Cinta Salah Prasangka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 3 November 2015

Dia masih terengah-engah, napasnya bahkan belum benar betul. Terburu-buru ia datang menghampiriku, menyerahkan selembar kertas dengan sebuah kotak kado berukuran kecil. Aku terdiam menatapnya dalam kebingungan, tapi ia masih saja membenarkan napasnya. Dengan langkah gontainya.
“ini, ini,” ujarnya, aku diam tak berkomentar berusaha untuk mencerna keinginannya, bahkan dalam diamku aku belum menerima barang yang ia serahkan kepadaku.
“cepat ambil ini, cepat,” ujarnya lagi meyakinkan.
“apa?” kataku.
“udah bawa dulu, ntar aku jelaskan,” tambahnya lantas berlari sekuat ia bisa, menuju ruang kelas, padahal aku lihat sejak tadi, ruang itu sudah memulai kelasnya.
“kebiasaan buruk,” ujarku lagi lirih.

Aku sudah menduga, laki-laki itu, ah bukan lebih tepatnya anak kecil itu berani sekali. Sebuah surat? kotak kado kecil? bukankah ini artinya dia sedang melamarku? Namun perlahan dengan pasti aku mencoba untuk membukanya, membaca tulisan romantis dalam selembar kertas berwarna merah muda, dan bergambarkan hati. Kata-kata romantis yang ia tuliskan sungguh membuatku geli? bukankah dia bukan seorang sosok yang romantis yang seperti aku kenal? mana mungkin? dari mana ia mendapatkan kata-kata seperti ini?
“I love you, I love you,”
“mungkin terlambat, tapi aku tulus,”
“terima kasih cinta, cinta yang datang dan menghamburku dalam bahagia,”
“engkau bukan pelabuhan, aku pun bukan kapal, tapi aku dan kamu adalah sebuah cinta,”
“terima semua ini, terima dengan ketulusan yang sama seperti yang aku berikan kepadaku, I love you, I love you,”

Hah sejenak aku benar-benar tersentuh, tapi mungkinkah benar jika semua ini untukku. Aku buka sebuah kotak kecil ini, ku pandangi dan ini adalah cincin, cincin indah yang pantas dilamatkan di jari seorang perempuan. Ah aku benar-benar terkejut, benarkah Ega memberikan kesetiaannya untukku? aku memang tak percaya, tapi ini benar-benar ada di depanku.
Hatiku mulai berdebar lagi, rasa berdebar yang dulu sempat hilang untuknya, darahku rasanya mulai mengalir lebih deras hingga aku sendiri tak tahu dari mana arah mengalirnya. Aku tersipu, sejenak hanya bisa membolak-balikkan selembar kertas ini yang aku pegang, tapi aku hanya memandangi cincin dalam kotak ini, yang belum sempat aku sentuh.

“ah mana mungkin, baiknya aku tunggu Ega,” batinku, aku membatin sembari menerawang jauh memikirkan tingkah laki-laki kunyuk itu, benarkah? tingkahnya saja masih banyak kekanak-kanakan, aku mendenguskan napasku, mencoba menatapnya kembali karena rasa tak percayaku pada seseorang itu. Beberapa menit aku masih menunggu, tapi batang hidung laki-laki itu masih belum muncul juga, harusnya saat ini kelasnya sudah usai, dia saja telat hampir setengah jam lebih. Karena masih banyak hal yang akan aku lakukan, aku memutuskan untuk pulang ke kos, dan ku simpan semua barang-barang ini ke dalam tasku. Aku terdiam, bahkan hampir membisu saat melewati trotoar kampus. Sembari memandangi orang-orang sibuk dengan setumpuk bukunya.

Namun sejenak mataku melirik ke arah laki-laki dan perempuan yang sedang berjalan di seberang trotoar yang lain, aku pikir mereka sepasang kekasih, ku lihat sorot mata mereka menandakan kebahagiaan, bahkan sesekali mereka tak ragu untuk saling berpegangan tangan satu sama lain, ah hal itu jadi mengingatkanku dengan si kunyuk, jika sedang jalan, dia selalu memaksa untuk memegang tanganku, tapi karena aku enggan, tingkah manjanya membuatku marah dan kadang meninggalkannya sendiri di jalanan, lagi pula siapa yang menyuruh untuk memperlakukan aku seperti itu.

Aku tak menyukai hal-hal konyol seperti itu, menerimanya saja sebagai kekasih sudah membuatku alergi, apalagi untuk hal yang demikian. Namun di tengah lamunku, bayangan tentang barang-barang yang ia berikan tadi sempat terbesit dalam benakku, ah hal itu membuatku bosan. Namun di tengah-tengah itu, aku dengar suara motor, suara motor yang tak asing aku dengar, ku tolehkan wajahku untuk memastikannya, memastikan bahwa suara motor itu milik Ega.
“ayo naik,” ajaknya, seolah aku harus mengiyakan ajakannya.

Tas gendongku lantas ku taruh di tengah, sebagai pembatas, takutnya ada yang membuat hormon terangsang, hehe takut jika jatuhnya malah nambah dosa. Ya soal ini emang sulit menjelaskan, tapi yah sudah toh setiap orang memiliki komitmen dan prinsipnya dalam hidup.
“aku lapar, makan sebentar ya,” ujarnya, rasanya ingin menolak, tapi jika aku tolak pasti banyak hal yang menimbulkan hal gak jelas, tapi ya sudahlah sembari menunggu kejelasan barang yang ia berikan tadi.
“ehm, tapi jangan lama-lama tugasku numpuk,” jawabku sekenanya.

Aku terdiam, bukan maksudku kami berdua saling terdiam, hanya saja tak adaa topik yang bisa kita bahas lagi di atas motor seperti ini. Apalagi saat menunggu macetnya jalanan saat jam-jam makan siang seperti ini, walaupun begitu aku tetap ingin memastikan kepastian atas barang-barang yang Ega berikan kepadaku tadi. Hampir kurang lebih 20 menit setelah menembus keramaian dan padat serta panasnya jalanan kampus ini. Aku dan Ega tiba di sebuah warung makan sederhana dengan menu andalannya soto babat dan sop buntut dengan harga yang masih ekonomislah asalkan jangan keseringan, cukup buat yang namanya perbaikan gizi.

“aku pesankan ya,” ujar Ega menawariku.
“enggak, aku nggak usah minum aja,” ujarku sembari meletakkan tumpukan buku yang aku tenteng sedari tadi.
Ega duduk di depanku, tapi ia masih saja belum memulai perbincangan yang ingin aku tuju. Aku pun begitu malas memulainya, aku biarkan saja, mana mungkin aku memulainya? ah daripada dia nyangkain aku yang kelewat gr.

Tidak lama pesanan pun datang, semangkuk soto babat dan 2 gelas es jeruk, sang pelayan tersenyum ramah, maklum lumayan kenal, dia tak lain adalah istri si pemilik warung.
“kok cuman semangkuk? mbaknya gak makan?” tanyanya seperti biasa ramah, kepada pembelinya.
“nggak, mungkin dia lagi diet,” ujar Ega tanpa benar-benar menggubris, matanya hanya terarah di mangkuk soto babat itu.
“benar ya, mbak,” ujar sang pelayan lagi, aku hanya tersenyum, sedikit menyeringai parau.
“buruan ga, tugas numpuk jangan main-main, kebiasaan,” ujarku mulai nada emosi, mendengar pejelasan soal diet.

Ega lantas melahap semangkuk soto di depannya, dan tak butuh waktu lama untuknya menghabiskan makanannya, maklum semalam dia bilang tak makan, sedang tadi pagi tak sempat, salah siapa tak mau menyempatkan, bukankah dia sudah dewasa, mengurus dirinya sendiri saja masih kalang kabut, apalagi mau coba-coba melamarku, ah benar ngomong soal melamar jadi ingat soal cincin dan kertas yang ia berikan padaku pagi tadi, tapi kenapa ia masih diam tak menjelaskan apapun, hah lagi-lagi kunyuk satu ini pengen buat aku naik darah aja.

Aku dan Ega masih duduk-duduk, kami berdua masih belum beranjak, Ega bilang tak baik untuk pencernaan jika habis makan langsung bergegas, katanya pencernaannya bisa terganggu, emm dasar anak alay, bisa-bisanya aku jadi couplenya, membayangkannya saja sebenarnya membuatku jijay bin eneg, tapi bagaimana lagi, meskipun dia hanya adik angkatan tapi kegigihannya juga patut diacungi jempol, lagi pula jika dia tak diterima pasti setiap saat dan setiap waktu dia hanya mengganggu aku, itu malah memperburuk keadaan, soal cinta bisa diatur belakangan, kalau soal perasaanku sendiri, rasanya aku ingin merelakan semuanya, toh perasaan siapa yang tahu, mungkin kunyuk ini bisa membuatku lebih mengerti soal itu.

Tanpa sadar seseorang datang dan menyambut kami seolah meledek.
“cie, lagi kencan, enak banget nih” ujarnya, ku tolehkan wajahku ke arahnya, dan benar, dia adalah Kakak kelas Ega waktu di SMA dulu, dan sekarang mereka dipertemukan lagi di salah satu oraganisasi kampus, pers jurnalis.
“apa sih kak? orang cuman makan doang, Kak Sony pengen ya,” ledek bocah ingusan ini meledek Kak Sony, ya aku dengan Kak Sony sih lumayan akrab, tapi aku jauh lebih mengenalnya sejak kita terlibat proyek beberapa bulan lalu.

“oh iya ga, mumpung kita ketemu di sini, aku minta barang yang kemarin aku titipkan ke kamu,” ujar Kak Sony jelas aku tahu barang yang Kak Sony maksud, firasatku benar.
“ah kotak kado dan surat?” jelas Ega lagi, seolah memberikan isyarat kepadaku.
“iya jangan bilang udah kamu gadein,” ujar Kak Sony diselingi bercanda.
“yah kalau cuman itu mending gadein orangnya deh,” ujar Ega, Ega memandangku, firasatku benar soal isyarat yang ia tujukan kepadaku, aku lantas mengambilnya di dalam tas gendongku dan memberikannya kepada Ega.
“nih kak, maaf ya, aku gak langsung ngasih ke Kakak,” ujar Ega dengan gaya selengeknya.

Aku terdiam, memandang Ega lekat-lekat, ingin rasanya aku remas-remas bocah ini, tingkahnya yang selengekan, dan aduh yang pasti dia sebenarnya bukan tipeku sama sekali, tapi apa boleh buat, mungkin harusnya aku “menyelam sambil minum air, kunyuk ini menyebalkan,” ujarku gigih dalam batin.
“Hana,” ujarnya, “eh salah, Kak Hana,” tambahnya lagi meledek, “Hana sayang kamu gak ngerasa itu lamaranku kan?” tanyanya, tanpa pikir panjang.
“kalau iya,” jawabku mulai bersungut.
“hehehe maaf, nanti pas aku mau melamar kamu, aku janji aku pasti berikan yang lebih baik,” ujarnya, menggombal, ah dasar bocah, memang aku percaya, apalagi sama orang sepertinya yang isi otaknya cuman main-main doang.

“apanya?” jawabku pura-pura gak ngerti, tapi ia hanya melotot tanda ia tak habis pikir denganku, hari ini benar-benar, aku dikibuli pacar kunyukku alias adik angkatanku, lain hari gak akan lagi, dasar bocah, senangnya mempermainkan orang, batinku. Aku memandangnya lama-lama sengaja membuatnya gr, biar tahu rasa, gimana rasanya gr.
“kenapa sih kok lihatin aku?”
“hah, udah ya, aku cape main-main, putus aja ya,” ujarku, dia terdiam, tak percaya terlebih lagi saat aku benar-benar beranjak dari tempat dudukku, aku tersenyum melihat ekspresinya yang masih belum beranjak dalam kebingungannya.

The End

Cerpen Karangan: Eni Sri Wahyuni
Blog: irsine.blogspot.com
Facebook: https://www.facebook.com/inuy.why

Cerpen Cinta Salah Prasangka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jugendliche

Oleh:
Aku Bintang Farelina, terlahir dalam sebuah keluarga yang cukup bahagia, walau harus hidup jauh dari seorang Ayah. Hidup jauh dari seorang Ayah, bukanlah hal yang mudah. Untung saja, aku

Arti Sahabat

Oleh:
Namaku altha. aku baru saja lulus SD. perkiraanku jadi anak smp itu asik dan seru. setelah hari pertama aku masuk di smp. rasanya sih biasa saja. mungkin karena aku

Tembok Cinta Nan Megah

Oleh:
Telingaku menangkap hiruk-pikuk yang kemudian memaksa ku untuk membuka mataku lebih lebar lagi. Jiwaku belum terkumpul sepenuhnya. Ragaku belum juga bertenaga. Namun ku paksakan untuk berdiri. Aku berada di

Kenapa Harus Dia

Oleh:
ELENA POV Pagi ini aku senang sekali, karena aku sudah mendapat keluarga baru, bukannya aku tidak senang karena tinggal di panti asuhan dengan ibu Sesil, ibu panti yang sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *