Cinta Monyet itu Tulus (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 December 2016

Hari demi hari pun kami lalui bersama, tak hanya suka, duka pun juga kami alami bersama.
Setiap hubungan pasti ada kendalanya sendiri, sebagaimana dengan hubungan kami ini, kami terkendala oleh jarak dikarenakan sekolah kami yang berbeda serta Atika yang memang dari awal tidak diperbolehkan oleh orangtuanya berpacaran karena dia disuruh orangtuanya untuk fokus ke sekolah saja, hal inilah yang membuat kami menjadi susah untuk bisa bertemu, sehingga aku dan Atika harus menjalin hubungan LDR sampai satu tahun lebih lamanya. Kami menjalin hubungan LDR ini hanya dengan dibekali oleh rasa percaya dan juga kesetiaan satu sama lain, kami tidak pernah putus komunikasi, walau kami hanya berkomunikasi melalui pesan atau telepon saja. Terbayang tidak bagaimana susahnya kami menjalin hubungan disaat jarak ikut campur dan orangtua yang tidak memberi restunya.

Setiap harinya saat aku berangkat pagi ke sekolah, kebetulan rumah Atika searah dengan sekolahku sehingga aku selalu melewati rumahnya, dia menunggu aku melewati rumahnya untuk memberikan senyum manisnya untukku dan aku pun juga memberikan senyum terbaikku untuknya (senyum terbaik bukan senyum termanis, karena senyumku kata teman-temanku gak ada manis manisnya), setiap hari aku dan Atika melakukan hal itu kecuali hari Minggu karena hari Minggu kami bolos sekolah. Meski demikian, meski hanya senyuman yang aku dapat, itu pun sudah membuat aku sangat senang dan rasanya rasa rindu ku ingin bertemu selama ini sedikit terobati, hal yang sama pun dirasakan oleh Atika.

Sampai pada suatu hari, sekolahku mendapatkan undangan kepada anggota OSIS sekolahku untuk bisa hadir ke acara Perpisahan kelas 9 SMPN 1 yang kebetulan merupakan sekolah pacarku Atika, dan dikarenakan aku merupakan salah satu anggota OSIS, aku pun ikut menghadiri ke acara tersebut bersama dengan teman-temanku yang lain yang juga merupakan anggota OSIS di sekolahku. Hal ini menjadi momen yang pas dan tepat untukku dan Atika agar bisa bertemu pada acara itu.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, aku dan teman-temanku berangkat menuju SMPN 1, entah kenapa aku sudah mulai gugup dan deg-degan pada saat itu. Saat aku dan teman-temanku sudah tiba di SMPN 1 kami disambut dengan baik dan ramah oleh siswa dan siswinya, dan yang membuat aku malu dan membuat jantungku berdetak kencang, aku disambut oleh wanita spesialku, hemmmm siapa lagi kalau bukan si dia? Atika. Aku malu-malu saat dia mengajak aku bicara dan aku jadi salah tingkah pada saat itu terlebih lagi teman-temannya yang melihati aku dengan Atika saat itu berdua, ya mungkin dikarenakan banyak dari teman-temanya yang belum tahu aku dan Atika itu berpacaran. Sebenarnya aku sedikit minder dengan Atika, dikarenakan tinggi badanku yang lebih pendek dibanding Atika, kulitku yang tidak seterang Atika, dan senyumku yang tak semanis dia serta penampilanku yang gak sekeren mantan-mantannya yang dulu.

“Sayang, apa kamu gak malu sama teman-teman kamu, kamu pacaran sama aku, akunya pendek, item, gak keren juga, aku jadi minder deh”.
“Ya enggaklah, aku itu sayang sama kamu gak peduli orang mau bilang apa, lagipula kamu itu kata teman-temanku orangnya imut-imut lucu gitu.”
“Ah masa sih teman-teman kamu bilang kaya gitu?”
“Iya imut-imut kaya tikus marmut, hehe peace becanda yang” Atika tertawa sangat lucu
“Ih kamu ini yah.” aku lalu mencubit pipi Atika
“Aaaw sakit Andi” cemberut dianya.

Temanku lalu memanggilku untuk segera berkumpul ke tempat acara karena acaranya akan segera dimulai.
“hehe.. Ya udah aku mau kesana dulu yah acaranya mau dimulai kayanya.”
“Iya sayang, aku juga mau kesana, kita kesana bareng-bareng yuk!”
Sampai akhirnya pada penghujung acara, kami semua pun ingin kembali ke sekolah. Saat aku melangkah menuju pergi ke parkiran, aku kembali dihampiri oleh Atika dan sepertinya kulihat ada sesuatu yang dia bawa di tangannya.
“Andi, tunggu aku” sambil berlari menghampiriku
“Iya, ada apa Atika?”
“Ini ndi, kado buat kamu”
“Apa ini ya?”
“Udah simpan saja dulu, nanti aja kamu buka ya sayang.”
“Ya udah deh, makasih sayang atas kadonya, sekarang aku mau pamit dulu mau kembali kesekolahku lagi.”
“Iya sama-sama, kamu hati-hati yah.”
Jujur hari ini aku merasa sangat bahagia karena bisa berjumpa dengan Atika meski hanya dalam waktu yang bisa dibilang sangat singkat namun sangat berkesan bagi aku dan Atika.

Sesampainya aku di rumah, aku segera membuka kado yang telah diberikan oleh Atika saat di sekolahnya tadi. Kado tersebut berukuran tidak terlalu besar dengan disertai bungkus berwarna ping, hemmm entah apa maksudnya kenapa warna ping gitu? (Abaikan dengan bungkus kadonya).
Aku penasaran dengan isi kado dari Atika itu, jujur ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan kado dari seorang wanita dan tentunya ini akan menjadi hal yang sangat spesial bagiku meski bagi orang lain itu adalah hal yang biasa saja. Aku pun membuka kado tersebut, sret sret perlahan ku buka dengan rapi bungkusannya, tebak apa isi kadonya? Jeng jeng, ternyata jam tangan berwarna hitam, aku tersenyum melihatnya, aku pun teringat sesuatu pantas saja beberapa waktu lalu Atika bertanya kepadaku barang apa yang sekarang belum kamu punya, salah satu jawabanku adalah jam tangan. Di dalam kado tersebut terselip kertas kecil dengan tulisan romantis dari Atika

“Dear Andi,
Andi sayang, semoga kamu suka dengan jam tangan yang aku berikan, maaf aku kasih hadiah seadanya, tapi semoga kamu menyukainya ya sayang. Kenapa jam tangan, bukan yang lain? Jawabannya karena aku ingin kamu agar kamu tak lupa waktu, lupa sholat, lupa makan, dan juga tak lupa sama aku, yang pastinya biar kamu bisa lebih menghargai waktu bareng aku, walau itu sedetik lamanya.
I miss you Andi, peluk ciumku buat kamu
Atika,”.

Begitulah isi dari kertas kecil tersebut, terasa sekali ketulusuan dari Atika, aku merasakan dia begitu tulus kepadaku dan begitu juga aku kepadanya. Hemm ini bukan cinta monyet seperti yang banyak dikatakan oleh orang kepada kami, cinta kami memang tulus.

Ujian kenaikan kelas pun tiba, aku dan Atika pun sama-sama ingin fokus untuk belajar sehingga seminggu lebih lamanya kami tak melakukan komuniksi untuk sementara seperti biasanya.
Dan ujian pun berakhir, aku segera menghubungi Atika karena sudah sangat kangen rasanya dengan dia.

Akhirnya kami sama-sama naik kelas dengan prestasi yang memuaskan, aku menjadi ranking ke 2 di kelasku begitu pula dengan Atika yang juga meraih ranking ke 2 di kelasnya, sama mungkin kami memang berjodoh, aamiin.
Setiap hari kami menjalani hubungan ini masih dengan hal yang sama seperti sebelumnya, yaitu pacaran jarak jauh hanya dengan berbekal komunikasi via handphone saja tentunya lama kelamaan hal ini membuat aku mulai merasa jenuh dengan hubungan ini.

Setiap orang pasti adakalanya berada pada suatu titik jenuh, sebagaimana yang sedang aku rasakan, aku merasa jenuh karena selama hampir satu tahun ini aku dan Atika sangat jarang sekali bisa bertemu berdua bertatap langsung dan bicara kepadanya.
Aku pun menelepon Atika untuk mengungkapkan unek-unek yang sekarang sedang melanda diriku
“Sayang, aku mau bicara sesuatu..”
“Iya yang, mau bicara apa?”
“Kamu sadar gak, udah kurang lebih satu tahun ini kita sulit untuk bisa ketemu, kenapa sih kita harus begini.?”
“Aku sadar, maafkan aku yang sulit untuk bisa bertemu dengan kamu, tapi sejujurnya aku pun ingin bisa ketemu sama kamu, tapi harus gimana coba?”
“Cari solusi, aku takut kita gak bisa bertahan kalau terus-terusan kita harus seperti ini.”
“Hemmm..”
Atika terdiam, terdengar di telepon sepertinya dia sedang menangis
“Sayang kamu nangis yah, udah jangan nangis kamu jangan sedih.”
“Andi kumohon jangan bahas ini dulu, aku sedih jadinya.” Sambil tersedu-sedu Atika berbicara padaku.
“Iya Aku minta maaf, kamu jangan sedih sayang, jangan nangis lagi.”
“Ya udah, begini saja beberapa bulan lagi kan kita akan Ujian Nasional dan setelah itu kita lulus, bagaimana kalo kita sama-sama melanjutkan sekolah kita ke SMA 2 saja, jadinya kalau kita satu sekolahan kita bisa ketemu terus, gimana?”
“Oh iya ya, betul juga, aku setuju dengan saran kamu sayang.”
“Ya udah kalau kamu setuju, kita harus bersabar dulu yah untuk beberapa bulan ini dan juga untuk fokus dulu menghadapai ujian nasional nanti biar kita bisa lulus sama-sama dengan hasil yang memuaskan.”
Aku pun merasa senang karena tak lama lagi kami akan berhenti menjalin hubungan dengan jarak jauh seperti ini lagi, rasa jenuh itu pun sedikit demi sedikit terobati.

Beberapa bulan setelah itu, Atika memberikan kabar buruk kepadaku, Ayahnya memintanya untuk melanjutkan sekolah ke luar kota,
“Andi, orangtuaku memintaku untuk melanjutkan sekolahku nanti ke luar kota.”
“Hah, Atika… benarkah seperti itu?”
“Iya ini memang benar, tapi aku menolak, namun orangtuaku memberikan dua pilihan, sekolah ke luar kota atau ke SMA 1, dan ayah sudah membelikan aku sepeda motor baru.”
“Atika, aku tak bisa berkata-kata untuk hal ini”
“Maafkan aku Andi, sepertinya aku harus memilih untuk melanjutkan sekolah ku ke SMA 1, aku tak ingin mengecewakan orangtuaku, kita masih bisa ketemu kok.”
“Bagaimana rencana kita beberapa waktu yang lalu Atika?”
“Rencana itu, bagaimana kalau kamu juga melanjutkan sekolah kamu nanti juga ke SMA 1 supaya bisa bareng sama aku.”
“Hemmm.. Atika, sepertinya tak mungkin, kamu tahu SMA 1 itu sma unggulan di kota kita, dan hanya siswa-siswa yang punya uang yang lebih saja yang bisa masuk ke sekolah itu, sedangkan aku hanya anak dari orang biasa berbeda dengan kamu Atika, maaf aku tak bisa, apa kamu tak bisa merubah keputusan orangtua kamu, coba bujuk mereka!!!”
“Bagaimana Andi, aku sudah berusaha bicara dengan mereka tapi keputusan mereka sudah tak bisa diganggu-gugat, coba kamu mengerti aku, jangan egois seperti ini”
“Aaah.. Kamu itu tak mau berkorban sama sekali kepadaku.”
“Andi maafkan aku..”
“Aku kecewa dengan keputusan kamu, jangan hubungi aku dulu untuk saat ini aku ingin sendiri tanpa siapa pun.”

Sejak kejadian itu kami sering bertengkar, titik permasalahannya berawal dari keputusan Atika yang tidak seimbang dengan apa yang Aku harapkan. Setiap harinya pun kami menjadi tidak pernah akur lagi, terutama diriku yang sangat sensitif dan emosiku yang tak terkendali saat itu.
Hingga pada akhirnya pertengkaran kami menemui puncaknya, karena Atika semakin tak sanggup mengatasi sikapku yang berubah drastis itu, dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang selama ini kami jalin bertahun-tahun bersama, aku pun semakin tak kuasa semakin rapuh rasanya hidupku mendengar keputusannya yang sangat menyakitkanku itu.
“Andi kamu sangat egois, aku tak bisa meneruskan hubungan ini lagi, maafkan aku.”
“A a a a tika, jangan tinggalkan aku aku tak ingin kehilangan kamu”
“Aku harus melakukan ini maafkan aku, kita masih bisa bersahabat”.
Hal yang tak aku inginkan pun terjadi, sungguh tak percaya aku, hubungan kami harus kandas karena adanya perbedaan diantara kami. Aku paling benci dengan kata-kata “Kita putus, tapi kita masih bisa jadi sahabat.”

Hari-hariku pun berubah tidak seperti biasanya lagi, kini hidupku merasa sepi tanpa ada Atika, komunikasi kami berdua pun sudah jarang dilakukan hampir sama sekali tidak ada lagi. Sampai akhirnya UN tiba, setelah itu kami sama-sama lulus, dan setelah lulus itu aku dan Atika benar-benar sudah tidak ada komunikasi sama sekali lagi.
Terdengar dari informasi yang kudapat, Atika sudah mempunyai pacar baru di Sekolahnya yang baru, begitupula dengan aku yang juga sudah bersama pacar yang baru pula, namun hubunganku hanya berjalan beberapa bulan saja. Jujur aku masih belum bisa move on dari Atika, hingga setahun lamanya aku harus sabar menahan perasaan pahitku itu. Aku sadar benar apa yang dikatakan orang “Cintailah kekasihmu sekedar saja barang kali suatu saat dia menjadi orang yang paling kau benci dan sebaliknya.” Tapi aku bisa apa, nasi sudah jadi bubur, aku sudah terlanjur jatuh cinta terlalu dalam makanya aku sulit untuk move on lagi.

Hingga akhirnya aku bertemu dengan seorang wanita, namanya Annis dan kami menjalin hubungan hingga sekarang.
Waktu pun terus berjalan, hingga akhirnya aku lulus SMA dan akan melanjutkan untuk kuliah. Mengenai Atika, yang kutahu dia sekarang melanjutkan pendidikannya ke fakultas kedokteran dan mengenai aku, aku sudah bisa bangkit dari Atika, dan aku sudah menemukan cintaku lagi yang sampai sekarang aku masih bersamanya dan masih akan tetap bersama, bersama Annis wanita yang menghiasi hari-hariku saat ini.

Sungguh tak tertebak alur cerita kehidupanku, ternyata benar, sebesar apapun rasa cinta itu dan selama apapun hubungan itu terjalin kalau seandainya ditakdirkan tidak berjodoh ya pasti akan berpisah, seperti cerita hidupku ini.
Satu lagi, Jangan egois dengan pasanganmu, tak ada yang suka keegoisan.

Cerpen Karangan: Normadani
Facebook: Dhanisna

Cerpen Cinta Monyet itu Tulus (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


No Come Back

Oleh:
“Udah nunggu lama, ya?! Maaf, ya?!,” ucap Arka dengan duduk di depan Felly. Kekasihnya. “Yah.. lumayan lah. Kamu, darimana? Tumben lama?,” tanya Felly. “Maaf, tadi ada meeting dadakan. Jadi,

Cinta Yang Telah Pergi

Oleh:
Pada sore hari Aku duduk di teras belakang rumah, sambil liatin ikan hias piaraan papa di kolam kecil samping teras. Aku kepikiran terus kata-kata Mutia sahabat baik aku di

Persahabatan

Oleh:
Namaku Nurullia Annisa, biasa aku dipanggil Nurul. Aku memiliki tiga orang sahabat yaitu Fifah, Ami, dan Asri. “Nurul… Bangun Nak sudah jam 05.00 ayo bangun salat subuh dulu,” perintah

I Will Love You Forever

Oleh:
Sorot mentari senja mengiringi langkah gontaiku menuju tempat tinggalku. Air mata mengalir di pipiku. Kini semua harapanku pupus sudah. Rangga, seseorang yang telah membuatku jatuh cinta, telah menjadi milik

Daydream

Oleh:
Hari itu awal dari semester genap, aku sudah kelas 3 SMP. Betapa bahagianya aku akan hal itu. Lebih bahagia lagi saat aku bertemu seorang anak SMA yang baru saja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *