Cinta Masa lalu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 20 April 2016

Kisah ini bermula di saat aku kelas dua SMK, ketika masih PKL (Praktek Kerja Lapangan) di salah satu mall terbesar di kota jambi. Di sanalah aku menemukan cinta pertamaku. Aku sama seperti lelaki normal lainnya, pertama kali menilai wanita hanya melihat dari wajahnya saja. Mega terlihat paling menarik di antara banyaknya wanita-wanita cantik di sana. Dan terlalu banyak lelaki yang mendekatinya, sehingga keinginanku untuk mendekatinya pupus. Banyak teman-temanku yang tertarik kepada Mega dan terus-menerus membicarakannya. Sebenarnya aku juga sama seperti mereka, namun aku menahan diri. Karena bagaimana mungkin seorang lelaki kampung yang baru belajar gaul, yang tidak bisa bawa motor dan tidak memiliki waktu normal seperti lelaki lainnya bisa mendapatkannya.

Waktu yang ku punya tidak banyak, aku bersekolah di siang hari, serta pada pagi hari dan malam harinya ku habiskan untuk menjaga sekaligus merawat rumah orang yang menyekolahkanku. Selama menjalani masa PKL ada seorang wanita yang dekat denganku. Isa si wanita china yang kerja part time di mall tempatku PKL. Dia lumayan menarik. Wajahnya bisa dibilang manis, namun setelah lumayan dekat dengannya aku sadar bahwa tidak ada hal yang benar-benar menarik darinya selain wajahnya. Hubungan kami berakhir sebatas teman saja. Sebuah keajabian terjadi. Mega, wanita yang selama ini diimpikan hampir semua siswa PKL memberi isyarat untuk mendekatiku.

Ketika ia meminta nomor handphoneku, sebenarnya itu adalah hal yang membanggakan dan membahagiakan bagiku, tapi aku berusaha untuk menahan diri dengan cara tidak memberikan nomor handphoneku kepadanya. Akhirnya aku tidak mampu menahan diri. Aku meminta nomor Mega dari temanku, dan langsung menghubunginya pada malam hari sepulang PKL. Pada malam kedua aku kembali menghubunginya, namun aku sempat salah tingkah dibuatnya, kata-kata yang tak seharusnya ku ucapkan pun ke luar sendirinya dari mulut yang belum pintar untuk berbicara ini.

“Mega sepertinya kita nggak cocok,” kurang lebih inti dari pesan yang ku kirim dulu seperti itu.
“Maksud kakak apa? Ya udahlah terserah kakak,” jawabnya mengakhiri percakapan kami melalui pesan.

Perasaan bersalah yang menjadikan tidurku sulit pun muncul, padahal tidur merupakan hal yang sangat ku sukai. Aku tidak tahu kenapa melakukannya. Aku merasa bodoh. Keesokan harinya Mega terlihat sangat berubah, wajah cantiknya ia tekuk dan palingkan ketika aku melihatnya. Sepulang PKL aku berusaha meminta maaf kepadanya dan berharap semuanya bisa dimulai dari awal lagi. “Kak. Mega itu udah maafin semua kesalah-kesalahan orang sama Mega walaupun mereka nggak minta maaf sama Mega,” perkataan darinya yang membuatku semakin kagum kepadanya. “Dia adalah wanita cantik berhati malaikat,” Batinku dalam hati.

Setelah permintaan maafku, hubunganku dengannya menjadi lebih dekat dan lebih dekat lagi. Sampai pada akhirnya di pagi hari ketika ia akan menaikkan bendera, kata-kata yang telah lama ingin ku ucapkan kepadanya berhasil ku ungkapkan, walau hanya melalui sebuah pesan yang menempuh perjalanan yang jauh. Perasaan lega pun muncul bersamaan dengan perasaan bahagia ketika ia membalas pesanku dengan kata, “Kalau gitu sayang balik lah,”

Aku tidak tahu alasan apa yang membuatku begitu mencintainya. Dia memang cantik dan mempesona, sifatnya baik dan sangat menarik. Dia wanita yang pintar dan menawan, namun aku rasa bukan itu yang membuatku begitu mencintainya. Setiap detik yang ku lalui bersamanyalah yang menumbuhkan rasa itu. Saat dimana aku mendengar suaranya dan tawanya yang tidak begitu indah namun selalu mampu membuatku tersenyum sendiri. Saat dimana aku melihat senyumnya, wajahnya, matanya, bahkan rambut hitamnya yang terlihat seperti mahkota yang dikenakan oleh seorang putri dari langit. Aku sadar, ternyata waktu yang ia berikan kepadakulah yang membuatku begitu mencintainya. Sehingga ketika ia tidak menyisihkan waktu yang ia punya untukku, cinta ini yang awalnya bersinar terang mulai meredup seperti malam yang kesepian.

Hubungan kami lebih banyak kami habiskan melalui handphone, walaupun begitu aku selalu menghargai setiap detiknya yang ku habiskan untuk mengirim pesan ataupun meneleponnya. Setidaknya itulah yang ku rasakan sampai orang ketiga masuk ke dalam hubungan kami. Penyebab perpisahan kami adalah kesalahanku. Dulu aku pernah mengizinkannya untuk menjalin hubungan dengan lelaki lain, tanpa syarat. Aku melakukannya hanya sebagai bukti bahwa aku benar-benar mencintainya. Aku juga berharap itu bisa menjadi senjata untuk membuat Mega bisa terus mencintaiku.

Namun kenyataan justru tidak sejalan dengan harapan. Ketika Mega menjalin hubungan dengan lelaki lain di saat aku telah selesai melakukan PKL di mall tempat Mega bekerja. Aku merasakan sakit yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Aku bernapas seperti biasanya, namun dadaku terasa sesak. Aku hanya mampu tersenyum dan berpura-pura tidak mengalami apa-apa ketika berbincang dengannya melalui telepon. Andai saja aku memiliki waktu dan keadaan yang sama dengan lelaki normal lainnya maka tidak perlulah ia memintaku untuk membuktikan cinta yang aku punya.

Aku sadar tidak bisa memberikannya seperti apa yang diberikan lelaki kepada kekasihnya, itu jugalah sebabnya aku mengizinkannya untuk menjalin hubungan dengan lelaki lain yang lebih nyata. Tidak seperti aku, yang hanya kekasih bayangan. Di hari ulang tahunnya pada tanggal 16 mei 2009 aku membawakan beberapa hadiah untuknya. Aku terpaksa harus menipu bos di tempatku bekerja agar bisa bertemu dengannya. Itu adalah pertemuan terakhirku dengannya. Di saat itu hubungannya dengan kekasih barunya telah berakhir. Dan di saat itu jugalah hubungan kami benar-benar akan segera berakhir.

“Makasih ya Kak kadonya. Mega sadar kalau ada orang yang betul-betul sayang sama Mega,” pesan darinya yang membuatku sadar bahwa hubungan ini tidak bisa bertahan lama. Karena hal yang paling dibutuhkan untuk menyelamatkan hubunganku dengan Mega adalah waktu dan keadaan. Aku tidak punya itu dan jika aku punya pasti sudah ku berikan.

Tidak ada yang bisa dipertahankan dari suatu hubungan yang dimana keadaan dan waktu tidak berpihak. Itu adalah takdir yang tidak bisa ku tentang. Memang aku pernah berjanji akan selalu menyayanginya sampai kapan pun, tapi tidak sekalipun Mega terlihat menginginkan janji itu. Terserahlah dia menganggapku apa. Yang jelas janji itu ku buat karena itu adalah hal yang sangat ku inginkan pada saat itu bukan karena aku siap menghadapi semua rintangan hanya agar aku selalu menyayanginya. Hubungan kami berakhir di saat rasa cinta ini masih ada, walau tidak sebesar dulu. Aku memang seorang pecundang, tapi aku tidak pernah benar-benar merasa seperti seorang pecundang. Karena tidak ada seorang pecundang yang berhasil mendapatkan hati seorang tuan putri seperti Mega.

3 bulan lebih setelah hubunganku dengan Mega berakhir, aku mulai mencoba untuk memulai hubungan baru. Tepatnya di saat aku sudah berada di kelas 3 SMK. Hubungan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Waktu dan keadaan saat ini sangat bersahabat. Walaupun kami hanya bisa bertemu dan berhubungan di saat sekolah saja, namun itu sudah cukup. Aku melakukan hal terbaik yang aku bisa untuk menjaga hubungan ini. Aku belajar banyak dari hubunganku dengan Mega dulu. Aku tidak akan berbohong lagi untuk terlihat hebat, seperti yang ku lakukan kepada Mega. Aku hanya mengatakan apa adanya, namun memberikan lebih dari yang ia inginkan.

Setelah beberapa lama menjalin hubungan dengannya, bayangan Mega kembali hadir. Aku mencoba mendekatinya, namun sudah terlambat. Mungkin dia memang sudah memaafkanku, tapi pasti kesalahanku masih membekas di benaknya. Cinta di masa lalu mungkin memang telah mati, namun ia akan hidup kembali dan selalu menghantui jika cinta yang kita punya pada saat ini tidak lebih baik darinya. Itulah yang ku rasakan. Hari-hari yang ku lalui sempat penuh dengan cinta, sampai semuanya terbongkar jelas. Terlalu banyak kebohongan-kebohongan yang ia lakukan. Semua hal menarik yang membuatku mencintainya ternyata hanyalah pribadi palsu. Ia melakukannya hanya untuk membuatku cinta kepadanya.

Aku telah berkali-kali berusaha untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Banyak cara yang ia lakukan agar hubungan kami tidak berakhir. Ancaman bunuh diri dan air mata selalu mampu meluluhkanku. Yang membuatku bertahan bukanlah karena ancaman ataupun air matanya, tapi karena aku sadar bahwa ia masih begitu mencintaiku. Aku beruntung. Setelah sekian lama menjalani hubungan dengannya dan banyak hal-hal sulit yang telah ku lewati. Hubungan kami akhirnya berakhir. Banyak hal berharga yang kembali ku dapatkan dari hubungan yang pernah ku lalui.

Aku menemui wanita yang tepat, namun tidak memberikan kemampuan terbaik yang aku mampu kepadanya. Namun di saat aku menemukan wanita yang tidak tepat, justru aku memperlakukannya dengan sebaik-baiknya yang aku mampu. Terkadang penyesalan karena merasa salah sempat menghantui hari-hariku. Namun aku selalu mampu menghibur diriku dengan mengatakan sesuatu kepada diriku sendiri, “Itu bukan kesalahanmu. Itu adalah takdirmu,” Terkadang cinta memang memberikan rasa sakit yang besar. Namun pelajaran yang kita peroleh dari rasa sakit itu jauh lebih besar dari rasa sakit itu sendiri. Ucapkanlah terima kasih kepada cinta. Bukan karena rasa sakitnya, tapi karena pelajarannya.

Cerpen Karangan: Nanda Satria

Cerpen Cinta Masa lalu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Adik kelas Ku

Oleh:
Nama aku Jani. Ini ceritaku ini luapan kebahagiaanku memilikinya. Dia muda tangguh berwibawa walaupun dua tingkat di bawahku, ya dia adik kelasku dan aku kakak kelasnya. Namanya Muhammad Rizal

Buat Mama

Oleh:
Akhirnya di rumah deh. Fani Imaya akhirnya bisa pulang ke rumah setelah hampir 3 minggu kegiatan di sekolah menahannya di Malang. Meskipun jarak Batu-Malang itu hanya satu jam perjalanan

Love in Popmie

Oleh:
Hari ini dingin sekali karena semalam hujan lebat sampai sekarang belum berhenti. Di bangku paling pojok belakang aku dengan lahap memakan popmie kesukaanku sendirian. Meski aku sering dimarahi oleh

Sekarang & Selamanya

Oleh:
Fadjar mulai menjelang, mentari kian menari dari ufuk timur. Tak terasa hari telah berganti sedangkan diriku masih terbaring di atas tempat tidur, menyambut datangnya sinar yang menelusup dari balik

Cinta Anak Pramuka

Oleh:
Setetes peluh yang ku keluarkan hari ini mengiringi perpisahanku di tempat ini, di mana tempat ini adalah tempatku menimba ilmu. Yang mempelajari bagaimana kerja lapangan sebenarnya, namaku Safanti Ranah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *