Cinta Sesaat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 August 2017

Arum adalah seorang anak yang baik hati, berpostur tubuh tinggi, dan perhatian terhadap siapa pun. Kini, ia menempuh pendidikan di sebuah sekolah di SMK N di Temanggung. Dari sekian banyaknya ekskul di sekolahnya, ia lebih memilih untuk mengikuti ekskul paskibra. Ia berpikir bahwa ekskul itulah yang tepat untuk dirinya. Maklum saja saat masih duduk di bangku SMP, ia pernah mengikuti lomba TUB/BB yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Temanggung dan pletonnya berhasil meraih juara umum 2. Arum memiliki banyak teman, baik itu perempuan maupun laki-laki. Menurut teman-temannya, Arum adalah anak yang periang dan cerewet, namun moodnya cepat berubah.

“Besok tanggal berapa ya?” ucap Sinta sambil menggoda Arum
“Tanggal 1 Desember.” sahut Arum sambil pergi meninggalkan Sinta
“Emang ada apa?” tanya Rizka dengan polosnya
“Besok itu UAS. Gimana sih Rizka?” Dewi menjawab dengan santainya
Sebenarnya, tanggal 1 Desember adalah hari ulang tahun Arum. Tepat pada tanggal 1 itu juga, UAS dilaksanakan.

Sebelum memasuki ruang kelas, teman-teman mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya dan Arum membalasnya dengan ucapan terimakasih sambil tersenyum ramah kepada teman-temannya. Seperti biasa, setiap kelas berisi 36 siswa dari 2 kelas yang berbeda. Hari pertama ulangan jadwalnya adalah matematika.
“kado terindah di hari ulang tahunku adalah ulangan matematika.” gumam Arum dalam hati

Saat mengerjakan ia biasa saja, karena kursi di sebelahnya yang ditempati oleh kelas 3 itu kosong. Dikarenakan kelas 3 memulai UAS pada esok hari sehingga saat mengerjakan matematika nanti tak ada orang yang mungkin menahan tawa karena mendengarnya saat berhitung. Tibalah saatnya untuk memulai UAS dengan awalan doa. Arum mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh meski ia tahu jika ia tidak terlalu menguasai materi itu. 2 jam berlalu untuk mengerjakan 50 soal matematika yang rumit dan dengan rumus yang amat panjang. Arum merasa kehabisan waktu, sementara ia belum selesai mengerjakan soal tersebut hingga terpaksa untuk melakukan silang indah. Setelah selesai, peserta UAS meninggalkan ruangan.

“Arum, gimana ngerjainnya?” tanya Rizka
“beh… waktunya itu loh sisa-sisa, sampe aku silang indah hehe..” jawab Arum yang dari semangat menjawab sampai menjawabnya dengan suara yang lirih
“sama…” teman-temannya berteriak secara serentak

Hari ini adalah hari kedua bagi para pejuang UAS untuk mengerjakan ulangannya dengan baik agar mendapatkan hasil yang optimal, tak terkecuali Arum. Pada malam hari, ia belajar dengan sungguh-sungguh agar ia mampu mengerjakan soal-soal ulangan dengan benar dan berharap hasil memuaskan yang akan ia raih.

Bel tanda masuk ruangan berbunyi. Tak disangka, yang duduk di sebelah Arum adalah kakak kelas yang juga mengikuti ekskul paskibra. Arum mengenalnya, namun sepertinya ia tidak mengenal Arum. Di depan tempat duduk Arum, ada temannya yang bernama Dewi. Dewi duduk di sebelah kakak kelas juga tentunya, namanya Akbar.

Setelah selesai, Dewi menceritakan kepada Arum jika ia ngefans dengan sebelahnya itu.
“sebelahku manis deh, jadi ngefans.” kata Dewi sambil tersipu malu
“wah… di sini Dewi dapet gebetan!” ujar Arum sambil tertawa kecil

Akhirnya, kami semua pulang dan siap untuk berjuang kembali sampai minggu depan. Hari-hari Arum dan temannya lalui seperti biasa. Namun tiba-tiba ada sobekan kertas yang ada di atas meja Arum yang tak diketahui siapa itu penulis sekaligus pengirimnya.
Awalnya Arum biasa saja saat mendapati kertas tersebut. Namun semakin lama justru Arum mendapatkan kertas yang ada di meja semakin banyak dan membuat Arum merasa terganggu.

Arum kesal mendapatkan surat semacam itu. Sebelah Arum yaitu mas Dwi hanya diam saja melihat Arum yang sedang kesal. Pada kertas sobekan itu, ada nomor hp penulisnya. Karena penasaran, akhirnya Arum mencoba sms kepada orang tersebut tanpa ada kata-kata melainkan hanya pesan kosong.
Orang itu membalasnya dengan menanyakan siapa? Spontan Arum menjawab jika bukan siapa-siapa dan salah kirim serta meminta maaf padanya karena sudah mengganggu. Mungkin saja orang itu juga penasaran kenapa bisa salah kirim, sehingga ia memperkenalkan dirinya jika ia bernama Putra dan menanyakan nama Arum. Dengan terpaksa, Arum membalasnya jika ia bernama Arum.

Ulangan akhir semester pun selesai. Arum membuka salah satu sosial media milikinya dan mendapati ada pesan dari mas Dwi sejak beberapa hari lalu untuknya. Mas Dwi bercerita jika bukan dia yang menulis di kertas itu, tetapi temannya yang bernama Putra dan memintaku agar tidak salah paham dengannya. Arum pun meng-iyakan saja, meskipun ia kesal karena dia diam saja saat temannya begitu.

Akhirnya, mas Dwi meminta nomer hp Arum dan Arum memberinya. Sejak saat itu, mereka sering berkomunikasi via sms. Saat itu, ibu Arum sedang sakit dan harus menjalani operasi. Dokter berkata jika ibu Arum butuh 1 kantong darah saja dan bisa didapatkan di PMI, namun nyatanya persediaannya kosong. Arum bingung harus mencari atau meminta tolong kepada siapa. Akhirnya, Arum terpikir nama mas Dwi. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada mas Dwi golongan darah yang dimilikinya dan maukah ia untuk mendonorkan darahnya. Tak lama kemudian, mas Dwi membalas sms Arum dan mengatakan jika golongan darahnya A dan ia mau mendonorkannya. Ia bertanya untuk apa dan apakah ada donor darah dari PMI. Arum menjawab jika ibunyalah yang membutuhkan darah itu. Malam-malam, mas Dwi pergi ke PMI untuk mendonorkan darahnya.

Keesokan harinya, ibu Arum dioperasi. Mas Dwi tiba-tiba sms Arum dan mendoakan semoga operasi ibunya berjalan dengan lancar. Arum hanya bisa meng-aminkan doan tersebut. Operasi berjalan dengan lancar, Arum berterimakasih kepada Allah dan ia langsung mengabari kakaknya yang berada di Tangerang dan tak lupa juga mas Dwi.

Hari pun berganti, Arum ditelepon oleh suster rumah sakit untuk segera datang ke rumah sakit untuk mengambil surat pengantar untuk mengambil darah. Deg. Jantung Arum kaget, sebab menurut dokter ibunya membutuhkan 1 kantong darah saja. Namun ternyata ibunya membutuhkan 3 kantong darah karena terkena anemia setelah selesai operasi. Munkin ia kehilangan banyak darah.

Beberapa hari berlalu dan akhirnya kondisi ibu Arum terus membaik sehingga ibunya di perbolehkan oleh dokter untuk pulang ke rumah. Sejak saat itu, Arum bertambah dekat dengan mas Dwi. Liburan sekolah juga telah tiba, sehingga Arum berniat untuk bermain ke suatu tempat bersama temannya. Namun, temannya itu justru menolak. Arum pun bingung dan harus pergi berlibur bersama siapa. Hp Arum berbunyi mengagetkannya. Setelah dibuka ternyata dari mas Dwi yang mengajak Arum untuk pergi main dengannya. Arum menanyakan ke mana dan mas Dwi menjawab ke Magelang. Arum langsung menyetujuinya dan meminta izin kepada ibunya.

Akhirnya, hari yang sudah ditentukan untuk pergi tiba. Arum menunggu mas Dwi di pinggir jalan, karena jika dijemput di rumah takut nyasar. Arum dan mas Dwi pergi bermain bersama, bahkan hanya berdua. Di perjalanan pulang, ia mendapatkan telepon entah dari siapakah itu. Mungkin saja adiknya.

Setelah pergi bersama Arum itu, kini mas Dwi sudah tidak ada lagi kabarnya dan Arum tidak tahu penyebabnya. Hari-hari Arum lalui dengan sepi. Hingga akhirnya Arum merasa seperti ada yang kurang dari hari-hari ini. Ia sadar, jika ia kini telah menyukai seorang kakak kelas yang baik hati, perhatian, dan dermawan itu. Namun kini, Arum sudah tak lagi berkomunikasi dengannya.

The end.

Cerpen Karangan: Suci Tri Kesumaningrum
Facebook: Suci Tri Kesumaningrum
maaf jika banyak kesalahan dalam penulisannya, ini adalah cerpen pertama saya.
Semoga menikmati pembacaannya.
Terimakasih

Cerpen Cinta Sesaat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


It Was Too Late

Oleh:
“Gue bete ah, bete banget, bete banget!!” “Heeh, kenapa sih?” “Si Hadi. Terlalu perhatian sama gue. overprotective banget. inilah, itulah. Lo tau kan gue orangnya bebas banget, gak suka

Senja di Pagi Hari

Oleh:
Siang itu, seperti biasa aku berkeliling pasar untuk melihat-lihat ikan di salah satu pasar hewan di kota Malang. Kebetulan sudah tidak ada jadwal kuliah lagi. Satu-satunya kelas hari itu

Gedung Badminton

Oleh:
Bagaimana bisa hari ini tiba tiba aku asing dengannya, aku sibuk bermain sedangkan dia sibuk saling melontar kalimat dengan kawannya. Bagaimana bisa hari ini dengan kegiatan yang sudah diagendakan

Penolakan Karena Status Sahabat

Oleh:
Pagi yang sangat dingin dan pula hujan rintik nayla berlari untuk segera sampai ke sekolah, pada saat ia berlari dia hanya fokus pada sepatunya hingga nayla menabrak seseorang “BRUKK”

Saat Bidadari Juga Ingin Dicintai

Oleh:
Hujan malam ini begitu deras mengguyur ibukota Jalanan dibasahi remang cahaya lampu taman menerpa Dingin dan sunyi hanya suara deras bercampur gejolak sang malam Cahaya hitam putih redup padam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *