Cinta Dibalik Selai Stroberi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Lia dan babe (ayah) berjalan menuju motornya yang dipenuhi keranjang berisi toples kaca selai stroberi yang akan ia jual ke kota, ia pamit pada babe.
“Hati hati nak”. Pesan babe.
“Tenang aja be, lia bisa jaga diri lagian lia sudah hapal jalannya. Udah diluar kepala!”. Ucap lia percaya diri. Babe tersenyum dan menganggukan kepala.
“Lia pergi be!, assalamualaikum!”. Lia mengendarai motornya.

Lia menyusuri jalan sempit yang mulus. Ibu ibu berjalan di pinggir jalan sambil membawa bakul berisi baju yang mungkin dari sungai, anak anak bermain kelereng di tanah luas. Alam perdesaan yang masih asri dan keramaian memberi ketenangan.
“Neng lia mau ke mana?”. Tanya bang maman. Lia menghentikan motornya.
“Biasa lah bang mau jualan selai ke kota”.
“Wah jauh ya neng. Memang ada yang beli?”.
“Alhamdulillah bang, laku keras dagangan lia”.
“Baguslah neng, abang juga mau order sama neng satu paket ya buat toko abang. Sudah habis, pembelinya banyak neng”. Pinta bang maman.
“Iya, itu mah gampang bang tunggu aja ya. Lia pergi atuh”. Lia menjalankan motornya.
Lia sangat bahagia karena banyak yang memesan selainya, dagangannya laku keras.

Tak disangka sebuah mobil menabrak motornya, sehinga dagangannya berserakan dan rusak. Ia sangat marah lalu menghampiri mobil itu, ia menarik pengemudinya yang sebaya dengan lia.
“Kamu ya ngak liat liat jalan atuh. Liat dagangan aku rusak!”. Ia menunjuk toples kaca yang pecah dan isinya berserakan.
“Yee, nyalahkan gue lagi loe. Itu salah loe tau ngak”.
“Aku nggak mau tau, kamu harus ganti rugi!”.
“Iye iye, berapa gue ganti?”. Pria itu membuka dompetnya.
“Semuanya 2 juta, dan motor gue rusak jadi 3 juta”.
“Busyet, banyak amat. Dah gue lagi bokek lagi”. Pria itu mulai bingung.
“Jadi kamu bisa ganti atau nggak?”.
“Nggak.. Hehe!”. Jawab pria itu jujur.
“Kalau gitu kamu ikut aku, kamu mau kuadukan ke babe!”. Lia menarik pria itu ke motornya dengan kasar.
“Tapi mobil gue gimana?”. Tanya pria itu.
“Biarin aja, intinya tanggung jawab dulu!”. Jawab lia yang membonceng pria itu.

Babe menatap pria itu dengan wibawa dan santai. Ia memegang pundaknya dengan lembut, sedangkan pria itu menundukan kepala.
“Jadi bagaimana cara kamu bertanggung jawab nak?”. Tanya babe lembut.
“Terserah bapak aja”.
“Siapa namamu?”.
“Brayn”.
“Di mana kau berasal nak?”.
“Di jakarta pak”.
“Jauh sekali, kenapa kau kemari di tempat terpencil ini”. Babe menatapnya heran.
“Karena orangtua saya terlalu keras dan memaksa untuk menjodohkan saya dengan wanita pilihannya. Saya kabur dari rumah”.
“Kenapa kau berbuat seperti itu, mereka orangtua kau dan yang membesarkan kau. Seharusnya kau patuh padanya. Kepala batu!”.
“Maaf”. Ia makin menunduk.
“Seharusnya kau minta maaf pada orangtua kau. Bukan padaku!, dan sekarang hukumannya kau harus tinggal di sini dan membantu lia. Ingat, jangan sampai ada kesalahan!”. Perintah babe padanya. Ia hanya menganggukan kepala tanda setuju.

Lia dan brayn memetik buah storberi di kebun.
“Brayn, kenapa kamu menolak perjodohan itu. Lagian kamu kan belum tau orangnya”.
“Gue sudah tau, dia jelek dan cerewet”.
“Haha, memang cewek idaman kamu gimana sih?”.
“Cewek idaman gue itu loe lia!”. Ungkap brayn yang membuat lia terkejut.
“Aku, kenapa?”.
“Loe itu mandiri, baik, lucu, dan cantik. Gue aja, entah kenapa gue merasa nyaman di dekat loe”.
“Haha, jangan merayuku ah. Ngak mempan tau”. Lia tertawa dan memukul lengan brayn.

Hanya dalam beberapa hari, mereka menjadi sangat dekat. Pekerjaan lia terasa ringan dan menyenangkan karena ada brayn. Perasaan cinta tumbuh di antara keduanya.
“Brayn, ayo ikut babe”. Ajak babe, lalu mereka menyusuri jalan terjal dan menuju ke sawah.
“Ngapain kita ke sini be?”.
“Buat mengkawinkan kau!”.
“Hah, kawin. Dengan lia be?”.
“Bukan lia, tapi dengan kerbau!. Berharap sekali kau kawin dengan anakku. Kita kemari buat membajak sawah pe’a”. Jawab babe kesal.
“Yaa, jangan jutek gitu juga lah be jawabnya!”. Cengir brayn.

Setelah membajak sawah dan memandikan kerbau mereka pulang ke rumah. Dari kejauhan di teras rumah lia duduk bersama dua orangtua, mereka bercanda dan tertawa. Brayn mengenali kedua orang itu, mereka adalah orangtuanya. Ia berlari menghampiri mereka.
“Bapa, mama. Kenapa kalian kemari?”.
“Mereka kemari untuk menjenguk kau dan calon menantunya”. Jawab babe dari belakang.
“Tapi, bukannya dia yang cerewet itu?”.
“Berani sekali kau mengatakan anakku jelek”. Cengir babe.
“Artinya yang kalian maksud bukan dia, tapi lia?”. Tanya brayn.
“Iya, bapak kau ini teman babe dari masa bocah. Sejak kau kecil, kita sudah sepakat buat menjodohkannya dengan anak babe, tuh anaknye!”. Babe menunjuk lia.

“Pak, ma. Maaf ya brayn kabur dari rumah. Karena brayn ngak mau dijodohkan”.
“Oo.. Kamu menolak anak babe?, oke, kita batalkan aja!”. Babe menyilangkan tangannya di dada.
“Eh, bukan gitu. Brayn cinta sama anak babe. Jangan dibatalkan ya”. Tolak brayn. Ia menghampiri lia bermaksud ingin memeluknya.
“Eh jangan main peluk aje, dihalalin dulu!”. Ucap babe.
Mereka lia dan brayn berpandangan dan tersenyum malu.

End

Cerpen Karangan: Ramdini Aldianti
Facebook: Ramdini aldianti
Jika ada yang ingin berkomentar dan memberi saran/masukan silahkan kunjungi facbook ku. ‘Ramdini Aldianti’.

Cerpen Cinta Dibalik Selai Stroberi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Magic of Time (Part 2)

Oleh:
Pagi mulai menusuk tulang-tulangku, aku terbangun dan aku terlambat. “Oh tidak, mereka semua sudah bangun dan aku, ouuh!” Ucapku menggerutu. Aku langsung bergegas ke luar tenda dan semua menatapku.

Bunga Tidur Jagoan Mama

Oleh:
Terlahir menjadi seorang laki-laki dari sepasang raja dan ratu yang telah mengindahkan hidupku. Ucapan beribu terimakasih sama sekali tidak cukup untuk kupersembahkan kepada mereka. Bahkan sekuat apapun usahaku tetap

Ingatlah Aku

Oleh:
Hari ini SMU tunas bangsa dihebokan dengan kehadiran dua penyanyi terpopuler yaitu ” enhard fransisko dan Wisda natasya”. Dan yang paling menghebohkan adalah bahwa hari ini mereka berdua adalah

Dia Kapten Hatiku

Oleh:
“Pada rindu, wajahmu serupa senja, Captain of my heart. Sungguh, menutupi air mata dengan bayang hitam yang pekatnya tak lebih pekat daripada penantian.” Sudah barang tentu aku mulai menyadari,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *