Cinta Di Batas Asa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 30 May 2016

“Apa-apaan kamu ini? Apa kamu sudah gila? Apa kamu sudah tidak bisa mencari pendamping hidup yang lebih baik? Kuliah tidak lulus, eh sekarang minta nikah sama perempuan malam juga! Apa masih kurang cukup kamu bikin malu keluarga?” demikian kemarahan terlontar dari seorang bapak terhadap anaknya. Toni adalah nama anak itu.
“Sudah Pak.. Sudah.. Sabar,” kata ibu sambil berderai air mata. Toni hanya bisa menunduk dan terdiam, kemudian masuk ke kamarnya.

Ya, Toni adalah seorang anak muda yang karena kemalasannya membuat dirinya harus ter-DO dari kampusnya. Kisah cintanya pun tak seindah perasaannya terhadap Sari. Sari adalah seorang pemandu karaoke di sebuah tempat hiburan malam di kotanya. Sari juga seorang janda dari tetangganya yang sudah memiliki seorang putra. Malam berganti pagi. Namun suasana di dalam rumah belum berganti. Pagi itu Toni akan pergi ke rumah kos Sari. Di depan rumah, terlihat bapaknya tengah duduk di teras membaca koran sambil menghisap rok*k.

“Pak, Toni pergi dulu sebentar,” pamit Toni kepada bapaknya. Namun bapaknya hanya diam dan terus melanjutkan aktivitasnya. Dengan sepeda motor tua akhirnya Toni pergi ke rumah kos Sari. Sesampai di sana, Toni menceritakan kejadian semalam kepada Sari.

“Sudah Mas. Mas yang sabar.. Lagian orangtua mas juga benar. Wanita seperti aku mana mungkin pantas untuk dijadikan pendamping hidup? Aku hanya seorang pemandu karaoke, janda lagi. Ya jelas orangtua Mas Toni tidak akan setuju,” ucap Sari dengan penuh kesedihan. “Sebenarnya aku juga tidak mau mas kerja dan hidup seperti ini. Aku kerja seperti ini juga karena kepepet Mas. Aku punya seorang anak yang harus aku hidupi. Apalagi aku tidak pernah sekolah, kalau tidak seperti ini bagaimana aku dan anakku bisa hidup? Aku sudah tidak punya sanak saudara lagi, orangtuaku juga sudah lama meninggal,” tambah Sari.

“Tapi aku benar-benar mencintai kamu Sar. Aku ikhlas terima keadaan kamu apa adanya,” kata Toni kepada Sari.
“Iya Mas, aku percaya dan tahu itu. Tapi bagaimana lagi Mas? Aku juga tidak mau egois Mas. Aku tidak mau karena hubungan ini, keluarga Mas Toni jadi berantakan. Terima kasih Mas, Mas sudah bisa menerima semua kekuranganku. Itu saja sudah cukup membuat aku bahagia Mas,” ucap Sari sambil meneteskan air mata.
“Tidak Sari, aku tidak akan menyerah. Aku akan buktikan kepada orangtuaku kalau kamu adalah sosok pendamping yang tepat untukku nanti,” ucap Toni sambil menatap mata Sari dengan penuh keyakinan.

Tak lama kemudian Toni pun berpamitan kepada Sari untuk pulang. Sesampai di rumah suasana pun belum juga berubah. Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Toni terbangun dari tidurnya. Dia masih memikirkan semua permasalahan hidupnya. Akhirnya dia beranjak dari kasurnya untuk mengambil air wudu dan kemudian melakukan salat tahajud. “Ya Allah, berikanlah aku petunjuk-Mu. Aku tidak ingin menyakiti hati orangtuaku. Aku juga tidak mau menyakiti perasaan orang yang aku cintai. Aku ikhlas terima semua kekurangannya ya Allah. Aku ingin menjadi imamnya dan membimbingnya kembali ke jalan-Mu ya Allah,” doa Toni sambil menangis di akhir salatnya.

Dia kembali ke tempat tidur, bukan untuk melanjutkan tidurnya tapi untuk memikirkan jalan hidupnya. “Kalau aku masih seperti ini terus, maka aku tidak akan pernah bisa mewujudkan semua keinginanku. Aku harus berubah.” kata Toni dalam hati. Seorang pemuda yang dulunya adalah seorang pemalas kini menjadi seorang pria dengan rasa penuh tanggung jawab. Permasalahan hidupnya menjadikan dia menjadi sosok yang lebih kuat, lebih tegar, lebih dewasa, dan lebih bertanggung jawab. Dia sadar, kalau memang dia berjodoh dengan Sari, dia mempunyai anak yang harus dia bimbing. Esoknya Toni pun pergi ke rumah kos Sari.

“Sari, apakah kamu serius untuk meneruskan hubungan ini denganku?” tanya Toni kepada Sari.
“Iya Mas, aku serius. Memangnya ada apa Mas?” tanya Sari dengan wajah bingung.
“Jika aku sudah punya penghasilan, apakah kamu bisa untuk tidak bekerja sebagai pemandu karaoke lagi? Insya Allah nanti untuk kehidupan kamu dan Bagas nanti aku cukupi,”
Sari menangis terharu dengan kata-kata Toni. Serasa dia masih tidak percaya bahwa masih ada seorang laki-laki yang bisa tulus mencintainya, bukan memandang dia sebelah mata.

“Aku tidak mau merepotkan kamu Mas. Apalagi kalau nanti orangtua Mas Toni tahu. Nanti malah akan jadi masalah lagi,” kata Sari.
“Tidak Sari. Ini adalah caraku untuk membuktikan kepada orangtuaku kalau aku sudah berubah dan benar-benar tulus mencintai kamu. Aku ingin membimbing kamu dan anak kamu kembali ke jalan yang benar. Jadi tolong jangan lemahkan niatanku ini. Perkenalanku denganmu mampu menjadikan aku sosok Toni yang berbeda,” ucap Toni.
“Terima kasih Mas, jika memang niat Mas Toni seperti itu maka Sari akan selalu mendoakan yang terbaik buat Mas,” kata Sari. Akhirnya Toni pulang dengan penuh motivasi.

Hari terus berganti, namun Toni belum juga mendapatkan pekerjaan apa pun. Namun dia tidak putus asa, dia hanya ingin bekerja mencari uang agar wanita yang dia cintai tidak kembali lagi ke pekerjaannya. Tanpa memandang rasa malu, akhirnya dia memutuskan untuk bekerja sebagai tukang bangunan. Orangtua Toni tidak tidak mengetahui akan hal itu, termasuk Sari. Dan pada malam hari Toni juga bekerja sebagai tukang parkir di pasar. Rejeki yang dia dapatkan selalu dia sisihkan. Pertama untuk Sari dan anaknya, kemudian sebagian lagi untuk dia tabung. Pagi hari sebelum berangkat kerja, Toni mampir ke kos Sari.

“Sari, ini aku ada sedikit rejeki buat kamu dan anak kamu. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi semoga cukup untuk mencukupi kebutuhan kamu hari ini,” ucap Toni sambil memberikan selembar uang kertas berwarna biru kepada Sari.
“Mas, ini uang dari mana? Apa Mas Toni sudah bekerja? Kok aku tidak pernah dikasih tahu?” Tanya Sari kepada Toni.
“Alhamdulillah. Insya Allah uang ini halal. Ini adalah hasil jerih payahku, aku sudah dapat kerja,” jawab Toni.

“Tapi Mas Toni kerja apa? Di mana?” tanya Sari.
“Ya pokoknya ada. Maaf untuk saat ini Mas belum bisa cerita,” jawab Toni.
“Jadi hari ini kamu nanti tidak akan bekerja kan?” tanya Toni.
“Iya Mas, Sari hari ini tidak akan bekerja,” jawab Sari.
Akhirnya Toni berpamitan kepada Sari untuk berangkat kerja. Toni setiap hari terus bekerja, tanpa ada yang tahu apa yang dia kerjakan. Hingga suatu hari ada tetangga Toni yang melihat dia dan menceritakan pekerjaan Toni kepada bapaknya.

“Pak sekarang Toni sudah kerja ya? Barusan saya lihat dia di proyek perumahan dekat alun-alun kota Pak,” kata tetangga itu.
“Ah yang benar? Tidak mungkin ah. Paling dia juga lagi main keluyuran tidak jelas,” kata bapak Toni.
“Benar kok Pak, saya tadi lihat dia dan sempat ngobrol sebentar sama dia,” jawab tetangga itu.
“Ah, yang benar kamu? Kok dia tidak pernah cerita sama saya atau Ibunya? Memangnya dia kerja apa?” tanya bapak Toni. “Tadi sih saya lihat dia sedang ngaduk semen Pak, kayaknya jadi tukang bangunan. Coba Bapak lihat kesana sendiri,” jawab tetangga itu.
“Ah masak sih? Coba nanti saya coba ke sana.” kata bapak Toni.

Dengan mengendarai sepeda motor, akhirnya bapak Toni menuju ke lokasi yang tetangganya ceritakan tadi. Alangkah terkejutnya dia sesampai di sana. Dilihatnya dari jauh ternyata memang benar itu adalah Toni anaknya. Bukan rasa marah atau malu, tapi haru. Itulah yang dirasakan bapaknya. Dia tidak pernah menyangka ternyata anaknya kini sudah jauh berubah. Akhirnya bapak Toni pulang dan menceritakan kepada ibunya. Pada malam hari, orangtua Toni menunggu dia pulang di depan rumah. Sambil duduk di teras. Tak lama kemudian Toni pun pulang.

“Assalamualaikum,” salam Toni ketika mau masuk rumah.
“Waalaikumsalam,” balas bapak dan ibunya.
“Sini duduk dulu,” kata bapak Toni.
“Dari mana kamu? Jam segini baru pulang?” tanya bapaknya.
“Toni habis main Pak, ke rumah teman,” jawab Toni.

“Teman siapa? Sari?” tanya bapaknya.
“Ti..Tidak Pak. Toni tidak ke sana,” jawab Toni.
“Sekarang kamu jujur sama Bapak dan Ibu kamu, beberapa hari ini apa yang kamu kerjakan?” tanya bapak Toni.
“Memangnya ada apa Pak?” tanya Toni bingung.
“Sudah jawab saja Nak, kami sebagai orangtuamu cuma pengen kamu jujur,” kata ibu Toni.
“Betul kata Ibumu. Sudah sekarang jawab saja,” kata bapaknya.
Toni menghela napas sebentar.

“Baik Pak, Bu. Toni akan jujur. Sebelumnya Toni mau minta maaf dulu karena Toni sebelumnya tidak pernah cerita ke Bapak ataupun Ibu. Jadi beberapa hari ini Toni bekerja Toni bekerja di lokasi proyek dekat alun-alun kota,” kata Toni. “Kerja apa kamu Nak?” Tanya ibu.
“Kerja sebagai tukang bangunan Bu. Dan kalau malam Toni jadi tukang parkir di pasar. Maaf kalau pekerjaan Toni tidak sesuai harapan Bapak atau Ibu. Toni takut mengecewakan Bapak dan Ibu lagi kalau tahu pekerjaan Toni sebenarnya,” jawab Toni dengan nada pelan.

“Terus untuk apa kamu sampai rela bekerja seperti itu? Apa uang yang Ibu kasih kurang?” Tanya ibu.
“Tidak Bu, sama sekali tidak kurang uang yang Ibu berikan Toni simpan untuk tabungan Toni, karena Toni ingin buka usaha sendiri Bu suatu saat nanti. Toni bekerja seperti ini untuk membuktikan bahwa Toni bisa mandiri. Toni bukan anak manja lagi,” jawab Toni.
“Dan juga untuk…,” Toni menghentikan sejenak kata-katanya.

“Untuk apa?” tanya bapak.
“Untuk Sari Pak. Toni ingin Sari berhenti bekerja sebagai wanita malam lagi. Toni betul-betul serius Pak ingin meminang Sari. Toni ingin membimbing dia kembali ke jalan yang benar. Jadi uang yang Toni dapatkan sebagian Toni tabung dan sebagian lagi untuk mencukupi kebutuhan Sari. Jadi Sari tidak perlu bekerja lagi seperti biasanya,” Jawab Toni.
“Jadi kamu jatah dia setiap hari? Memangnya kamu tahu kalau dia tidak kerja lagi seperti itu? Kamu saja kalau pergi pagi, pulang juga sudah malam gini,” tanya bapak Toni
“Toni percaya sama dia Pak. Uang yang Toni kasih ke Sari tidak dia habiskan, melainkan dia sisihkan sebagian untuk modal usaha. Sekarang dia usaha jual pakaian keliling Pak. Jadi bisa buat tambah-tambah penghasilan. Dan dia tidak perlu kerja seperti dulu lagi. Dan niatnya nanti, Toni mau buka usaha sama Sari Pak. Ya warung makan kecil-kecilan Pak,” jawab Toni.

“Maaf kalau Toni lancang masih berhubungan dengan Sari tanpa sepengetahuan Bapak dan Ibu. Hubungan Toni dan Sari itu positif, mampu membuat Toni dan Sari berubah menjadi orang yang lebih baik. Dan sekarang ini, Toni ingin sekalian minta restu Bapak dan Ibu. Insya Allah Toni ingin segera melamar Sari,” lanjut Toni. Ibunya menangis terharu. Melihat kerelaan dan kesungguhan putranya itu. Ternyata anaknya yang dulu manja sekarang menjadi seorang lelaki yang kuat, tegar, dan bertanggungjawab.

“Apa-apaan ini?! Melamar, melamar. Enak saja!” kata bapak dengan nada tinggi.
Tiba-tiba suasana yang penuh haru berubah menjadi penuh amarah. Toni dan ibunya pun langsung terkejut.
“Hahahaha. Bapak hanya bercanda. Besok ajaklah Sari ke sini. Biar kenalan dulu sama Bapak dan Ibumu ini dan kita bahas acara lamaran kamu baiknya seperti apa.” kata bapak Toni. Dan suasana pun kembali penuh haru bahagia. Toni pun menangis sambil bahagia.

“Baik Pak, Bu, terima kasih atas restunya,” kata Toni sambil mencium tangan kedua orangtuanya.
“Sudah sana mandi dulu. Terus makan dan istirahat,” kata ibu.
“Iya Bu, Toni masuk dulu.” pamit Toni.
Kemudian masuklah Toni ke dalam rumah disusul kedua orangtuanya.

Cerpen Karangan: Frans Elka Saputra

Cerpen Cinta Di Batas Asa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Paenitet Quella

Oleh:
“Kau tak pernah jujur ! Kenapa kau selalu berbohong ! Aku tahu ini sulit, tapi jujurlah kali ini saja. “-Quella Tentang Quella Beberapa minggu ini Andrian tak memberi kabar.

Pagi Kuning Keemasan

Oleh:
“Badrol! Yok cari karang!” Seru Kentang pada sohib akrabnya yang kini tengah menengadahkan kepalanya mengarah ke mercusuar. Melihat kawannya tak merespon, Kentang-pun setengah berteriak, “Woy! Lihat apa pula kau?”

I Can Only Hear You

Oleh:
17 Maret 2013 Aku membuka mataku. Ku rasakan rasa sakit di sekujur tubuhku. Aku dimana? Batinku. Kulihat ke sekeliling ruangan ini. Semua dindingnya berwarna putih. Sepertinya aku di rumah

Mirror

Oleh:
“Aku tertombak rindu, dari tumpukan benda kisah masa lalu. Hingga kembali ku ingat kisah masa lalu, yang akhirnya hanya air mata yang menjadi saksi bisu kerinduanku,” Waktu sudah menunjukkan

Diary Merah Hati Tentang Dia

Oleh:
Aku tak pernah bertemu orang seperti dia. Dia terlihat bagaikan pangeran-pangeran yang ada dalam dongeng yang sering aku bayangkan. Aku melihatnya sebagai mimpi yang tiba-tiba hadir dalam relung hidupku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *