Cinta Di Villa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 11 July 2016

“Marsya… marsya, cepat bangun.” kata kakaku memanggilku dari meja makan
“kevin, jangan berteriak saat di meja makan. Cepat naik ke atas dan bangunkan adikmu” tegur mamaku pada kakak
Dengan terpaksa akhirnya kakaku menuju kamarku dan membangunkanku. Entah mengapa pagi ini aku seperti tidak mau bangun, apa karena film korea yang aku nonton tadi malam? Pasti iya. Bagaimana tidak, film korea yang berjudul “descendant of the sun” itu bagus banget aku sampai-sampai ketagihan dan aku ingat tadi malam itu aku tidur jam 03.00. akhirnya pagi itu dengan mata masih tertutup aku paksakan menujuh kamar mandi untuk cuci muka. Setelah itu aku langsung turun ke maja makan yang mana keluargaku sudah menunggu.

“kok bangunnya jam segini? Memang tadi malam tidur jam berapa?” tanya papaku saat aku tiba di meja makan
“jam tiga” jawabku yang masih mengantuk
“jam tiga? Memang kamu ngapain, kok sampai tidur jam tiga?” tanya mama kaget
“belajar terus nonton film” jawabku lagi
“belajar? Paling-paling kamu hanya nonton film aja” sambung kakaku mengejek
“kakak kira aku kayak kakak yang tahunya hanya telfonan terus sama pacar kakak dan nggak pernah belajar. Maaf ya kak, aku beda dari kakak” jawabku dengan sedikit emosi
“memangnya sejak kapan kakak telfonan terus sama pacar kakak? Emang kakak akui kamu rajin belajar, tapi maaf kakak lebih rajin belajar dari pada kamu” bantah kakaku
“enak aja kakak itu…”
“stoooop… marsya, kevin mama kan udah bilang kalau di meja makan itu jangan berantem. Kalian ngerti nggak si? Pa, urusin tu anak-anak” kata mamaku yang memotong pembicaraanku
“sudah-sudah, ayo makan” kata papa memenangkan
“iya pa” kata aku dan kakak bersamaan

Pagi itu seperti yang telah direncanakan sebelumnya, aku sekeluarga akan berkunjung ke tempat adik mamaku untuk menghabiskan malam tahun baru disana. Sebenarnya aku nggak setuju dengan rencana ini, karena aku ingin menghabiskan malam tahun baru dengan teman-temanku disini. Tapi karena paksaan dari papa, akhirnya aku menurut. Sekitar jam 06.30 kami pun berangkat karena takut kena macet, biasa jakarta. Dengan menaiki mobil, kami pun langsung menujuh ke rumah tanteku. Saat di perjalanan aku sama sekali tak menikmati pemandangan karena aku tertidur. Sekitar jam 08.30 kami pun tiba di tempat tujuan kami, dengan mata yang begitu berat aku pun turun dari mobil dan mengikuti mama dan papa menuju sebuah rumah dengan halaman yang begitu bersih. Sampai di dalam kami disambut dengan baik oleh tanteku, karena sudah cukup lama tak bertemu kami pun saling berpelukan sambil melepas rindu. Setelah berbincang-bincang aku diantar menujuh kamar oleh sepupu perempuanku ana, sedangkan kakaku bersama dengan spupu laki-lakiku billy. Malam harinya aku, kakaku dan kedua sepupuku pergi jalan-jalan ke dermaga. Kami sangat menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus malam itu ditambah lagi bulan dan bintang yang bersinar dengan terang. Aku jadi teringat film korea yang aku nonton.

Tak terasa malam makin larut, kami pun memutuskan kembali ke rumah karena kakaku dan billy sudak nggak tahan dengan kantuk mereka. Setelah mencuci kaki kami langsung masuk ke kamar, namun aku dan sepupuku ana nggak bisa tertidur. Akhirnya kami memutuskan untuk berbincang-bincang
“marsya, lo belum tidur?” tanya ana. Walaupun ana itu adik spupuku, tapi kami sudah terbiasa memanggil nama. Pernah berapa kali kami ditegur karena nggak memanggil sesuai umur, tapi kami nggak bisa. Maklumlah perbedaan kami hanya satu bulan.
“iya nih, lo juga belum tidur kan?” tanyaku balik
“iya,” kata ana yang berhenti sebentar, kemudian melanjutkan lagi. “marsya, lo masih ingat yang namanya ichal?” tanya ana
“ichal? Ichal yang anak polisi itu?” tanyaku tebak
“iya benar. asal kamu tahu ya, sekarang dia itu tambah ganteng banget. Coba deh besok kamu lihat, pasti kamu langsung jatuh cinta” kata ana
“gue itu udah biasa ketemu sama cowok ganteng, jadi mana mungkin aku jatuh cinta” kataku karena mamang aku sering ketemu dengan cowok ganteng di sekolahku tapi aku nggak jatuh cinta sama mereka.
“yaa elaa… pokoknya besok lo harus lihat” kata ana

Ketika pagi aku nggak bisa hilangin kebiasaanku yaitu lari subuh. Dengan sepatu dan pakaian yang bisa aku pakai lari subuh, aku langsung saja menujuh ke jalan yang masih lumayan gelap. setelah lumayan lama aku berlari di jalan, akhirnya aku memilih lari di sebuah lapangan futsal yang nggak terlalu jauh dari rumah tanteku. Setelah berkeliling tiga kali di lapangan futsal, akhirnya aku beristirahat sambil duduk di lapangan itu. Namun tiba-tiba aku mendengar suara perempuan minta tolong, aku jadi takut dan merinding. Walaupun aku bisa dikatakan anak yang pemberani, tapi ini bukan kampungku makanya itu aku jadi takut. Tapi dengan keberanian yang tersisa, aku berjalan perlahan menujuh suara itu. Dan o my god, ketika aku melihat ternyata suara itu adalah suara perempuan yang sedang diganggu oleh tiga orang pemuda yang sepertinya mereka mabuk. Dengan keberanian dan karateku, akhirnya kau menuju ke arah mereka
“lepasin perempuan itu” kataku dengan sedikit berlagak seperti orang tangguh
“kamu siapa, beraninya kamu mencampuri urusan kami” kata salah-satu pemuda itu
“kalau kalian nggak lepasin perempuan itu, aku akan telfon polisi sekarang. Atau aku akan telfon kepala desa. Mana yang kalian pilih” kataku sambil memencet-mencet hp-ku
“bro kabur yuk, aku nggak mau ketahuan sama polisi dan kades” kata pemuda itu ketakutan
“ya udah ayo” Mereka pun lari katakutan, aku hanya bisa tersenyum melihat mereka lari terbirit-birit. Akhirnya aku menghampiri perempuan itu, sepertinya dia beda setahun denganku.
“kamu nggak apa-apa” tanyaku
“iya, makasih kak. Kalau nggak ada kakak tadi, aku nggak tahu harus gimana” jawabnya
“ya udah, aku antar kamu pulang ya. Rumah kamu dimana?” Tanyaku
Setelah dia memberi tahu alamatnya, aku pun mengantarnya pulang.

Saat di jalan aku kembali ngobrol dengannya dan berkenalan
“o iya, aku marsya” kataku sambil mengulurkan tangan
“aku nia” jawabnya sambil menyalami tanganku
“kalau boleh tahu, bagaimana bisa kamu digangguin sama pemuda-pemuda itu?” tanya ku penasaran
“aku tadi sementara lari-lari subuh, tiba-tiba aku dihadang sama mereka. Dan memang salah satu dari mereka pernah menembakku tapi aku nggak terima”
“ooo jadi gitu, lain kali hati-hati. O iya kalau kamu mau bertemu denganku datang aja ke rumah pak kades, aku tinggal disitu” kataku
“iya kak, aku pasti datang. Oke ini rumahku, makasih ya kak atas bantuanya. Kakak nggak singgah? tawarnya
“nggak makasih. Oke aku pulang dulu ya” jawabku

Setelah mengantar nia pulang, aku juga langsung pulang ke rumah. Tapi saat di jalan aku bertemu dengan ana dan dia mengajakku kembali kelapangan untuk menemani dia lari-lari pagi. Sebenarnya aku nggak mau, tapi dia terus memaksakaku. Saat di lapangan aku hanya duduk dan melihat ana berlari, tapi tak lama kemudian ada seorang cowok datang berlari juga di lapangan itu. Aku sesekali meliriknya, namun sepertinya dia orangnya agak cuek buktinya saat ana menegurnya dia hanya tersenyum lalu berlari lagi. Tak lama kemudian ana menghampiriku
“cher, itu ichal. Gimana orangnya ganteng kan?” kata ana padaku
“lumayan, tapi dia cuek banget” jawabku
“cowok emang gitu, itu menandakan dia setia” kata ana lagi
“setia apa? Orang kayak gitu kok dibilang setia” kata ku lagi

Tak lama kemudian datang teman-teman ana yang cewek dan yang cowok. Mereka semua berjumlah tujuh orang dengan tiga perempuan dan empat laki-laki. Mereka menghampiri aku dan ana
“hay ana, tumben pagi sekali lo udah lari-lari” kata salah satu teman ceweknya
“iya soalnya tadi sepupuku bangunya cepat. Jadi aku bangun cepat juga” jawab ana
“ooo jadi ini sepupu kamu?” tanya salah satu teman cowoknya
“iya, kenalan donk” ajak ana
“namaku reza, ini adit, yang ini aldo, dan yang ini erik. Terus yang sedang lari-lari itu namanya ichal” kata reza memperkenalkan temanya satu per satu
“kalau namaku dila, yang ini luna, ini eka, dan yang ini ayu” kata dila memperkenalkan teman-temannya juga
“namaku marsya, senang bisa berkenalan dengan kalian” kataku
“hay bro, kok beru datang? Aku udah dari tadi tungguin kalian” kata ichal yang yang mendekati reza
“maaf tadi aku ketiduran, makanya aku lama datang”
“kamu sih apelnya tadi malam lama benget” sambung adit
“memang apa urusan kamu?” kata dila tiba-tiba
“nggak ada, maaf” kata adit sedikit takut
“sudahlah, terus gimana rencana kita? Jadi nggak?” kata aldo menenangkan situasi
“jadi dong, terus kita pakai mobil apa kesana?” tanya erik
“mobil aku aja, kan cukup kalau sepuluh orang” jawab luna
“sepuluh orang?” tanya ichal bingung
“kan sekarang ada marsya, kita ajak dia” kata luna
“aku? Memang mau kemana?” tanyaku bingung
“kita rencana mau ke villa ichal di bukit, kamu mau ikut nggak? Ichal, boleh kan ajak marsya juga?” tanya eka
“oke boleh” jawabnya singkat
“baik, sekarang kita pulang aja dan besiap-siap. Jam 09.30 kita berangkat” kata ayu

Akhirnya kami semua pulang, aku dan ana langsung bersiap-siap. Setelah semuanya beres dan mendapat izin dari orangtua aku dan yang lainnya langsung saja menujuh ke villa ichal. Diperjalanan kami mengisi waktu dengan bernyanyi bersama, aku pun merasa sudah mulai akrab dengan mereka. Tak terasa hari sudah siang, saat itu kita melewati sebuah kebun teh yang sangat luas. Aku sangat menikmati pemandangan itu, ditambah lagi dengan burung-burung yang bertebrangan kesana-kemari. Karena sudah tak tahan dengan kantukku, aku pun tertidur dan nggak hanya aku ternyata yang lainnya udah tidur duluan.
Sekitar jam 12.30 kita akhirnya sampai juga di villa, dan langsung mencari kamar masing-masing. Karena hanya ada enam kamar, kami pun tidur berpasang-pasangan. Tapi aku dan ichal tidur sendiri-sendiri karena nggak mungkin juga aku tidur dengan ichal.

Siang itu aku nggak bisa tidur, karena kepikiran terus sama perempuan yang mirip dengan rini. Akhirnya aku menujuh dapur dan memasak untuk makan siang, sedangkan yang lainnya telah tertidur di kamar mereka. Dengan rempah-rempah dan bahan-bahan yang kami bawa dari rumah, aku memasak tiga macam makanan. Setelah semu matang, aku menyajikan di meja dan memanggil mereka makan. Tak lama kemudian mereka pun datang dan makan
“waaahhh… kamu yang masak semua ini marsya?” tanya ayu heran
“iya, terus enak lagi” sambung luna
“makasih, oke ayo makan” kataku

Walaupun kami masih merasah lelah, tapi tetap saja setelah makan kami berjalan-jalan di belakang villa yang pemandangannya bagus beget. Terlihat jalas bikit-bukit yang menjulang tinggi dengan ditumbuhi pepohonan yang begitu subur. Karena terlalu asyik berjalan-jalan sambil melihat pemandangan, tak sadar aku menginjak batu yang berukuran sedang dan aku pun terjatuh kakiku keseleo. Karena sudah tak mampu berjalan, ichal pun mengendongku dan membawaku menuju villa. Setelah ichal mengobatiku, kakiku sudah agak mendingan.
“gimana, udah agak mendingan?” tanya ichal
“iya, makasih ya” jawabku
“kamu bikin khawatir aja, tapi benaran udah agak mendingan?” tanya ana penuh perhatian
“iya, paling sebentar lagi udah sembuh ko ” jawabku

Malam itu setelah makan kami bermain kartu dan menonton film. Namun tak lama kemudian, teman-teman yang lain meninggalkan aku dan ichal berdua. Kami pun heran, mereka kanapa sih? Tapi akhirnya aku dan ichal tetap terusin nonton film tersebut, aku mulai rasa nggak enak karena hanya tinggal berdua dan ichal. Tapi sepertinyaa ichal biasa aja. Tiba-tiba aku mendengar suara aneh dari luar jendela, aku kaget dan takut. Tanpa sadar ternyata aku telah memeluk lengan ichal tapi dia diam saja.
“kamu takut?” tanyanya
“iya” jawabku dengan gugup
“pantas, sampai-sampai kamu meluk lenganku gini” katanya sambil melihat tanganku memeluk lengannya
“o, maaf. Aku nggak sengaja” jawabku makin gugup dan melepaskan tanganku dari lenganya
“nggak apa-apa kok, katanya kamu berani sama hantu?” tanyanya
“aku berani tapi itu kalau di kampungku sendiri, ini kan bukan kampungku makanya aku takut” jawabku sambil melihat ke arah jendela
“ooo, aku mau ke dapur. Kamu mau ikut?” tanya ichal sambil berdiri
“iya aku ikut” jawabku

Setelah kembali dari dapur, ichal menujuh ke kamarnya. Setelah tiba di dalam kamar, ichal menoleh ke belakang yang mana aku sedang berdiri di pintunya. Dia pun mendekatiku.
“kamu mau tidur disini?” tanyanya
“nggak aku hanya…, waaah… bagus banget. Aku suka sekali sama lukisan ini” kataku yang tiba-tiba berjalan masuk ke dalam kamar ichal. Aku pun kagum melihat lukisan yang indah ini. Namun tak lama kemudian, pintu kamar ichal tertutup sendiri. Aku dan ichal spontan kaget, disitu aku udah takut banget dan aku langsung saja naik ke tempat tidur ichal sambil menutup badanku dengan selimut. ichal pun kaget, dan dia menyuruhku turun tapi aku nggak mau. aku menyuruhnya untuk tidur di sofa, dan akhirnya dia juga mau.

Setelah pagi, aku dibangunkan oleh kicauan burung. Ketika aku mebuka mata, aku terkaget karena ichal tidur di sampingku. Aku langsung saja mendorong badannya yang telah dekat denganku. Doronganku membuat dia keget dan terbangun
“kenapa sih marsya? Aku masih kantuk, kalau kamu mau bangun duluan bangun aja” katanya yang dengan mata masih tertutup
“kenapa kenapa, apa yang lo lakukan sama gue? Gue kan nyuruh lo untuk tidur di sofa bukan di tempat tidur” kataku sambil menariknya bangun
“aku nggak tahan tahu tidur disofa, lagian kamu juga kenapa nggak mau tidur di kamarmu” katanya dengan suara yang lumayan keras. Tak lama kemudian masuklah teman-teman ke dalam kamar ichal, dan mereka kaget karena melihatku duduk dengan ichal di atas tempat tidur
“kalian, apa yang telah kalian lakukan?” tanya adit kaget
“diamlah, aku nggak melakukan apa. Aku hanya tidur aja di sampingnya” kata ichal
“terus, kanapa kalian bisa tidur bersama?” tanya erik. Akhirnya ichal pun menceritakan kejadian semalam dan mebuat mereka merinding.

Tak lama kemudian, kami pun segerah mandi dan sarapan. Setelah itu kami lanjutin nonton film semalam, tapi ichal nggak gabung dengan kami. Kerena merasa bersalah, aku pun menghampirinya yang tengah duduk di bawah pohon yang ada di depan villa.
“maaf, aku tahu aku salah ” kataku sambil duduk di sampingnya
“ngga apa-apa kok, lagian aku juga salah. Tapi benar, kamu tadi malam itu takut banget?” tanyanya
“ya iyalah, memangnya aku sengajah. Tapi makasih ya karena udah bolehin aku tidur di kamarmu” jawabku
“makasih buat bolehin tidur di kamar atau makasih karena telah tidur di sampingmu?” tanya ichal yang membuatku kaget
“kamu ya, udah deh pokoknya aku udah ucapin makasih sama kamu” kataku malu
“kamu udah pernah ditembak cowok?” tanyanya tiba-tiba
“ha? Kok kamu malah nanya gitu?” tanyaku balik
“ya nggak aja, Cuma pengen tahu aja” jawabnya
“iya, aku pernah ditembak cowok. Tapi aku nggak terimah karena dia anaknya nakal, tapi pintar” jawabku juga
“terus sekarang kamu udah punya pacar belum?” tanyanya lagi
“kamu kok nanya gitu lagi?, tapi kalau menurut kamu gimana?” tanyaku balik
“menurut aku? Sepertinya kamu belum punya pacar, buktinya selama disini kamu nggak pernah telfonan atau smsan” jawabnya
“kamu tahu dari mana? Apa jangan-jangan kamu kotak atik hpku ya?” tanyaku heran
“pertanyaan itu nggak penting sekarang, karena aku mau kasih kamu pertanyaan yang sangat penting” katanya
“memang pertanyaannya apa?” tanyaku heran
“kamu…, kamu mau nggak jadi pacarku?. Apa pun jawaban kamu aku terima” kata ichal yang membuatku kaget.
“maaf chal, aku nggak bisa” kataku sambil menunduk dan itu membuat ichal sepertinya kecewa
“nggak apa kok, aku ke dalam dulu ya” kata ichal yang tiba-tiba berdiri
“ichal, aku belum selesai bicara” panggilku yang membuat ichal berbalik. “sebenarnya aku mau bilang kalau aku nggak bisa bohong kalau aku juga suka sama kamu dan aku mau jadi pacar kamu” lanjutku. Tiba-tiba ichal datang mengahampiriku dan memelukku
“makasih ya, aku janji akan melakukan yang terbaik untuk membuat kamu bahagia.” katanya sambil memelukku. kemudian terdengar tepuk tangan dari teman-teman dan mereka menghampiri kami berdua. Mereka menceritakan bahwa sebenarnya malam itu mereka yang menakut-nakuti aku dan ichal. Pada mulanya aku sempat marah, namun tak lama aku mulai menyadari dan berterimah kasih pada mereka. Karena berkat mereka cinta pertamaku telah bersemi di villa itu. Akhirnya tiba malam tahun baru, aku sudah nggak kesepian. Apa lagi ditemani oleh keluarga, teman, dan terlebih lagi oleh kakasihku ichal.

THE END

Cerpen Karangan: Cherli Sepriyanti Laondang
Facebook: Cherli Laondang

Cerpen Cinta Di Villa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Saya Sayang Kamu

Oleh:
Maria menekan tombol telepon beberapa kali. Terdengar bunyi tut-tut beberapa kali, tapi ia tetap menunggu sambutan dari sana. “Halo,” terdengar suara perempuan separuh baya. “Maaf, Tante. Bisa bicara dengan

Tentang Sebuah Penyesalan

Oleh:
Terkadang.. Terkadang tak semua yang kita anggap benar itu benar. Dan terkadang tak semua yang kita anggap dapat dipercaya itu dapat dipercaya. Mungkin kita pernah menganggap sesuatu benar adanya,

Ketulusan

Oleh:
Saat ini seorang gadis kelas 3 SMP yang bernama Queen sedang tersenyum memandang layar handphonenya, ia baru saja mendapatkan SMS dari Andra, orang yang disukainya. Andra mengirimkan pesan yang

The Tuesday

Oleh:
Pernah merasa seperti di atas awan? Melayang terhembus angin yang memang diharapkan datang, menerobos badai yang bahkan dulunya takut untuk dilewati, dan memekik senyum yang hampir mekar karena terjebak

Jodohku Idolaku

Oleh:
Hallo aku Clara bell biasa dipanggil Abel. Aku anak ke dua dari 2 bersaudara, aku salah satu mahasiswi di Universitas cukup terkenal di Jakarta. Aku itu ngefens sekali dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *