Cinta Dua Sisi Berbeda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 3 February 2014

Tuuuttt…! bunyi kardiograf yang menunjukkan jantung tak berdenyut lagi. Tepat pukul 00.01 Aji, kekasih Angel menghembuskan nafas terakhir. Malam itu adalah malam bahagia untuk angel karena usianya genap 19 tahun. Angel mendapatkan surprise party dari keluarganya. Ia bukanlah bersenang-senang disaat Aji, kekasihnya kritis. Bahkan Angel pun tak mengetahui keadaan Aji yang sesungguhnya.

Namun dag dig dug hati Angel berdetak kencang seperti ada sesuatu, dan ingatlah dia pada kekasihnya itu, Aji. Ia pun langsung melihat ponselnya namun tak ada pesan ucapan ulang tahun dari kekasihnya itu. Angel pun hanya tersenyum dan berpikir aji lelah dan lupa tentang malam ini.

Ttlilililit… tlilililit…! Suara ponsel Angel berbunyi. Dilihat ponselnya dan diangkatnya telpon tersebut, karena itu telpon tersebut bertuliskan nama Aji. Angel pun langsung membuka pembicaraan atas lupanya aji mengucapkan selamat ulangtahun untuknya. Namun, di ujung sana bukanlah Aji yang menjawab. Tetapi, seorang wanita dengan suara lirih dan desahan air mata. Wanita itu ialah tante Andita, ibunda dari Aji. Angel pun bingung terhadap apa yang tejadi pada kekasihnya itu. Kenapa ibunya menyebut nama aji dengan menangis? tante Andita hanya menyuruh Angel untuk datang langsung ke Rumah Sakit Cipto Kusuma di ruang ICU. Angel mematikan telponnya dan segera pergi. Ia meninggalkan pesta ulang tahunnya bersama keluarganya.

Selang beberapa menit, tibalah ia di Rumah Sakit Cipto Kusuma, ia mencari ruang ICU. Setelah menemukan ruang ICU, tante Andita langsung memeluknya dengan tangis yang histeris. Angel bertanya apa yang sedang terjadi dengan mata berkaca-kaca. Dengan berat hati, tante Andita mengatakan padanya bahwa kekasihnya itu sudah tiada. Angel pun tak percaya dengan ucapan tante Andita. Angel langsung memasuki ruang ICU dengan langkah cepat dan isak tangis.

“Ajjii…!!! Kenapa kamu pergi tinggalin aku secepat ini?! Kenapa, Ji?! Kamu sudah berjanji untuk selalu menemani aku, Jii.”, teriak Angel dengan tangis histerisnya sambil memeluk jasad Aji.

Dengan kucuran air mata, kedua orangtua Aji menenangkan Angel dan meyakinkannya untuk mengikhlaskan kepergian Aji. Setelah semua tenang angel bangkit dari duduknya. Ditatapnya tubuh Aji yang terbujur kaku dengan gelimangan tangisan yang tak kunjung terhenti.

Tliilililit…! ponselnya berbunyi, namun tak ia hiraukan. Ia hanya menatap kekasihnya itu. Dalam hatinya ia bergumam kenapa kekasihnya pergi secepat itu. Angel masih membutuhkan keberadaan Aji di dunia ini karena Aji selalu berusaha membuatnya tersenyum dikala ia sedih. Namun, siapa sekarang yang menjadi pelipur laranya? Angel tak yakin bisakah ia jalani hidup tanpa Aji.

Tlilililit…! Ponselnya pun kembali berbunyi, namun tetap saja tak dihiraukan olehnya. Keluarga Angel di rumah khawatir terhadap keadaan Angel yang meninggalkan rumah dengan tergersa-gesa dan gelisah. Betapa cemas Mamanya atas tindakan Angel yang mengabaikan beberapa telpon dari mamanya. Akhirnya mamanya memutuskan untuk menghubunginya kembali.

Selang beberapa menit, ponsel Angel berdering lagi. Ia pun segera mengangkat setelah beberapa kali mengabaikannya. Dilihatnya, ternyata mamanya yang telpon. Angel pun mengangkat telpon dari mamanya dengan nada lemas tanpa tenaga. Membuat mamanya khawatir. Angel mengatakan bahwa dirinya sedang berada di Rumah Sakit Cipto Kusuma dan kekasihnya telah tiada. Sontak mamanya pun terkejut dan memberikan semangat kepada anaknya itu untuk bersabar menghadapi cobaan yang menimpanya. Angel pun tak merespon ucapan mamanya, ia hanya terdiam dan langsung mematikan ponselnya. Sepintas Angel berpikir, apa yang menyebabkan Aji meninggal mendadak, padahal siang tadi Aji masih jalan-jalan berdua. Lalu apa yang sedang terjadi pada Aji sebelumnya?.

Dengan segera Angel keluar dari ruang ICU dan bergegas mencari tante andita. Dan ditemuilah tante Andita yang sedang menangis sendiri di lorong ruang tunggu, dan ia pun menghampiri. Dan ia langsung bertanya kepada tante Andita apa yang menyebabkan Aji meninggal. Tante Andita pun menjelaskan apa yang terjadi pada Aji. Dan beliau pun mengatakan bahwa anaknya itu telah mengidap kanker otak selama dua tahun belakangan ini.

Sontak Angel terkaget mendengar kabar itu. Bagaimana tidak, selama menjalin hubungan dua tahun dengannya, Aji tidak pernah memberitahu kepadanya tentang apa yang terjadi. Bahkan Aji tidak pernah terlihat sakit di hadapannya, hanya saja pernah terlihat wajah Aji pucat. Memikirkan hal itu, tak terasa tetesan air mata Angel semakin deras. Tante Andita mengaku sebenarnya beliau ingin bercerita kepada Angel. Namun, Aji melarang ibunya untuk menceritakan hal itu kepadanya. Bagi Aji, Angel tak perlu tahu tentang penyakitnya, dia tidak mau membuat Angel sedih dan terbebani atas penyakitnya itu. Aji selalu ingin Angel tersenyum bahagia dalam masa hidupnya yang tak panjang. Aji kesakitan sekitar pukul 19.00 Tepat satu jam setalah Aji pulang menghabiskan waktu seharian dengan Angel. Aji menitipkan bingkisan untuk Angel kepada ibunya, tante Andita langsung menyerahkannya kepada Angel.

Bingkisan tersebut tak dibuka oleh Angel, karena malam itu jasad Aji akan dibawa pulang ke rumah duka. Angel pun menuju parkiran untuk mengambil mobilnya untuk menuju ke rumahnhya Aji. Ia juga menghubungi kedua orangtuanya untuk bermalam di kediaman Aji. Dengan derai air mata, Angel mengendarai mobilnya dan berpikir, apakah ini benar-benar terjadi kalau Aji telah pergi atau hanya mimpi buruk?.

Sesampai di rumah Aji, ia termenung menatap bingkisan dari Aji dan membukanya. Ternyata itu adalah kado ulang tahun terakhir dari Aji, berupa kotak musik berbentuk rumah yang dalamnya berisikan seorang bidadari dan pangeran yang hidup bersama. Angel pun tak henti-hentinya menangis, mengingat Aji adalah sosok yang sangat baik, dan tidak dapat diganti oleh apapun. Namun, di sela kota musik terdapat sesuatu dan diambilnya. Ternyata sebuah kertas berisi surat terakhir dari aji.

Selamat ulang tahun ya sayang, Semoga kamu bahagia dan senang atas kado yang kuberi dan ini mungkin kado terakhir dariku karena aku sudah tidak sanggup untuk menahan sakit ini, terlalu lama sakit ini bersarang di otakku hingga ke seluruh tubuhku. Kamu adalah wanita yang mampu memberi semangat hidupku, dan hanya kamu tujuan aku bertahan sampai sekarang. Maafkan aku sebelumnya tidak cerita kepadamu tentang hal ini, karena aku hanya tidak ingin membuat mu bersedih dan menjadi terbebani atas penyakitku. Aku ingin membuat orang-orang di sekitaku bahagia atas aku, khususnya kamu. Aku tahu saat ini kamu sedang bersedih. Tapi aku yakin, kamu adalah wanita yang kuat, kamu mampu melewati ini semua.

Maafkan aku tidak bisa mengisi hari-harimu lagi, Maafkan aku tidak berada di sisimu lagi. Dan maafkanlah aku telah membuatmu bersedih. Namun, aku masih tetap ada di dalam hatimu, dan selalu kukenang cinta kita Terima kasih atas kasih yang kau beri hingga menguatkanku.

Begitulah isi surat yang ditulis oleh Aji. Berderai air mata Angel membacanya, semakin tak percaya kalau kekasihnya itu telah tiada. Ia pun marah terhadap apa yang terjadi. Karena yang ia butuhkan bukanlah kado pemberian Aji, melainkan sosok Aji di kehidupannya. Angel menghabiskan malam yang panjang dengan derai air mata. Keesokan harinya, jasad Aji dikebumikan. Kedua orangtua Angel datang melayat dan mengikuti prosesi pemakaman. Angel pun makin hanyut, karena hari itu adalah hari terakhirnya melihat wajah kekasihnya itu.

Setelah semuanya selesai Angel pun pulang kerumahnya. Ia tak mau pulang bersama-sama keluarganya karena ia ingin merenung sendiri. Akhirnya Angel memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, ia pun berbelok menuju suatu taman yang biasanya ia kunjungi bersama Aji. Sesampainya ia di taman itu, ia pun langsung turun dari mobil dan berlari ke arah danau yang terletak di tengah taman, tempat awal mereka bertemu. Ia pun duduk termenung, dan diambil ponselnya. Menatap fotonya bersama Aji, ia pun tak mampu untuk membendung air mata.

Dari awal pacaran hingga Aji pergi, jarang sekali Aji membuat Angel menangis. Bahkan, Aji selalu berusaha membuat Angel tersenyum, meskipun dalam keadaan penyakitnya kambuh, Aji tetap berusaha membuat Angel tersenyum dan menahan rasa sakitnya. Tak heran jika selama ini Angel pun tak mengetahui kalau Aji sedang menderita penyakit parah. Angel menyesal karena dirinya tak mengetahui atas penyakit yang diderita orang yan ia cintai itu. Seandainya ia tahu ia akan selalu menjaga dan merawat Aji. Bahkan, tidak akan membuat Aji lelah atas sikapnya yang manja.

Hari pun mulai gelap, telah lama Angel menghabiskan waktunya di danau itu sendiri, dan ia pun beranjak pulang. Sesampainya di rumah hujan turun sangat deras, petir pun menyambar. Namun, Angel masih dalam pandangan kosong dan tak menghiraukan apa yang terjadi.

Braaakkk!!! Angel pun dengan keras membuka pintu rumah. Keluarga rumah yang sedang berkumpul pun menjadi kaget atas gubrakan pintu. Dan pandangan semuanya menjadi berpusat kepada Angel, tetapi Angel pun tak ambil pusing, ia langsung menatap dengan cuek semuanya dan langsung berlari menuju kamarnya. Orangtuanya pun semakin khawatir terhadap keadaan Angel. Mamanya pun langsung menghampirinya dan mendekatinya di kamar. Namun, angel melarang mamanya untuk mendekatinya. Mamanya pun keluar kamarnya dengan mencium pipinya dan ucapan selamat malam. Mamanya memaklumi kesedihan anaknya dan memahami keinginan anaknya. Sepanjang malam ia merenung, merenung dan selalu merenung. Mamanya pun mengatakan kecemasannya kepada papanya. Dan berunding untuk mengajak angel liburan ke Puncak untuk mencari suasana baru.

Keesokan harinya mama Angel membangunkan Angel di kamarnya dan menyuruhnya bergegas untuk liburan. Sontak Angel terkejut dengan pernyataan mamanya itu. Angel juga disuruh membawa baju yang banyak karena berencana liburan selama 2 bulan. Angel menolak karena ia juga harus kuliah dan enggan berangkat tanpa kekasihnya.

“Mama bukan bermaksud untuk membuat kamu terlupa dengan Aji, tapi masa iya kamu akan selalu menangis dan menangisi kepergian Aji? Lalu kalau kamu tidak bisa mngikhlaskan kepergiannya, apa bisa Aji disana tenang disana? Mama ingin kamu bisa ikhlas dengan kepergian Aji, dan mama juga tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi. Tapi, kita juga harus berpikir bahwa hidup ini akan terus berjalan dan harus dihadapi dengan siap” ucap mama sambil memeluk tubuh mungil anaknya.

Sementara itu Angel menangis dan mencerna dalam hatinya ucapan mamanya itu. Tak dapat dipungkiri, hati kecil Angel masih belum bisa melepaskan kepergian Aji. Namun, seperti hal aneh yang tadi malam terjadi padanya, membuat angel ingin tidak menangis lagi mengingat Aji dan berusaha mengenang Aji. Angel langsung mengusap air matanya dan bergegas menyiapkan barang-barangnya dan menyuruh kakanya, Fino untuk memindahkan ke mobil. Dan menyuruh kakaknya untuk ikut liburan juga. Namun, kak Fino menolak karena ia harus kuliah dan akan menghadapi ujian. Mendengar permintaan Angel yang manja membuat kak Fino berubah pikiran. Tanpa berkata apa-apa Fino langsung bersiap-siap. Baginya melihat adiknya kembali menjadi periang adalah hal terindah dan tak apalah ia melewatkan urusan kuliahnya asalkan adik kesayangannya itu bisa tersenyum riang kembali.

Mereka sekeluarga pun bersama-sama ke Puncak tanpa ada beban. Bagi keluarga Angel, membuat Angel kembali seperti dulu adalah hal yang sangat berharga mengingat kepergian Aji telah membuat Angel yang periang berubah bagaikan bunga yang layu. Berbeda dengan benak Angel, ia masih tetap sedih dengan kepergian Aji. Namun, ia tak ingin menunjukkan kepada keluarganya akan hal itu. Ia ingin menjalankan apa yang telah dijalankan oleh Aji kepadanya. Ia ingin orang lain bahagia meskipun berbalik dengan perasaannya yang sesungguhnya.

Di Puncak mereka akan menempati vila keluarga yang biasanya digunakan liburan. Sesampainya mereka disana, bergegaslah untuk memindahkan barang dimobil ke dalam vila. Sudah lama mereka tidak berkunjung ke vila, mereka pun sangat merindukan suasana dingin Puncak

Kreekkk!!! Bunyi pintu yag dibuka papa Angel dan mereka pun sangat senang sekali dengan keadaan daerah Puncak yang mereka rindukan itu. Angel pun tak ingi berlama-lama berdiam di vila, selesai ia membereskan tasnya dan langsung jalan-jalan ke perkampungan setempat bersama kak Fino. Angel terkagum melihat panorama danau yang indah dengan restoran apung di tengah danau. Kak fino yang sedang lapar mengajaknya ke tempat itu. Sesampai disana kak fino langsung memasan makanan. Angel langsung duduk dan termenung memikirkan aji. Tak terasa air mata Angel membasahi pipinya. Dilihatnya kakaknya yang menuju ke arahnya dan segera ia menghapus air matanya agar kak Fino tidak mengetahui bahwa adiknya itu masih bersedih.

Setelah kak fino datang membawa minuman, angel langsung minum. Dan tiba-tiba angel melihat pada satu arah dan bibirnya berucap “aji”. Kak fino pun mengikuti pandangan angel, dan terkanget meilhat seseorang laki-laki menyerupai aji datang bersama seorang gadis yang judes.

Angel pun langsung menghampiri laki-laki itu dan teriak histeris. Membuat seisi restaurant berpaku padanya. Laki-laki itu pun marah dan menghina angel. dan angel pun langsung pergi meninggalkan semuanya. Kak Fino pun tak tega melihat Angel yang sedang menangis dan dihina oleh dua orang. Ia pun terbawa emosi dan tanpa sadar menceritakan apa yang sebenarnya kepada laki-laki itu. Laki-laki itu mengenalkan dirinya yang bernama Gilang. Wanita yang di sebelah Gilang itu pun tampak tak senang dan selalu menatap Fino dengan sinis. Berbeda dengan Gilang, dia terus memikirkan keadaan Angel setelah kejadian tadi. Ia merasa bersalah telah bertindak kasar kepada Angel yang sedang bersedih. Angel yang saat itu bersedih serta sakit hati, langsung menuju vila dan mengunci diri di kamarnya. Kak Fino dan orangtua Angel pun khawatir akan kondisinya. Namun, mereka memberi waktu kepada Angel untuk menenangkan diri sendiri.

Keesokan harinya Gilang berniat untuk mendatangi vila hunian keluarga Angel. Gilang selalu merasa tidak enak jika mengingat kejadian kemarin bersama angel. Ia telah menyakiti hati wanita dan ingin segera minta maaf. Ia mendatangi vila dan dibukalah pintu yang ia ketok oleh kak Fino. Sementara Fino masuk memanggil Angel, mamanya pun keluar untuk menikmati udara pagi. Dan sontak mamanya kaget melihat sosok mirip Aji. Gilang pun menyapa mamanya Angel. akhirnya mamanya Angel mengetahui kalau putrinya itu menangis karena adanya Gilang yang persis dengan Aji. Kemudian datanglah Angel di hadapan Gilang, dan ia segera meminta maaf kepadanya. Angel pun tidak menjawab apa-apa, ia hanya terdiam menatap lelaki itu. Setelah lama ia tak memandang wajah Aji, sekarang ia bisa melihat wajah itu. Sebagai petanda permintaan maaf gilang, dia mengajak Angel keluar untuk makan malam, dan tanpa menunggu jawaban Angel, ia langsung bergegas meminta ijin pulang dan akan menjemput Angel nanti.

Angel merasa sangat senang. Aji seakan-akan hadir kembali mengisi hari-harinya melalui Gilang. Seisi vila menggoda angel karena angel terlihat kasmaran karena adanya gilang. Namun, di hati angel tidak ada yang mampu menggantikan aji.

Tin tin!!! klakson mobil Gilang di depan vila Angel. Angel pun bergegas keluar dari rumah karena waktu sudah menunjukkan pukul 19.30, waktu Gilang menjemputnya. Pintu vila dibuka, tampak wanita cantik keluar dari sana, Angel itu dia. Gilang pun terpesona dengan kecantikan Angel, dan ditataplah dalam-dalam Angel olehnya. Angel dibuat malu oleh tatapan Gilang.

Angel takut jika kekasih Gilang yang dibawanya di restoran kapan hari itu marah karena mengajak Angel keluar. Akhirnya Gilang menjelaskan bahwa wanita itu bukan kekasihnya. Wanita itu bernama Olin, dia adalah anak dari teman orangtua Gilang yang akan dijodohkan dengannya. Namun, Gilang tidak suka dengan Olin. Angel pun menghina canda Gilang karena memiliki kekasih seperti Olin yang judes.

Mereka pun akhirnya sampai di tempat makan. Anehnya, baru pertama kali berbincang Angel sudah diperlakukan seperti ratu oleh Gilang. Mereka pun saling bercengkerama untuk mengenal satu sama lain. Angel berderai air mata ketika menceritakan tentang Aji yang mirip dengan Gilang. Tak diam Gilang memperhatikan curahan hati Angel, ia menghapus air mata Angel. Angel pun semakin tersipu melihat tingkah Gilang, ia merasakan sosok Aji pada diri Gilang. Karena merasa risih dengan bekas air mata tangisnya, Angel pun berpamitan kepada Gilang ke toilet untuk membersihkan mukanya.

Ponsel angel yang tertinggal di meja berdering karena ada alarm. Dalam ponsel tersebut muncul foto Angel bersama lelaki serupanya. Gilang bergumam dalam hatinya karena ia menyadari jika ia persis dengan almarhum kekasih angel. Setelah membersihkan mukanya, Angel pun kembali duduk dan bercengkrama lagi dengan Gilang. Angel langsung memeriksa handphone, ia mengira jika ada panggilan untuknya. Namun, ternyata alarm pengingat tanggal jadiannya dulu dengan Aji. Angel menghela napas panjang setetelah memperhatikan ponselnya. Gilang bertanya kenapa Angel terdiam. Dan Angel pun mengatakan bahwa hari ini adalah anniversary dia dan Aji. Namun Angel tersenyum menandakan kekuatannya menghadapi semuanya dan Gilang juga tersenyum melihat kehebatan Angel.

Setelah mereka selasai semuanya, Gilang pun mengantarkan Angel pulang ke vila. Angel pun tersenyum dan Gilang pun semakin jatuh hati dengannya. Ia langsung masuk ke dalam vila dan disambut oleh ucapan-ucapan halus keluarganya. Ia hanya tersenyum malu mendengar candaan mereka.

Pagi hari saat Angel tengah berolah raga di depan vila, Gilang menghampirinya. Ia mengajaknya pergi ke danau untuk menikmati udara segar. Tanpa berpikir panjang, Angel yang sedang kasmaran dengan Gilang langsung pergi bersama Gilang tanpa ganti baju terlebih dahulu. Ia langsung diajak gilang ke restoran apung. Dan mereka makan berdua disana.

Tiba-tiba, brakkkk!!!! Tangan Olin menggubrak meja makan mereka dan mengacaukan suasana. Olin m arah karena gilang bersama wanita lain. Namun, Gilang hanya terdiam dengan wajah tak bersalah. Olin menatap Angel dengan mata sinis dan menghinanya. Gilang pun tak tinggal diam melihat Angel yang dicintainya dihina oleh Olin dan dengan tegas Gilang mengatakan bahwa dirinya sudah menjadi milik Angel. Angel pun bingung terhadap penjelasan Gilang karena ia merasa tidak ada hubungan istimewa apapun dengan Gilang. Sementara itu, Olin makin marah tetapi bingung jika status mereka dikaitkan dengan kejadian kemarin..

Angel dan Gilang pun meninggalkan Olin yang sedang panas hati. Mereka menaiki perahu dan ingin mengelilingi danau berdua. Dalam benak Gilang, Angel merupakan pribadi yang asyik dan ceriah serta bisa membuat suasana damai. Berbeda dengan Olin yang selalu membuatnya tidak enak hati dan selalu ingin marah. Angel pun tak mengerti apa yang ia rasa terhadap Gilang. Gilang akhir-akhir ini mampu membuat semangat hidupnya bangkit setelah tiadanya Aji dan merubah dunianya yang pernah kelam. Gilang meminta maaf kepada Angel atas ucapannya kepada Olin yang mengaku sebagai kekasihnya. Angel menanggapinya dengan senyuman dan menyurhnya untuk mengatakan kepada orangtuanya tentang apa yang ia rasa terhadap Olin. Gilang hanya tersenyum dan memperhatikan Angel, “Iya, tapi nanti. Setelah aku mampu mengisi ruang hati kamu”, ucapnya.

Angel sangat terkaget mendengar pernyataan Gilang. Hatinya berdebar kencang seketika itu. Ia hanya tersenyum, tersipu malu melihat Gilang yang memperhatikannya. Mereka pun menikmati pemandangan danau yang indah berdua. Betapa bahagia hati Angel dapat melihat kembali sosok Aji yang ia rindukan itu. Namun, Gilang saat itu bingung. Ia ingin mengutarakan perasaannya kepada Angel tapi ia tak berani. Saat itu langit tampak cerah, namun berubah menjadi kelabu.

Segeralah Gilang mengayuh cepat perahu agar mereka tidak terjebak hujan di tengah danau. Hujan pun langsung turun dengan deras, tapi untungnya mereka berdua telah di dalam mobil. Akhirnya Gilang mengantarkan Angel kembali ke vila. Hujan masih tetap mengguyur Puncak tiada henti. Sesampai di vila Angel, Gilang mengantarkan Angel di depan pintu rumah dengan menggunakan payung. Membuat angel semakin terpana akan gilang.

Pagi yang cerah dengan hangatnya sinar surya yang hangat menambah eloknya pemandangan Puncak. Hati Angel yang berbunga-bunga karena Gilang. Dan Gilang yang sedang dipikirkannya hari itu main di vilanya lagi. Gilang masuk kedalam suasana keluarga Angel yang harmonis itu dan bercengkrama. Melihat keseriusan Gilang dan Angel, kedua orangtua Angel pun meninggalkan mereka berdua di ruang tengah. Hati Gilang berdebar sangat kencang dan mendorong dirinya untuk mengatakan perasaannya kepada Angel. Begitupun juga dengan Angel. Hatinya dag dig dug dan nafasnya pun tak terkontrol ketika memperhatikan gilang yang berada di dekatnya itu.

“Angel, aku sayang sama kamu. Bolehkah aku mengisi ruang hatimu dengan kasihku?”, ucap Gilang dengan menatap dalam Angel.
Angel pun sangat terkejut terhadap pernyataan Gilang itu. Hatinya pun semakin berdebar dan ia pun tersenyum. Hatinya berbunga-bunga mengetahui bahwa Gilang memiliki perasaan yang sama sepertinya. Tanpa mengatakan apapun Angel langsung mengiyakan pernyataan gilang melaui senyumnya.

Mendengar teriakan Fino yang menggoda mereka, kedua orangtuanya pun langsung menuju ruang tengah dan melihat kebahagiaan Angel. Mereka semua merasakan bagaimana bahagia Angel bisa tertawa sebahagia ini tanpa ada kepedihan setitik pun.

“Namun, cintailah aku sebagai Gilang, bukan sebagai Aji”, terus Gilang. Ucapan terakhir Gilang menggetarkan hati Angel.
“Kamu berbeda dengan Aji. Aji akan tetap menjadi Aji. Dan Gilang tidak akan menjadi Aji. Aku akan mencintai Gilang sebagaimana kasihku pada Gilang”, ucap Angel.
Membuat mereka saling meyakini perasaan yang sesungguhnya. Mereka pun hidup bersama dengan bahagia. Meskipun tergolong perkenalan yang cepat, tapi hati mereka telah menjadi satu dan merasa seperti sudah mengenal lama.

SELESAI

Cerpen Karangan: Eka Indriani
Facebook: Ekya Okprayeon

Cerpen Cinta Dua Sisi Berbeda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siti Nurbaya Metropolitan

Oleh:
“Plis, Ma, Pa,” rengek perempuan itu sambil melirik kedua orangtuanya secara bergantian, “Kalila bukan hidup di zaman Siti Nurbaya!” katanya sambil bangkit dari meja makan, meninggalkan kedua orangtuanya yang

Bukan Karena Buku Diary

Oleh:
Matahari sudah membumbung tinggi. Langkah seorang siswi yang semula gemulai tiba-tiba berubah sangat cepat. Namanya Dian Anggraini, Sekbid kesehatan OSIS. Ia harus menemui ketua osis di ruang UKS yang

Kukejar Mentari

Oleh:
Siang itu, di sebuah rumah tua dan usang. Di tengah ruangan berdirilah seorang lelaki berusia 20 Tahun. Memiliki mata yang sesikit besar, hidung mancung, kulit putih, tubuh tegap badan

Bukan Yang Dulu

Oleh:
“Udah gak usah diliatin terus, dulu aja disia-siain” ucap zidan sambil menepuk pundak iqbal yang sedari tadi asyik memandangi seorang perempuan yang sedang asyik dengan laptopnya. “Apaan sih lo?”

Why You Love Me?

Oleh:
“Fe, mau jadi pacarku?” sejenak aku tertegun lalu mendekatinya “untuk apa kamu mencintaiku, tapi umurku sudah tidak lama lagi?” ia mengeleng-geleng “Aku cinta sama kamu, karna kamu itu sempurna.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *