Cin(T)a Michael dan Nurul

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 4 May 2014

Namaku Nurul. Nurul Ikrimah, adalah nama islami yang diberikan oleh Almarhum kakekku. Aku wanita berhijab yang baru saja lulus SMA, dan belum kuliah. Papa (yang biasa kupanggil Abi), sedang menderita sakit prostat yang cukup parah, itulah alasannya aku tidak kuliah. Karena biaya yang tersisa hanya untuk pengobatan Abi. Aku memilih untuk menganggur di rumah, menunggu tawaran pekerjaan datang.

Aku punya seorang teman bernama Michael yang kukenal lewat Blackberry Messenger. Kami berkenalan dua minggu yang lalu. Sejak awal kenalan, dia memanggilku Lulu. Malam ini, Michael mengajakku bertemu. Aku sebenarnya menolak, tapi Michael memaksa akhirnya kami bertemu dengan kuikutsertakan adikku dan temannya, sedangkan Michael seorang diri, karena dia baru pulang kuliah. Aku merasa perlu waspada dengan laki-laki yang kukenal lewat dunia maya. Dua minggu setelah pertemuan, Michael mengutarakan perasaannya padaku. Dia memintaku untuk menjadi pacarnya.

Apa-apaan ini? Baru sebulan kenal, dia sudah berani memintaku untuk menjadi kekasihnya? Memang, untuk menyukai seseorang tidak butuh waktu yang lama. Tapi apa dengan waktu sesingkat itu juga, dia bisa yakin aku akan menjadi pacar yang baik untuknya? Terkadang manusia kalah dengan hatinya sendiri. Bagiku, pacaran di usia ini bukan lagi untuk main-main. Maka dari itu, aku berpikir baik-baik untuk memilih pasangan. Lagipula, kita kan beda agama! Tanpa berpikir panjang aku menolaknya. Tapi setelah itu, dia tetap menjadi temanku. Tetap memberi perhatiannya padaku. Tetap berusaha untuk mengambil hatiku. Aku biarkan saja dia berusaha semampunya. Dia tetap menghubungiku seperti biasa, menghubungiku lebih dulu. Aku menanggapinya dengan biasa juga. Aku menganggapnya hanya teman.

Beberapa hari kemudian, Michael berkata padaku lewat chat Blackberry Messenger, “Lu, gue pengen ditindik, deh!”

“Ya udah ditindik aja, itu kan hak lo.” Jawabku.
“Tapi apa pendapat lo tentang cowok yang ditindik?” Tanya Michael.
“Gue pribadi sih gak suka liatnya, soalnya kesannya brandal dan nakal gitu.”
“Ya udah kalo gitu gue gak jadi ditindik deh.”

“Loh, kenapa? Kalo lo mau, ya silahkan aja! Gue kan gak berhak ngelarang.”

“Tapi kalo lo gak suka, gue gak mau!” jawabnya, yang sekaligus mengakhiri pembahasan tentang tindikan.

Beberapa hari setelah itu, dia kembali menyatakan perasaannya lagi dan memintaku untuk menjadi pacarnya (lagi). Untuk kedua kalinya. Bagaimana dengan perasaanku saat ini? Oke, aku mulai menyukainya. Karena dia menyenangkan, dia sabar (setidaknya hanya ketika menghadapiku), dia tidak menjauhiku meskipun aku pernah menolaknya, dan yang tidak aku mengerti, aku mulai cemburu ketika dia bicara soal perempuan lain! Hih! Ada apa dengan perasaanku? Kenapa aku tak bisa mengendalikan hatiku? Sudah hampir tiga tahun belakangan, aku tidak berpacaran. Tapi sempat beberapa kali dekat dengan teman laki-laki. Aku menafsirkan perasaanku ke Michael sebagai perasaan sementara. Kadang, kita sebagai perempuan, meskipun banyak dekat dengan laki-laki, tapi tetap saja merasa kesepian. Maka dari itu, ketika seorang laki-laki membuat kita sangat nyaman dan memberikan segala perhatiannya, mungkin kita respect karena kita terlalu kesepian. Aku hanya takut menyalah-artikan perasaanku. Mungkin aku terlalu kesepian, makanya aku tidak mau kehilangan Michael. Karena saat itu yang dekat denganku hanya Michael. Entah, secara tidak sadar, aku menjauhi satu persatu laki-laki lain yang mendekatiku, disaat Michael mendekatiku. Akhirnya, aku kembali menolaknya. Untuk kedua kalinya juga. Aku takut. Takut semuanya berubah.

Sejak kutolak untuk kedua kalinya, Michael tak lagi memberi kabar. Aku ingin menghubunginya duluan, tapi segan. Begini ya, jadi perempuan. Gengsi untuk menghubungi duluan, padahal ingin. Sampai suatu ketika, aku nekat menghubunginya lewat BBM. Aku kaget melihat display picture-nya mesra dengan perempuan lain, dan telinganya ditindik! Soal tindikan, gak masalah. Tapi, ada nama “Noya” dalam status BBM-nya. Dia sudah punya pacar. Dia sudah punya pacar. Dia sudah punya pacar. Aku hampir mengurungkan niat untuk menghubunginya. Tapi aku tetap pada niat awalku.

“Mike, apa kabar? Kemana aja, kok gak pernah ada kabar? Gue kangen tau sama lo! Hahaha.” Untuk pertama kalinya aku menghubunginya lebih dulu. Terus-menerus melirik handphone, menunggu balasan darinya. Apa ini yang namanya karma? Ohgat! ‘Enggak! Gue gak boleh begini!’ batinku. Ada bunyi tanda BBM masuk!

“Hahaha ternyata lo bisa juga kangen sama gue!” jawabnya. Singkat. Padat. Lengkap. Aku lemas. Dalam pikiranku, dia tidak sungguh-sungguh menyukaiku. Dalam pikiranku, dia sangat menyayangi kekasih barunya. Noya. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi.

Dua bulan kemudian, dia menghubungiku (lagi). Aku melihat heran ke layar handphone ketika membuka BBM ternyata darinya. Dia bilang, dia sudah hampir dekat rumahku. Aku harus ikut dengannya, ke Blok M. Ini mendadak sekali. Tapi aku segera minta izin pada Mama untuk pergi sebentar. Dia menjemputku dengan mobilnya. Ini pertama kalinya kami pergi berdua. Biasanya aku selalu mengajak adik atau teman-temanku.

“Kita mau kemana? Lain kali jangan begini ya kalo mau ajak jalan! Gue gak suka.” Kataku cemberut.

Dia tertawa dan berkata, “maaf ya, Lu. Gak lagi-lagi deh. Gue pengen ajak lo ke suatu tempat yang bersejarah buat gue. Eh lo apa kabar?”

“Lo gimana, sih! Gak pernah ada kabar, sekalinya muncul tau-tau ngajak jalan! Mobil baru, ya?”

“Hehehe abisnya lo gak pernah nanyain kabar gue, sih! Enggak, gak baru-baru banget kok. Tapi lo cewek pertama yang naik mobil ini, selain nyokap sama adik gue.” Katanya tanpa menoleh padaku, tapi bibirnya terus membentuk senyuman.

“Lah, cewek lo gak pernah?”

“Enggak. Eh gimana kabar lo? Belum jawab.”

“Kenapa cewek lo gak pernah? Gak lo ajak emangnya?”

“Enggak, buat apa? Jangan bahas itu, ah!”

“Ceritain dong, gimana jadiannya? Kenal dimana?”

“Gak tau gue, Lu. Gue lupa.”

Sepanjang perjalanan gue mendesak Michael untuk cerita tentang kekasih barunya, tapi dia tetap tidak mau bahas soal itu. Akhirnya dengan malas ia menceritakan. Ternyata cewek itu baru dikenalnya seminggu, lalu Michael iseng minta dia untuk jadi pacarnya, akhirnya diterima, dan mereka jadian sampai sekarang. Hampir dua bulan.

“Tapi gue mau putus, Lu. Perasaan gue tiba-tiba hilang. Gue bosan. Gue gak serius sama dia.”

“Kalau gak serius kenapa dipacarin? Kasian tau, Mike. Namanya bosan pasti ada, bisa tiba-tiba muncul, sama kayak rasa sayang, tiba-tiba muncul.” Aku merasa seperti sedang curcol alias curhat colongan. “Tapi lo harus pertahanin hubungan lo.” Lanjutku.

Michael bersikukuh untuk mengakhiri hubungannya dengan Noya. Entahlah, mungkin hanya di depanku dia berbicara seperti itu, sedangkan di depan Noya dia begitu manis. Benarkan laki-laki seperti itu? Mungkin dia hanya ingin terlihat seolah-olah dia masih mengharapkanku, dan berpura-pura tidak serius dengan kekasihnya.

Sejak jalan malam itu, dia terus menghubungiku kembali, menghubungi lebih dulu. Sampai suatu ketika, dengan senangnya dia memberitahu bahwa dia putus dengan Noya. ‘Heran, putus kok seneng?’ batinku. Kami jadi semakin dekat. Sering pergi bersama, tapi aku selalu mengikutsertakan adik-adikku.

Dia kembali menyatakan perasaannya. Ketiga kali. Tapi aneh, aku masih belum merasa yakin dia akan menjadi kekasih yang baik. Padahal kami sudah sangat dekat. Lagi-lagi banyak pertimbangan. Keyakinan, masa lalu, dia juga sempat berpacaran dengan wanita lain meskipun dia mengaku bahwa Noya hanya pelampiasannya. Aku berharap dia berkata jujur. Bagiku, rasa suka saja tidak cukup untuk menjadikannya pacarku. Kesalahan yang sering dilakukan para remaja adalah, hanya didasari suka, lalu cepat memutuskan untuk menjadikannya kekasih. Setelah dijalani sebagai pacar, baru ketauan buruknya. Setelah ketauan, merasa tidak cocok akhirnya putus hubungan. Itu sama saja mengoleksi mantan kekasih. Aku mau lebih selektif dan hati-hati. Aku memang menyayanginya, mungkin lebih dari teman. Tapi aku juga harus memikirkan agamanya. Bagaimana kedepannya jika berbeda agama? Kemungkinan besar akan putus di tengah jalan.

Setelah kupikir dengan logikaku, mungkin aku tidak akan bersatu dengan Michael. Tapi kenapa aku tak coba berpikir dengan perasaanku? Kenapa aku tidak bertanya pada hatiku, apa yang hatiku mau? Sekitar bulan April 2013, aku memutuskan menerima cintanya. Itu pun setelah empat kali dia menyatakan perasaannya. Tanggal 01 April 2013, kami resmi berpacaran. Aku coba mengikuti kata hati, yang mengatakan bahwa Michael sungguh-sungguh menyayangiku, Michael bisa menjadi pacar yang baik, dan aku sangat menyayangi Michael. Betapa bahagianya dia saat aku meng-iya-kan tawarannya untuk menjadi pacar. Soal agama, Michael selalu meyakinkanku, bahwa kita bertemu untuk suatu alasan. Tidak mungkin Tuhan mempertemukan untuk akhirnya dipisahkan, mungkin kita sendiri yang membuat perpisahan itu. Hati kita adalah milik Tuhan, Tuhan penguasa hati kita. Dia yang meletakkan perasaan indah ini. Dia yang menyatukan aku dan Michael, meskipun agama membedakan. Tapi bukankah perbedaan harusnya disikapi sebagai sesuatu yang membuat kita saling menghargai? Yang terpenting adalah menjaga hati seseorang, bertanggung jawab atas hati seseorang, dan masih tetap di jalan-Nya. Akhirnya aku mengakui, aku kalah dengan hatiku.

Ini kisah awal dengan kekasihku, Michael Fatianotona Zega. Cowok Virgo asal Kepulauan Nias yang sekarang resmi jadi pacarku.

“Cinta adalah ketika aku menengadahkan tangan, kau melipat tangan; kita saling mendoakan.”

– to be continue –

Cerpen Karangan: Nurul Ikrimah Bamatraf
Facebook: https://www.facebook.com/nurul.zuyana
Hai, readers 🙂
Nama gue Nurul. Lahir 13 Desember 1994 di Jakarta hahaha cerpen ini kisah nyata loh, gue persembahin buat pacar gue tersayang, tergendut, tergalak. Jreng jreng! Michael Fatianotona Zega, yang kayaknya sering kasih kode ngarep gue bikin cerpen disini ;;)

Facebook: https://www.facebook.com/nurul.zuyana

Sementara facebook aja dulu ya 🙂 instagram, twitter, path, soundcloud, youtube, tumblr nanti nyusul 😀

Cerpen Cin(T)a Michael dan Nurul merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menatap Hujan

Oleh:
Kembali hujan di sore hari mengguyur bumi ini. Di sini intensitas hujan memang cukup tinggi, tidak heran banyak yang bilang kota ini kota hujan. Yap, benar Bogor. Tanah kelahiranku.

Cinta Beda Usia

Oleh:
Cerita ini berawal dari waktu aku masih smp. Namaku Ririn Marika, teman-temanku biasa memanggilku Ririn atau Rika. Biasalah anak ABG biasanya kerjaannya cuma chattingan doang. Saat itu aku baru

Gadis Pemimpi

Oleh:
Cinta… Cinta… Cinta… Kata itu terucap di bibir ku setiap detik, menit, jam, bahkan berhari-hari. Iya, itulah yang hanya ada dalam fikiranku. Aku tak tahu bagaimana menjalani cinta yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *