Cinta Di Tepi Danau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 February 2016

“Pagi yang dingin.” kataku sambil berdiri di halte bus. Pagi yang berkabut dan terlihat banyak genangan air di jalan. Angin dingin begitu menusuk kulit. Sang surya juga terhalangi awan yang menggumpal keabu-abuan. Aku terus menunggu bus kota yang biasa ku naiki beberapa menit berselang bus itu muncul juga. Aku segera masuk dan penumpangnya tak begitu banyak seperti biasa jadi aku bebas duduk di mana saja.

Sang sopir begitu cepat memacu kendaraannya seperti membawa barang bekas seenaknya salip kanan salip kiri. Memang jalan tak begitu ramai tapi air bekas hujan akan membuat jalanan menjadi licin. Tak ada pilihan lain kecuali naik bus ini tapi bersyukur dapat ke sekolah dengan selamat. “Ini Bang.” kataku sambil menyodorkan lembaran uang dua ribuan. “Iya Neng.” kata sopir bus. Aku lihat di sekolah masih tampak kosong. Baru beberapa orang saja yang terlihat.

“apa hari ini libur ya?” tanyaku dalam hati. “hei Lis!” kata seseorang dari belakang.
“hei Sa!” jawabku. “pagi-pagi sekali?” tanya Sasa.
“biasalah anak rajin.” kataku membanggakan diri.
“Ya.. ya.. Terserah. Ayo masuk aku mau menceritakan sesuatu.” katanya menyeret tanganku.
“ada apa sih?” tanyaku. “ayo cepat nanti di dalam tanyanya.” jawabnya begitu serius.
Aku menuruti saja apa katanya dengan penuh kepasrahan.

“nah sekarang kamu mau cerita apa?” tanyaku lagi.
“tunggu dulu.” jawabnya sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.
“nah…” lanjutnya. “apa ini?” tanyaku.
“ini foto Rizky. Bagus kan?” jawabnya. “lalu?” tanyaku kepo.
“ini aku dapat dari teman sekelasnya dia fotonya sembunyi-sembunyi. Ya kau tahu dia susah diajak foto. Aku cari facebook dan twitternya juga tak ada.” jelasnya.
“Ya. Lalu?” tanyaku lagi. “sudah.” jawabnya. “apa-apaan kamu hanya nunjukin foto orang. Aku…” kataku terpotong oleh Sasa. “kau tahu kan aku suka padanya. Bantulah aku mendekatinya. Susah memang aku dengar kemarin siswi terbaik dan tercantik di sekolah ini ditolaknya apalagi aku yang lebih cantik.” jelasnya lagi.

“maksudmu Lia? Mau-maunya itu orang nembak pria seharusnya pria yang nembak dia.” ketusku.
“iya… Apa? Kamu nyindir ya Lis?” tanyanya. “tidak itu kan kenyataan.” jelasku.
“iya juga. Aku tidak peduli mau dia dulu mau aku dulu yang penting aku jadi pacarnya.” katanya.
“baik-baik. Aku coba.” kataku mengalah. Satu per satu orang mulai berdatangan tapi matahari belum juga bersinar.
“sepertinya mau hujan lagi.” kataku sambil duduk karena beberapa menit lagi pelajaran dimulai.
Bunyi bel tanda masuk terdengar begitu keras kami pun segera mengeluarkan buku dan pensil lalu guru pun datang. Saat istirahat aku pergi ke kantin bersama Sasa. Setelah kami duduk dan sedang menikmati minuman hangat lalu datang 4 orang pria duduk tepat di meja sebelah kami.

“Lis lihat itu.” kata Sasa.
“Rizky dan teman-temanya?”
“iya.” katanya yang begitu antusias dan juga malu. “ayo. Katanya kamu mau bantuin aku?” lanjutnya ternyata dia benar-benar serius dengan perkataannya tadi.
“tunggu. Ngabisin minuman dulu.” kataku sambil meminum jus. “Ayo.. Ayo. Cepat.” katanya begitu memaksa.
Aku terpaksa berdiri dan melangkahkan ke kumpulan 4 orang lelaki itu. Sebenarnya aku ragu dan malu tapi apa boleh buat aku sudah janji dan janji harus ditepati aku pun mencoba memberanikan diri.

“em.. Hai.” kataku sambil senyum malu.
“hai…” kata mereka kecuali Dika yang menghadapkan mukanya ke arah Sasa sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
“ayo duduk sini Lis.” kata Toni begitu antusias. “tidak. Tidak usah.” kataku.
“ayolah. Aku kan calon pacarmu.” kata Toni. Aku hanya cuek mendengar itu. Dia memang sudah berulang kali mengatakan itu bahkan dia pernah nembak aku tapi aku tolak karena dia memang terkenal sebagai playboy.

“Rizky. Ada yang mau bicara denganmu.” kataku.
“siapa?” jawabnya. “Sa.. Ayo sini.” kataku sambil mengulang-ngulangkan tangan dan berbisik.
Sasa hanya menunjuk dirinya sendiri lalu berdiri dan menghampiriku. “ini orangnya.” kataku mendorong Sasa dan aku melangkah ke belakang beberapa kali.
“Lis….” kata Sasa berbisik. “hadapi saja.” balasku juga berbisik.

“mau apa Sa? Apa yang ingin di icarakan?” tanya Rizky.
“emm… A..a-ku i..ingin menjadi pa..pa..carmu.” kata Sasa membuat teman-teman Rizky tertawa terbahak-bahak tapi Dika sepertinya terkejut lalu dia hanya tersenyum tipis sambil memperhatikan percakapan Sasa dan Rizky. “kita bertemu nanti setelah pulang sekolah di tepi danau.” kata Rizky pada Sasa lalu mereka berempat pergi karena bel akan segera berbunyi. “apa aku diterima?” tanya Sasa. “mudah-mudahan ya.” balasku.

Bel pulang berbunyi diikuti riuhnya meja dan kursi yang bergesekkan dengan lantai menandakan semua murid berdiri dan sibuk membereskan peralatan sekolah mereka. “Lis. Temani aku ya nanti di dekat danau.” kata Sasa. “nanti aku kabari.” kataku. Danau itu memang tak begitu jauh dari kami. Bahkan aku dan Sasa sudah biasa setiap minggu main ke sana. Bahkan rumah Rizky juga terbilang dekat dengan danau tapi dia jarang terlihat. Saat itu aku pernah sekali melihatnya hanya duduk dan memandangi indahnya danau di sore hari. Ketika di rumah suara handphone-ku berbunyi dan ada sebuah pesan masuk dan ternyata Sasa. “pasti dia nanya aku siap atau belum.” pikirku curiga.

Percakapan sms.
“Lis. Bagaimana?” tanya Sasa melalui sms.
“sepertinya tidak bisa. Jangan marah ya coba kamu lihat sepertinya langit tidak bisa lagi menahan hujan.” balasku. “iya juga. Tapi aku harus bagaimana?” balasnya lagi. “terserah.” balasku.
“sepertinya aku besok sajalah aku minta maaf padanya karena tidak bisa datang mungkin dia juga memakluminya.” balasnya lagi. “ya mungkin.” balasku. Petir mulai menyambar dan hujan lebat pun turun dan membasahi apa yang dikenainya.

Besoknya Sasa mau minta maaf pada Rizky karena dia tidak bisa datang.
“ayo. Lis bantu aku.” seperti biasa Sasa selalu mengandalkan aku sebagai tameng terdepan.
“hai Rizky. Sasa mau bicara padamu.” kataku.
“Rizky. Maaf kan aku. Aku tidak bisa datang kemarin kamu tahu kan kemarin hujan begitu lebat. Bahkan atap rumahku ada yang bocor dan bunga-bungaku juga pada tiduran dan tergenang air karena yang begitu derasnya. Di tetanggaku juga sama.” kata Sasa begitu lebar. “sudah? Giliranku. Kamu boleh berteman denganku tapi maaf aku mungkin tidak bisa menjadikanmu sebagai pacar.” kata Rizky. Aku yakin perkataan itu akan sangat berat diterima oleh Sasa dia juga tampaknya begitu terkejut dan kecewa.

“Sa?” tanyaku sambil menggoyangkan badannya. Dia tampak ingin meneteskan air mata terlihat dari matanya yang berkaca-kaca. “terima kasih.” secara mengejutkan Sasa memeluk Rizky. Aku amat terheran-heran dan terkejut tentunya bahkan Rizky pun juga terkejut melihat respon Sasa.
“Sa.. Ayo.” kataku sambil menyeret tangannya.
“kau tidak sadar? Dia itu menolakmu.” kataku mencoba menyadarkannya.
“iya aku tahu.” jawabnya. “lalu kenapa kamu senang?” tanyaku.

“tadi malam aku buka facebook dan Dika menyatakan cinta padaku. Aku pikir daripada aku menunggu jawaban Rizky aku terima saja dia dan aku tahu Rizky pasti akan menolakku.” jawabnya begitu senang. “Dika temannya Rizky?” tanyaku lagi. “iya. Dia sama gantengnya Rizky. Walaupun ya Rizky lebih ganteng.” katanya.
Aku hanya terdiam tak percaya apa yang aku saksikan ini. Aku hanya berpikir ada ya orang seperti itu dan terjadi pada temanku. “Rizky. Aku minta maaf atas kelakuan Sasa tadi.” kataku pada Rizky. “tak apa dia kan temanku.” jawabnya.

Aku pun segera pergi tapi tangan Rizky yang begitu hangat mencegahku. Ada rasa yang aneh terjadi di dalam diriku rasa nyaman. Malu. Deg-degan juga rasa bahagia bercampur. Aku pun menoleh ke arahnya. “Lis. Aku ingin bicara denganmu nanti. Aku tunggu di tepi danau.” katanya. Aku hanya menganggukkan kepala dan ternyum tipis lalu pergi rasa rasa aneh itu aku tepis jauh-jauh. “mungkin dia mau pinjam bukuku.” kataku mengalihkan pemikiran.

“kapan cerahnya?” itu yang terus ku pertanyakan. Sore ini hujannya begitu lebat aku hanya menatap ke jendela melihat butir-butir air hujan jatuh di dedaunan. Anginnya meresap ke sela-sela ventilasi membuat kulitku kedinginan. “sore ini kan aku ada janji dengan Rizky.” hal itu yang aku khawatirkan jika tidak datang mungkin dia tak akan mencintaiku lagi. Aku berharap hujan ini berhenti untuk sesaat saja.

“hujannya tidak mau berhenti sebentar pun. Aku harus memaksakan diri,” kataku dengan tekad yang sangat kuat aku pun pergi. “Lis mau ke mana hujan begini?” kata ibuku yang melihat bayanganku di belakangnya.
“mau ke rumah teman Bu.”
“hati-hati di jalannya.”
“iya Bu,”

Aku pun berjalan menyusuri tepian danau di tengah gemercik hujan dan berharap ia tak akan marah. Hujan rasanya semakin deras aku bergegas di tengah hujan itu. Aku percepat langkahku aku tak peduli walaupun menginjak lubang berisi air. Hujan kian deras aku pun mempercepat lagi langkah menjadi setengah berlari. Pandanganku semakin buram aku pun berlari namun tidak juga sampai.

Aku terdiam menghela napas beberapa saat sebelum akhirnya meneruskan perjalanan. Dari kejauhan aku lihat seseorang di atas kursi di dekat danau. Samar-samar mulai terlihat sesosok pria tampan berkulit putih yang basah kuyup kehujanan. Rambut hitamnya menutupi dahinya. Ke dua tangannya memeluk erat ke dua sikunya ia tampak kedinginan tubuhnya pun agak menggigil. Aku pun mendekatinya.

“Rizky. Maafkan aku.” ia pun segera mengangkat kepalanya yang tertunduk lalu melihatku. Ia terus menatapku sesekali ia mengusap air hujan di wajahnya
“aku tidak tahu ada apa denganmu…” kata Rizky sebelum terpotong olehku. “kamu tahu kan ini hujan mengapa kau tidak batalkan saja janji kita? Kamu bisa sms memang mau apa kamu menemuiku?” kataku menyambar ucapannya. “aku tahu ini hujan. Jadi aku tetap adakan perjanjian ini.”

“baik jika itu maumu. Lalu kita mau apa di tengah hujan ini?”
“aku hanya ingin menguji kesetianmu sampai mana dan kau akhirnya datang menemuiku” kata-kata itu terucap dari bibirnya. “maksudmu kau mencintaiku?” tanyaku gr. “iya.” jawabnya singkat. Secara refleks aku langsung memeluknya dengan penuh rasa sayang. Cinta dan juga penuh rasa bangga mempunyai pria sepertinya. Aku langsung luluh tak berdaya di hadapannya. Aku sadar betapa orang-orang menginginkannya.

Flash back.
“hei Lis. Lihat tuh ada Rizky” kata Sasa begitu semangat. “lalu aku harus apa?” tanyaku pada Sasa sahabatku.
“memangnya kau tidak tahu tentangnya?” tanyanya. “aku tahu tentangnya itu karena kau selalu membicarakannya. Jadi jelas aku tahu. Laki-laki itu belum pernah pacaran padahal banyak yang menyukainya bahkan siswi terpopuler di sekolah tetapi semuanya ditolak” jelasku.

“aku memang sering membicarakannya. Tapi Lis kamu tidak mau jadi pacarnya? Tapi janganlah dia kan punyaku,” katanya. “untuk apa? Dia bukan pria satu-satunya di dunia ini” jawabku.
“memangnya kamu tidak suka padanya sedikit pun?” tanyanya.
“tidak sedikit pun aku tidak tertarik padanya.”

Aku akan tarik ucapanku terhadapnya. Sekarang aku tahu betapa berharganya dia dan mungkin akulah orang pertama dan selamanya yang mencintainya. Aku sungguh terkejut sebenarnya dan entah kenapa aku tak dapat menolak. Saat itu hatiku sungguh sangat senang. Mungkin ini yang membuat semua wanita ditolak olehnya hanya dengan kesetiaanlah ia mau mencintai seseorang. Hujan yang saat ini mereda telah menampilkan kilau keemasan air di danau senja bermahkotakan pelangi di atasnya.

Cerpen Karangan: Nur Hidayat
Facebook: Nur Hidayayat
Twitter: @hidayatnur698

Cerpen Cinta Di Tepi Danau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Kita

Oleh:
“Sejak pertemuan itu ada sesuatu yang berbeda dalam hati ini, tak tau apa yang sedang membuat hati ini beda, apakah aku suka dia? tapi itu tak akan mungkin!” Reno

Do You Know My Name

Oleh:
Aku Arga Liana, aku biasa dipanggil Arga, tapi sahabatku memanggilku Lana. Umurku 13 tahun, lahir di Jakarta 28 Maret. Memang terlalu muda untuk menuliskan cerita ini, tapi ya sudahlah.

Penyambut Pagi Cerahku

Oleh:
Alma menutup kitab suci Al-Qur’an, pertanda ia sudah selesai membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang indah. Itu adalah kegiatan rutin pagi hari setelah Shalat Shubuh. Almarhum Abinya-lah yang telah mengajarkan kebiasaan

Cinta Bisu Untuk Si Tampan (Part 1)

Oleh:
Cinta. Berbicara tentang cinta tak ada habisnya. Setiap orang memiliki arti yang berbeda-beda mengenai cinta. Ada yang bilang cinta adalah anugerah. Ada yang bilang cinta adalah malapetaka. Namun, adakah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *