Cinta Ibarat Kupu-Kupu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 March 2014

Cinta ibarat kupu kupu, semakin dikejar semakin menghindar. Tapi, jika kau biarkan terbang maka ia akan menghampirimu. Begitulah cintaku ini tak menentu. Walaupun aku tak pernah mengejarnya namun dia tak juga datang padaku. Tak ada seorang pun yang mencintaiku, terkadang dunia ini memang tak adil. Ataukah hanya kita saja yang belum tau letak keadilan Tuhan.

Aku adalah seorang gadis berkacamata bulat rambut dikepang dua, dan mungkin memang tak terlihat menarik sedikitpun, di sekolah aku dianggap cewek culun, jelek, huh ku tak peduli apa kata mereka. Aku menyukai seorang kakak kelasku. Dia cowok terpopuler, sedangkan aku hanyalah sosok cewek yang tak ada istimewanya apapun, hanya sedikit yang mampu mengenaliku. Hanya Ana dan Beti yang mampu akrab denganku.

Saat istirahat banyak kuhabiskan untuk memandangi Farhan, kakak kelas yang kutaksir, aku memandanginya melalui jendela pada perpustakaan di lantai dua gedung sekolahku. Dari sini terlihat Farhan sedang bermain sepak bola dengan teman temannya. Banyak sekali supporter teamnya dia, mayoritas mereka cewek. Ya Farhan memang seorang Idola, yang berbeda jauh denganku, aku hanyalah Cewek Biasa-biasa saja.

Dengan melihatnya saja aku sudah bahagia, bagaimana kalau dia melihat ke arahku. Argh.. sepertinya tak mungkin dan belum pernah terjadi. Apalagi memilikinya, oh sungguh mustahil.

“Sa! Ngapain lu bengong?” Panggil Ana memecah kesunyian siang ini. “Biasa Na, lu tau sendiri kan gue lagi ngapain?” “Iya iya, lu nggak boleh terus terusan begini, toh dia nggak pernah lirik elu, mendingan lu move on aja!” Terocos Ana. “Move on gak segampang balikin telapak tangan, neng…” Sergahku. “Tapi lu harus usahain move on!” Sangkal Ana tak mau kalah dariku. “Mana mungkin aku bisa melupakannya.” “Itu terserah kamu deh Sa, gue capek lah debat sama elu, ujung ujungnya gue harus ngalah lagi” Ucap Ana pasrah, dibarengi gelak tawa kami berdua. Lalu Ana mengajakku turun menuju ke kelas.

“Jadi gimana biar dia bisa melirikku?” “Ya kamu harus merubah penampilanmu itu Raisaaa!” Ujar Beti penuh semangat. “Kamu mau bantu aku?” “Dengan senang hati, gue kan sahabat elu.” “Makasih iya sebelumya.”

Pulang sekolah ini aku bertemu dengan Farhan, dia sendirian sedang memotret pemandangan sekitar, dia memang hobi memotret. “Awaaass kak! belakangmu mobil!” Teriakku khawatir. Untungnya Farhan mendengarku dan segera menepi. “Thanks ya Sa!” Ucap Farhan sambil tersenyum lebar memamerkan sederet giginya yang berkawat. Oh dia tau namaku, dia tau namaku, Horeee! Jeritku dalam hati. “Kenapa ngelamun gitu? Makasih dah ngingetin.” Tanya Farhan membuyarkan lamunanku. “Eh iya kak.”

Aku pulang dengan hati berbunga bunga, dan malamnya kuceritakan pada Ana dan Beti perihal Farhan Tau namaku. Mereka terkejut dan ikut senang mendengarnya. Sedangkan aku memang masih sedikit tak percaya.

Hari ini ada pemetasan drama di sekolah, aku berperan menjadi snow white. Tentunya aku akan berkostum seperti snow white. Kulepaskan kacamata bulatku yang tak pernah menyingkir dari wajahku, dan ku lepas ikatan tali rambutku, lalu temanku mengguntingkan rambutku sebahu. “Wow… kamu cantik banget Sa!” Ujar Beti setelah melihat penampilan baruku ini. Dia menyuruhku berkaca, ternyata aku berubah drastis. Ana dan Beti terus terusan memujiku hingga rasanya ku seperti menembus atmosfer.

Saat pementasan drama ku memerankan snow white dengan penuh penghayatan hingga mirip seperti aslinya. Ketika dalam adegan memakan apel beracun, tak disangka, pangeran yang datang menyembuhkan ‘snow white’ adalah Farhan! Ini seperti mimpi, mimpi yang kenyataan. Atau itu hanya ilusiku dan sebenarnya dia bukan Farhan, dan kenyataannya memang bukan Farhan pangeran itu. Kulihat Farhan hanya duduk di kursi penonton, sambil bersama kamera digital kesayangannya. Entahlah dia memperhatikanku atau tidak.

Di balik panggung pertunjukan, ku mendapatkan sepucuk surat dan apel yang tergeletak di atasnya. Isi suratnya begini:

“Aku telah mencicipi apel ini, kurasa ini bukan apel beracun..”

Kulihat apelnya memang terlihat sudah digigit sedikit. Tatapan mataku menuju ke sampingku, ternyata ada Aldo, cowok jelek yang sedang makan apel merah. Ah mungkin dia yang nulis surat itu, gumamku dalam hati. Aku pun berlalu menuju ke kantin.

“Eh itu anak baru ya?” “Ah aku juga tak tau, bisa jadi!” Mereka semua yang ada di kantin menatapku. “Eh dia manis sekali, siapa dia?” “Dia snow white tadi.” “Wow.. kamu siapa?” tanya seorang cowok padaku. “Aku Raisa.” “Raisa siapa aku kok nggak kenal sebelumnya? Kamu murid baru ya?” Tanyanya lagi. “Bukan, aku Raisa yang dulunya sering dijuluki culun.” “Apaa? yang benar saja?”. Aku tak menggubris lagi pertanyaan seperti itu.

“Hai Sa, kenalin ini murid baru, dia temen gue namanya Dika dan dia suka sama lu!” Ucap Farhan kepadaku. Aku diam seribu bahasa, lalu menatapnya yang kutahu saat itu sedang menatap mataku. “Eh.” Lalu ku pergi meninggalkan mereka berdua tanpa basa basi lagi.

Beti dan Ana pun membuntutiku. “Snow white yang cantik, ngapain kamu nggak suka murid ganteng macam Dika?” Tanya Ana. “Gue sukanya sama Farhan, ngapain dia nggak bilang kalau dia cinta aku??” “Lupakan Farhan, kamu move on sama Dika aja!” Raisa pun berpikir, dan tetap saja dia tak mau move on.

Hari ini Valentine’s Day, banyak sekali cowok cowok yang ngasih coklat pada Raisa, dia hanya mampu berucap terimakasih ketika menerima semua coklat itu. Tiba tiba Farhan datang membawa bunga mawar putih berjalan menuju ke arahnya. “Ini buat kamu Sa.” “Makasih banyak ya Kak.” “Oh ini dari temanku, Dika yang naksir sama kamu.” “Eh, maaf kak.” Dia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi sambil berlari kecil.

“Yang sabar ya Sa, Farhan malah nggak ngasih kamu apa apa.” “Iya Na, gue harus move on kali ya?” “Eh jangan memaksakan diri deh Sa kalau masih suka sama Farhan.” Esok harinya Dika menembakku, namun ku menolaknya, dia terlihat sedikit kecewa padaku.

Saat bersepeda sore, kulihat Farhan sedang duduk di tepi danau, sebuah pemandangan tak biasa. Ternyata dia menitikkan air matanya. “Kak kok di sini sendirian, dan nangis pula?” Tanyaku padanya. “Tidak kok” katanya sambil mengusap matanya. “Dek sebenernya kemarin aku yang gigit apel itu dan ninggalin surat itu, aku kagum sama peranmu sebagai snow white yang keracunan apel, saat kumakan apel itu tak beracun kok.” ucapnya disambut gelak tawa, dan ini membuat perasaanku semakin menjadi jadi. “eh? ku kira Aldo yang mengigit apelnya.” “Kamu suka Aldo kah?” “Aku itu cuma suka sama satu orang.” “Siapa?” Tanya Farhan penasaran. Kutarik nafasku dalam dalam, dan kuucapkan “Cuman kak Farhan!”

“Maaf dek ya.” “Maaf kak aku lancang, kenapa kakak minta maaf padaku?” “Aku telah bersalah, kenapa aku menyiakan cintamu sejak setahun yang lalu, dan aku tak mengetahuinya juga.” “Kakak tau dari mana kalau aku mencintai kakak dari setahun yang lalu?” “Aku mengetahuinya dari Ana yang berbicara padaku, katanya kamu memimpikanku.”

“Ah sudah lah kak, tak usah dibahas.” “Ini dek buat kamu.” Kata Farhan sambil menyodorkan foto fotoku. “Hah jadi kakak suka motret aku diam diam ya selama ini?” “iya hehehe.” “Makasih banyak ya kak.” “Iya. Maukah kamu jadi pacarku?” Ucap Farhan terang terangan. “Apa kak? aku gak salah denger kan?” “Maukah kamu jadi pacarku?” Kata Farhan mengulangi kalimatnya. “Iya. mana mungkin aku menolakmu kak, I love You…” “Love you too.”

Cerpen Karangan: Lena Sutanti
Blog: lena-sutanti.blogspot.com

Nama : Lena Sutanti.
Facebook: www.facebook.com/lena.sutanti. add gue ya
Kelas 8, di SMPN 1 Salaman

Cerpen Cinta Ibarat Kupu-Kupu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Moon

Oleh:
Aku Valeryan, aku adalah pelajar dari salah satu sekolah yang ada di Jakarta. Aku mempunyai sahabat perempuan, ia adalah Valery. Ia menemaniku kemanapun aku ingin pergi, menemaniku disaat aku

Warna Warni Hidup

Oleh:
Namaku Nei, Aku saat ini sedang study di salah satu Pondok Pesantren di Jakarta walaupun aku tidak mondok tetapi aku masih tetap bisa mendapat pelajaran Agama Islam banyak sekali.

Bintang Harapan

Oleh:
Jiwaku masih menari di tengah indah malam. Anganku menerawang jauh, mendendangkan suara alam. Aku merasakan keindahan ini sangat sempurna. Hampir saja diriku terjatuh. “Mi…” panggil suamiku. “Iya Bi…” sahutku

Karena Saya Sayang Kamu

Oleh:
Maria menekan tombol telepon beberapa kali. Terdengar bunyi tut-tut beberapa kali, tapi ia tetap menunggu sambutan dari sana. “Halo,” terdengar suara perempuan separuh baya. “Maaf, Tante. Bisa bicara dengan

Awalnya Sih Biasa Saja

Oleh:
Rizal.. Orang-orang biasa memanggilku. 15 belas tahun yang lalu, bayi dari keluarga sederhana lahir. Memang pengalamanku banyak, tapi yang paling indah adalah di saat aku pindah sekolah. Aku pindah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Cinta Ibarat Kupu-Kupu”

  1. Laras says:

    Sebagian ceritanya, lebih tepatnya yg bagian atas itu mengutip dr film thailand kan? 🙂 pemain nya mario maurer. Judulnya crazy little thing called love.

  2. Sarah Saferina says:

    gila enak bgt gw kapan gt ya hahaha:(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *