang menunggumu. Menunggu cintamu lagi. Aku akan menunggu Rio. Menunggu ketika nanti kamu hanya sekedar mengetahui perasaanku. Atau mengetahui dan juga membalasnya.

Cerpen Karangan: Hijjiriah Afriani Tambunan
Facebook: Ziah Afriani
Assalamualaikum. Halo.. Nama saya Hijjiriah Afriani Tambunan. Umur saya 15 tahun 17 april nanti. saya kelas 3 SMP. Kalian boleh panggil saya Ziah. saya suka menulis. dan saya suka membaca. hobby saya sangat banyak hingga tidak bisa saya sebutkan satu persatu. ini adalah cerpen pertama saya yang saya kirim ke sini. semoga kalian suka. tunggu lagi cerpen saya selanjutnya yah. Facebook Saya Ziah Afriani. Twitter saya @ZiahAfrianiott. Terimakasih banyak. Wassalam Wr. Wb

Cerpen Cinta Datang Terlambat (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan 5 Sahabat

Oleh:
Suara Adzan Mengalun Indah memanggil hamba Allah untuk menjalankan sebuah kewajiban yaitu sholat subuh. Sejenak Sang surya menampakkan cahaya terangnya. Suara ayam berkokok mengiri kemunculan sang surya. Suasana pagi

Dia

Oleh:
Terkadang aku bertanya, “Siapakah dia sebenarnya?” Dia yang sering membuatku tertawa, marah dan sedih. Dia yang memberi warna dalam hari-hariku yang kelabu. Dia dengan segala perhatian dan sikap over

Lovely Boyfriend

Oleh:
“Jadi pacarku ya!.” Ucap Mr. Populer mengejutkanku. “Eh, maksudnya?.” Tanyaku bingung. “Aku tahu selama ini kau suka padaku kan?. Bahkan aku juga tahu kau selalu mengawasiku.” “Ta… Tapi kau

Tak Mengerti

Oleh:
Aku Riza 20 tahun aku ada di bumi ini, aku berteman dengan matahari dan angin, matahari yang memberiku cahaya dalam petangku, dan angin selalu memberiku kesejukan dalam penatnya jiwaku.

Perempuan Ini

Oleh:
Matahari terus bersinar dengan bangga, Ryan menatap ke atas satu kata yang pasti terlintas di otaknya “Panas” cukup untuk menggambarkan keadaanya yang begitu mengenaskan. Anak laki-laki ini hanya menatap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *