Cinta Tak Terduga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 April 2015

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Namaku Dila, Adila Putri lengkapnya. Kini aku telah duduk di bangku SMA. Meninggalkan kenangan yang telah lalu. Kenangan yang mungkin menyakitkan, karena cintaku bertepuk sebelah tangan. Cinta pada orang yang tak pernah mengerti jalan pikiranku, Dista Anggara namanya. Mungkin memang salahku, karena aku beranggapan dia membalas cinta itu. Ternyata tidak, aku hanya dapat harapan-harapan kosong seperti kopi tanpa gula (pahit).

Tak ku sangka diriku begitu mudah mencintainya. Mencintai orang yang tak pernah mempedulikan aku. Tanpa letih aku berjuang, tapi tak seperti perjuanganku yang ku terima. Sia-sia sudah ini semua. Karena Dista aku jatuh. Karena ia pula aku terpuruk. Sakit begitu sakit rasa yang telah membekaskan luka ini. Hidup seperti tak berguna lagi bagiku. Tetesan-tetesan air mata mengalir di pipiku. Membasahi wajah suram tersapukan desir angin. Aku sadar bahwa hidupku bukan untuk dia. Masih ada sejuta jiwa yang dapat mencintaiku dengan tulus.

Hari-hari aku menjalani ini, memang sulit untuk melupakannya. Dia begitu berarti bagiku. Padahal belum tentu ia memikirkan perasaanku. Tapi, aku yakin bahwa aku bisa mendapatkan penggantinya. Yang pasti orang yang lebih bisa mengerti aku.

Hari pertama di SMA membuatku bimbang. Bimbang akan keyakinanku dapat melupakannya. Tapi ada satu hal yang membuatku teguh. Yaitu Aldi, dia sahabat baikku. Yang selalu menemaniku saat senang maupun sedih. Setiap hari dia membangun semangatku agar tetap berjuang. Agar aku tak terpuruk dalam kehampaan hati.

Hari itu juga aku berkenalan dengan seorang wanita cantik yang bernama Ani. Pelaksanaan ospek yang sangat menantang ini membuatku takut. Ada bermacam-macam perintah disuruh bawa benda yang gak jelas namanya. Ada banyak teman seangkatanku itu dihukum karena tak memenuhi perintah panitia ospek. Ada yang disuruh nyium tanah basah ada juga yang disuruh nari gangnam style. Memang seru, tapi bagiku tak pernah seru tanpa Dista. “hemt.. sudahlah lupakan saja Dista. Lupakan! Lupakan! Lupakan!” gumamku di depan cermin toilet sekolah. Akhirnya ospek selesai, dan bebas dari benda-benda aneh yang harus dibawa itu.

Awal-awal pembelajaran, rutinitas sekolah hanya perkenalan diri. Karena kelas laki-laki dengan wanita dipisah, Aldi tak sekelas denganku. galau sih, soalnya tak ada temen curhat. Tapi aku juga mendapat teman di kelasku namanya Nita dan ada Ani pula. Mereka cukup baik, dan ramah. Aku menceritakan semua tentang Dista dan Aldi, dan menunjukan Aldi pada mereka.

Ternyata, Ani langsung naksir dengan Aldi. Karena itu aku bermaksud mau nyomblangin mereka. Setelah beberapa minggu mereka berhubungan (PDKT) Aldi bilang ke aku, bahwa dia juga naksir dengan Ani. Dan akhirnya mereka jadian. Tapi yang terjadi malah tak ada lagi yang kasih semangat buat aku untuk bangkit. Mungkin Aldi sudah melupakan aku. untuk kedua kalinya aku harus jatuh. Jatuh karena dua orang yang penting bagiku sudah pergi meninggalakanku.

Tak peduli apa yang telah terjadi, tiba-tiba aku menjauhi Ani. Tak tau kenapa, aku marah padanya. Berhari-hari aku tak bersama Ani lagi. Sampai akhirnya aku mengerti, tak perlu marah karena alasan tak jelas. Dan meminta maaf pada Ani karena sudah menjauhinya.

Ternyata Ani dan Aldi sudah putus beberapa hari yang lalu. Terkejut pula, ketika mendengar berita itu. Tak tau kenapa mereka putus. Mungkin karena Ani sudah punya pacar lagi, Kakak. Tak mengapa kalau mereka putus, tapi aku kasihan dengan Aldi. “Bagaimana perasaannya sekarang?” gumamku penuh kekhawatiran. Aku menghubunginya berulang kali tapi tak pernah ada jawaban.

Walau bagaimanapun dia sahabat baikku. Kini waktunya aku yang menjadi tempat curhat untuk dia. Beberapa hari Aldi mematikan ponselnya. “Mungkin setelah perasaannya reda dia akan menyalakan ponselnya lagi.” Pikirku. Ternyata memang benar, setelah tiga hari ponselnya gak aktif, dia menghubungiku. Dia curhat denganku tentang Ani. Tak ku sangka, baru kali ini aku melihat Aldi bersedih hingga begini.

Sekarang Aldi telah berubah, tak seceria dulu lagi. Dia terlanjur suka dengan Ani. Sedangkan Ani hanya naksir dan kagum saja dengan Aldi. Waktu itu, Aldi mulai menjauhiku. Karena Ani atau bagaimana aku tak tau pasti. Yang jelas, dia menjauhiku. Dia satu-satunya orang yang sangat mempedulikan aku. tapi kini Ia sudah pergi.

Hari-hariku semakin hampa tanpa Aldi. Aku tak mengerti apa yang aku rasakan. Kehilangan Aldi lebih menyakitkan daripada kehilangan Dista. “Aldi, aku mohon jadilah dirimu yang dulu. Aku butuh kamu Aldi.” Batinku.
Aku sadar akan ini semua. Ada yang berbeda dari perasaanku. “Apa yang aku pikirkan, Dila, Dila, jangan, kamu gak boleh jatuh cinta sama Aldi. Dia itu sahabat kamu sendiri. Dan dia itu sukanya sama Ani, gak sama kamu. Sadar Dila, sadar!” ucapku pelan memukulkan tangan ke bantal.

Semakin lama Aldi menjauhiku. Ada apa dengannya, Dia tak seperti biasa. Aku ingin Aldi yang dulu. Tapi semua sudah terlambat. Andai saja aku tak pernah buat Aldi dekat dengan Ani. Pasti Aldi akan tetap di sampingku. Tetap menjadi sahabat baikku. Dan sekarang, sudah tak ada kemungkinan lagi Aldi peduli denganku. Apa lagi, suka sama aku. tak mungkin, sudah Terlambat.

Meletihkan menyimpan perasaan ini sendirian. Perasaan yang begitu menyakitkan. Membuat jiwaku mati. Walau mungkin, tapi begitu kecil kemungkinannya. Aku menyimpannya, menyimpan perasaan ini hingga aawal semester 2 kelas XI. Berhari-hari aku hanya bisa memohon kepada-Nya. Memohon agar Aldi seperti dahulu lagi. Berulang kali aku ingin mengatakan ini padanya. Tapi aku masih ragu akan reaksinya, jika ia mengetahui sebenarnya. Dan sifat Ani yang selalu aneh ketika aku dekat dengan Aldi.

Karena itu aku mengurungkan keinginanku untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi suatu hari nanti akan ku pastikan dia tau semua tentang perasaanku. Entah kapan itu terucap aku tak tau.

Selama hampir dua tahun aku menahannya. Menahan akan amarah yang mendorongku untuk mengungkapkannya. Walau aku masih dekat dengan Aldi tapi kini ia selalu bercerita tentang Ani. “Sakit” ya memang sangat “sakit” bahkan, tapi apa boleh buat. Aku tak bisa berbuat apa-apa.

Dia pernah mengatakan padaku bahwa ia akan selalu menunggu Ani walau Ani mempunyai incaran lain. Jleebbb, menancap begitu dalam di hatiku. Waktu itu tepat pada ulang tahun Dista. Aldi hanya mengejekku karena aku tak bertemu dengan Dista saat hari ulang tahunnya. Padahal aku tak pernah berharap untuk itu. Bahkan sebaliknya.
“Aldi, aku sukanya sama kamu. Bukan sama dia. Tapi mengapa? Mengapa kamu gak pernah merasakan ini? Aku mencintaimu Aldi” batinku menangis membaca sms Aldi. Hanya itu yang aku rasakan ketika dekat dengan Aldi.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini sudah bulan Maret, saatnya memperpadat waktu belajar. Pertengahan Bulan Maret ini, tepatnya tanggal 12 Maret 2013. Aku meminta kepada Aldi untuk tak menghubungiku lagi, karena sekarang Ani suka lagi dengannya. Alasanku singkat, yaitu aku tak mau merobohkan silaturahmiku dengan Ani. Tapi Aldi tak mau melakukannya. Tiba-tiba Aldi menanyakan perasaanku kepadanya. Jelas sekali aku langsung terkejut. Tapi aku bingung akan mengatakan apa. Aku bimbang antara teman atau orang yang aku cintai.

Aldi terus saja menanyakan itu. Dan akhirnya aku mengatakan semuanya, semua yang aku rasakan. “Iya, aku suka sama kamu. PUAS??!” smsku yang aku kirimkan padanya. Dia membalas sms itu dengan bahasa lembutnya yang sering ia gunakan dulu. “Dila, apakah kamu gak pernah merasakan semua ini. Semua yang aku lakukan itu hanya untuk membuatmu tersenyum. Aku jadian dengan Ani pun karena aku kira jika kamu bahagia. Andai saja kamu mengatakannya dari awal. Aku tak akan membuatmu bersedih seperti ini. Aku sayang kamu Dila, jauh sebelum kamu bersama Dista” pesan manisnya.
Ternyata dugaanku selama ini salah. Aku kira Aldi masih suka dengan Ani. Tapi itu meleset, dan ternyata Aldi menyukaiku. Air mataku pun menetes perlahan membasahi pipiku. Ani ternyata sudah punya pacar yaitu Noorman. Akhirnya aku dan Aldi membuka lembaran baru.

Cerpen Karangan: Dian Putri Penasih
Facebook: Aldila Dian

Cerpen Cinta Tak Terduga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berkat Ide Wina

Oleh:
Kelas V-A, terdiri dari 16 murid. 9 Siswa Putri dan 7 Siswa Putra. Dan Siswa Putri malah terbagi, disebabkan karena terbentuknya sebuah ‘Geng’. Nama gengnya ialah BeGir (Beauty Girls)

Setelah Tujuh Purnama

Oleh:
Di antara tiupan terompet yang saling sahut, di antara aroma jagung bakar yang menggoda, di antara sekumpulan manusia yang tengah suka cita menyambut pergantian tahun, terduduk dengan layu di

Sepenggal Janji (Part 1)

Oleh:
‘Suatu hari, kita akan bertemu lagi.’ Kata-kata itu yang terakhir diucapkan ketika Sinta pergi. Aku merasa sedih ketika melihat temanku yang sudah enam tahun menemaniku sejak kecil harus pergi

Cinderschool (Part 2)

Oleh:
Well, aku semakin tidak terima mendengar kalimat bernada menghina itu. Kasih diam tak berkutik, masih fokus. Bahaya kalau sampai ada kata-kata yang menyinggung, biasanya kasih langsung labrak tanpa tedeng

Cinta Sahabatku

Oleh:
Mungkin aku tak pernah sadar jika ia telah melepaskan aku, aku tidak berhak lagi untuk memilikinya. Mungkin aku adalah orang yang paling gila di dunia ini, aku dengan berani

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *