Cinta Sahabatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 September 2016

Mungkin aku tak pernah sadar jika ia telah melepaskan aku, aku tidak berhak lagi untuk memilikinya. Mungkin aku adalah orang yang paling gila di dunia ini, aku dengan berani mengajaknya bertemu di tempat biasa dan ia pun datang seperti yang aku harapkan, “Ada apa” tanyanya, “Entahlah, aku hanya ingin bertemu denganmu”, “Untuk apa?”, “Melepas rindu” hanya manusia bodoh yang bisa melakukan hal itu, meminta orang yang sudah tidak menganggapnya apa-apa untuk bertemu dengannya di tempat biasa.

Diriku adalah sosok yang tidak asing di mata semua siswa SMA ini, karena aku berteman dengan siapa saja, “Hey” sapa Dimas, “Hey” ucapku, “Ntar sore liat?”, “Mungkin”, “Liat deh masa’ nggak mau dukung temennya”, “Mau dukung temen-temen apa dukung kamu?” wajah Dimas memerah, aku paling suka membuat geer cowok apalagi dia tidak menyembunyikan kesaltingannya di depanku.

Sore ini aku memarkir motor di depan lapangan, aku menghampiri teman-teman yang sudah lebih dulu duduk di samping lapangan, “Hey, kalian lawan siapa?” tanyaku, “Katanya sih IPS 4”, “Ouwh semangat ya”, “Iya” hanya Dimas yang merespon ucapanku, lalu ia melangkah menuju ke tengah lapangan. Deg. Aku seperti merasakan hembusan angin di hati yang membuatku gugup, aku melihat dia ada di depan gawang IPS 4 berarti dia membela kelas yang menjadi lawan kelasku. “Hayoo pilih yang mana?” ucap Putra yang tiba-tiba duduk di sampingku, “Ya pilih kelasku lah” aku melempar senyum ke arah lapangan, “Yakin nih, ada pujaan hati loh di IPS 4”, “Biarin aja, lagian dia kan kelas XI kok ikutan main?”, “Nggak apa-apa kan, kelas kamu juga ngambil Dimas dari kelas XI” aku berbincang banyak hal bersama Putra, sahabat yang aku dapatkan sejak kelas X, “Goooaaalll” ucap Putra, aku tertawa melihat reaksinya, “Kayak nonton football di Tv aja” ucapku, “Ini kan lebih seru dari yang nonton di Tv, kelas kamu hebat juga ya”, “Iya donk, kelasnya siapa dulu”, “Yee Pe-De banget”, “Biarin” Putra tertawa dengan gaya khasnya yang membuatku rindu jika lama tidak bertemu dengannya.

Permaianan dihentikan, ada kecelakaan antara penjaga gawang IPS 4 dengan salah satu pemain dari kelasku, “Andini bantuin” ucap Zen, “Apa?” aku berlari dan akhirnya permaianan dihentikan dengan score 7-3 kemenangan ada di kelasku. Aku memapah penjaga gawang IPS 4 yang tak lain adalah mantan kekasihku, Faris. Saat aku mengobati lukanya sempat kulihat di seberang sana Dimas memperhatikanku di tengah kerumunan teman-teman, “Aduh sakit, pelan-pelan donk” ucap Faris, “Oh maaf”, “Gimana sih, dibilang pelan-pelan tetep aja kasar”, “Cerewet banget sih loe, obatin aja sendiri nih” aku melempar kapas itu padanya, aku melangkah ke arah teman-temanku, “Ini obatnya”, “Makasih”, “Diobatin sendiri apa gimana?”, “Sendiri aja, aku bisa kok” aku meninggalkan Dimas yang berusaha mengobati lukanya yang lebih ringan dibanding luka miliki Faris.

Aku mencari udara segar di luar areal lapangan, karena di dalam udara begitu panas dan tak bersahabat, “Kenapa manyun gitu?” tanya Putra, “Males aja, tuh anak jadi orang egois banget” Putra merangkul bahuku, “Terkadang orang yang mencintai kita tidak tahu bagaimana caranya untuk untuk mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, lalu mereka akan mencoba menarik perhatian kita walau terkadang caranya itu membuat kita kesal atau marah”, “Lalu?”, “Ya kita harus peka, mereka yang mencintai kita akan selalu mencari celah agar kita selalu memikirkannya”, “Tapi aku nggak mau ada cinta lagi antara aku dan dia” Putra mengacak-acak rambutku sambil tersenyum, “Dasar cewek”.

Aku memang belum bisa melupakannya, tapi aku tidak mengharapkan dia kembali seperti yang dulu, “Ada yang mau aku bicarain” ucap Dimas, “Ada apa, Dim?”, “Kamu mantannya Faris ya?”, “Iya, emang kenapa?”, “Nggak kenapa-napa kok cuma nanya aja”. Dua minggu yang lalu aku mendengar kabar Faris dekat dengan seorang siswi kelas X, dan hari ini aku melihat dia menggandeng siswi itu, entah apa yang ada di hatiku yang membuat aku seperti tertusuk duri, “Jangan diliat, ntar sakit hati” ucap Putra, “Aku nggak sakit hati kok, tapi aku bangga ngeliat dia bisa dapet pengganti aku” ucapku, “Andini aku duluan ya” seru Dimas dari kejauhan, aku juga sempat melihat Erika tersenyum di belakangnya. Kusandarkan kepalaku di bahu Putra, “Semua orang sudah menemukan cintanya, lalu aku?” Putra terdiam sejenak aku melihat ke arah tatapan matanya, “Disana seseorang juga sudah berdua, tinggal aku yang sendiri disini” aku mengerti apa yang dimaksud Putra, “Walaupun kita sama-sama sendiri, tapi aku akan selalu ada buat kamu” ucapku mencoba menghibur Putra atau kedengarannya juga menghibur diriku sendiri.

Sore ini aku mencoba membuka diri, Putra mengajakku melihat teman-temannya mengikuti lomba olahraga, “Din, ikut aku yuk?” ajaknya, “Kemana?”, “Lihat Sigit lomba”, “Ya udah deh mumpung aku lagi nggak ada acara” aku memakai baju santai yang sewarna dengan Putra sampai banyak yang mengatakan aku dan Putra adalah pasangan yang serasi. Tanpa aku tahu ternyata Sigit satu team dengan Faris, saat lomba usai mereka berhasil membawa piala kemenangan, Faris menghampiriku “Andini”, “Iya?”, “Kamu ngapain?”, “Ini di ajak Putra” setelah Faris meninggalkanku, Putra datang dengan membawa minuman, “Masih cinta dia?” ucapnya sambil menyerahkan minuman dingin padaku, “Menurut kamu?”, Putra memalingkan wajahnya dan terdiam.

Aku dibuat bingung oleh sikap Putra yang berbeda dari biasanya, dia selalu menghindar setiap aku mendekatinya. Sampai siang ini, aku berjalan perlahan mendekatinya yang sedang duduk di kursi taman “Hey” sapaku, Putra berdiri melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke arahku, “Oh jadi gini ya sekarang sama aku, fine kalau itu mau kamu aku nggak akan ganggu kamu lagi” aku kecewa melihat sikapnya, entah mendengar atau tidak jarak beberapa meter aku mendengar langkah kaki, “Ngapain kamu?” tanyaku. Putra memelukku sangat lembut, “Aku minta maaf, aku terlalu egois karena aku memaksa kamu mengerti apa yang tidak kamu mengerti” aku hanya bisa diam dalam pertanyaan besar. Putra melepaskan pelukannya dan meraih kedua tanganku, “Aku sayang sama kamu melebihi sayang pada sahabat, aku mencintai kamu lebih dari segalanya. Aku ingin menghapus lukamu dan menggantinya dengan senyum bahagia” mendengar ucapan Putra akhirnya perlahan aku mengerti, aku pun tidak ingin menyia-nyiakan orang yang mencintainku. Aku memiliki banyak cerita indah dengan cinta, tapi aku melewati sedu sedan bersama sahabat. Kini sahabatku telah menjadi belahan jiwaku, aku akan menjaga cinta ini hingga nanti takdir memisahkan.

Cerpen Karangan: Ikke Nur Vita Sari
Facebook: Ikke N Vita Sari
Twitter: @Ikkevhyta
Mahasiswi di salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tolitoli, Sulawesi Tengah

Cerpen Cinta Sahabatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kita Saudara

Oleh:
Menepati apa yang kita ucapkan adalah hal yang baik. Dan Aku ingin seperti itu. Kurasa Aku telah melakukannya sebelum kejadian ini terjadi. Alvi dan Wati, mungkin semua orang di

Cinta Tanpa Restu

Oleh:
Pada tanggal 27 Desember 2015, aku dijemput oleh teman gerejaku, sebenarnya aku belum terlalu kenal sih dia itu siapa, walau aku sering lihat dia. Nah karena ada ibadah di

Never Leave You (Part 1)

Oleh:
-Jatuh cinta dan patah hati itu udah sepaket kayak paket COMBO di KFC- Andika Pov Setiap manusia di dunia pasti sudah familiar dengan yang namanya “Sahabat”. Pastilah. Suka duka

Jomblo Akut

Oleh:
Namaku Nina. Aku masih sekolah, dan sekolah tempat aku bersekolah adalah sekolah favorit di kotaku. Usiaku 16 tahun dan sekarang aku kelas 2 sma. Aku anak kedua, perempuan. Badanku

Kesah Awalnya Kaitu (Part 2)

Oleh:
“Dahulu kala ada seorang siswa di sekolah ini, dia itu jomblo ngenes.” “Eh bentar-bentar. Apa hubungannya jomblo sama hantu? Kamu ngatain aku ya Gek?” “Dengerin dulu makannya. Emang kamu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *