Cinta Tak Terhadang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 19 August 2017

Suatu saat kau akan mengerti apa yang kurasakan. Kalimat itu yang selalu menguatkanku selama ini. Mungkin bagi orang lain waktu 2 tahun sudah lebih dari cukup untuk move on dan membuka hati lagi untuk orang lain. Tapi aku? Aku tak bisa! Bahkan hingga dia sudah bergonta-ganti pacar pun aku masih tersungkur di dasar jurang bersama kenangan-kenanganku, kenangan-kenangan kita. Aku tak mampu bangkit! Aku tak mampu! Kau dengar itu?

Mungkin sudah lima tahun yang lalu, tapi aku masih ingat bagaimana gigihnya perjuanganmu untuk meluluhkan hatiku. Aku juga masih ingat seberapa besar pengorbanan yang kau lakukan demi mendapatkan secarik nomor teleponku. Bahkan aku selalu mengingat tingkah-tingkah konyolmu untuk mendapatkan perhatianku. Dengan hal-hal itu, kau berhasil meluluhkan hatiku, bahkan hingga sekarang kau berhasil membuatku tak mampu membuka hatiku untuk yang lain. Walaupun sekarang kau sudah bersama kekasihmu yang baru, yang mungkin lebih baik dariku.

Kriiingg… suara yang memaksaku untuk menutup diaryku dan berpindah menuju sumber bunyi itu. Bagas, nama itu, nama yang sudah tak pernah menyambangi hp ku sejak 2 tahun yang lalu, muncul kembali. Dengan sigap langsung kubuka pesannya. “Ra, kamu ntar sore ada acara gak?” Secercah harapan muncul kembali di benakku. Dengan senyum yang terkembang aku membalas pesannya “Gak ada. Knp?” “nanti sore aku jemput ya, lagi pengen ke danau nih. Hwehwe” balasan itu, balasan yang aku harapkan. Ketemuan ya ketemuan, Mungkinkah dia ingin balikan? Lagipula, danau itu kan tempat favorit kita dulu. “Ya. Oke” balasku sok jutek. Dengan bayangan-bayangan yang begitu indah, aku mengobrak-abrik seisi lemariku mencari baju warna putih. Bagas sangat suka kalau aku pakai baju warna putih.

Sudah jam 5 sore, tapi Bagas tak kunjung datang. Bayangan-bayangan indah mulai memudar. Apa mungkin dia Cuma ngerjain aku ya? Kalimat itu yang selalu berputar-putar di otakku.

Tak terasa suara adzan maghrib pun terdengar. Aku memutuskan untuk kembali ke kamarku untuk sholat. Kriiing… dengan sigap aku mengambil hp ku “Ra, aku di depan rumahmu. Ma’af telat” entah apa yang ada di benakku. Tapi aku langsung keluar dan menemuinya, padahal sudah jam 8 malam. Bahkan tak ada rasa marah sedikitpun. “Ayo, keburu kemaleman” Suara itu sudah lama tak kudengar. Suara yang sangat kurindukan.

“Ayo, udah sampe nih. Mau tetep di motor?” “Eh, iya” karena terlalu larut dalam lamunanku sampai tak sadar kalau udah sampai danau. “Duduknya di tempat biasa kita aja ya?” pertanyaan yang membuatku semakin bahagia. Ternyata dia masih ingat kenangan-kenangan kita. Kenangan-kenangan yang membuatku selalu merutuki Tuhan kenapa Dia mempertemukan kita membuat kita jatuh cinta namun pada akhirnya hanya untuk berpisah. “Ra?” “eh iya terserah” “kamu kenapa sih? Ngelamun mulu dari tadi” “berisik. Mau tau aja” jawabku cepat sambil aku mempercepat jalanku.

Tempat ini tempat yang tak pernah lagi aku kunjungi selama dua tahun terakhir masih sama seperti terakhir aku di sini, dengan orang yang terakhir membawaku ke sini, ya orang yang sama seperti dulu. Harapanku mulai berhamburan kesana kemari berharap dapat mengulang kisah cinta yang pernah terhenti.

“Ra” bagas memecah keheningan “ya?” “emm.. aku boleh tanya sesuatu gak?” membuatku mengalihkan pandanganku padanya. “kamu udah gak suka sama aku kan?” entah kenapa mataku terasa panas mendengar pertanyaan itu “aku mau pindah ke belanda untuk waktu yang lama mungkin gak kembali ke Indonesia lagi. Aku cuma mau mastiin aja kamu udah gak suka sama aku. Soalnya dulu Via bilang kamu sampe 1 minggu gak masuk kuliah gara-gara aku pacaran sama Chelsea. Aku jadi kepikiran sampe sekarang. Tapi ngelihat kamu di sini aku yakin kamu udah nemu penggantiku dan bahagia sama dia.” Degg… kalimat-kalimat itu… “Chelsea juga bakal pindah bareng aku, kita sama-sama mau merintis karir di sana. Hahaa.. ya itu cita-cita kami berdua.” Hening… “Tuhaaannn… kenapa Engkau harus pertemukan kita lagi jika hanya akan membuatku semakin sakit, semakin menganga luka ini Tuhaann.” rontaku dalam hati

“Ra?” suara membuyarkan lamunanku. “Apa?” sedatar mungkin. Yaa seolah olah tak terjadi apa-apa. “pulang yuk udah malem. Hehe” “iya”. “Take care ya, jangan lupa e-mail kalo kamu mau nikah, nanti aku kirim hadiah dari belanda deh, haha.. byee”

Langkahku gontai, hidupku hancur, gaada lagi yang bisa diperjuangin. GAK ADA. Mungkin aku bisa dikatakan mayat hidup sekarang, membiarkan kehidupan membawaku sesuka hatinya, tanpa tujuan hidup. Berhari-hari aku masih terdiam di tempat tidurku bersama diaryku bersama kenangan-kenangan dulu yang kini sudah hilang, hilang dari hidupnya dan melekat selalu dalam ingatanku.

Kriingg… suara hpku entah sudah berapa kali nada itu muncul sejak malam itu. Aku bahkan tak ingat sudah berapa hari aku tak beranjak dari tempat tidurku, tak mengindahkan hpku dan ya tentunya tak masuk kuliah. Aku juga tak ingat sudah berapa kali aku meminta pembantuku untuk membelikanku tissue dan membuat pembantuku bersusah payah memintaku untuk sekedar makan dan mungkin pembantuku sudah menelepon orangtuaku. Ah aku tak peduli.

Bagas… bagas… bagas… nama itu tak pernah hilang dari otakku. Selama aku masih bisa bernafas masih sanggup berjalan. Tanganku mencari-cari sumber suara itu. Nada telepon yang hanya aku berikan pada keluargaku, Via sahabatku dan Bagas yaa Bagas. “Halo?” “Ya ampun Raa.. lo tu ke mana aja sih? Udah 3 hari gak masuk kuliah, gak ada kabar, di sms gak dibales, rumah lo juga keliatan sepi banget.” “hem.. lo di mana?” “di depan rumah lo, cepet turun bukain pintu.” “Vi, di situ ada bel pencet aja nanti juga ada yang bukain pintu.” “gerbang aja digembok, mau pencet apaan? Gerbang lo?” “ya ya bentar.” Muka pucat, rambut acak-acakan, baju? Masih dengan kemeja putih malam itu dan entah segede apa bengkak di mataku hingga terasa sangat pedih. Aku turun ke luar rumah yang super duper sepi, gak tau pada ke mana.

Jeglekk… kubuka pintu rumah… “Surpriseee, happy birthday Zahra, Happy Birthday Zahra” Mama, papa, Kak Egi kakakku, Via dan satu lagi Bagas ya Bagas… Zahraa tenang jangan terlalu berharap lagi. “Ra?” membuyarkan lamunanku. “Tiup lilinnya dong” pinta mamaku. Wuuss… “Yeeyyy..”. “eh lu cewek ra, acak-acakan gini sihh diihh.” Kata-kata Via yang membuatku tersentak, aku masih benar-benar dalam keadaan yang menyedihkan. Aku melihat ke arah Bagas, dia hanya diam. “Apa rencanamu Tuhan? Aku tak mengerti, aku benar-benar tak mengerti.” Batinku bergejolak. “Sayang, mandi dulu sana dandan yang cantik. Kan ulang tahun, masak acak-acakan gini.” Ujar mama yang masih sibuk dengan minuman buatannya. “Iya.”

Aku harus pakai baju apa? Putih? Tapi untuk apa? Hitam? Ya mungkin aku pakai hitam saja. Tapi ini harusnya hari bahagiaku? Merah? Aaaahhhh.. aku pusing. Aku obrak abrik seluruh pakaian dalam lemariku dan aku menemukan sebuah “dress kebahagiaan” sebuah dress warna ungu merupakan hadiah ulang tahunku 2 tahun yang lalu.

“Wiihh.. cantiknya adik cewek gue.” Komen kak Egi yang langsung saja memelukku. “Kak Egii.. lo tuh bikin dandanan gue rusak niihh.” Semuanya tertawa, bahagia. “Emm.. om kayaknya ada yang mau ngomong sesuatu nih.” Kata-kata Via yang membuatku terkejut. “Apa lagi? Apa Bagas mau berangkat sekarang? Apa ini pertemuan terakhir kami? Pantas dia sering terlihat diam.” Hatiku bergejolak lagi dan lagi. “Oh ya? Siapa Via?” tanya papa dengan wajah datar-datar saja menurutku. “Saya, om.” “oh Bagas, mau ngobrol berdua apa di sini aja?” tanya kak Egi yang juga sedikit terkejut. “Di sini aja kak, hehe” dengan ketawanya yang khas yang benar-benar aku rindukan.

“Raa, aku minta maaf kalau sering ngebuat kamu nangis, ngebuat kamu sebel bahkan mungkin ngebuat kamu nyesel pernah pacaran sama aku. Walaupun kita udah dua tahun berpisah, menjalani hidup masing-masing, tapi rasa sayang ini gak pernah hilang. Aku pengen banget ketemu kamu, jalan bareng kamu, tapi kondisi gak memungkinkan. Makanya aku kemaren ngajak kamu ketemu, aku pengen banget berdua sama kamu lagi. Aku sempet takut kamu gak mau tapi Via selalu bilang kalo kamu juga pasti masih sayang sama aku, makanya aku beraniin buat sms kamu. Aku Cuma pengen mastiin perasaanmu, aku bohong tentang semua yang aku bilang malam itu. Sebenernya chelsea itu sepupuku.” “Trus selama dua tahun ini kamu kemana? Kenapa kamu bohong bilang kesemua orang kalo chelsea pacarmu?” tak terasa air mataku meleleh kembali. “Aku terkena meningitis Ra, aku gak mau bikin kamu sedih. Aku pengen kamu gak tau tentang penyakitku dan aku pengen kamu ngelupain aku, karena dokter gak yakin kalo aku bisa sembuh total.” Air matanya, untuk pertama kalinya aku melihat air matanya yang selama ini tak pernah terpikirkan dapat melihatnya. “Tapi Ra, dokter bilang aku udah sembuh kok, aku bener-bener sembuh, aku berharap kita bisa bersama lagi.” Genggaman tangannya yang erat, yang sudah lama tak aku rasakan. “Bodoh. Kamu bodoh” hanya itu yang sanggup aku katakan. Aku memeluknya, ya aku bisa memeluknya kembali.

Ulang tahunku ke 21, ulang tahun yang begitu memberikan banyak pelajaran. Tuhan selalu punya cara yang terbaik untuk mempertemukan hambanya dengan pasangan hidupnya. Jangan pernah mengeluh bahkan merutuki Tuhan, karena rencana Tuhan lebih indah dan terbaik.

Cerpen Karangan: Eka Erliana
Facebook: Eka Erliana

Cerpen Cinta Tak Terhadang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahwana dan Shinta

Oleh:
Dibalik keindahan dari senyumnya, menyimpan airmata yang mampu membasahi hati ini. Tak dapat dan mungkin tak pernah aku lupakan apa yang telah aku lihat hari ini. Cinta yang amat

Realita dalam Sebuah Fatamorgana

Oleh:
Hai, namaku Salsabila Intan. Kalian bisa memanggilku Bila. Rambutku panjang terurai. Biji mataku kelam, sekelam hidupku saat ini. Kata kebanyakan orang wajahku cantik. Walau kecantikanku ini hanya disebut ‘kembang

Antara Tangis dan Tawa

Oleh:
“Lunaaaa, lunaa!” ku dengar teriakan Lina memanggil saudara kembarnya yaitu aku, sontak aku yang sedang asyik baca majalah pun kaget dan langsung menemui Lina yang amat cerewet “Apaan sih

Cinta Takkan Terpisahkan

Oleh:
Namaku dinda asyifah. Aku siswa kelas 3 SMA dan hari ini aku akan melihat hasil ujianku. “dinda cepetan, ntar terlambat” teriak mama Aku pun bergegas mandi dan segera berganti

Aku, Kau dan Filsafat

Oleh:
Mentari mulai bernyanyi bersama burung hapus pagi yang sunyi. Suara merdunya mampu menembus telinggaku, mata indah yang mulai terbuka, bibir dengan indah mengucap doa dan jiwa yang mulai bangkit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *