Cinta Itu Harmonis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 3 February 2016

Lautan membentang luas di tanah negeriku ini. Biru airnya mengalahkan indahnya langit yang berseri. Tubuhku seperti melayang tertiup angin laut yang dingin. Hal-hal seperti ini mungkin sudah biasa bagiku. Menangkap ikan menjadi rutinitasku setiap hari. Aku terbilang cukup handal dalam menangkap ikan. Biasanya saat melaut aku ditemani oleh ayahku. Tapi kali ini aku harus melaut sendirian karena ayahku terbaring sakit.

Burung berzikir merdu melewati gumpalan awan. Alunan nadanya membuat Mentari tersenyum lebar. Begitu damainya. Tanpa ada geremang pergaduhan insan-insan yang tidak pernah puas. Aku heran mengapa mereka meinginkan kebahagiaan dengan jalan yang begitu sulit. Padahal Tuhan sudah memberikan keindahan alam yang begitu menakjubkan. Atau karena hanya ingin mengangkat dagunya setinggi angkasa dengan harta tersebut. Ya sudah pasti disanjung oleh orang lain. “hahaha..” lihatlah semut mereka hanya memiliki satu harta saja sudah bahagia. Yaitu keluarga.

Alat pancingku mulai bergerak-gerak. Sepertinya perutku sebentar lagi tidak keroncongan. Ku putar sekencang-sekencangnya sembari menarik alat pancing itu. Tarik dan tarik. Ternyata yang ku dapatkan adalah satu ikan Gerapu yang begitu cantik. Aku begitu salut Gerapu ini tidak memberontak. Mungkin ia sudah siap bertemu dengan sang Khalid. Sudah berkali-kali perutku berbunyi tembak AK-47 saja. Ini tandanya cacing-cacing di dalam perutku sedang demo meminta makanan. Aku segera menuju bibir pantai untuk manyantap ikan Gerapu ini.

Mentari mulai bergeser tiap detiknya. Beberapa burung sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Tampak gelombang air laut menghantam bebatuan lebih keras. Pasir pantai yang berselimut jingga menyambut aku dan kapalku. Nampaknya gerapuku sudah tidak bergerak-gerak lagi. Ya.. inilah dunia, semuanya pasti saling memerlukan. Dan aku saat ini sangat memerlukan gerapu ini. “Maaf gerapu, nasi sudah menjadi bubur.” kata Batinku. Ku ambil beberapa kayu untuk dijadikan keranda gerapu itu. Begitu hangatnya detik ini. Menyantap gerapu bakar ditemani sunset dari tanah anarki. Terang menuju kegelapan. Waktunya orang-orang kembali berkumpul bersama dengan keluarga. Sampai jumpa mentari selamat datang bulan.

Katanya percintaan di remaja itu rumit. Bagaikan bermain ular tangga. Jika tidak hati-hati maka kita harus siap-siap terjerumus ke angka paling sedikit karena termakan ular tersebut. Maka dari itu aku tidak ingin masuk ke dalam dunia percintaan remaja. Sudah sakit dibuang lagi. Tapi ku pikir mengapa para remaja zaman sekarang begitu ingin sekali masuk ke dalam dunia itu. Anehnya mereka berjuang layaknya sosok Thomas Alfa Edison.

Mungkin dipandang dari kegigihan Thomas untuk menciptakan lampu yang sampai melakukan percobaan sebanyak 9 ribu kali. Dan berhasil ketika melakukan percobaan ke-10 ribu kali. Jika dipersingkat anak remaja zaman sekarang selalu bermotto “Pantang Menyerah” untuk hanya mendapatkan status bbm orang lain berlabel namanya. Hanya itu, “hahaha bagiku itu sangat lebay” batinku. Ketika kita mencintai seseorang seharusnya kita anggap ia adalah sebuah bunga yang belum ditanam dan hanya berupa pupuk. Lalu bagaimana kita harus menanam dan memperindah bunga tersebut, ya.. pikir dong, KAN SUDAH BESAR.

Saat ini aku duduk di bangku kuning dekat Lab IPA. Di samping kananku ada Rifai teman karibku. Teman perjuanganku. Rifai terkenal dengan gombalannya. Jika sudah menggombal buaya pun akan tersipu-sipu. Tak jarang gadis-gadis menyapanya. Saat disapa alis tebalnya spontan naik dan senyum pipitnya mendebarkan pesona. Ya pasti saja gadis-gadis langsung kelepek-kelepek. Dedaunan dekat lab bergerak kencang seketika. Udara menjadi dingin. Wajah langit tiba-tiba saja berdandan gelap. Sedikit-sedikit air berjatuhan dari atas langit. Makin deras dan makin deras.

Murid-murid sekitar itu berlarian memasuki kelas-kelas. Mereka melihat hujan seperti melihat bom berjatuhan saja. Oh mungkin karena mereka semua orang kaya sangat anti dengan namanya kotor dan basah. “hahahaha..” tawa kecilku. Begitu juga Rifai yang sibuk lari tebirit-birit masuk ke dalam kelas. Lihatlah diriku jalan setenang mungkin masuk ke dalam kelas. Gemuruh teriakan tiba-tiba datang dari ujung dekat kantin. “Nazma, Nazma, Nazma!!” suara yang ku dengar dari keramaian saat diriku mulai mendatanginya.

Sepertinya ada hal luar biasa yang sedang terjadi. Langkahku semakin cepat dan menerobos kerumunan. Ternyata.. seorang gadis cantik mendebarkan jantungku menari-nari di tengah guyuran air hujan. Mataku tidak sanggup berkedip melihat tubuh gadis itu berputar-putar kegirangan. Begitu kuatnya percaya dirinya. Baru ku temukan gadis yang begitu sensasional. Sontak beberapa siswa juga ikut menari-nari riang dengan gadis itu. Sesekali ia kibaskan rambut hitamnya, yang membuat bulu kudukku merinding semua. Sulit ku akui tapi inilah kenyataannya. Rasanya benih cinta mulai tumbuh.

ADVERTISEMENT

“HEY!!! masuk kalian semua murid..!!!!” teriak dari kejauhan Bu Ida yang memerintahkan seluruh murid masuk kedalam kelas. “ayo Ren kita kembali ke kelas, lihatlah Bu Ida sudah marah-marah..” ajak Rifai. Murid-murid spontan lari tebirit-birit. Kesenangan lenyap seketika. Sialnya bagi mereka yang sudah basah kuyup. “oke-oke..” kataku. Aku dan Rifai segera pergi masuk ke dalam kelas. Tampak Bu Ida sudah seperti dracula yang sedang haus mangsa. Pikiranku galau tak menentu. Semua pelajaran yang diterangkan oleh guru hanya menjadi angin sepoi-sepoi bagi telngaku. Di pikiranku hanya memikirkan gadis tersebut. Ku rasa nama gadis itu ialah Sintia. Tapi aku harus mencaritahu lebih jelas gadis itu. Ku kuatkan tekadku, besok aku akan berusaha mencari gadis itu dan mengajaknya berkenalan.

Alunan gitar ditambah biola berdengung dari studio musik. Aku seperti terhipnotis. Gitar dan biola sudah menjadi alat musik penenang jiwa seseorang. Tanpa pikir panjang segera ku hampiri studio musik. Ku buka dua pintu cokelat tua setinggi 2 meter. Ku pandang kursi-kursi merah berjejer rapi menghadap panggung. Ku lihat beberapa orang duduk menikmati pertunjukan. Ku buka lebih dalam pintu itu. Pria gagah berambut klimis memainkan sebuah gitar classic berwarna cokelat tua. Aku pun melangkahkan kakiku lebih ke dalam. Seorang gadis cantik berambut panjang sedang memainkan sebuah biola dengan hikmatnya.

Seluruh penonton seperti melayang ke langit ketujuh. Gadis itu seperti tak asing bagiku. Ku kedutkan jidatku dan memfokuskan mataku ke satu pandangan. Yaitu gadis itu. Sepertinya dialah gadis yang selama ini ku cari dan ku pikirkan. Mataku berkaca-kaca terharu melihat tangannya bergerak ke depan dan ke belakang memegang tongkat menggesek lembut senar biola. Ku dudukkkan tubuhku di salah satu bangku hangat rapi itu. Ku nikmati setiap nada dari permainan mereka. Daguku menyender di atas tumpuan salah satu tempat duduk. Tepat pukul 2 siang pertujukan selesai. Gemuruh tepuk tangan berdengung di sisi studio. Para penonton ke luar dari studio layaknya pasien yang sudah sembuh total dari kanker ganas saja.

Aku segera menghampiri Nazma si gadis pujaanku. “aku balik duluan ya..” kata pria berambut klimis. “oke hati-hati ya..” ujar Sintia sembari mengemas barang-barangnya. “Nazma..” panggilku. Sintia melihatku dengan senyum manisnya. “iya ada apa ya?” Tubuhku beku kaku secara cepat. Hanya senyum kecil ku tampakkan. Lama-kelamaan ku lawan rasa gerogiku ini.

“nama kamu Nazma kan?” tanyaku. “iya..” jawabnya.
“perkenalkan namaku Rendi..” ujarku. Nazma tertawa kecil. Sepertinya ada yang aneh.
“hahaha ya Allah.. aku udah kenal sama kamu.. kamu si anak laut itu kan?” ungkap Nazma.
“eee, ya gitu” kataku malu-malu.
“aku ingin sekali memancing di laut.. kamu mau gak menemaniku memancing di laut?”
Ini mimpi atau tidak. Aku heran dengan Nazma. “ee terserah sih, kamu mau sekarang?” tanyaku.
“mau dong.. kebetulan aku lagi tidak sibuk..” ujar Nazma.

Hatiku berpesta-pesta kegirangan. Ini akan menjadi hari yang indah. Sembari membawa biola kesayangan Nazma kami beranjak ke pantai. Menggunakan perahu spesial pemberian ayahku kami pergi melaut. Kebetulan mentari sedang mekarnya. Tapi angin kencang tetap tertiup. Rambut kami tersipah-sipah karena angin tersebut. Ku bantu Nazma dan biolanya naik terlebih dahulu. Perahuku pun sudah berada di badan air. Segera ku naik dan menghidupkan mesin perahu itu. Layaknya menstarter bajaj ibukota.

Kami arungi lautan bergelombang. Dan biru airnya makin mekar setiap kali kami mengarunginya lebih jauh. Walau panas Nazma tetap tampak ceria. Sembari memajamkan mata dan merentangkan tangannya. Begitu spesialnya Nazma. Ku bawa Nazma ke tempat di mana aku sering bersantai. “sebentar lagi akan aku kenalkan kamu dengan teman-temanku” kataku. Nazma melihatku dengan heran. “siapa?” tanya Nazma. Aku dengan gaya memandang ke depan dan bergaya tenang sembari memegang kemudi berkata, “adalah..” Lalu Nazma membalikkan pandangannya ke depan menikmati burung-burung mengabur lewat. Oh indahnya akhirnya bisa merasakan cinta.

Laut mulai tenang. Aku pun mengeluarkan alat pancingku dan satu jaring besar. Sementara Nazma memainkan biolanya. Ia memainkan instrument “river flows in you” begitu merdunya. “Rendi, ini tempatnya ya?” Sembari menghentikan perahu. “haha bagaimana mantap kan?” Nazma memandang bolak-balik dan kembali ke sisi awal. Ia melanjutkan bermain biola kesayangannya.

Sembari menunggu kedatangan teman-temanku. Ku ceritakan beberapa cerita hidupku kepada Nazma. Mulai dari kisah keluargaku, hobiku, cita-citaku, dan masih banyak lagi. Kami tertawa riang di setiap lika-liku pembicaraan kami. Nazma pun tak mau kalah. Ia juga menceritakan beberapa tentang dirinya. Seronoknya kami sampai tidak tahu sudah berapa lama kami berada di lautan tenang. Nazma pun juga mengajarkanku teknik-teknik bermain biola. Aku senang dia senang.

Gerakan mulai berkelabat pada jaring dan alat pancing kami. Sepertinya teman-temanku sudah datang. “Nazma sebentar lagi kamu akan bertemu dengan teman-teman karibku..” Nazma tertawa ria sembari membantuku menarik tali pancing dan jaring. “dan ini dia.. GERAPU!!!!” Nazma terdiam kagum melihat banyak sekali gerapu terkumpul di perahu. “mereka yang selama ini menemaniku di saat aku kesepian, mereka yang selalu menjadi pendengar terbaik ketika ku menceritakan masalahku, dan hari ini gerapu ini akan menjadi saksi cintaku kepada seorang bidadari cantik pendebar hatiku yang berada di hadapanku sekarang..” Wajah Nazma terkaku malu. Pipinya berdecit merah.

“sekarang kamu tidak akan kesepian, izinkan aku menggantikan posisi gerapu teman kamu itu Rendi..” ujar Nazma dengan penuh harapan. Hatiku kelepek-kelepek ketika mendengarnya. “aku mengizinkannya Nazma.. terima kasih telah mau menjadi pengisi hatiku..” kataku. Nazma mengambil salah satu gerapu, sembari mengikat pita merah. Aku tidak mengerti apa maksudnya dan aku tidak ingin mengetahuinya.

“Ayo kita pulang..” ajakku. “ayo Rendi hehe.” Ternyata ini lah disebut cinta. Dengan memahami dan melakukan sesuatu yang menyenangkan pada seseorang yang dicintai. Pasti mendapatkan sebuah cinta yang luar biasa dalam hidupnya. Yakin dan percayalah harmonis tidak akan pernah jauh dari “Cinta”.

Cerpen Karangan: M. Fauzi Azhar
Blog: mytripmyworld.com
Facebook: Muhammad Fauzi Azhar
Nama: M. Fauzi Azhar
Asal Daerah: Binjai, Sumatera Utara
Asal Sekoah: Sma N 1 Plus Mataui Pandan
Tempat Tanggal Lahir: Medan, 24-9-2000
Agama: Islam

Cerpen Cinta Itu Harmonis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seberkas Harapan

Oleh:
kringggg. kringggg. kringgg. akhh. siapa sih pagi pagi gini udah nelpon? handphone ku terus berdering, aku: apa sih. andini: sayang. kamu lagi ngapain sih, hari ini kan kamu ada

Beranjak Dewasa

Oleh:
Sepertinya dewasa membuatku sedikit bijak dalam menyikapi setiap hal, terutama hal cinta. Ya, remaja memang tidak pernah terlepas dari namanya CINTA. Bahkan sering kali merasa hampa jika tidak ada

Pacarmu Belum Tentu Jodohmu

Oleh:
Di tengah pagi yang gelap, terlihat seorang pemuda dengan semangat menancap gas motornya melewati guyuran hujan. Pemuda itu tak mempedulikan guyuran air hujan yang mengenai wajah dan tubuhnya, yang

Potret Hitam (Part 2)

Oleh:
Aku mendapatkan telepon dari seseorang. Aku mengucapkan salam dan terdapat sahutan disana. Ternyata itu seorang perempuan “apa betul saya bicara dengan Nona Arsitania?” tanyanya. “iya, ini saya, maaf ibu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *