Cinta di Balik Persahabatan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 3 December 2014

Di pagi yang cerah ini. Ku langkahkan kaki ku untuk berangkat ke sekolah. Kebetulan sekolah ku gak begitu jauh dari rumah. Ku awali mentari pagi dengan senyuman. Sesampainya di sekolah aku bertemu dengan seorang temanku namanya Yuni. Saat ku lihat dia sedang menyapu lantai kelas. Kebetulan itu adalah hari piketnya.

Kemudian setelah kulangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam kelas “Citra…” suara itu memanggilku. Aku pun menoleh ke belakang “Candra…” ucapku tersenyum. Tiba-tiba ada salah satu dari teman Candra yang memanggilnya. Akhirnya pembicaraan kita putus sampai disana. Candra adalah sahabat karib ku yang selalu setia temani dan hibur aku ketika sedih maupun senang. Dia selalu menceritakan masalahnya pada ku. Apa lagi kalau dia mau nembak cewek, hemmm… tapi sayang aku gak pernah cerita tentang perasaanku pada dia.

Bel masuk pun bordering. Selama 4 jam 2 mata pelajaran pun sudah kita lalui. Akhirnya saat yang kita tunggu-tunggu yaitu saat istirahat telah tiba. Ku coba langkahkan kakiku untuk keluar. “Citra…” suara itu muncul lagi. Ku tolehkan kepalaku ke belang “Candra, ada apa?” tanyaku. “Kamu mau kemana?” Tanya ia balik “aku mau ikut Faza ke kantin nich” ucapku sambil menggandeng tangan Faza yang sejak tadi menunggu ku. “aku duluan ya…” ucap ku lagi. Candra hanya mengagguk.

Ketika kita selesai pergi ke kantin aku dan faza pun masuk ke dalam kelas lagi. Di sana pandanganku langsung tertuju ke belakang. Yaitu kepada Candra dan Vivi, sepertinya mereka sedang asyik ngobrol di belakang. Aku pun melangkahkan kakiku untuk keluar. “Citra…” suara itu muncul lagi di telingaku. “Ya..” jawabku singkat sambil menoleh ke arah Candra “kemari” ucapnya sambil melambaikan tangannya dan mempersilahkan aku duduk di sampingnya. Aku pun melangkah ke arahnya dan duduk di sampingnya. “Ada apa?” tanyaku. “Gak ada apa-apa kok. Cuma kangen aja sama kamu” ucapnya dengan pendangan nakal.

Kemi pun bercerita bersama. Sementara Candra selalu bercerita pacarnya sama aku. Sementara aku hanya bisa mendengarkannya. Kadang Candra juga cerita tentang kehidupan dan tingkah anehnya bersama teman-temannya. Aku pun ikut tertawa mendengarnya. Sementara aku gak pernah bercerita tentang diriku pada Candra. Aku pun tidak pernah memberitahu rumahku pada Candra. “Oh ya citra, aku boleh tau rumahmu gak?” tanyanya kemudian. “Rumahku gak jauh dari sini kok, cukup jalan kaki sudah sampai” ucapku “Aku boleh gak main-main ke rumah kamu?” tanynya lagi. “Silahkan aja” jawabku tersenyum. Candra pun ikut tersenyum.

Sepulang sekolah aku sudah melihat ayah dan ibuku duduk di kursi ruang tamu. Entah aku juga gak tau mereka lagi musyawarah apa, sepertinya sih, serius banget. Aku pun melangkah masuk pintu dan menuju ruang tamu “Citra… kemari…” ucap ibuku setelah aku buka sepatuku dan menarauh sepeti di tempatnya dimana terletak di luar pintu rumahku. Aku pun duduk di tengah-tengah mereka. “Citra, kami berencana untuk pindah tempat tinggal. Dan pindah ke rumah ayah. Karena di sana tidak ada yang huni lagi. Kakek dan nenekmu sudah tiada. Mereka ikut kakak ayah ke jombang. Sementara ramah ibumu disini akan di pakai kakaknya yang pengen tinggal disini.” ucap ayah “Kakak ibu yang mana?” tanyaku “Kakak ibumu yang bernama abdur, yang dari kalimantan.” ucap ayah “Ohhh, oom abdur” jawabku “Iya oom abdur, kamu mau kan?” tanya ayah lagi “Terus gimana dengan sekolah ku?” tanyaku “Sekolahmu akan ayah pindahkan juga” jawabnya “Tapi yah, kalau mau pindah nunggu kenaikan kelas dulu ya yah, soalnya nanggung nich…” ucapku memohon kepada ayah. “Ya, kalau itu mau kamu. Ayah akan nurutin deh, ayah akan nunggu kamu.” jawab ayah. Aku pun senang dan ayah memelukku sambil mencium keningku. Aku pun pergi ke kamar. Dan kemudian mandi. Karena kebetulan aku capek banget saat itu.

Sore harinya aku pun membaca novel mini yang sejak dari tadi kupegang. Dan duduk di ruang tamu. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar rumah. Aku pun beranjak berdiri dan membuka pintu. Aku pun kaget “Hai…” ucapnya “Candra…” ucapku melotot “Kenapa? Kaget ya…” ucapnya tersenyum “Bagaimana kamu bisa tau rumahku?” ucapku penasaran. “Aku tau dari teman kamu”. “Oh ya, silahkan masuk. Ngomong-ngomong kamu ada perlu apa kemari?” tanya ku sambil melangkahkan kakiku mengantar Candra ke ruang tamu dan mempersilahkannya duduk. “Aku cuma pengan main-main ajah.” ucapnya tersenyum.

Kami pun asyik bercanda tawa waktu itu, sampai sampai aku kepergok oleh kedua orangtuku karena lupa memberikan Candra minuman. “Citra, ada tamu kok gak dibilang ayah dan ibu?” ejek ibuku sambil tersenyum “Dia siapa?” tanya ayah “Aku Candra om. Teman kelas Citra” jawab candra sambil beranjak dari tempat duduknya dan bersalaman kepada ayah. Ibu pun menyuruhku untuk membuat minuman untuk Candra. Ku pandangi ayah, ibu dan candra sedang asyik berbincang dari pintu dapur. Sepertinya mereka sudah mulai akrab banget.

Tak lama kemudian aku pun datang dan memberikan segelas minuman kepada Candra dan mempersilahkannya minum. Dari mulai sejak itu Candra sering sekali pergi dan main-main ke rumah.

Ketika di sekolah, dan waktu itu sudah istirahat, aku duduk sendirian, sementara teman-teman yang lain berada di luar kelas. Ketika Candra menghampiri aku. Ya, hanya dia yang menemani aku ketika ku sendiri. Dia yang telah mewarnai hari-hari suramku. “Hai” ucapnya sambil menepuk bahuku dari belakang. Aku pun menoleh “Hai” ucapku juga. “ayah dan ibu mu baik ya, sama kayak anaknya. Udah baik, cantik, asyik, manis lagi” ucapnya sambil tersenyum dan menatap dengan tatapan nakal. “Ih, candra mulai dech” ucapku sambil menepuk tangannya. “Benaran aku serius, gak canda” ucapnya sambil tersenyum.

Dari sejak itu Candra sering banget ke rumah. Hingga sore hariya Candra tetap saja ke rumah dengan motornya ninja merah waktu itu. Ketika Candra datang aku masih ada di kamar mambaca sebuah novel sambil menyandarkan ke sebuah bantal kamarku. Di depan rumah sudah ada ayah dan ibu di sana. “Hai oom, tante“ sapa Candra “Nak Candra, mau ketemu Citra ya?” ucap ayah. “Iya nich om, Citranya ada?” tanya Candra sambil melepaskan jaketnya dan menggantungkannya di motornya. “Ada tuch. Di kamarnya…” ucap ayah “Aku ke Citra dulu ya om.” ucapnya “Silahkan saja” ucap ayah. Dan Candra pun melangkah ke kamar ku yang kebetulan kamarku ada di lantai atas paling pojok waktu itu.”tok…tok…tok” suara ketukan pintu dari luar kamarku. Aku pun menaruh buku ku di ranjang ku dan pergi membuka pintu kamarku “Candra, ngapain kamu kesini?” ucapku. “Aku mau ngajak kamu jalan-jalan, kan kita gak pernah jalan-jalan” pintanya sambil menarik tanganku keluar kamar. “Emangnya gimana dengan Fina?” tanyaku “Ah, gak apa-apa kan aku udah bilang sama Fina kalau kita tuh kan sahabat. Fina juga sudah tau kalau kamu tuh sahabat dekat aku. Gak mungkin lah dia cemburu” sambil menarik ku keluar rumah “Om, Citra aku ajak jalan ya?” tanya candara pada ayah “Ya, om percaya kok sama kamu. Tapi pulangnya jangan malam-malam ya” pinta ayah ku “Beres oom” jawab candra. Kami pun bersalaman. Sesampainya di motor candra memasang jaketnya kembali dan memberiku sebbuah helm untuk aku pakai untuk perjalanan.

Disana kami pun makan bersama dan jalan jalan di pinggir pantai dekat sana. Sambil bercanda tawa bersaman “Citra, kalau boleh aku tau, kamu suka sama siapa?” tanyanya sambil menatapku. “Emang kamu pengen tau banget tah?” candaku tersenyum “Ya” jawabnya “aku gak suka sama-siapa-siapa” jawabku. “Och..” jawabnya singkat.

Keesokan harinya di sekolah. Aku udah mendengar gosip yang asing bagiku. Di sana aku dibilang mengambil dan merebut Candra dari Fina. Sementara Fina udah tau semua. Fina cemburu dan dari cara dia memandangku waktu aku lewat di depannya sudah gak seperti biasa lagi. Aku pun menceritakan semuanya pada Candra. Dan meminta kepada Candra untuk segera menjauhiku. Candra mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini. Sejak itu pula Candra tidak pergi ke rumah lagi dan kami pun tidak sering berbicara dan saling menjauh.

Dua hari kemudian. Entah kenapa waktu istirahat sekolah ketika aku pergi keluar kelas candra memanggilku. Waktu itu teman-teman sudah pada keluar kelas, “Citra…” panggilnya “ada apa lagi Candra, sudahlah kita jangan bicara lagi” ucap ku “Jujur aku gak bisa jauh dari kamu” ucapnya sambil memegang tanganku. “sebenarnya aku juga gak bisa jauh dari kamu Candra, aku sangat merindukanmu” ucapku dalam hati. “udahlah Candra, kamu harus bisa jauh dari aku” ucapku sambil melepaskan tangan Candra yang dari tadi memegang tanganku dan aku pun melangkah pergi. Namun tetap saja candra menarik tanganku. “Jujur, sejak aku dan kamu menjauh, aku baru sadar. Kau sangat berarti dalam hidupku Citra. Aku mencintamu” ucapnya “Tidak, Fina sayang banget sama kamu Candra. Kamu jangan pernah khianati dia” pintaku sambil melepaskan genggaman tangannya “Aku tau itu Citra, tapi aku juga tau, kau mempunya perasaan yang sama denga ku kan?” tanyanya, sejak itu aku pun terdiam membisu. Benar kata Candra, aku juga mencintainya. tapi aku juga gak bisa menyakiti hati Fina, fikirku. “Kenapa kamu gak jawab?” tanyanya lagi “Tidak, aku tidak mencintaimu.” Jawabku memalingkan wajahku dan berusaha pergi dan lari dari hadapan Candra. Sepertinya Candra sangat kecewa dengan kata-kata ku tadi. Tapi, di sisi lain, jika aku bilang aku juga cinta pada Candra. Aku takut ada hati yang terluka. Dan aku gak bisa bahagia di atas penderitaan orang lain.

Sejak kejadian itu Candra tidak pernah berbicara denganku lagi. Mungkin dia malu atau tersinggung dengan kata-kataku. Hari demi hari kulewati dengan sepi tanpa canda Candra di sisi ini. Memang sangatlah asing jika Candra jauh dari diri ini. Tapi aku harus tetap begini. Untuk tidak membuat suasana menjadi rumit kembali. Bulan berganti bulan, minggu pun berganti minggu, hari pun berganti hari. Kini semester dua pun telah selesai. Sementara ayah menagih janjinya. Aku pun tak dapat berbuat apa-apa. Yaaahhh… aku harus megatakan semuanya pada Candra. Fikirku sejenak.

Cerpen Karangan: Lailatul I’tiyah
Facebook: Lailatul I’tiyah

Cerpen Cinta di Balik Persahabatan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Dari Mantan

Oleh:
Aku melangkah melewati koridor sekolah. Sungguh sangat malas rasanya. Nah loe tau gue dari mana? Gue dari jogja pagi-pagi banget. Gila dinginnya minta ampun, untung aja gak minta duit

Apa Harus Cantik (Part 1)

Oleh:
Namaku Cika Afriska. Aku punya kakak perempuan yang nggak cantik-cantik banget, namanya Diana. Kak Diana itu, walaupun nggak cantik-cantik banget, dia punya banyak mantan pacar. Sekarang, Kak Diana sedang

Masa Masa di SMP

Oleh:
Hmm.. gimana yah dikerjain sama kaka kelas yang mukanya kaya jenglot, nyebelin, kepalanya bertanduk, baju dekil dan ditambah lagi sok sokan tuh kakak kelas mantan mafia kelas kakap.. *bayangkan..

6 Tahun dan Akhirnya Bertemu

Oleh:
Hari ini rasanya bosan sekali, aku gak bisa terima kalau dia tinggalkan aku di sini selama 6 tahun. Dia meneruskan sekolah di pesantren. Aku akan menunggu dia selama 6

Cinta Nayang (Part 2)

Oleh:
Hari-hari gue jalani seperti biasa, tapi dengan keberadaan kakak gue disini rasanya lebih lengkap dan entah gue lagi dapet keberuntungan atau gimana mama sama ayah gue juga pulang, katanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *