Cinta Datang Terlambat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 March 2014

“mau sampai kapan jomblo din?” Tanya fitri dengan mulut dipenuhi makanan.
“jodoh di tangan Tuhan kali, ngomongin jodoh mah urusan belakangan aja fit” jawabku lirih.
“tapi kan, semenjak putus dari Said, kok aku nda pernah denger kamu buka hati untuk yang lain, padahal kan, pada banyak yang ngantri, macam antri bbm”
“berlebihan deh ya, udah ah, habisin tuh pentol, apa mau ku makan nih” jawabku, sembari ninggalin Fitri di kantin bakso sekolah.

“Hay Amin”
“amiiiinn, oh my God! Ganteng sumpah!”
“sehari aja, aku gaj denger kalian ngoceh tentang tu orang, bisa gak sih?” nada suara ku yang lumayan tinggi, menghentikan suara gemuruh kelas, yang sudah kayak pasar.

Setelah seminggu kedatengan anak murid baru, kelas semakin gemuruh, ribut, kasana kemari, seperti anak ayam yang kehilangan induknya di tengah pasar dan banyak cewek-cewek famous di sekolah yang entah kenapa suka datang ke kelas.
Anak baru itu narik perhatian? Padahal tidak. Ganteng? Enggak. Pintar? Enggak. Terus apa? Belagu? Iya. Sombong? Iya. Sok famous? Iya. Hanya itu yang ada dipikiran ku saat itu.
Aku tidak begitu menyukai anak-anak baru, apalagi atlit, yang mayoritas belagu hanya karena dapat membanggakan sekolah dan dengan seenaknya ngeremehkan kami yang tidak punya apa-apa.
Dan dengan seolah-oleh Albert Einsten, anak-anak atlit di sekolahku, dengan pintarnya ngerjain ujian, padahal dalam setahun, kehadiran mereka hanya bisa dihitung dengan jari. Itulah, yang membuatku membenci pihak-pihak yang ganjen dalam hal itu.

“din? Amin kurang apa sih? ganteng iya, punya segalanya juga iya, anak tahfidz iya. Kenapa kamu selalu aja benci? Bukannya setiap pribadi orang itu berbeda? Gak semua juga kan anak atlit di sekolah kita belagu? Hati-hati jatuh cinta din.” Ujar, temen ku sinta.
“pernah denger pepatah gak? Bukan kah sebuah fakta harus ada pembuktian?” jawabku lirih, sembari meninggalkan kelas.

“hari ini, hafalan sholat” ujar bapak guru Agama.
“siap pak!”
Semua anak di kelas pada ngikutin aturan guru Agama yang satu ini. Kadang ada hal yang kurang kami senangi dari bapak ini, entah karena sudah tua, dan masih mempunyai nafsu. Bapak guru Agama yang satu ini bisa bertingkah seperti bapak-bapak ganjen yang kurang menyenangkan. Entahlah… bayangkan saja sendiri.
“Muhammad Aminullah”
Males banget denger ini nama! Denger aja sudah membuatku malas, apalagi buat ngelihat.
“allahu akbar”
Entah lah kenapa, mata ku yang mulai ganjen ngelirik ke arah Amin dan ngelihat gerak-geriknya dalam sholat.
Entah ada keajaiban yang datang dari langit, telinga yang biasanya suka males buat dengerin omelan mama, kini dengan jernih tanpa kotoran yang nyangkut dengerin dengan khusyuk suara yang terucap dari bibir Amin, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang diucapkannya serentak membuatku ingin mendengarkannya lebih dalam dan lama lagi. Terdengar nyaman, sangat nyaman, seperti mendengarkan sebuah lantunan ayat yang dilafadzkan oleh ustadz yang sudah mahir dalam melafadzkan.
“din? Ngapain? Cieeee… mulai suka nih ye. Udah deh ngaku aja, kali” olok fitri yang membuyarkan lamunanku
“gak kok, siapa juga yang ngelihatin, mulutmu butuh kunci kah? Gemboknya juga? Gak usah ngomong nyaring deh, entar orangnya denger, terus geer!” cetusku

“din, tolong bantu Ibu ya, bentar lagi kan mau bagi raport, kamu kan ketua kelas 9C, ibu minta tolong bantuin temen kamu yang ini, dia kan anak baru, ada satu tugas yang belum dia kerjakan, tolong ibu ya, ini kertasnya”
“oh, ini, o-o-oh iya, bu, saya bantu”
“makasih ya”
“sama-sama bu.” Aku pamit dari ruang guru.

“ini, tugas mu, yang belum dikerjakan, cepet dikerjakan, terus kumpul ke aku” aku memberikan sebuah kertas bertuliskan tugas Amin yang diberikan guru TIK ku ibu Juriah. Dengan hati terpaksa dan merengut sepanjang hari, ku jalani dengan baik. Padahal rasa ingin menolak itu terus tertahan.
“oh, ini. Makasih ya Din” ujar Amin.
“Din? Bukannya tadi pagi kamu yang disuruh ibu, bantuin? Kok kamu gak mau bantuin?” fitri menepuk dada ku, seketika aku tersentak dan bangkit dari duduk.
“kerjain sendiri aja, masa gak bisa? Rempong deh” cetus ku.
“oh jadi, pengen lihat aku pergi ke ruang guru terus nemuin bu Juriah?” fitri ngancam dengan wajah nyolot.
“o-oh” ucapku terbata-bata.
“buruan deh, bantuin, jangan suka PHP” dengan nyamannya Fitri narik tangan ku ke arah Amin.
“oke, ku bantuin” ucapku dengan sangat terpaksa duduk di depan Amin.

“makasih ya Din” sms masuk dari Handphone yang sedari tadi ku abaikan. Aku memang lebih sering mengabaikan handphone, karena ku pikir, mengecek hp apalah artinya, jika tak ada pesan satu pun yang masuk.
“ini siapa?” balasku, sembari mengahabiskan makan malam, sendirian di rumah, karena malam ini semua penghuni rumah sedang tidak ada.
“amin, makasih ya, bantuannya tadi”. Amin? Aku tersentak seketika membaca pesan masuk darinya, dari mana dia tau nomorku? Perlu kah berterimakasih harus dengan sms?
“oh, ya sama-sama”
“malam ini kamu sibuk? Atau lagi belajar?” Tanyanya semakin membuatku heran. Untuk apa ia menanyakan itu? Perlukah?
“nggak, krnapa?”
“mau ikut aku malam ini? Ke Café? Minum atau makan aja kok, sebagai ucapan terimakasih. Mau ya?” paksanya
“mau ngapain? Lu mau macam-macam sama gue? Gue bukan cewek murahan, sama yang lain aja kenapa susah benget sih!” dengan hati yang panas dan nyolot, tanpa memperhatikan bahasa ku yang mulai sok, aku mengabaikan.
“aku Cuma pengen bilang makasih, dan sebagai tanda terimakasih? Oke, aku otewe ke sana ya? Tunggu di depan rumah”
Kurang ajar, ini anak semakin ngelunjak aja. Tau dari mana coba rumahku? Kenal aja kagak- pikirku.

“assalamua’laikum”
“wa’alaikumsalam” aku beranjak dari meja makan ke arah pintu.
“hay Din? Gimana, udah siap?” Tanya Amin, membuatku tersentak kaget. Ganteng? Iya sih dikit doang. Kaos yang dilapisi jaket kulit serta levis bermerek, kendaraan roda dua yang super mewah dan jarang anak-anak seumuranku punya itu. Entahlah siapa wanita yang tidak tertarik. Hanya aku, mungkin.
“siap apaan?”
“aku mohon, sekali ini aja? Aku tau kok kamu gak suka kehadiranku di sekolahmu.”
“terus?” jawabku ketus, aku melingkarkan kedua tangan di dada.
“sekali aja din, plis. Aku tau kok kamu lagi sendiri di rumah”
“sok tau deh” cetusku. Apa aku harus ikut? Iya sih sendirian di rumah, kesepian. Ikut gak ya? Ikut gak ya?
“ya udah deh bentar, aku ganti baju dulu”

Arsitektur bangunan yang besar, serta terangnya cahaya lampu, diiringi dengan cahaya bulan yang kala itu berbentuk setengah. Menambah suasana kafe bertema outdoor itu. Sekeliling pasangan yang berkencan entah dengan sahabat ataupun pacar terlihat sangat ramai pengunjung. Entah itu karena weekend. Amin memesan tempat yang berkapasitas banyak, di bawah pohon yang berhias lampu. Padahal ku pikir hanya aku dan dia, entahlah.

“kok kapasitas pesanan mu banyak banget?” tanyaku, sembari melihat halaman-halaman sub menu makanan, tanpa melirik sedikitpun padanya.
“karena ada yang mau datang”
“siapa? Ku pikir hanya kita berdua?” tanyaku sinis.
“cie, jadi ceritanya pengen berdua doang nih? Ya udah deh kita pesen tempat baru aja” Fitri datang dengan pakaian yang super modis, bak model terkenal. Karena memang dapat diakui, Fitri wanita cantik berambut panjang, berbadan tinggi dan ramping berparas cantik, wajar sajalah ia dijuluki “wanita tercantik di SMP” berbanding jauh terbalik dengan ku. Ternyata Fitri tidak hanya sendiri, di sampingnya ada Risko kekasihnya yang sekarang bersamanya kurang lebih 2 tahun.
“Ooooh baru ngeh deh, ternyata kamu fit yang ngasih nomer, alamat ku ke dia, oooh jadi ini” jawabku sinis memasang wajah kecut.
“hehehe, gak apa kan? Lagian kata mamamu, kamu sendiri di rumah aku disuruh temenin, daripada kita gak ada kerjaan mending kesini ye kan? Lagian ini rencana Amin kok.” Fitri menjatuhkan pantatnya.
“nikmati aje kali din, hahahaha” dengan wajah songong Risko nyelengit.
“tiga lawan satu, ya udah nyerah deh, aku ikutin permainan kalian” cetusku.

“ya udah sayang, hati-hati di jalan ya, Jangan ngebut, sms jangan lupa kalau sudah sampai”. Fitri turun dari motor Risko, dan tanpa menghiraukan aku dan Amin, Risko melayangkan kecupan centil di pipi Fitri.
Oh my God! Musti bingit ye, ngelihat mereka bermesraan di depanku, pikirku.

Dengan perasaan yang entah kenapa bercampur aduk, aku turun dari motor Amin, karena aku berhati baik dan berasa bukan orang yang tidak tahu diri akhirnyaa..
“makasih ya, untuk malam ini” entah kenapa bibir ini membentuk senyuman yang begitu jarang ku berikan pada seorang lelaki. Dan ini pertama aku berterimakasih padanya.
“makasih juga untuk malam ini, aku pulang dulu ya” dengan perlahan sosok Amin keluar dari gerbang rumah dan aku menatap punggungnya semakin jauh, dan jauh.
“cie, gak lama tuh, jadi deh jadi pokoknya” dengan wajah sok tahu fitri masuk rumahku yang sudah dianggapnya seperti rumah sendiri.
“sok tau lu!”

Makasih? Untuk apa aku berterimakasih? Bukannya dia sudah kurang ajar, dengan seenaknya mengajakku berkencan. Padahal tak sedikitpun kenal? Lelaki macam apa dia?
“din? Mau ku ceritakan nggak?”
“cerita apaan? Penting nggak? Aku mau tidur nih” aku menarik selimut.
“coba dengerin dulu, ya udah sambil baring, anggap aja ini dongeng deh” Fitri tidur tepat di sampingku menarik selimut berbagi dengan ku.
“buruan apaan?” tanyaku dengan posisi badan terlentang.
“tentang Amin. Sorry deh kalau kamu kesal tentang tadi. Tapi jujur aku pun terpaksa, ya padahal kan ye, aku pun tau kamu benci dia. tapi dia maksa minta nomor mu terus ngajak aku juga sama Risko double date. Dia bilang dia terkesan sama kamu gara-gara kamu waktu praktek sholat itu loh, nah kan aku memang tau kamu jago masalah itu, ternyata dia penasaran sama kamu, meskipun katanya kamu gak akan pernah mau kenal dia, tapi dia usaha banget mau kenal kamu din. Sorry banget ya? Aku Cuma nyampaikan.” Ujar Fitri menoleh ke arahku.
“Oh, masalah itu, gak papa sih. gada masalah kali fit. Lagian emang kamu bener kok, kita bisa mati kesepian malam minggu berduaan di rumah? Gak mungkin kan ya? ngehabisin malam minggu dengan nonton Malam minggu miko? Boring. Ya udah gak apa apa, itung aja deh sebagai hiburan.” Aku membalik arah badan dengan posisi memeluk guling.

Assalamua’laikum Din? diterima ya? aku membaca surat yang terselip di dalam bunga kiriman yang pengirimnya ternyata Amin. Bunga mawar yang terkenal baunya itu memang bunga favoritku. Entah terakhir kali aku menerimanya dari mantanku Said. dan Ini dari Amin. Aku tersenyum tanpa kata, entah itu senyum menggambarkan kebahagiaan yang terpancar atau apapun, entahlah. Pagi ini berasa pagi yang bermakna, entah itu kenapa.

Aku menyandarkan kepala di bangku ruang tamu.
Entah, ini awal yang baru, mungkin aku coba buka hati (lagi) semenjak dulu sama Said yang jago banget selingkuh, mungkin dengan sekarang keinginanku dapat terwujud, mendapatkan kebahagiaan jasmani rohani bersama orang yang tepat. Gak ada salahnya aku dengan Amin. semua darinya aku sudah tau, dari latar belakang orangtua nya seorang pengusaha terkenal di Samarinda dan mamanya pemilik klub bulutangkis, wajar saja bila ia mewarisi bakat orangtuanya sebagai atlit bulu tangkis. Amin, sosoknya begitu saat ini aku sayangi, dia yang tiada hentinya mengingatkan ku akan kebaikan, menjauhkan ku dari zina, membatasi ku dari segala yang buruk, menjagaku sampai sekarang. Bukan kah itu orang yang kuinginkan? Orang yang akan kelak menjadi pendampingku? Aku berharap kau Amin yang dapat mengobati luka berlubang di hatiku. Kau Orang yang tepat.

“cie, happy anniv 1 minggu Din” dengan wajah polos Fitri mencubit pipiku dengan keras tanpa memperhatikanku yang sedang sibuk di depan laptop.
“Alhamdulillah, yaa sesuatu. Buruan makan dulu sono gih di dapur. Mamaku masakan buatmu”
“Asiiikkk…”

Seminggu aku bersamanya, segalanya aku rasakan. Ternyata sebuah kebencian dapat menumbuhkan rasa kecintaan, percaya. Aku percaya itu, karena semua itu telah aku rasakan.

Aku bertahan di depan laptop menunggu tersambung skype bersamanya. Karena jarak ku dan dia jauh sekali. Sekarang Amin sedang dalam masa pelatihan atlit di Jakarta, apapun itu tak mengahalangi ku bersamanya.
“Assalamu’alaikum” jauh disana aku melihatnya tersenyum lebar di dalam kamar asrama.
“wa’alaikum salam, gimana kamu yang disana? Sudah mulai betah”
“Alhamdulillah Din, disini banyak temen baru dari luar kota. Semua friendly. Kamu disana gak pernah lupa kan sama semua kata-kataku”
“Oh iya dong, aku gak kan lupaaa”
“Din? Maaf ya, untuk sebulan kedepan kita gak bisa skype, telepon atau sms, semua dibatasin pelatih, kamu mau nunggu aku kan?”
“iya, aku pasti tunggu kamu”

Itulah kata-kata yang terakhir ku ingat pada saat itu, ketika aku berjanji aku akan menunggunya. Tapi aku mengingkari segalanya.
Aku bagai seseorang yang menusuk perlahan dari belakang.
Aku? Mudah tertipu rayuan gombal dari lelaki bejat, siapa dia? mantanku Said.

Selama seminggu tanpa kabar dari Amin. Ternyata Said sms aku, berkali-kali memohon kembali padaku. Betapa bodohnya aku ketika dengan cepat tanpa berfikir segalanya aku memutuskan kembali pada binatang jalang ini. Dan memilih untuk tidak bersama Amin lagi? Padahal kalian tau? Bagaimana perasaan Amin saat ini?

Amin? Sosok yang mengobati luka besar dalam hatiku, kini aku tinggalkan dia demi binatang jalang. Sebulan aku bersama Said, ternyata apa yang kudapat? Ternyata dia, SELINGKUH (lagi) dan aku melihatnya bercumbu mesra di depan ku. Kalian tahu betapa sakitnya aku? Pikirkan sendiri. Binatang jalang ini sudah menghancurkan hidupku, bejat!

Aku? Kini sendiri. Tanpa Amin. Padahal sampai detik ini. Penyesalan yang luar biasa ku dapatkan. Aku berusaha untuk menghubunginya lagi. Padahal ku pikir. Aku tak pantas bersama Amin. Aku mencoba mengejarmu, walaupun kau terus berlari Amin. Kini aku tahu, semua kesalahan ku, sudah terlambat aku menyesali segalanya. Amin, mau kah kau kembali padaku?

Cerpen Karangan: Dinda Yulia Fatma
Blog: ceritaunyuunyu.blogspot.com
Facebook: Dinda Yulia Fatma

Saya, lahir di Samarinda 08 juli 1998. terlahir sebagai perempuan berperawakan kecil dan membenci huruf “R”.
sekarang sudah memasuki dunia SMK, dan bersekolah di SMK negeri 1 Samarinda jurusan Adm.Perkantoran.
ini singkatan cerita dari novel pertama yang saya buat.karena saya sudah membuat 3 novel dan sampai sekarang masih kurang begitu yakin untuk mengajukan nya pada penerbit.
semoga ini langkah awal saya, selamat menikmati reaaders 🙂

Cerpen Cinta Datang Terlambat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Dara

Oleh:
“Dara…, tunggu!” suara cempreng milik Faya menghentikan langkah kakiku yang tergesa-gesa. Aku berbalik menanti Faya yang berlari-lari kecil ke arahku. Saat Faya sampai tepat di belakang ku, aku kembali

Kisah Hati

Oleh:
Kita bertemu waktu itu, kamu adalah murid baru yang sangat cuek menurutku. Namun, saat perkenalan di depan kelas mengubah semua analisaku yang tidak-tidak tentangmu mulai dari ini dan itu.

Tahi Lalat Ayu

Oleh:
“Kenapa judulnya tahi lalat Ayu Kak?” tanya Ayu. “Sebab punya orang lain tahi lalatnya jelek-jelek. Ada yang di punggung, dengkul, tumit, jidat. Kalau Ayu kan di bawah bibir,” jawab

Rahasia Dibalik Tatap

Oleh:
Berulang kali aku mencoba untuk menulis sesuatu yang aku harapkan dapat memotivasi seorang yang akan membacanya dengan kisah-kisah menarik yang sebenarnya aku jumpai di keseharianku. Namun, selalu saja gagal

Cinta Pertama Olin

Oleh:
Terbelenggu oleh keadaan yang kian hari makin mendesak setiap individu untuk mengikuti perkembangan zaman yang justru membuat setiap individu terjerumus dalam lubang kemaksiatan hanya karena yang namanya cinta. Padahal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *