Cinta Sepihak Deska

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 3 September 2021

Sebagian besar orang mengatakan kalau tidak ada yang namanya persahabatan murni tanpa perasaan cinta atau suka antara laki-laki dan perempuan. Entah itu benar atau tidak, tapi Deska- begitulah nama panggilannya, menganggap bahwa pernyataan itu benar. Deska Jiwanta Wardani, seorang mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang sejak di taman kanak-kanak hingga perkuliahan kerap dikira laki-laki karena namanya. Gadis itu rupanya mengingkari janjinya sendiri untuk tidak jatuh cinta dan hanya akan fokus pada kuliahnya hingga dia lulus tepat waktu sesuai rencananya. Namun, bukankah manusia hanya bisa berencana dan berusaha sedangkan Tuhan yang akan memutuskan hasil akhirnya, kan?.

Semester baru dimulai, universitas tempat dimana Deska kuliah pun mulai padat kembali, tempat parkir kampus yang luas itu terlihat sempit karena banyaknya motor yang berhimpit disana meskipun masih pukul tujuh pagi. Lorong-lorong gedung fakultas dipenuhi para mahasiswa, ada yang terburu-buru karena terlambat masuk kelas pagi, ada yang masih menguap dan berjalan dengan malas-malasan, ada pula yang sengaja memperlambat langkah menuju kelas seperti yang dilakukan Deska. Pagi ini jadwal mata kuliah pertamanya di semester 3 adalah Education Management, Deska terlihat mengintip lewat jendela kaca kelasnya.

“Apa belum ada yang maju?”, Deska bergumam sembari masih celingak-celinguk dari luar kelas.
“Maju apa?”, Deska sedikit berjengit kaget saat mendengar suara berat dari belakangnya.
“Astaga! Bikin kaget aja, eh?”, begitu berbalik Deska dibuat tertegun lagi karena laki-laki yang berdiri dihadapannya saat ini adalah Lingga Byakta Dhamendra.
“Apanya yang belum ada yang maju? Ada pengumuman dadakan untuk presentasi?”, Lingga memperjelas pertanyaannya karena Deska tidak menjawab pertanyaannya tadi. Deska berdehem sebentar sebelum mulai bicara,
“Aku dengar dari senior kenalanku, dosen mata kuliah ini selalu menyuruh salah satu mahasiswanya maju kedepan untuk ceramah singkat sebelum memulai kelasnya.”, Deska menjawab dengan sedikit berbisik.
“Oh, kukira ada apa.”, Lingga segera masuk ke kelas setelah mendengar jawaban Deska yang menurutnya itu bukan perihal penting untukya.

Itu adalah percakapan Deska dan Lingga yang pertama setelah kuliah di universitasnya selama dua semester. Sejak awal dia melihat Lingga di awal semester satu, tidak pernah terlintas dipikiran Deska bahwa dia bisa memiliki hubungan pertemanan yang sangat dekat dengan Lingga. Bayangkan saja, Lingga itu tipe laki-laki yang tidak banyak omong, tidak banyak tingkah, pintar, dan yang jelas tampan, yah setidaknya itu adalah bagaimana Deska melihat Lingga. Sedangkan Deska, dia hanya gadis biasa-biasa saja dengan tubuh tinggi dan berisi, Deska juga salah satu mahasiswi dengan nilai tertinggi di jurusannya.

Kedekatan hubungan pertemanan antara Lingga dan Deska juga berkat dua sahabat Deska yang mengenal Lingga lebih dulu, jadi Deska terkena getahnya. Masuk semester 4, Deska lebih suka memanggil Lingga dengan sebutan bang. Deska selalu berharap kalau persahabatan dan kedekatan mereka tidak akan pernah memudar, namun semuanya mulai berantakan untuk Deska saat rasa cintanya bertumbuh semakin kuat. Dia jadi lebih sering merasa cemburu dan hatinya lebih sering sakit, tapi untunglah nilai kuliahnya tidak turun sama sekali.

Lingga sendiri pada dasarnya orang yang peka, namun dia lebih sering memilih untuk pura-pura tidak peka dan mengabaikan perasaan dari teman-teman di kampusnya. Lingga selama ini selalu menghindari bersentuhan dengan perempuan, bahkan saat berjalan di lorong yang ramai dengan temen sekelas perempuannya, dia memilih mundur dan berjalan jauh dibelakang mereka. Deska sempat bertanya padanya di cafe langganan gadis itu saat mengerjakan laporan.
“Kenapa sampai segitunya menghindari bersentuhan?”, Deska bertanya dengan wajah penasaran sebelum meminum Ice Americano miliknya.
“Hmm… Cuma kurang nyaman aja.”, jawab Lingga setelah diam sebentar.

Pernah juga saat memasuki awal semester 6, Deska dan Lingga bertengkar. Siang itu setelah Deska dan kedua sahabatanya Putri dan Sarah selesai makan siang, mereka bertiga menghampiri Lingga dan salah satu temannya yang juga teman mereka di depan ruang kantor dosen. Deska duduk disamping Athif yang sedang merokok, untung saja anginnya tidak betiup kearahnya jadi dia tidak harus menghisap asap racun itu. Baru saja Deska akan membuka ponselnya, Lingga yang tadinya duduk sudah berdiri dihadapanya dan tangannya terulur untuk mengambil rokok dari tangan Athif. Lingga bukanlah perokok, dia hanya ingin mencoba menghisap sedikit rokok milik Athif.

“Wah, tumben ngerokok? Emang bisa?” Athif berucap main-main.
“Bisa lah, aku juga udah pernah nyoba waktu SMA dulu.” Lingga menjawab seraya mengambil rokok yang berada ditangan Athif lalu mendekatkannya ke mulut. Namun, belum sempat Lingga menghisap rokok itu, tangannya lebih dulu ditahan oleh Deska.
“Jangan ngerokok, bang. Nanti batuk lagi loh, nggak usah ngerokok.” Ucap Deska dengan nada keberatan yang jelas.
“Apa sih, you are not my mom. Nggak usah ngatur-ngatur.” Jawaban Lingga saat itu membuat Deska merasa tertampar, hatinya terasa sakit saat melihat tatapan Lingga yang seolah mengatakan ‘penganggu’.
“Fine. Sorry kalo gitu. Aku pulang duluan Put, Sar.” Deska memilih pergi lebih dulu setelah berpamitan dengan kedua sahabatnya. Pikirnya, dari pada dia menahan hatinya yang sakit dan menangis dihadapan orang itu, lebih baik pergi dari sana sekalian.

Setelah pertengkaran kecil itu, malamnya Lingga mengirim pesan pada Deska dan meminta maaf. Deska sendiri sebenarnya masih sakit hati dengan ucapan Lingga, dia tidak berniat mengatur-atur Lingga sama sekali. Dia hanya mengingatkan Lingga karena sifatnya yang ceroboh itu membuat Deska khawatir, tapi ucapan Lingga siang tadi membuatnya mulai berpikir bahwa dia tidak akan mengingatkan tentang hal apa pun itu pada Lingga mulai besok. Selama dua hari setelah itu Deska dan Lingga hanya saling diam saat keduanya bertemu atau saat mereka sedang berkumpul dengan yang lainnya, namun setelah itu hubungan Deska dan Lingga kembali seperti semula.

Di pertengahan semester 6 hubungan keduanya semakin dekat, Lingga yang mulai terbuka dan menceritakan apapun yang mengganggunya pada Deska dan Deska yang dengan sabar akan mendengarkan semua cerita Lingga entah cerita itu penting atau tidak. Sampai tersebar rumor bahwa Deska dan Lingga berpacaran, hal itu sama sekali tidak menganggu hubungan pertemanan Lingga dan Deska.

Permasalahan terbesar antara Deska dan Lingga mulai muncul di akhir semester 6, dimana Lingga dan Desta akan mengikuti KKN ke luar negeri. Awalnya memang baik-baik saja, bahkan mereka janjian untuk memilih negara yang sama dan tentu saja perasaan Deska ke Lingga tumbuh semakin dalam, namun sepertinya Lingga sama sekali tidak membuka pintu untuk masalah percintaan pada Deska. Meski begitu, Deska didalam hatinya selalu percaya kalau mungkin saja Lingga suatu saat nanti akan membuka pintu untuknya. Sayangnya, harapan itu mulai runtuh saat seminggu sebelum keberangkatan, Lingga mengajak Deska untuk bertemu di salah satu cafe tempat biasa mereka berkumpul.

Hari itu matahari begitu panas, Deska mendapat pesan dari Lingga yang mengajaknya bertemu di cafe langganan mereka untuk membicarakan sesuatu. Hati Deska berdebar, antara senang dan takut kalau apa yang dia takutkan akan benar-benar terjadi. Pasalnya, beberapa hari sebelumnya, didalam grup chat kelompok KKN yang akan berangkat ke negara yang sama dengan mereka berdua. Lingga tampak tertarik dengan mahasiswi dari daerah luar jawa yang memang ikut rombongan mereka, Lingga bahkan sempat bertanya pada Deska tentang gadis itu karena Deska dekat dengan gadis itu. Sejak itu, perasaan Deska mengatakan kalau mungkin Lingga menyukai gadis itu. Selama ini, Deska masih merasa ‘aman’ karena Lingga tidak pernah menanggapi teman-teman kuliahnya yang dengan terang-terangan menyukainya. Namun kali ini berbeda, Lingga lah yang memiliki inisiatif untuk mendekati seseorang.

Akhirnya di siang hari yang terik itu Deska dan Lingga bertemu, keduanya duduk saling berhadapan dan hanya dia untuk beberapa saat. Terlihat dari tatapan mata Lingga yang gelisah seolah ingin mengatakan sesuatu namun tidak tau bagaimana mengatakannya. Disisi lain, Deska tampak tenang namun hatinya bergemuruh tidak sabar, hingga akhirnya Deska duluanlah yang membuka percakapan.

“Kamu suka Shella, bang?” Pertanyaan itu meluncur keluar begitu saja dari mulut Deska seraya menatap lurus kemata Lingga yang tampak terkejut.
“Iya. Kok tau?” Begitu mendengar jawaban itu, hati Deska hancur. Kaki dan tangannya gemetar dan mulai dingin, mati-matian Deska menahan agar air matanya tidak jatuh. Dia tidak mau menangis dihadapan Lingga, dia tidak suka memperlihatkan sisi lemahnya. Dengan mata memerah Deska menyunggingkan bibirnya sedikit sebelum menjawab.
“Tau lah, aku udah kenal kamu lumayan lama. Udah feeling aja. Kenapa… kenapa suka sama dia? Padahal baru kenal beberapa hari lewat grup kan?”
“Iya.. nggak tau, aku ngerasa dia unik aja. Kan jarang ada yang paham jokes ku.” Lingga menjawab hati-hati seraya menatap ekspresi Deska yang mulai muram dan matanya yang memerah.

“Oh… bang..” Deska memanggil Lingga dan mulai menautkan jari-jarinya gugup dan menahan tangisannya. Dunianya benar-benar serasa hancur saat itu, hatinya bagai dihancurkan dengan palu jadi berkeping-keping.
“hm?” Lingga hanya bergumam sebagai jawaban dan tatapannya tak lepas dari Deska, ada sorot kebingungan dan rasa bersalah di matanya. Untunglah hari itu, dilantai dua cafe sama sekali tidak ada yang menempati kecuali mereka berdua.
“Kamu tau nggak aku sebenernya juga suka sama kamu…” Akhirnya air mata Deska turun, dengan terburu dia mengusapnya dengan tisu. Lingga hanya diam dan menatap Deska penuh arti.
“Sorry, aku ke kamar mandi sebentar ya…” Setelah mendapat anggukan dan tatapan khawatir dari Lingga, Deska segera mengambil handphonenya diatas meja dan pergi ke kamar mandi.

Di kamar mandi pertahanan runtuh, klise memang menangis di kamar mandi namun hati Deska benar-benar sakit sangat sakit. Dia menutup mulutnya kuat-kuat dan menahan suara isakannya dengan menghidupkan air di wastafel. Dadanya sesak, tangannya gemetar, dan kedua telapak tangannya dingin. Deska menatap pantulan di cermin, berantakan. Deska mulai menghela nafas dan menenangkan dirinya, menghapus air matanya lalu mencuci wajahnya. Sebelum keluar dari kamar mandi dia mencoba tersenyum sekali didepan cermin. Saat kembali ke tempat duduknya, dia sudah bisa tersenyum. Lingga menatapnya khawatir dan masih diam.

“Kamu sebenernya udah tau perasaanku kan?” Deska kembali bicara karena Lingga sejak tadi hanya diam dan menatapnya lekat.
“Aku tau, tapi pura-pura tidak tau.” Jawaban Lingga membuat Deska di satu sisi ingin menampar laki-laki dihadapannya ini namun disisi lain dia hatinya juga sakit. Seharusnya dia cukup bersikap sebagai teman biasa saja kan, tidak perlu bersikap terlalu manis kalau hanya akan mengabaikan. Itu adalah apa yang ada dipikiran Deska.

“Kamu pasti berpikir aku berteman sama kamu cuma gara-gara suka dan pengen ngejar kamu kan?” Lagi-lagi pertanyaan Deska membuat Lingga terkejut dan akhirnya mengangguk merasa bersalah. Deska tertawa pahit sebelum kembali berucap.
“Kamu salah bang, awalnya aku memang cuma mau berteman. Aku bahkan punya prinsip selama kuliah nggak akan jatuh cinta, tapi… aku juga ngga bisa nahan perasaanku yang semakin lama semakin kuat.” Lagi, Lingga hanya diam dan mendengarkan Deska.
“Kamu pasti bingung kan mau jawab apa?” Deska lagi-lagi menebak pikiran Lingga dihadapannya.
“Iya.. aku.. nggak pintar ngomong masalah kayak gini.” Deska tertawa kecil dan mengangguk, tanpa dia sadar air matanya jatuh lagi saat dia tertawa. Kali ini, Lingga mengambil tisu dan mengusap air mata Deska. Deska sempat diam sebentar lalu mengambil alih tisu dari tangan Lingga dan mengusapnya sendiri.

“Ah, aku tidak suka menangis didepanmu.”
“Hampir tiga tahun perasaanku ke kamu, aku merasa tidak pernah jatuh cinta sedalam ini. Kamu udah tau perasaanku dan aku tau kamu nggak akan bales perasaanku, kan?” Ucap Deska dengan nada ringan.
“Sorry.”
“Nggak masalah. Berarti mulai saat ini, perasaan sepihakku akan berhenti disini. Aku akan benar-benar berhenti menyukaimu dan menghilangkan perasaanku ini. Jadi, apa kita masih bisa berteman?” Mendengar ucapan Deska, Lingga tampak sedikit terkejut dan ingin mengatakan sesuatu namun dia tahan. Dan memilih menjawab pertanyaan terakhir Deska.
“Masih. Sampai kapan pun, kalau kamu butuh aku, aku akan selalu ada.”
“Kalau gitu, setelah kita keluar dari sini, ayo bertindak seolah tidak ada yang terjadi diantara kita. Kamu tidak mau temen-temen yang lain jadi canggung kan kalau kita lagi kumpul?” Deska berucap dengan senyum di wajahnya.
“Oke, kalau itu yang kamu mau. Tapi… are you okay?” Lingga bertanya khawatir melihat mata sembab Deska.
“Kalau kau tanya apa aku baik-baik saja, jawabannya tidak. Aku tidak baik-baik saja. Hatiku hancur asal kau tau saja. Tapi mau bagaimana lagi? Aku juga tidak mau kehilangan teman sepertimu. Aku sudah terlanjur banyak tau tentangmu dan begitu juga kau yang sudah tau banyak tentangku. Aku malas memulai dengan orang baru.”

Hari itu, yang awalnya cerah dan panas tiba-tiba turun hujan saat Deska dan Lingga keluar dari cafe. Mereka keluar dari cafe pukul 7 malam, Lingga sempar mengusap kepala Deska pelan sebelum Deska pamit pergi lebih dulu menerobos hujan gerimis. Pikiran Deska benar-benar kosong selama di jalan, hatinya sakit dan tubuhnya rasanya lelah sekali.

Begitu sampai di rumah dia tidak mengatakan apa-apa dan segera masuk kamar lalu menutup pintunya. Deska mengganti bajunya dengan baju tidur lalu menjatuhkan tubuhnya kekasur. Deska mulai terisak seraya menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak ingin orangtuanya tau dia menangis dan akan ditanya ini itu. Deska terlelap begitu saja malam itu. Satu kebiasaan Deska, jika pikirannya penuh dan mulai pusing atau saat mentalnya tidak stabil dan down tiba-tiba. Dia akan segera tertidur hingga malam di hari berikutnya. Namun kali ini, dia tertidur selama tiga hari. Tidak sepenuhnya tidur memang, dia akan bangun sebentar untuk kekamar mandi dan makan sedikit lalu kembali tidur tanpa bangun sampai di hari ketiga.

Orangtuanya entah kenapa tidak bertanya apa-apa dan membiarkan Deska beristirahat di kamar, bahkan ibunya membawakannya makan dan menaruhnya di dalam kamar Deska. Begitu dia benar-benar terbangun, perasaannya terasa kosong dan ingatannya tentang percakapannya dengan Lingga jadi samar. Semua baik-baik saja sampai keberangkatan Deska dan Lingga keluar negeri. Berada dalam kelompok dan ditempatkan di sekolah yang berbeda dengan Lingga entah kenapa membuatnya lega.

Selama satu bulan KKN-nya, Deska menemukan kebahagiaan dengan salah satu teman satu kelompoknya dari jurusan geografi. Deska jadi melupakan semua perasaan sedihnya saat berada disana bersama orang itu, hari-harinya diisi penuh tawa meskipun terkadang masalah menyangkut KKN-nya datang. Dari sana, Deska belajar bahwa memang benar-benar hal yang paling menyakitkan itu terlalu berharap pada orang lain. Semenjak kisah cinta sepihak yang mendalam milik Deska berakhir, sesuatu dalam dirinya juga berubah. Deska jadi sulit jatuh cinta.

Cerpen Karangan: GummyGum

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 3 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Cinta Sepihak Deska merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sejati Tak Terpisahkan

Oleh:
Sejak kecil Lulu dan Natasya adalah sahabat dekat yang selalu bermain bersama. Mereka bertemu pada satu sekolah yang sama, saat itu usia mereka masih berumur 7 tahun, hari pertama

Indahnya Kebersamaan

Oleh:
Saat itu, hari pertama berkemah di sebuah desa yang bernama desa Dangdeur, pagi harinya murid murid melakukan upacara pembukaan perkemahan di Desa tersebut, lalu sesudah upacara semua bersiap untuk

Menolak Rasa (Part 2)

Oleh:
Sudah hampir empat tahun aku tinggal di kota metropolitan ini. Banyak yang berubah dari diriku. Setelah tinggal di lingkungan yang baru, aku merasa lebih hidup. Teman-teman kuliah yang tak

Tidak Punya Waktu

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah ditahun pelajaran baru. Seperti biasa murid-murid masuk ke kelas barunya masing-masing, saling menyapa, menanya kabar, dan saling bercanda. Namun seperti biasa ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *