Cinta Lain Kali (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 September 2014

Dua hari setelah aku mengalami kesialan yang luar biasa, aku harus bersekolah. Seperti biasa, aku berangkat sekolah naik angkot, ku nikmati pagi dan mengumpulkan semangat untuk menjalani hari ini.

Pagi itu tak terlalu pagi dan tak terlalu siang, sudah banyak teman-teman, kakak kelas serta siswa-siswi baru yang mengenakan seragam putih abu-abu dan siap untuk menuntut ilmu di SMA Kota Baru ini. Aku melewati lorong sekolah lalu naik ke lantai dua menuju kelasku. Dari arah yang berbeda, sesosok cowok berwajah Indonesia-Rusia, berbadan tegap berisi, berkulit putih, dan berkacamata tipis serta mengenakan jaket abu-abu hitam itu menaiki tangga menuju kelas XI IS 2.
“Rafi…” batinku.
Ia menoleh ke arahku, seakan ia mendengar suara batinku. Namun, dengan cepat ia membuang muka dan menuju kelas begitu saja.

Sesampainya di kelas, Afika menghampiriku…
“Hai Ka, eh wali kelas kita Miss Tiwi loh, guru IPS yang paling cantik ituuuh” cerocos Afika.
“Ohhh.” Jawabku mengangguk mengerti.
“Hmmmm, liat deh dia kesepian.” Afika menunjuk Oxa yang sedari tadi suwung, cuman mainan penggaris.
“Hai Xa!” Sapa Afika ceria
“Hai!” Oxa membalas senyum dengan terpaksa sepertinya
“Hmmmm, aku boleh minta nomor kamu nggak Xa?” dengan PD-nya Afika meminta nomor HP Oxa, cewek tenar yang full organzation tapi banyak yang tidak suka padanya karena ia terlalu lebay tentang Satria, cowok basket yang alim dan cool banget, (banyak fans nya lagi!)
“Ohh, oke” jawabnya lesu.
“Hmmm, kalo boleh tau, kamu kenapa Xa? Kok lesu banget gitu?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Tau nggak sih, kemaren aku pulang bareng Satria, aku nyapa dia tapi dia nggak nyapa aku, gimana coba perasaanmu!?” cerocosnya panjang lebar
“Hmmm, mungkin dia…” kataku
“Dia emang kayak gitu og Xa…” sambung Afika
“Hiiih! yaa tapi dia itu cuek nggak kayak biasanya.” Ia mengelak
“Ya udah deh Xa, nggak usah dipikirin, mendingan mikirin aku aja” aku mulai jayus.

Waktunya pulang…
“Eh ka, ke kantin yok, gue laper nih.” Ajak Oxa.
“Bukannya tadi kamu bawa bekal ya?” Tanyaku heran.
“Iyaa, tapi gue masih laper! Yuk ka please!” Oxa menarik lenganku secara anarkis.
“Huh iya deh!” Jawabku meng-iyakan saja.

Sesampainya di depan kantin. Terlihat pemandangan yang membuatku menolak untuk meneruskan mengantar Oxa memesan makanan.
Aku terdiam dan kuhentikan langkahku.
“Kenapa Lik?” Tanya Oxa yang sedari tadi menggandeng tanganku dengan erat dan anarkis.
“Hmm, aku… aku duluan ya, emm udah dijemput. Iya udah dijemput” Kataku sambil garuk kepala mencari alasan untuk tak melihat pemandangan itu semakin dekat, dari jauh saja rasanya sudah sangat panas, apalagi kalau semakin dekat mungkin sudah terbakar.
“Looohhh Likaaa!!! Tungguin” Oxa mengejarku, namun aku tak mempedulikannya.

Malam hari, Ku buka handphoneku hendak menulis status di facebook. Namun ternyata ada 2 pesan masuk, 1 nomor baru dan Bani yang menanyakan PR.

From: 085642277219
Ka, lo baik-baik aja kan?

Reply:
Hm, maybe fine xx, sorry ini sp?

From : 085642277219
Gw Oxa, ciyuuss fine?, tadi gue sendirian makan soto di kantin, ilfeel tauk liat ada orang pacaran. Itu tuh Claudia mantannya Nico, sama cowok jelek, btw Claudia tu orangnya “geleman” alias ditembak siapa aja mau.

Aku tak berniat membalas sms dari Oxa, yang ada di pikiranku saat ini hanyalah Aldi dan Claudia. Terlintas sejenak tentang perbedaan antara aku dan Claudia, mungkin Aldi tak suka denganku dengan keadaanku yang seperti ini, atau aku harus menjadi sosok yang diinginkan Aldi yaitu seperti Claudia. Baru dua hari masuk sekolah di kelas baru udah jadian aja. Tapi aku masih bangga dengan diriku sendiri karena aku bukan tipe cewek yang geleman. Malam pun semakin larut dan akhirnya aku tertidur.

Keesokkan harinya, aku menjalani hari seperti biasa. Sesampainya di sekolah, aku melihat sosok Aldi yang berubah drastis. Ia sekarang lebih kurus, wajahnya nampak pucat namun senyum merekah masih menghiasi wajahnya. Mungkin ia bahagia karena ia berhasil berpacaran dengan seorang supergirl yang sangat beken di SMA kami.

Jam pulang sekolah pun tiba, hari ini aku tak berniat untuk memperhatikan mata pelajaran yang diajarkan oleh Bapak/Ibu guru. Yang ada di pikiranku, mengapa Aldi menaruh hati kepada Claudia, berani-beraninya dia menembak supergirl itu padahal sebelumnya ia belum pernah mengenal yang namanya pacaran dan mungkin ia tergores mantra-mantra Claudia untuk mendapatkan cowok yang disukainya. Tapi mengapa harus Aldi? Aldi tak terlalu keren dibandingkan mantan-mantan yang dimiliki Claudia. Sebegitunya Aldi terhadap Claudia, ia rela menguruskan badannya untuk menjadi pangeran bagi Claudia. Jika dilukiskan, dipikiranku saat ini ada nama Aldi dan Claudia serta sejuta tanda-tanya yang masing masing berbeda ukuran dan jenis font-nya.

“Hayo!” Oxa dan Afika mengagetkanku dari belakang. Namun, aku tak merespon mereka.
“Kamu kenapa sih Lik?” Tanya Afika.
“Aku nggak apa-apa kok, lagi bete aja!” Jawabku ogah-ogahan.
“Ya udah ya, aku pulang duluan.” Pamitku dan masih tetap tak mempedulikan mereka.
“Ih, dia nggak menghargai banget sih Fik, aku baru ngomong tapi dia nggak ngejawab malah pergi.” gumamnya bersama Afika.
“Ah, udah deh, dia mungkin lagi bete gara-gara Aldi” Jelas Afika.
“Siapa tuh?” tanya Oxa sembari membuntutiku dan hendak pulang juga.
“Oh, itu anak kelas XI IS 8, jelek deh pokoknya”.
Aku segera menoleh ke belakang. Mereka mendadak diam.

Selama 4 hari tak jarang aku meneteskan air mata kegalauan setiap malam sebelum tidur, ini semua gara-gara Aldi dan Claudia. Sebenarnya aku cukup bahagia karena memiliki sahabat seperti Oxa dan Afika, tapi aku agak risih dengan gossip mereka yang menerangkan bahwa Bani menaruh hati padaku gara-gara ia menolongku saat aku jatuh dari tangga. Mengapa sebuah harapan cepat berakhir seperti ini.

Hari ini adalah hari sabtu, tepatnya malam Minggu. Aku ingin melepas penatku dengan menghirup udara segar di malam hari. Dengan perlahan ku buka jendela kamarku, terlihat bintang-bintang serta sinar rembulan yang masih malu-malu memancarkan sinarnya. Hembusan angin malam seakan membuat aku lupa akan sebuah bencana besar yang melanda hatiku.

Keesokkan harinya, yeah it’s free-day! Mungkin hari ini aku bisa melupakan Aldi karena aku tidak melihat raut wajahnya yang semakin hari semakin membuat aku sakit melihatnya, ia tampan, namun ia sudah menjadi milik yang lain.

Di minggu yang cerah ini, aku berencana untuk pergi ke sebuah mall untuk membeli alat sprento, sebenarnya aku sudah merencanakan itu 2 hari yang lalu bersama Oxa dan Afika. Pukul 09.15 aku sudah siap untuk hang-out bersama 2 sahabatku itu, aku mengenakan kaos hitam merah dan berjaket abu-abu kehitaman serta celana jeans dan flat shoes. Di depan pagar sudah ada Oxa dan Afika yang sedari tadi memencet bel berkali-kali. Dengan Setengah berlari, aku segera membukakannya.
“Lama amat sih Likaaa.” Oxa gemes.
“Hehehe, ya maap neng.” Jawabku.
“Iya Alika tu, rempong.” Sahut Afika.
“Iyaa, daripada kalian banyak cing cong begini, yuk capcus ajaa.” Ajakku sambil menarik tangan mereka berdua.

Sesampainya di mall, aku bercerita kepada Oxa dan Afika tentang secret admirer yang mengirim bunga tadi malam. Mereka malah menebak Bani yang mengirimkannya. Bani sudah pernah bilang padaku kalau ia sangat senang jika ia bisa bersahabat denganku. Jadi, ku pikir bukan ia pelakunya. Aku bertanya kepada mereka, apa mungkin Aldi? Namun mereka menggeleng tegas. Saat aku bercerita kepada mereka tentang sosok Aldi, mereka mengungkapkan pendapatnya bahwa mereka tidak suka dengan sifat Aldi yang terkenal tempramental, apalagi Oxa yang dulu se SD dengan Aldi. Namun, bagiku Aldi itu sempurna, apalagi sekarang ia lebih sempurna didukung dengan gaya barunya serta otot yang semakin menonjol dan body yang lumayan.

Sesudah kami menemukan barang yang kami cari, kami sepakat untuk pulang. Kami naik angkot biru muda yang siap menghantarkan kami pulang. Saat perjalanan, kami melihat seseorang yang mengenakan jaket biru tua yang wajahnya sangat memindset di pikiranku. Astaga Aldi, iya itu Aldi.

“Pak stop pak!” sopir angkot ku suruh berhenti.
“Lho ada apa Lika?” Oxa heran.
“Ya ampun ada kecelakaan, aku sebagai anak PMR sejati harus segera menolongya” kata Afika seperti superman.

Aku meneteskan air mata saat turun dari angkot, Oxa dan Afika juga ikut turun. Aku segera mendesak ke dalam desakkan orang-orang yang hanya menonton kejadian tersebut, Oxa dan Afika menggenggam tangaku erat erat. Ku dapati Aldi jatuh tersungkur dan berlumuran darah karena kecelakaan. Motornya pun ringsek.

“Astaga Aldi…” Oxa tersentak kaget
“Al, Aldi…” Aku menggoyang-goyangkan badannya namun ia tak juga sadar, tangisku semakin menjadi-jadi dikala darah semakin bercucuran dari dahinya. Ku putuskan untuk membawa Aldi ke rumah sakit menggunakan taksi.

Sesampainya di rumah sakit, aku segera minta suster untuk segera menolong Aldi. Setelah Aldi, di balut lukanya, dan terbaring di atas ranjang berwarna putih bersih, suster mempersilakan aku, Oxa, dan Afika untuk masuk. Ku lihat Aldi mulai membuka matanya.
“Aldi…” kataku pelan
“Kok aku bisa disini, aaaaw.” katanya sambil menganggkat kepalanya
“Al, kamu tidur aja, kamu tadi kecelakaan.” Sambung Afika.
“Fik, kita keluar aja, biarin mereka berdua.” Bisik Oxa kepada Afika.
“Baiklah.” Jawab Afika berbisik. Lalu mereka meninggalkan kami berdua.

Kami diam hanya saling pandang, tak ada sepatah kata yang terlontar dari bibir kami. Kata terimakasih pun tak terucap dari mulut seorang Aldi. Sungguh mengenaskan, namun aku tetap tegar.
“Hmm, al, ya udah ya, kamu semoga cepet sembuh, tadi suster sudah menelpon orangtua kamu.” Kataku hendak berpamitan
“Eh, lo tega ya ninggalin gue sendirian.” Bentak Aldi. Ya ampun, lagi sakit aja masih sempet marah, batinku.
“Iya, aku akan menunggu kamu sampai orangtua kamu datang.” Jelasku
Aldi hanya tersenyum.

Sambil menunggu orangtua Aldi datang, mulutku seakan penuh dengan kata-kata yang harus diungkapkan kepada Aldi tentang perasaanku sebenarnya. Aku tak tahu harus memulainya darimana. Akhirnya…
“Al, sebenarnya… aku…” Aku berhasil memulainya
“Aku kenapa? Kalau bicara jangan dipotong-potong!” Kata Aldi.
“Aku… sayang sama kamu.” Setelah kuucapkan kata itu seakan darah berhenti mengalir di tubuhku, mulutku terkunci dan badanku tak bisa bergerak sedikitpun. Suasana menjadi hening. Lalu beberapa detik kemudian, aku berkata lagi.
“Aldi, aku sayang sama kamu udah setahun lebih, dari saat aku sering maju presentasi bareng kamu, kamu yang selalu mengkritik aku, kamu yang waktu itu nggak sengaja mencium aku saat lomba ambil koin, kamu yang…” kalimat itu berhenti begitu saja.
“Hmm, Alika, dengarkan baik-baik. Aku sekarang milik Claudia. Kau tahu itu?” kata Aldi sambil menghela nafas
“Iya, tahu tapi, aku boleh kan sayang dan cinta sama kamu?” aku masih tidak menerima kenyataan
“Alika, begini… cinta itu nggak harus buru-buru.” Kata-katanya membuatku bingung
“Bukannya aku akan berusaha mencintai kamu, namun aku akan menjalani kehidupanku bersama Claudia, mungkin suatu hari aku akan cinta kepadamu, tapi bukan karena usahaku namun karena perasaanku yang tiba-tiba jatuh hati padamu, bisa jadi kan?” jelasnya panjang lebar.
“Jadi, kamu nerima aku atau kamu nolak aku?”
“Kalau dalam pengonfirmasian teman di facebook, ada 3 pilihan kan, nah pilihan itu sekarang kau suguhkan kepadaku.”
“Jadi, apa jawabannya Aldi, kau akan menerimaku, atau kau akan memberi harapan bagiku, atau kau benar-benar menolakku.”
“Alika, aku tidak bisa menerima cintamu, aku masih bersama Claudia, ku putuskan untuk lain kali.” Jawabnya penuh teka-teki.
“Lain kali? Maksudnya?” Aku bingung.
“Maksudnya, kembali kepada facebook, aku tidak menerima permintaanmu, juga tidak menolak permintaanmu, namun aku me-lain kalikan permintaanmu.” Jelasnya.
“Jadi, kau menolakku dengan cara kau memberi harapan bagiku?” tanyaku masih tidak mengerti.
“Ya, tapi aku tidak memberi harapan bagimu. Cinta itu datangnya dari hati, mungkin aku bisa cinta padamu suatu hari nanti, tergantung aku bisa cinta padamu atau tidak.” Jelasnya lagi
“Jadi, kau menolakku secara halus, begitu Aldi?” tanyaku serius.
“Boleh dibilang, begitu.” Jawabnya sambil tersenyum.

Ku tinggalkan Aldi sendirian di kamar itu, aku pulang bersama Oxa dan Alika. Jadi cinta yang selama ini aku pendam, setelah ku ungkapkan pada seorang yang ku cintai, jawabnya “lain kali” sungguh hal yang sangat absurd, lain kali itu bukanlah harapan namun tolakan secara halus. Baiklah, selamat tinggal Aldi, selamat tinggal cinta lain kaliku.

Cerpen Karangan: Retno Setianingrum
Facebook: Retno Setianingrum

Cerpen Cinta Lain Kali (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Disela Sela Hujan

Oleh:
“Ah.. senja lagi” desahku kala matahari mulai menenggelamkan tubuhnya… “Assalamualaikum, icha” beberapa kali genggaman jemari dari seorang mungkin lebih mengetuk pintu kamarku “Masuk” perintahku “Icha! kok lo masih jelek

Partner

Oleh:
Cerita ini dimulai dari sebuah rencana beberapa waktu lalu antara aku dan kedua sahabatku, Tyara dan Fitri. Waktu itu kami semua akan menghadapi UNBK. UNBK akan dilaksanakan dua minggu

Miss Chatt

Oleh:
Miss Chatting. Itulah julukan yang cocok buat aku. Why? Kring kring kring.. Suara jam alarm sudah menunjukkan pukul 04.30. Itu berarti waktunya sholat terus mandi terus bantuin si bunda

Aku Mencintaimu Sahabatku

Oleh:
“edo..” panggil seseorang dari kejauhan Dan gue tahu dan gue kenal suara itu, dia sahabat gue laila tapi panggilannya lala, gue udah sahabatan lama sama lala dari SD, lala

Cintaku Bersemi Di Medsos

Oleh:
“Goldie… bangun sayang..” Teriak ibuku sambil mengetuk pintu kamarku. “Iya Bu, bentar..” Sahutku sambil mencari handphone berharap Hany tidak marah denganku karena semalam aku ketiduran saat kami sedang asyiknya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *