Cinta Lain Kali (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 September 2014

Ku pencet LED watch warna biru tua yang melingkar di tangan kiriku, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 06.45, artinya hanya ada waktu 15 menit untuk pergi ke sekolah. Bagaimana ini? Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah di kelas dan semester baru. Padahal sebelumnya, aku berjanji akan menjadi lebih disiplin setelah liburan, tapi apa? No progress more regress. Okay, daripada banyak cerita, lebih baik lari sekencang mungkin dan berdoa supaya setelah sampai di halte dekat rumah segera mendapatkan angkutan. Haaa, akhirnya datang juga angkot biru muda yang siap mengantarkanku ke sekolah.

Selama perjalanan, tak henti-hentinya aku meminta pak sopir untuk menginjak gasnya agar laju angkot semakin kencang dan setiap 5 detik ku pencet tombol jam terus-menerus, hal tersebut membuatku mereparasikannya ke toko jam seminggu sekali. Di pinggir jalan, terlihat sosok pemuda pelajar berseragam putih abu-abu yang wajahnya sangat mainstream karena jikalau aku telat pasti ia juga telat, badge di sebelah lengan kanannya tertulis SMA Kota Baru, yup! SMA ku. Ia bernama Baim, Ia menaiki angkutan yang aku tumpangi.

“Baim…” Sapaku ceria karena ada teman yang sama-sama (mungkin akan) telat.
“Apa sih? Alay banget.”
“Ada temennya kalau nanti telat, hehe.” Aku nyengir.
“Halah, aku kan setia menemani orang-orang yang telat.” Baim berkata dengan bangganya.
“Telat kok bangga?” Sindirku.
“Nah situ juga kan?” Kata Baim dengan tampang sok cool-nya.
Aku hanya diam karena tidak tahu harus berbicara apa lagi, aku memang sering telat, tapi masih parah Baim, Dia selama seminggu kadang-kadang telat sampai 4 kali, kalau aku hanya 2-3 kali. Guru-guru sampai bingung akan diberi apa siswa-siswi yang hobinya telat, seperti kami ini. Hukuman? Tidak mempan, jam beker keren? Baru seminggu udah rusak karena selalu ku buat mainan.

Akhirnya sampai juga di sekolah, ku pencet LED watch-ku, telah menunjukkan pukul 07.28. itu berarti aku dan Baim telat.

SMS dari Rena
From : Renata
km dimana ka? Cepet ke lapangan! Acara udah dimulai!

Reply:
Gue masih OTW. OTW ke hatimuuu. Ini udah sampe di gerbang belakang dan gak ada yang jaga.

From: Renata
Gila nih anak, pasti abis nonton konsernya boyband Indonesia yang iyuh itu semalem -____-

Reply:
apa lo bilang renaaa? Eh emang acaranya ngapain di lapangan? Bukannya Cuma pembagian kelas doang!

From: Renata
Ih udah deh cepetan!

Aku segera menuju ke lapangan utama untuk menerima pengarahan dari Kepala Sekolah, mungkin ucapan selamat beraktivitas kembali dan peraturan-peraturan baru yang ditetapkan. Oh My God, hal itu sangat tidak penting. Aku memang tidak suka hal yang basa-basi seperti itu. Aku lebih suka yang to the point.

Sebelum aku menuju ke lapangan, lebih baik aku ke kamar mandi. Sedangkan Baim ngacir menuju lapangan tanpa menghiraukanku, ia memang seperti itu biasanya. But, it’s okay.

Di kamar mandi ternyata ada salah satu anak kelas X. yup! Itu Resti, teman sekelasku.
“Eh Res, acaranya udah selesai belum sih?” Tanyaku tak sabar untuk tidak mengikuti pengarahan dan segera melihat pembagian kelas.
“Emm, udah hampir selesai sih Ka.” Jelas Resti, kemudian hening sejenak, Ia menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kemudian tersenyum. Aneh sekali, batinku.
“Kamu telat ya Alika?” Resti berkata sambil tersenyum.
“Em, iya biasa lah.” Jawabku singkat.
“Pintar juga kamu, nggak langsung ke lapangan tapi ke kamar mandi dulu.”
Aku hanya tersenyum licik. Aku sudah biasa telat, jadi aku sudah tau tips dan triknya. Kadang aku ke fotokopian dulu, kalau di fotokopian sedang sepi, kutaruh tasku di fotokopian aku masuk gerbang sekolah hanya membawa buku pelajaran jam ke 1 – 2, sedangkan jam ke-3 dan seterusnya, aku mengambil tasku di fotokopian, pak satpam yang melihatku dan barangkali sudah hafal dengan tingkahku yang absurd itu hanya tersenyum sinis memamerkan kumisnya.

Pengarahan pun selesai, telah terlihat siswa-siswi yang mulai ke lapangan paving untuk melihat pembagian kelas. Aku sedari tadi di depan kamar mandi, sedangkan Resti kembali ke lapangan utama. Sekarang, aku menuju lapangan paving guna melihat pembagian kelas baru. Dengan lincah, aku menyusup di desakkan teman-teman yang juga ingin mencari tahu kelas mereka. Yup! Ketemu. Aku, Alika Amalia Utari kelas XI IS 2. Ternyata aku tidak sekelas dengan Aldi, cowok yang ku taksir saat aku kelas X, padahal kami satu jurusan dan aku berharap sekelas. Dari kelasku dulu X-4 yang di XI IS 2 ada aku, Fajar, dan satu lagi yang membuat aku geregetan adalah Zaneta, cewek yang sukanya ngatur-ngatur, tidak mau disalahkan dan saat kelas X dia suka menggoda Aldi.

Bel tanda masuk kelas pun berbunyi, aku segera menuju kelas XI IS 2, kelasku terletak di gedung lantai 2 yang menghadap ke utara. Namun, kelas belum dibuka, aku pun berkenalan dengan teman-teman baruku diselimuti dengan suasana masih malu-malu. Maklum, antara satu sama lain yang berbeda kelas, banyak yang belum kenal. Walaupun ada yang sudah saling kenal karena berlatar belakang yang sama, misalnya dulu satu SMP.

“Hai, hmm Alika?” Sapa seorang cewek manis kecil berambut pirang yang melirik badge namaku. Tertera di badge namanya terpampang nama Arina.
“Hai!” Kataku sambil bersalaman.
“Kamu dari X-4 ya? Sama Zaneta juga…” Kata Arina.
“Iya” Jawabku singkat.
Aah Zaneta lagi! Iya sih dia terkenal tapi bukan karena dia artis youtube, cewek berprestasi, playgirl, atau yang lainnya. Melainkan, dia terkenal gara-gara kakaknya yang sudah lulus adalah mantan ketua OSIS teladan. Waktu kelas X, kakak-kakak kelas sering main ke kelasku untuk menemui adik seorang mantan ketua OSIS teladan yang sudah lulus, guna menanyakan kabar kakaknya yang sangat ganteng itu. Di kelas pun ia sangat bangga menceritakan kehebatan-kehebatan yang dimiliki kakaknya. Bagiku, hal itu sangat absurd.

Mas Darmono adalah salah satu clening service yang bertugas membukakan kelas setiap hari, akhirnya datang. Ia membukakan kelas kami. Kami segera masuk kelas, diikuti wali kelas, lalu perkenalan dan membentuk organisasi kelas.
Setelah semua selesai, kami disuruh bersih-bersih. Apa-apaan ini, baru masuk pertama kali sudah disuruh bersih-bersih. Teman-teman terlihat tidak semangat, malah gossip di belakang. Zaneta terlihat sangat akrab dengan teman-teman baru, seperti Annisa, Oxa, Rachel, dll. Annisa adalah cewek paling tenar di dunia maya. Sedangkan Oxa adalah cewek yang cantik, tapi lebaynya minta ampun, dia satu ekskul dengan Annisa, ekskulnya keren lho, jurnalistic. Sedangkan Rachel adalah cewek tomboy yang paling eksis di sekolah ini, dia kapten basket di SMA kami.
Yang terlihat bekerja hanya aku, Arina, Oxa, Vera, Ayu dan semua cowok.

“Eh ini kelasnya mau di pel nggak Rin?” Tanyaku pada bu ketua kelas alias si Arina.
“Hmmm, boleh boleh” Jawabnya ramah

Tanpa perintah, aku segera mengambil lap pel yang ada di belakang, warisan dari kakak kelas yang dulu menjadi penghuni di kelas ini. Ku bawa lap pel menuju kamar mandi untuk dibersihkan karena terlihat sangat kotor, maklum sudah sebulan kami berlibur. Di kamar mandi, terdapat sebuah ember yang nganggur atau tidak dipakai, jadi ku gunakan untuk wadah air. Kelasku sangat jauh dari kamar mandi, aku kewalahan membawa lap pel dan seember air. Aldi melihat aku yang kewalahan itu, ia hanya melontarkan senyum sinis dan melecehkan. Kampret sekali, batinku.

Ketika aku menaiki anak tangga menuju kelasku dan masih dalam kondisi yang kewalahan karena membawa lap pel dan sebuah ember yang berisi air, hal itu membuatku serasa menjadi pembantu. Astaga! saat aku menginjak anak tangga terakhir, aku kehilangan keseimbangan sehingga air yang ada di dalam ember tersebut tumpah dan aku pun terpleset sehingga lap pel yang ku bawa menimpaku, sungguh tragis. Parahnya, semua orang hanya tertawa melihat ekspresi dan posisiku saat terjatuh, tak ada pertolongan sekalipun, sialan! Namun, ada salah satu cowok yang sekelas juga denganku, namanya Bani. Dengan cakap ia menolongku dari keterpurukkan yang aku alami tersebut. Ia menggendongku sampai ke kelas, lalu mendudukkanku di kursi. Tawa geli masih menyelimuti suasana di luar kelas, namun aku tak mempedulikannya.

“Lain kali, hati-hati, kalau nggak kuat, bawanya satu-satu.” Ia menasehatiku agar lebih aku berhati-hati.
“Iya, makasih ya, Ban” kataku dengan nada terbata-bata karena masih shock dan menahan rasa sakit.
“Astaga, lutut kamu berdarah. Aku ambilkan kotak P3K dulu ya.” Ia menawariku.
Lalu Afika yang sedari tadi gossip di belakang menghampiriku, ia adalah salah satu anggota PMR di SMA kami.
“Ya ampun Alika, kamu kenapa? Bentar aku ambilkan kotak P3K dulu ya. Kamu tenang aja ya, tidak usah panik. Bani, kamu tunggu Alika ya, jangan pergi kemana-mana dulu” Kata-katanya sungguh menenangkan.
“Siap bu dokter.” Jawab Bani seraya hormat.

Ku lihat Afika sudah membawa sebuah kotak berisi P3K.
“Nih Ka, buat kamu. Sini aku balutin pake perban!” Kata Afika.
“Duh Ka, ngrepotin banget nih aku jadinya, tapi makasih ya.” Jawabku menahan rasa sakit.
Dengan perlahan Afika membersihkan lukaku, lalu membalutnya.
“Makasih ya Ka, kamu baik banget” Kataku sambil tersenyum.
“Iya sama-sama.” Jawab Afika.

Afika adalah nama yang BETI denganku, BEDA TIPIS maksudnya, aku Alika dan dia Afika. Kami memiliki nama panggilan yang sama yaitu ika. Dulu dia kelas X-5, yup sebelah kelasku dulu.

Bel tanda pulang pun berbunyi. Aku pulang dengan kondisi basah. Aku pulang paling akhir agar tidak banyak orang yang melihat aku dengan kondisi baju basah dan kotor. Saat aku keluar kelas, Rafi sendirian di sebelah tangga. Entah, Ia menungguku atau menunggu siapa, aku tak tahu.

“Kamu pulang basah begini?” Tanya Rafi.
“Iya, mau gimana lagi?“
“Nih pake jaketku!” Tawarnya.
“Nggak Fi, makasih.” Tolakku sopan.
“Ya udah, aku duluan ya.” Katanya, sembari meninggalkanku.

Aku pulang dengan naik angkot seperti biasa, suasana di kota ini sangat panas. Ya! panas, so bajuku cepat kering.
Akhirnya aku sampai di rumah. Di depan rumah terdapat sepeda motor satria, entah itu milik siapa, kalo temennya papa, nggak mungkin lah, gaya banget bapak-bapak pake motor satria
“Assalamualaikum… lho ma itu mot” Belum selesai aku bertanya, ternyata sudah ada makhluk play boy di ruang tamu.
“Waalaikum salam… iya itu motornya si Angga”
Ternyata motor sepupuku namanya Angga Sadewa Putra, sepantaran juga.
“Ngapain kesini?” Tanyaku sinis.
“Ih biarin, suka-suka dong, orang aku nggak pengen ketemu kamu kok!” jawabnya ketus.
Aku tak menanggapinya, kemudian masuk kamar.
Aku menuruni anak tangga lalu duduk di kursi depan angga sambil mencomot buah apel merah yang ku ambil dari lemari es.
“Ehm, di luar ada motor baru!” Kata Angga pamer dan memulai pembicaraan.
“Terus?” Balasku sinis
“Ya coba tebak itu motor siapa?” Katanya sambil memutarkan bola matanya
“Mana ku tahu, dan aku tak mau tahu.”
“Oh, sepupuku yang lumayan agak can-tik, aku beri tahu, itu adalah motor dari cowok yang amat keren dan cool yaitu Angga Sadewa Putra, mengerti Alika?” Jelasnya.
“Oh” aku hanya ber oh-ria sambil menikmati apel merahku tadi.
“Hmm, sebenarnya saya, Angga Sadewa Saputra datang ke rumah Alika Amalia Utari yang lumayan agak can-tik guna memperlihatkan motor ninja baru saya, sekian terimakasih.” Katanya pamer dan sok berwibawa
“Oh, begitu, jika anda sudah selesai, lantas apa yang harus anda lakukan, pergi dari rumah saya atau?” aku menyindir dengan halus dengan mata agak melotot
“Baiklah, Alika sayang aku akan pergi tapi jangan bermimpi jika aku akan mengajakmu jalan-jalan menggunakan motor ninjaku.” Katanya sambil beranjak keluar rumah.
“Angga pulang ya tante, mau servis motor baru.” Angga berpamitan kepada mama yang sedang di dapur.
Aku hanya menyilangkan kedua tanganku di depan dada sambil menatap Angga dengan tatapan mengusir.

Mengapa hari ini sangat sial, mulai dari Aldi yang hanya menertawakanku karena aku terlihat seperti pembantu yang hendak mengepel, kemudian kejadian aku jatuh di tangga, nah ini ada makhluk play boy aneh dan menyebalkan yang datang tak diundang bikin orang tambah bad-mood aja.

Cerpen Karangan: Retno Setianingrum
Facebook: Retno Setianingrum

Cerpen Cinta Lain Kali (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lika Liku Mika

Oleh:
Seorang pemudi terduduk di tengah ruangan kecil dikelilingi oleh udara dingin malam hari yang menusuk; dihiasi dengan suara tokek yang bergema di dalam ruangan, terpantulkan antar dinding. Suara angin

PHP dan PHO

Oleh:
Aku berusaha untuk ceria hari ini, walaupun sebenarnya hatiku masih sakit setelah kejadian hari itu. “Ah sudahlah” pikirku berulang kali. Entah kenapa aku bisa sebodoh itu mempercayai seorang yang

Happiness At The Top

Oleh:
Sebuah kisah dimana aku dipertemukan di suatu tempat yang indah dengan orang yang aku cintai. Suatu kebetulan yang disengaja, tapi bagiku ini adalah suatu keajaiban yang indah, bisa melakukan

Mimpi Anak Borneo

Oleh:
Ruangan itu sudah dipenuhi banyak orang. Dadaku berdegup kencang. Perasaanku bercampur antara cemas dan bahagia. Aku yang mengenakan pakaian terusan bewarna merah dengan corak batik Kalimantan yang indah, berjalan

Because of You

Oleh:
Pagi yang cerah. Kudengar deburan ombak pantai yang perlahan mulai hilang ditelan bisingnya suara kendaraan. Tirai-tirai yang menutup jendela kamarku mulai kubuka secara perlahan. Dengan mata ini, aku melihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *