Cinta Mustahil Di Dua Alam Berbeda (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 11 May 2016

Tiba-tiba, aku mulai terhanyut lagi dalam pikiran masa laluku. Aku melihat seorang Gadis yang marah dan menamparku di sebuah dermaga pantai. Gadis itu menangis, berlari, dan menggandeng tangan seorang laki-laki yang sedang menunggu di depan mobil mewahnya menuju ke sebuah kafe di pinggir pantai. Pikiran itu langsung menghilang dan aku mulai sadar kembali. Aku melihat Angela sedang berbicara kembali dengan Laura. “Angela, kau harus sadar secepatnya!” teriak Laura. Sebuah pintu dengan anak tangga mulai muncul di samping Angela. Aku berpikir bahwa pintu itu mungkin adalah jalan keluar dari alam mimpi ini.

Aku berlari dan segera menaiki satu per satu anak tangga itu. Langkahku terhenti melihat Angela yang juga ikut menaikinya. “Angela, kau tidak seharusnya berada di sana,” teriak Laura dengan menangis. “Aku mohon, Angela. Kembalilah ke alam sadarmu!” teriak Laura cukup keras.

Angela terus menaiki anak tangga itu dan menghiraukan teriak sahabatnya. “Ketahuilah, semua orang menanti kau sadar. Apa kau tega meninggalkan kami semua?” tanya Laura dengan air mata yang sudah menutupi seluruh wajahnya. Angel melihat ke Laura dengan wajah sedihnya. Semua yang ada di alam mimpi mulai kacau dan badai petir mulai datang. Dalam pikiranku, aku mulai terbesit dengan suatu perkataan seorang wanita. Aku melihat ketika aku terbaring koma di rumah sakit. Aku tidak bisa melihat apa pun, kecuali kegelapan. Hanya suara yang bisa aku dengar. Suara perkataan seorang wanita yang menangis dan memanggilku. “Ki, aku mohon padamu. Sadarlah!” teriak wanita itu.

Aku tidak bisa melihat wajah wanita tersebut, aku hanya bisa mendengar suara wanita tersebut. Pikiran itu mulai pudar dan aku kembali sadar. Aku masih melihat di mana Angela terus naik anak tangga itu dan Laura yang masih menangis. Aku mulai sadar bahwa di alam mimpi inilah, semua kepingan-kepingan memori masa laluku mulai terbentuk. Pikiran itu datang secara tiba-tiba. Aku melihat pintu itu dihantam oleh petir dan Angela terlempar begitu saja. Angela mulai terbaring terkulai di pinggir pantai. Aku dan Laura berlari mendekatinya. Namun, pusaran air menyerap diriku dan mengeluarkan diriku di alam mimpi Angela. Aku melihat Angela yang terbaring di rumah sakit. Wajahnya pucat dan semua alat rumah sakit dikenakan pada tubuhnya. Apa yang menjadi penyebab dia seperti ini?

“Ini semua kesalahanku,” kata Angela yang mengejutkanku.
“Bukankah kamu berada di alam mimpi?” tanyaku.
“Kau pikir di alam mimpi itu adalah diriku yang sesungguhnya?” tanya Angela kembali.
“Tunggu, apa kamu ada di alam roh?” tanyaku. Angela mengangguk saja.
“Manusia itu aneh. Semua yang ada di alam mimpinya, jiwa, serta raganya tampak menyatu dan saling berhubungan,” kata Angela.

“Jadi, kamu tahu semua apa yang telah aku lakukan padamu di alam mimpi?” tanyaku. Angela hanya mengangguk saja.
“Yah, aku tahu kamu jatuh cinta padaku. Aku tahu kamu mengajakku berhitung jumlah bintang di langit,” kata Angela sambil mendekati raganya yang terbaring di rumah sakit.
“Apa jiwamu tidak bisa menyatu lagi ke tubuhmu?” tanyaku.
“Sudah ku coba,” jawab singkatnya.
“Sebenarnya, mengapa kau sampai terbaring koma?” tanyaku. Angela membuat sebuah cermin dan memberikannya padaku. Aku melihat Angela ketika dia pingsan karena panasnya matahari. Semua orang yang melihatnya tergeletak itu tampak tidak peduli.

Semua orang hanya memandang dari kejauhan dan menghiraukannya karena takut kalau dituduh melakukan sesuatu terhadapnya. Laki-laki tua yang membantu Angela juga meninggalkannya. Panas matahari terus menyengat tubuhnya sampai seorang pemuda menolongnya. Cermin itu hilang dan aku mulai hanyut dalam pikiranku. Aku melihat sebuah kuburan bertuliskan namaku. Seorang wanita teriak histeris. Aku melihat wanita yang sama dalam setiap kepingan memori masa laluku. Aku melihat wanita itu dijodohkan oleh orangtuannya dengan seorang laki-laki dan mereka akhirnya menikah. Alangkah terkejutnya aku bahwa wanita dan laki-laki tersebut mirip dengan orangtua dari Angela. Sebuah pemandangan aneh terjadi di sekelilingku. Aku seperti terbuang dalam dimensi lain sampai aku tiba di sebuah dermaga pantai. Di sana aku melihat seorang wanita yang selalu ada dalam pikiranku yang bisa aku bilang itu adalah mama Angela.

“Bodoh! Kau memang bodoh, Dani,” kata wanita itu.
“Kau siapa?” tanyaku yang pura-pura tidak tahu.
“Aku adalah Mimi. Yah, kau tahu bahwa aku adalah Mama Angela. Gadis yang kau cintai ketika kau sudah mati,” kata Mimi. “Yah, aku mencintainya. Dari mana kau tahu?” tanyaku.
“Aku bisa melihat setan. Aku bisa melihatmu terus mengikuti putriku setiap hari, dari lahir sampai dia tumbuh besar. Kau pikir, aku tidak mengetahui dirimu sejak kau pertama kali berada di rumahku?” tanyanya dengan sedikit marah. “Asal kau tahu saja. Aku melihatmu menjadi arwah manusia membuatku mimpi burukku setiap malam dan menjadi ketakutanku,” lanjutnya.

“Kau ingat kejadian di dermaga pantai?” tanyanya kembali. Aku mengangguk saja.
“Aku sebenarnya tidak ingin marah sehebat itu padamu. Aku terpaksa,” katanya sambil menangis.
“Terpaksa apa?” tanyaku.
“Orangtuaku memaksaku untuk menikahi seseorang laki-laki yang saat ini telah menjadi Papa dari Angela. Aku tidak berpikir bahwa karena kejadian itu kau melakukan hal yang nekat dan bodoh,” katanya sambil menitikkan air mata.

Aku mulai ingat kejadian di dermaga pantai itu sampai aku mengurung diriku selama seminggu di kamarku terus menerus. Sampai suatu ketika, aku memutuskan loncat dari atap mall dan mati di bawah sana.. “Kau mulai ingat? Bodohnya dirimu memilih jalan untuk bunuh diri. Ketahuilah bahwa orang yang bunuh diri, mereka tidak akan bisa masuk ke surga maupun ke neraka. Lihat saja dirimu, kau hanya menjadi arwah selama-lamanya dan yang kau tunggu hanyalah sebuah kesia-siaan,” kata Mimi yang membuat hatiku tersayat-sayat.

“Mi, aku tahu aku salah dengan hal itu. Ketahuilah aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin melihat dirimu terus menerus disakiti oleh si laki-laki sialan itu,” kataku sambil sedikit teriak. “Kau tahu apa dengan laki-laki itu? Memang awalnya aku tidak cinta sama dia karena dia adalah orang dipaksa untuk menikah denganku. Akhirnya, kau bisa lihat sendiri bahwa aku lebih cinta dengannya,” katanya dengan menangis.
“Jadi, apakah aku sudah tidak ada lagi di hatimu?” tanyaku. Mimi menundukkan kepalanya dan menangis. Semua berubah ketika percakapan ini terjadi. Aku dan Mimi berubah ketika kami masih remaja dulu. “Aku tidak bisa menjawabnya,” jawabnya yang singkat.

“Dengan apa lagi aku buktikan bahwa aku cinta padamu?” tanyaku. Mimi mulai berjalan menjauh dariku.
“Berhentilah melakukan hal bodohmu,” jawabnya.
“Hal bodoh apa yang aku lakukan?” tanyaku kembali.
“Kau masih belum mati. Masih ada harapan bagimu untuk hidup. Kuburan yang ada dalam pikiranmu itu bukanlah dirimu sesungguhnya. Kau masih terbaring koma dan ragamu berada di salah satu rumah sakit,” jawabnya.

“Apa itu benar?” tanyaku ketiga kali.
“April mop,” jawabnya yang bercanda. “Jelas, aku tidak pernah berbohong terhadap dirimu. Aku telah melihat ragamu yang sudah terbaring koma cukup lama. Aku juga melihat istrimu yang cantik dan setia menemanimu,” jawabnya.
“Istri? Apa aku sudah menikah?” tanyaku lagi.
“Kau dijodohkan juga oleh orangtuamu dan kamu menikah saat masih terbaring koma. Sebenarnya kau harus segera kembali ke ragamu. Salah satu hal yang bisa membuatmu kembali pada ragamu adalah kenalilah siapa dirimu,” jawabnya.

Aku mulai masuk ke dalam pikiranku di mana masa kecilku yang indah sampai aku mengenal Mimi, cinta pertamaku ketika aku duduk di bangku SMP. “Secepatnya, kau harus kembali. Sebentar lagi keluargamu akan melepaskan segala peralatan medis dan ikhlas meninggalkanmu. Jika kau tidak segera kembali, tidak ada lagi harapan untukmu hidup kembali,” katanya. Aku berlari menghampiri Mimi dan memeluknya. Aku ingin ungkapkan semua perasaan cintaku padanya. “Mi, aku tahu kita tidak akan pernah bisa bersama kembali. Tapi, ketahuilah sampai seumur hidupku aku akan terus mencintaimu dan jika aku kembali hidup, aku ingin berdiri di hadapanmu pada senja yang sama ketika kita pertama kali bertemu. Apakah kau masih mencintaiku, gadis manisku?” kataku yang langsung keluar dari hati.

Semua pikiran masa laluku telah terbentuk dan aku mulai mengenal siapakah diriku sesungguhnya. “Aku harap, aku bisa melihat senyum yang sama ketika kamu tersenyum pertama kali padaku jika aku kembali hidup nanti. Jika aku tidak punya harapan untuk hidup kembali, aku hanya berharap semoga kisah cinta kita selalu membekas di dalam hatimu. Aku akan menunggumu di keabadian nanti, walaupun mustahil bisa bersamamu kembali,” kataku yang membuat Mimi terus menangis.

Aku dan Mimi terus berdiri di dermaga pantai itu di mana matahari terbenam di ufuk barat. Aku hanya berharap bahwa aku bisa mencintainya kembali. “Jujur saja, aku masih mencintaimu, Dani. Jika waktu itu bisa ku putar kembali, aku ingin menunjukkan pada indahnya senja bahwa cinta kita sejati. Biar setiap orang bisa melihat betapa indahnya cinta karya Tuhan. Jika waktu dan harapan itu sudah tiada, aku hanya berharap biarlah cinta itu tetap hidup di antara hati kita berdua, ” kata Mimi dengan air mata yang menetes di wajahnya.

Aku mengusap air mata yang menetes di wajahnya. “Tunggu, biar aku hapus hal kecil yang merusak pesona indah wajahmu,” kataku sambil mengusap air matanya. Mimi tertawa dan tersenyum menangis padaku. Mungkin sudah tidak ada lagi kata yang bisa aku ucap, hanyalah sebuah perasaan yang bisa berbicara. Biarlah angin rindu itu membisikkan perasaanku di telinganya. “Kau mirip Angela,” kataku sambil tersenyum.

“Mungkin, inilah alasan aku jatuh cinta dengannya. Aku melihat Angela adalah cerminan dirimu saat pertama kali kita masih bertemu,” lanjutku.
Mimi tetap tersenyum malu dan seolah-olah kejadian ini mengulang peristiwa di mana aku bertemu dengannya pertama kali di dermaga pantai.
“Jangan lakukan hal bodoh itu lagi, Dani,” pesannya yang menunjukkanku untuk tidak melakukan bunuh diri lagi.
“Aku berharap kau bisa kembali ke dalam ragamu dan kau diberikan kesempatan kedua,” katanya.

Aku mulai masuk dalam pikiran dan alam mimpiku untuk mengenali diriku seutuhnnya. Semua pikiran itu terhenti dan aku masih gagal melakukannya.
“Coba lagi. Aku percaya kamu pasti bisa melakukannya,” katanya sambil tersenyum.
“Ngomong-ngomong, kau masih dalam alam mimpiku,” kata Mimi yang membuatku bingung.
“Ini alam mimpimu?” tanyaku.
“Iya, kau adalah ketakutan di masa laluku dan harapanku saat ini. Sampai kapan pun kau terus melekat di alam mimpiku,” katanya yang membuatku takut.
“Jadi, apa aku tidak bisa ke luar dari sini?” tanyaku. Mimi hanya tertawa malu.
“Bisa, aku akan menghapus semua memori tentangmu di otakku ini,” katanya sambil menunjuk pada kepalanya. Hatiku mulai sedih dengan perkataannya.

“Kau akan melupakanku selamanya?” tanyaku. Mimi mengangguk dan mulai membuang semua memori tentang diriku.
“Lebih baik aku lupa denganmu selamanya dibandingkan kau tidak punya harapan untuk hidup kembali,” katanya. Aku mencoba menghentikan apa yang dilakukannya dan sebuah pusaran air itu mulai datang menyerap semua yang ada di sekitarnya. Seketika, Mimi menghentikannya dan mulai membuka matanya.
“Aku cinta padamu. Cintailah wanita yang selalu ada di sisimu ketika kau terbaring koma. Cintailah dirinya sama seperti kau mencintaiku. Aku tak bermaksud akan melupakanmu. Aku hanya ingin ketakutan masa laluku hilang dan biarlah harapan saat ini itu pergi karena aku sudah tidak membutuhkannya. Aku sudah mendapat lebih dari itu semua, yaitu kenyataan,” katanya.

“Kenyataan?” tanyaku.
“Yah, kenyataan bahwa kita tidak ditakdirkan bersama, tapi kita ditakdirkan untuk memiliki perasaan cinta yang selalu ada pada kita,” jawabnya.
“Dan itu berada di sini,” katanya sambil memegang di dadaku.
“Aku juga mencintaimu, Mimi,” kataku sambil memeluknya. Mimi mulai melepaskan pelukannya padaku dan mulai membuang segala memori tentang diriku. Seketika, pusaran air itu menghisap diriku dan membawaku ke suatu dimensi yang entah kemana pusaran itu membawaku.
“Ohh ya, cintailah Angela. Berikanlah semangat hidup padanya agar dia dapat sadar dan pulih dari masa kritisnya,” kataku sambil teriak yang entah apa didengar olehnya atau tidak. Aku hanya berharap dia bisa berbahagia bersama keluarga kecilnya dan mencintai mereka.

Aku tiba di mana ragaku sudah terbaring cukup lama. Aku melihat seorang wanita yang mengalunkan sebuah lagu di telingaku. Air matanya membasahi pipinya dan beberapa suster melepaskan satu per satu alat medis itu dari tubuhku. “Aku tahu, aku bukanlah orang yang kamu impikan dalam setiap mimpimu. Aku tahu, aku hanyalah menjadi orang yang dijodohkan oleh orangtuamu untuk menjadi pendampingmu. Tapi, ketahuilah bahwa aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu,” katanya dengan suara tangisnya.

Alunan musik itu terhenti dan hanyalah suara tangis wanita itu yang terdengar olehku. Semua suster sudah melepas semua alat yang ada pada tubuhku. Aku makin melihat bagaimana cahaya hitam itu mulai menyelubungi seluruh tubuhku. Aku mulai mencoba menyatu dalam jiwaku kembali. Tapi, ragaku terus menolak jiwaku. Aku terus mengingat setiap pikiranu di masa laluku dan masih saja ragaku terus menolakku. Kabut hitam terus menyelubungi tubuhku dari kaki sampai perut. “Aku adalah manusia yang tidak sempurna, aku telah berdosa terhadap hal bodoh yang aku lakukan di masa laluku. Tapi, aku punya satu hal yang masih bisa aku perjuangkan. Namanya adalah cinta. Biarlah aku hidup untuknya agar cinta itu bisa menjadi sempurna. Ya, Tuhan,” doaku.

Seketika, kabut putih mulai datang dari arah hatiku menghapus kabut hitam itu. Jiwaku mulai masuk ke dalam ragaku. Semua hal mengenai diriku di dimensi roh telah hilang, yang adalah kenyataan bahwa aku adalah manusia biasa. Aku membuka mataku dan semua orang melihatku dengan penuh harap. Semua orang yang ada di sekelilingku mulai tangis senang. “Akhirnya, setelah sekian lama,” kata wanita yang selalu ada di sampingku saat aku masih kritis. Tapi, kenapa aku masih ingat semua pikiranku di saat aku di dimensi roh? Ahh, biarin aja. Sekarang, merekalah yang memberikan dukungan terhadapku adalah bagian dari keluargaku. Aku harus mencintai mereka seperti apa yang menjadi pesan terakhir Mimi.

Semua dokter dan suster kagum dengan apa yang mereka lihat. Bagaimanapun juga mereka merasa bersalah telah melepaskan harapan hidupku. Aku mulai mencoba mengenal satu per satu mereka dan semua pikiran itu datang dengan sendirinya. “Beruntung, kau tidak kehilangan ingatanmu,” ujar wanita yang selalu setia berada di sampingku. Aku mulai kenal wanita itu namanya adalah Cinta. Yah, mungkin doaku yang aku maksudkan untuk dirinya. Dia adalah wanita yang cantiknya tidak jauh beda sama Mimi. Bagiku, dia lebih cantik karena dia juga setia terhadap diriku. Walaupun, aku tidak pernah kenal dengan dirinya sebelumnya.

Hari ke hari mulai aku jalani sebagai manusia biasa dan aku mencintai Cinta. Sampai suatu ketika, Cinta melahirkan anak pertama perempuan. Aku mengambil nama Angela. Yah, aku tahu memang hal ini membuat aku tidak bisa move on dari masa laluku. Tapi, aku suka dengan sifatnya. Dia adalah gadis yang cantik, murah senyum, dan periang. Aku harap sifatnya itu tertular pada anak pertamaku ini. Tahun ke tahun aku sudah menjalani hidup. Aku sudah mempunyai keluarga kecil yang bahagia. Cinta melahirkan anak kedua laki-laki kami yang bernama Boy. Aku dan Cinta juga sudah memiliki pekerjaan yang cukup bagi kami. Sampai suatu ketika, kami semua berlibur di pantai. Di saat itulah aku bertemu dengan Mimi dan keluarganya kembali. Seperti apa yang telah aku katakan, aku akan bertemu pada senja yang sama ketika aku pertama kali berjumpa dengan dirinya.

“Apakah kau masih mencintaiku, gadis manisku?” tanyaku. Mimi seakan ingat akan semua yang telah terjadi dan memandangku dengan tatapan yang perhatian.
“Ya, aku mencintaimu. Seperti yang kau lihat,” kata Mimi menunjuk pada Angela yang bermain air di pinggir pantai. Aku melihat Angela, anak Mimi sudah tumbuh menjadi gadis remaja. “Kini, dia sudah tidak lagi mengidap penyakit aneh itu. Memang cinta bisa mengubah segalanya,” kata Mimi.
“Bukan itu jawabannya. Sekarang, lihatlah pada deru ombak ini,” kataku.

“Ungkapkan perasaan cintamu padaku dan letakanlah di tengah ombak itu karena kita sudah memiliki sesuatu yang masih harus kita cintai,” lanjut kataku.
“Dan itulah keluarga kita masing-masing,” ucapku yang membuat Mimi tersenyum malu dan segera berlari bermain bersama keluarganya.
Cinta menghampiriku dan memberikan minuman padaku. “Aku ingin menunjukkan padamu. Hal yang membuat senja itu lebih indah dari biasanya,” kataku pada Cinta.
“Apa itu?” tanya Cinta.
“Namanya adalah Cinta,” kataku yang membuat Cinta tersenyum malu.

Cerpen Karangan: Albert Immanuel
Blog: Musafircinta19.blogspot.com

Cerpen Cinta Mustahil Di Dua Alam Berbeda (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta itu Logika

Oleh:
Akhirnya kini aku belajar mencintai Nandha. Wanita yang tak kuhiraukan cintanya. Mungkin dia yang bisa menerimaku apa adanya. Dulu aku percaya cinta itu tak ada logika. Kebodohan memang jika

Ajari Aku Teori Cinta (Part 1)

Oleh:
Kuperhatikan semua kata-kata yang terucap dari mulut ibu siska selama kurang lebih 5 menit sampai akhirnya “sarah ibu sangat bangga, pertahankan nilai prestasimu ya” Hah’ binggo! tak tahan ku

Restart

Oleh:
Kadang aku ingin pergi dan berlari dari semua masalah ini. Menghentikan sejenak aktivitas, pergi dan menjauh dari kebisingan, menghindari siapa pun lalu pergi dan sembunyi. Ingin rasanya berdiam diri

Hujan Di Abu Abu

Oleh:
Masih terdiam di derasnya hujan yang membasahi luasnya kota. Dinginnya udara tidak membuat tubuh ini tergerak. Kerasnya suara deras hujan yang jatuh di antara jalanan dan atap bangunan hanya

Bara Cinta Rindu

Oleh:
12 Desember 2000 “Dasar wanita gak tahu diri!”teriakan Papa menyambutku di balik pintu. Wajahnya merah padam.Napasnya memburu penuh amarah.Dengan tangan kanan terangkat ke atas.Siap menerjang Mama yang kini bersandar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *