Cinta itu Suci

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 March 2018

Kumohon janganlah kau nodai cinta yang suci ini. Jika kau memang tak bisa menjaga cinta ini, maka pergilah. Aku sudah tak tahan akan sikapmu yang selalu memaksakan kehendak. Aku lebih baik kehilangan orang yang aku cintai. Dari pada bertahan dengan orang yang egois.

Namaku Rina aku adalah seorang gadis. Umurku baru 15 tahun. Aku masih duduk di bangku kelas IX. Aku punya seorang kekasih namanya Reno. Dia adalah kekasihku yang aku cintai. Kami saling menyayangi satu sama lain. Awalnya hubungan kami baik-baik saja. Namun setelah kemunculan temannya yang bernama Dodit itu. Aku tak tahan lagi. Entah setan apa yang sudah ia masukkan ke dalam diri kekasihku. Hingga ia pun kini menjadi tak terkendali. Dan pergi dariku.

Siang itu kami berada di taman.
“Rin, aku mau minta sesuatu terhadapmu” katanya sambil menatapku.
“Katakanlah semasih aku bisa melakukannya akan kuberikan” kataku sambil tersenyum.
“Rin, apakah kau mencintaiku?” tanyanya yang kali ini membuatku merasa aneh dengan pertanyaannya itu.
“Tak perlu aku menjawabnya, kau sudah tau apa jawabannya” jawabku lagi.
“Aku hanya ingin memastikan, maka katakanlah” ucapnya sedikit memaksa.
“Iya Reno, aku mencintaimu. Apa kau tak bisa melihat kebenaran di mataku ini” kataku sambil kuletakkan tanganku d iatas bahunya.
“Lalu apakah kau bisa membuktikannya” pertanyaannya kali membuatku bingung.
“Apa yang perlu kubuktikan padamu” tanyaku.
“Ikutlah bersamaku, nanti kau akan mengetahuinya” kata-katanya yang terakhir ini membuatku berpikir apa yang sebenarnya dia inginkan.

Lalu aku pun mengikutinya. Tak kusangka dia mengajak aku ke sebuah tempat. Yang tidak lain adalah apartemen. Aku kaget. Aku merasa ada yang disembunyikan dariku olehnya.
“Apa maksudmu mengajakku kemari?” tanyaku penuh keheranan.
“Rin, kita akan membuktikan cinta kita di sini” ucapnya pasti.
Aku yang mendengar penjelasannya itu langsung terperangah. Seperti ada petir menyambar hatiku. Tak kusangka kekasihku ingin.. Ingin berbuat itu padaku.

“Aku rasa kamu sedang kacau. Ayo kita pergi” jawabku sambil menarik lengannya.
“Tidak!. Kita akan membuktikannya di sini. Jika kau memang benar mencintaiku, maka turutilah permintaanku” jelasnya sambil menepis tanganku yang menariknya tadi.
“Ren, apa yang kau katakan ini tidaklah benar. Apa kau sadar apa yang telah kau katakan” tanyaku kembali yang masih tidak percaya akan sikapnya.
“Mari kita buktikan jika kau memang percaya padaku”

Kali ini aku benar tak tahan akan sikapnya. Kecewa yang kurasakan. Lalu secara tidak sengaja keluarlah butiran-butiran air dari mataku yang dari tadi sudah tak tahan membendungnya.

“Reno, apa gerangan yang membuatmu menjadi seperti ini?” tanyaku sambil terisak-isak.
“Ini adalah pembuktian yang nyata. Jika kau tak mau. Berarti kau sama sekali tak mencintaiku”
“Reno, yang kau katakan itu salah. Aku mencintaimu, bahkan aku rela memberikan apapun padamu. Kecuali pembuktian bodoh seperti ini. Karena apa yang kau katakan itu hanyalah nafsu belaka. Bukanlah pembuktian. Sudahlah ayo pulang” ajakku sedikit memaksa.

“Kau menganggap hal bodoh. Berarti memang benar apa yang dikatakan Dodit padaku”
“Apa yang dikatakan Dodit” tanyaku.
“Kau tak perlu mengetahuinya, sudahlah kau memang tak mencintaiku” katanya pasrah.
“Reno, aku menyayangimu. Aku sama sekali tak pernah berpikir kau akan berkata seperti ini padaku. Ketahuilah, jika kau mencintaiku kau akan menjagaku. Bukan malah ingin.. Haaahh sudahlah. Ren, bagaimana bisa kau ingin menodai cinta kita yang suci ini? Aku sama sekali tak mengerti apa yang telah membuatmu berfikiran seperti ini” jelasku panjang lebar. Dan dia hanya tertunduk lesu.

“Rin, aku.. Mencintaimu. Tapi…”
“Tapi apa Ren”
“Dodit.. Telah mengacuhkan pikiranku. Maafkan aku Rin”
Tangisnya sambil memelukku. Aku menyambut pelukannya dan makin kupererat.

“Sudahlah, dia hanya ingin mengacuhkan hubungan kita. Sudahlah lupakan kejadian ini ayo kita pergi” ajakku padanya.
“Baiklah” dia menurut, namun ada sesuatu yang ganjal. Pelukannya terasa dingin. Tak sehangat biasanya. Ternyata
alasannya adalah pelukan terakhir yang Reno diberikan untukku.

Setelah kejadian itu Reno semakin hari semakin menjaga jarak dariku. Sepertinya dia masih tak percaya terhadapku. Temannya Dodit mungkin yang selalu menghasutnya. Suatu ketika ketemui Reno tengah bersama wanita lain di mall. Mereka terlihat mesra. Kucoba tenangkan hatiku. Lalu ketemuinya dan bertanya siapa gadis yang bersamanya. Tak kusangka dia menjawab bahwa gadis itu adalah kekasihnya, yang menerima pembuktian bodoh menurutku.

Semenjak itu aku berusaha ikhlas. Mungkin ini yang terbaik. Aku akan berusaha melupakannya. Dan kubiarkan dia mencari jalan hidupnya sendiri. Karena aku tidak ingin kehilangan harga diriku sebagai seorang wanita.

Cinta itu seputih salju tak berhak kau menodainya hanya karena nafsu.

Cerpen Karangan: Irma Amaliya
Facebook: Irma Amaliya

Cerpen Cinta itu Suci merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Confused

Oleh:
“Felly, kenapa harus kayak begini, sih? Emang nggak ada cara lain untuk mencapai keinginan kita dulu, hah?!,” tanya Arka dengan sorotan mata yang penuh dengan kekecewaan. “Maaf. Aku nggak

Gadis Pemandang Langit (Part 1)

Oleh:
Dia gadis yang menawan, kebiasaannya adalah memandangi langit, siang atau malam di taman kota. Namanya Niky Bilqis, sering dipanggil Kiki, ia akan memandangi langit dengan banyak ekspresi, seperti nangis,

XOXO

Oleh:
Di sebuah pagi yang sempurna di bulan Agustus, ketika jari-jemari mentari melewati serat-serat daun kelapa dan menggapai garis putus-putus di jalanan. Hari sudah pukul tujuh namun matahari masih begitu

My brother, My Boyfriend

Oleh:
“Kenalkan, namaku Irna. Aku pindahan dari SMA 52 Jakarta. Semoga kita dapat berteman.” Ucap murid baru itu memperkenalkan diri. Semua siswa-siswi bertepuk tangan riuh. “Dia cantik.” celoteh Nela langsung

Meniadakan Kenangan

Oleh:
“Tunggu dulu, Sya! Dengerin dulu!” Ia menahan tanganku dengan cengkraman sekuat elang. Pelupuk mataku semakin penuh dengan genangan air mata. “Apa lagi? Sudah jelas kan, kamu pilih dia.” Ujarku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *