Cinta di Bawah Rimbun Bambu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 3 December 2014

3 tahun yang lalu aku siska gadis malang yang selalu diledekin temen-temen karena tak mengerti artinya cinta, yang serta cuek akan hadirnya cowok. Karena buatku cinta hanya akan membuat sakit aja, itu yang ku denger dari teman-teman setelah mereka diputusin dari pasangannya. Aku ngerasa ilfeel kalau mendengar semua itu, orangtua ku juga bilang kalau pacaran itu merugikan. Terutama dalam status siswa. Dari hal itu aku hanya konsen terhadap sekolah ku, selang berganti waktu aku dikejutkan seseorang yang buat ku bagaikan seorang pangeran, aku enggak tahu ini cinta apa sekedar kagum. Dia begitu mempesona, gendernya cowok, tapi wajahnya, kulitnya, sedap dipandang, seperti cewek, sifatnya juga cowok, tapi agak lembut, juga pendiem, tak khayal dengan model rambutnya yang jabrik, terkesan maskulin, dia mampu membuat gadis-gadis lain terpikat, dari itu ada sedikit rasa nervous, atau takut untuk mendekatinya. Untungnya aku enggak sekelas sama dia, setiap aku melihat tatapan matanya, aku seakan terseret dalam mimpi yang panjang berharap bisa mendekatinya, tapi konyol yang ada aku salting, gak tau apa yang bisa ku ucapkan, saat meminjam buku ke kelasku, dia bersama sahabatnya yang juga masih berdarah keluarga. Datang menghampiriku, berucap “he, punya buku biologi gak?” Sapa dia
“hmmmmmm aku, aku, aku…” Sambil grogi kataku,
“Hello, punya buku biologi enggak” kata dia.
“Oow… Iya ada”. Sapaku sambil gugup melihat matanya
“Aku pinjem dulu ya, nanti aku kembalikan”, ujar dia sambil tersenyum,
“Oh boleh, gak dikembalikan juga gak apa”. Kataku tanpa sadar
Temenku yang sebangku kaget mendengar itu,
“what…? Gila loe ya pakai buku apa kita nanti pelajaran biologi” cetus pipit.
“Bener nich, gak dikembalikan gak apa?” Ujar dia sambil tersenyum,
“Ehhm, maaf aku tadi salah ngomonng maksudnya, gak harus buru-buru ngembalikin gitu”, ujar aku sambil menunduk ke bawah.
Mendengar tersebut temanku dan sahabatnya ketawa.
“cie, ada yang jatuh cinta ini” sapa pipit sambil mengolok,
“enggak, aku tadi cuma salah ngomong aja, lagian aku gak kenal juga kan siapa dia”, jelas aku.

Esok harinya dia mengembalikan buku, makasih ya, ujar dia
“oh ya siapa namamu? Udah ngobrol kok belum tau namanya ya”, sapa dia.
“oh ya aku siska”, kataku sambil bengong
“aku robin” sapanya. Sambil berjabat tangan dan tersenyum.

Sejak saat itu aku mulai dekat denganya, aku, dia dan kedua temanku menjadi sahabat, kami berempat selalu bersama. Ke kantin bareng, sholat juga, kami selalu mengobrol di bawah pohon bambu, yang ada deket sekolah kami karena udaranya yang sejuk dan tempat yang gak terlalu bising, mampu memikat menjadi pos singgah kami.

Saat kami asyik bergurau tiba-tiba datang seorang wanita menjabat ketua osis, dia mengulurkan sebuah kertas yang beramplop pink ke robin. Aku yang melihat itu, separuh tak bernyawa rasanya, petir seakan di atasku. Cewek itu langsung pergi
“cie, robin, punya fans tu”, kata 2 temanku.
“apaan sih”, ujar robin sambil tersenyum,
“buka donk bin, apa isinya” seru mereka
“lumayan bin, buat kencan, dia kan cantik, osis juga. Pamormu naik bro”, ujar andi,
Robin hanya diam

Aku terasa dihadang banjir gak kuat, air mataku terasa penuh, aku bergegas meninggalkan mereka, di kamar mandi aku menangis, berusaha mengeluarkan uneg-uneg yang ku rasa. Berharap air mata ini tidak menetes sejak saat itu aku berusaha menghindari dia dan menyendiri dalam kelas.

“hai sis, kantin bareng yuk” ajak robin
“gak ah, makasih aku lagi males”. Cetus aku
“kamu napa sih gak biasanya, yang semangat”, tanya dia
“aku enggak napa-napa udah pergi sama yang lain sana”, cetus aku.
“ok lah kalau itu maumu”, sahut dia.

Beberapa minggu telah berlalu, aku dengar berita yang mengejutkan, “sis, kamu tahu enggak, robin menolak cewek yang kemarin” ujar pipit
“oh ya, terus apa hubunganya sama aku”, cetus aku
“eh, tahu enggak dia nolak karena apa?” Tanya pipit
Aku cuma geleng kepala,
“dia, suka sama kamu, dia bilang dia sepi gak ada kamu”, ulas pipit
“ngaco, enggak mungkin”. Kataku
“eh beneran, kamu sekarang ditunggu dia di tempat biasa. Samperin sana”, seru pipit.
“iya deh, aku kesana dulu ya makasih”, ujar aku

Disana aku melihat dia sedang berdiri, menghadap belakang, menatap pohon bambu,
“hai, udah lama”, sapaku.
“lumayan”, sahut dia.
“Kok canggung gitu sih kayak gak kenal aja”. Ujar dia.
“Aku mendekat, ada perlu apa ya?” Tanyaku
Tiba-tiba dia memelukku and berkata “jangan jauhi aku, aku kesepian”. Ujarnya
“Ada, pipit, andi, osis”, ujarku
“Tapi aku masih terasa sepi, aku suka sama kamu sis” kata dia,
“Bagaimana dengan osis”. Tanyaku,
“Udah aku tolak dia, aku cinta sama kamu, kamu mau kan jadi pacarku?” Seru dia.
“Aku juga suka sama kamu, malahan saat pertama kenal”. Ulas aku
“Kita jadian ya” kata dia, sambil menggenggam tanganku.
Akhirnya itu jadi cinta pertamaku, bergenap usia 14 tahun, dengan saksi pohon bambu yang hanya bertahan 1 tahunan, karena long distance.

Cerpen Karangan: Herlina Susanti
Facebook: facebook.com/erlina Santi.56

Cerpen Cinta di Bawah Rimbun Bambu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dream Card

Oleh:
“Aw!” kata seseorang yang aku kagumi selama beberapa bulan ini. Tak sengaja aku menyinggung pinggangnya dengan sikuku saat hendak mengeluarkan tangan dari tas. Dia hanya memasang wajah datar dan

Paijo Jatuh Cinta

Oleh:
Sewaktu Semester 2 Paijo jatuh cinta diam-diam sama Sari, cewek kelas sebelah. Paijo adalah teman sekontrakanku, dan dia sebenarnya bisa dengan mudah mendapatkan Sari, namun, sayangnya dia terlalu polos.

Teman Hidup Sejati

Oleh:
Kata orang berlian itu sangatlah indah, namun menurutku dia lah yang paling indah. ‘Dia’, wanita yang membuatku jatuh hati pertama kalinya, rambut panjang lurus berwarna coklat gelap, namun ketika

Aku, Kamu dan Kita

Oleh:
Aku duduk di sebuah taman dekat sekolah, menulis cerita tentang sebuah kisah persahabatan. Aku Hera, gadis SMP sama seperti kalian, menyukai musik, membaca novel dan dance. Aku mempunyai sahabat

Lugunya Hati

Oleh:
Cinta, kata yang selalu melekat dengan usia remaja. Dan mungkin sampai kapanpun akan tetap menjadi bagian dari kisah hangat remaja. Kata itu adalah kata misterius, karena menjadi sebab akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Cinta di Bawah Rimbun Bambu”

  1. Wih bagus sekali gan cerpennya…

  2. NurAulia says:

    Bagusss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *