Cinta Tapi Gengsi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 January 2017

“Wi, ayo nongkrong dulu!” ajak Rena menarik tanganku dan berjalan menuju warung Mbok Sri. Warung makan yang sudah menjadi langganan untuk nongkrong usai pulang sekolah. Mbok Sri pun sudah hafal betul dengan kebiasaan kami, yang selalu menghabiskan waktu di tempatnya hingga sore hari.

“Loh, Joni kok belum kelihatan?” celetuk Rena celingukan, sesampainya kami di warung Mbok Sri.
“Halah, kamu kayak nggak tau dia aja. Nanti juga datang,” sahut Mbok Sri yang nampak sibuk melayani pelanggan.
“Tapi biasanya, dia udah datang duluan kan mbok?” resah Rena yang tak kunjung menemui sosok pujaan hatinya itu. Matanya terus celingukan mencari-cari ke sekeliling. Terkadang juga menatap jalan, memastikan kehadiran Joni.
“Udahlah Ren, kamu cemas banget sih. Nggak perlu dicariin, nanti pasti juga bakalan datang sendiri,” ujarku sembari menepuk bahunya. Tapi ya begitulah Rena, kalau belum ketemu sang dambaan hati. Pasti gelimpungan nggak karuan.
“Iya bener kata Dewi. Lagian tumben-tumbenan kamu bingung gitu,” imbuh Mbok Sri.
“Hahaha… Mbok Sri ini, kayak nggak tau anak muda aja. Bagaimana nggak bingung, lha wong belum ketemu pujaan hatinya,” ledekku cekikikan, disusul mbok Sri. Sementara Rena pasang muka cemberut.
“Udahlah Mbok biarin aja. O ya, aku pesan ice lemon tea ya,” ucapku sembari menunjukkan telunjukku ke arah Mbok Sri.
“Iya,” angguknya menyahut ucapanku.

Tak lama kemudian makhluk yang ditunggu-tunggu oleh Rena akhirnya muncul juga. Dari kejauhan, nampak Joni berjalan ke arah kami. Muka teman baikku itu pun jadi sumringah, tidak seperti sebelumnya. Sudah dapat ditebak, pasti hatinya lagi berbunga-bunga.

“Wi, tapi Joni sama siapa tuh?” celetuknya penuh curiga.
“Halah, palingan sama Feri,” sahutku datar.
“Tidak, bukan. Aku belum pernah melihatnya.”

Sontak aku menoleh ke arah Joni lantaran penasaran. Nampak ia sedang berjalan dengan seseorang. Aku kembali mempertajam penglihatanku, untuk memastikan siapa lelaki yang tengah berjalan bersama Joni. Ternyata benar kata Rena, cowok itu bukanlah Feri. “Ahh… iya, siapa dia?” celetukku penasaran.
“Maka dari itu, aku juga penasaran,” sahut Rena.
“Hay… kalian udah di sini duluan toh?” sapa Joni, mengambil tempat duduk di dekat kami.
Lelaki yang bersamanya pun duduk di sebelahnya, dan menghadap ke arahku. Terang saja mata kami saling berhadapan satu sama lain. Dalam beberapa detik, waktu terasa berhenti berputar. Tatapan matanya begitu tajam, penuh amarah, bahkan ekspresi mukanya juga datar. Membuatku takut untuk berlama-lama menatapnya. Aku pun lekas memalingkan pandanganku, sambil menyeruput ice lemon tea di depanku.
“Aku kirain kamu kemana? Kan biasanya kamu yang datang lebih dulu, dari pada kami,” tukas Rena.
“Iya, tadi ada urusan bentar. Makanya baru bisa kesini.”
“Jon, siapa dia?” bisik Rena ke telinga Joni.
“Ohh… ini, dia teman sekelasku juga. Cuma baru sekarang aja, ikut nongkrong. Habis dari kemarin diajakin nolak terus,” jelas Joni, menepuk bahu lelaki di sampingnya. Namun ekspresi wajahnya tidak berubah, masih saja dingin dan angkuh.
“Cakep lo…” bisik Rena menyenggol bahuku.
“Apaan sih!” sergahku mengelak.
“Nah, Feri mana?” tanya Rena lagi.
“Katanya lagi ada perlu, nanti nyusul.”
Begitulah Rena kalau sudah ketemu Joni, seakan dunia milik berdua. Aku cuma diam menikmati ice lemon tea pesananku, sambil mendengarkan obrolan mereka berdua. Tidak banyak yang dapat kulakukan selain diam. Kalau saja Feri di sini, pasti ada teman mengobrol, dan nggak jadi obat nyamuk. Tapi kali ini yang datang, justru makhluk dingin, yang bertampang menyeramkan. Gimana bisa jadi teman ngobrol, mau ngajak bicara aja, udah takut duluan.

“Wi, kok dari tadi kamu diam saja?” tanya Joni tiba-tiba.
“Hah?!” sentakku kaget.
“Iya, kamu kenapa? Dari tadi cuma diam. Nggak seperti biasanya.”
“Habis, bingung mau ngomong apa. Lagian kalian berdua sibuk sendiri.”
“Nah, itu kan ada Roni. Ajak bicara aja.”
Dasar Joni, tukang ngawur. Masa harus aku duluan yang ngajakin ngobrol cowok dingin ini. Males banget lah, lagian nggak kenal. Kalau dia mau, biar dia duluan yang ngajakin ngomong. Dari pada diajakin ngobrol, malah nantinya aku dibentak, mending nggak usah.
Lelaki itu menatap ke arahku, menyunggingkan bibirnya. Melihat ekspresinya, aku jadi berpikir kalau dia meledekku. Aku pun langsung melengos. Jangan pikir, aku mau mengajaknya bicara lebih dulu. “Ogah banget!” gerutuku menggumam.

“Woi!!! Rame nih kayaknya!” seru Feri yang muncul tiba-tiba dari balik punggungku.
“Iya lah, ayo sini gabung!” sahut Joni berseru.
Ternyata Feri tidak datang sendirian, ada seorang cewek bersamanya. Beragam kecurigaan muncul di benakku, siapa lagi wanita yang dibawanya. Kemarin ngajakin adik kelas, sekarang perempuan yang berbeda. Tapi setauku, dia tidak sedang menjalin hubungan atau pacaran dengan siapapun. Lalu siapa cewek yang kali ini diajaknya. Menimbulkan penasaran yang membuatku geram melihat tingkahnya.

“Fer, siapa lagi nih?” bisik Joni ke telinganya.
“Ssssttt… diam!” sergah Feri. Aku dan Rena saling pandang satu sama lain, sambil geleng-geleng. “Kenalin nih, namanya Rita. Dia anak kelas 2 IPS 2,” ucapnya kemudian memperkenalkan cewek yang duduk di sebelahnya. Aku pun melemparkan senyum ke arahnya, diikuti Rena.
“Loh, Ron… kamu di sini juga?” tukas Feri terperangah. Cowok itu hanya tersenyum tipis. “O ya, kalian lagi ngobrolin apa? Aku lihatin dari kejauhan kayaknya seru banget?” lanjutnya.
“Seru apanya? Mereka berdua tuh yang seru, serasa dunia milik mereka aja!” ketusku memalingkan muka ke arah Rena dan Joni.
“Hahaha… udah donk, jangan ngambek gitu. Jelek tau!” ledek Rena cekikikan diikuti Joni. Feri pun bukannya membelaku, malah ikut menertawaiku. Dasar mereka memang suka sekali meledekku.

Aku pikir kemarin, pertama dan terakhir kalinya bertemu cowok dingin super angkuh. Namun nyatanya hari ini tanpa sengaja, aku harus bertemu dengannya lagi di lorong jalan menuju koperasi. Dasarnya menyebalkan, sikapnya masih saja sama. Bukannya menegur sapa atau menanyakan kabar, dia malah berpura-pura tidak melihat dan berjalan melewatiku begitu saja. Membuatku makin marah plus ingin memukul wajahnya yang sok kecakepan itu. “Dasar cowok angkuh sok kecakepan! Jangan sampai ketemu dia lagi!” geramku geregetan.

Entah kenapa waktu seakan sedang mempermainkanku. Kami terus saja dipertemukan dalam beberapa kesempatan, tidak cuma saat di sekolah, tapi juga di luar. Bahkan kebiasaan kami yang sering nongkrong bareng, menambah daftar pertemuan kami. Tapi belakangan aku merasa ada yang aneh dengan sikap Roni. Dia bisa mengobrol apa saja terhadap Rena, Joni, juga Feri. Sementara kepadaku justru sangat dingin, cuek, dan tak banyak bicara. Jika bicara, maka hanya seperlunya saja.

“Udah sore nih, pulang yuk?” ajakku ke Rena.
“Oke!”
“Test… test… test…” tiba-tiba saja, gerimis turun. Kami berdua segera berlari menuju halte. “Duh, jadi basah deh,” gerutuku sembari mengusap rambutku yang basah kena air hujan.
“Sama, aku juga,” sahut Rena.
“Drap… drap… drap…” terlihat Joni dan Roni berlari menyusul kami. Aku sedikit bingung, beragam pertanyaan muncul dalam benakku. Mengapa mereka berdua lari kesini, bukankah arah rumah mereka berlawanan. Seharusnya kalau ingin pulang, mereka menunggu bus di seberang jalan. Bukan malah sama dengan kami.
“Wah… malah jadi basah kuyup begini!” seru Joni sesampainya berteduh di halte.
“Udah, nanti juga kering. Sambil nunggu hujannya reda,” balas Roni.
“Ehh… kalian berdua ngapain ikut ke sini? Arah rumah kalian bukannya kesana?” celetukku penasaran.
“Iya memang, tapi ini tadi…”
“Sssttt…!” potong Roni, menginjak kaki Joni.
“Auww… sakit tau!” teriak Joni. Nampak Roni memelototi Joni, melihat gelagat mereka seolah ada yang sedang disembunyikan.
“Tadi apa?!” selidikku penasaran.
“Kamu gimana sih Wi, nggak ngerti juga. Mereka ke sini buat kita,” celoteh Rena.
“Maksud kamu?” pikirku bingung.
“Kalau Joni, tentu saja untuk nemenin aku nunggu bus. Mana mungkin dia tega biarin aku nunggu sendirian hujan-hujan begini. Kamu kan tau, kalau lagi hujan pasti kita susah dapat bus. Bisa sampe malam. Tapi nggak tau kalau Roni, mungkin saja…”
“Tentu saja buat nemenin Joni lah!” potongnya.
“Terserah kalian sajalah!” ketusku. “Lagian Rena aneh banget sih! Kan ada aku, masa bilang sendirian! Emangnya dia pikir, aku patung!” gumamku kesal.
“Kenapa mukamu kecut begitu? Kamu iri sama Rena?” celetuk Roni.
“What??? Aku iri sama Rena?! Nggak mungkin lah! Dia itu sahabat baikku!”
“Ya bisa saja, dia ditemenin sama Joni. Sementara kamu?”
“Aku apa? Kamu mau bilang kalau aku nggak punya pacar begitu?!” bentakku geram.
“Kenapa kamu marah, kan aku belum selesai ngomong.”
“Halah, sudah ketebak! Palingan kamu mau ngeledekin aku kan? Kamu mau bilang kalau aku nggak punya pacar, jadi nggak ada yang nemenin. Terus aku ngiri sama Rena, gara-gara dia punya pacar, jadi ada yang nemenin!”
“Bukan begitu…”
“Halah… sudahlah! Lagian apa pentingnya punya pacar atau nggak? Bagiku sama saja!”
“Dasar cewek galak! Pantas aja nggak ada cowok yang mau jadi pacarmu!” tukas Roni, membuat telingaku semakin panas mendengarnya.
Kemarahan rasanya sudah mendidih hingga ujung kepala, tinggal tunggu meledak. “Biarin! nggak usah sok peduli!” kesalku.
“Hah? Peduli, sama kamu? Nggak lah! Ngaco! kePDan kamu! Jangan ngarep!” balasnya menggertak.
“Siapa juga yang kePDan, lah dari tadi kan kamu yang sok peduli. Ngatain aku ngiri sama Rena, gegara nggak punya pacar. Lagian apa masalahnya kalau aku nggak punya?!”
“Yee… kamu salah sangka! Justru aku mau bilang, Rena punya pacar, sementara kamu tidak. Jadi pasti kamu ngiri dan butuh orang lain yang juga bisa ngejagain kamu. Tapi sayangnya kamu nggak punya!” ledeknya sembari menjulurkan lidahnya.
“Kamu ini, memang dasar…” geramku mengepalkan kedua tangan.
“Sudah… sudah… kalian berdua ngapain sih? Dari tadi berdebat mulu?” potong Rena.
Kalau bukan karena Rena, mungkin aku sudah mencakar-cakar muka si cowok super dingin dan menyebalkan itu. Beruntung saja teman baikku itu mencegahku, sehingga kali ini Roni selamat. Awas saja jika nanti dia meledekku lagi, pasti sebuah pukulan sudah melayang ke tubuhnya.
“Iya, lagian kamu juga Ron. Ngapain sih, ngledekin Dewi melulu? Kenapa nggak kamu pacari saja dia!” imbuh Joni.
“Nah… iya benar juga katamu!” seru Rena.
Kemarahanku rasanya semakin memuncak, dasar si Joni asal ngomong. Menyuruh Roni memacariku, enak saja. Mana mungkin aku mau pacaran sama cowok macam dia. Bersikap dingin, nyebelin, dan sok kecakepan. Kalau cowoknya cakep, bersikap lembut, dan perhatian baru aku mau. Nah, kalau macam Roni, males banget.
“Kalian kan sama-sama jomblo. Udah jadian saja,” celetuk Rena lagi sembari nyengir.
“Jadian sama dia? Nggak deh! Cewek yang lebih cantik dari dia saja masih banyak, ngapain harus sama dia!” ujar Roni sinis.
“Yee… jangan sok kamu! Lagian belum tentu aku mau pacaran sama orang macam kamu. Mending nggak usah!” sergahku melotot.
“Cewek yang lebih cantik dari dia masih banyak…” suara Roni mendadak menggema di telingaku. Membuatku berpikir ulang, “Cewek yang lebih cantik…” pikiranku terus berputar, mencari tau maksud perkataannya. Pasalnya ucapan yang asal nyeplos, adalah dari hati.
“Aku bilang jangan ngarep! Dasar cewek aneh!” seru Roni.
“Tunggu! Tadi kamu bilang apa? Cewek yang lebih cantik dari aku?” tanyaku mendekatkan wajah ke mukanya. Nampak mukanya sedikit berbeda, tepatnya terlihat jadi salah tingkah. Membuatku tersenyum geli. “Jadi kamu pikir, aku ini cantik?” godaku kemudian menatap matanya, sembari tersenyum.
“Heh… jangan ngaco kamu!” elaknya menepis bahuku.
“Loh, tadi kan kamu sendiri yang bilang begitu?”
“Brem… breemmm…” suara bus tiba.
“Itu bus mu sudah datang, pergilah!” usirnya mengerutkan dahi, dengan mata sedikit penuh keragu-raguan.
Aku masih tak dapat berhenti tertawa membayangkan ekspresi muka Roni. Ternyata cowok super dingin itu, bisa bersikap aneh juga. Aku pikir dia cuma cowok dingin yang tidak akan membiarkan siapapun mendekatinya. Tapi barusan, sikap anehnya menjadikanku ingin mendekatinya.

Entah apa yang mengisi otakku. Tapi semenjak kejadian itu, aku jadi terus memikirkannya. Bayangan wajahnya semakin sering muncul. Tidak seperti sebelumnya, yang membuatku geram. Justru kali ini sikapnya membuatku penasaran, untuk mencari tau orang macam apa dia sebenarnya.

Ternyata waktu memang memihakku, sesuatu yang tak pernah kuduga terjadi. Kali ini hujan datang lagi, meskipun cuaca memang sedang musim hujan, namun aku lupa tidak membawa payung. Alhasil aku dan Rena harus menunggu hujannya reda. Tidak tau dari mana datangnya, tiba-tiba saja Roni muncul membawa payung di tangannya.
“Ini pakailah!” serunya menyodorkan payung tersebut padaku tanpa berani menatapku. Melihat sikapnya yang aneh, membuatku jadi curiga. Jangan-jangan dia sedang meledekku, atau sedang ada maunya.
“Nggak perlu, nanti kamu pasti minta imbalan!” elakku.
“Tidak, pakailah!” ucapnya lagi, masih memalingkan muka.
“Nggak, aku nggak mau! Kamu kan suka ngeledekin aku!”
“Sreeettt…” seketika dia meraih tanganku. Terang saja pandangan kami saling bertemu. Sorot matanya yang tajam menatap lekat mataku, membuatku cemas, dan bingung. “Ini pakailah!” tukasnya kemudian memberikan payung ke tanganku, langsung bergegas pergi.
Sontak aku pun kaget bukan kepalang, dan terus kepikiran tentang apa yang sedang terjadi pada Roni. Pikiranku terus dipenuhi dengan beragam pertanyaan. Mungkin saja dia tengah sakit, sebab tak biasanya dia bersikap baik padaku. Sampai bela-belain bawa payung untukku. Rena yang sedari tadi melihat kejadian itu, berbalik jadi meledekku. “Cie… cie… yang lagi diperhatiin…” godanya. “Aku juga mau, dibawain payung… apalagi sama cowok cakep…” Rena terus saja menggodaku.
“Udahlah, ayo pulang. Nanti kita bisa pulang terlambat!” ketusku segera beranjak pergi, disusul Rena. Dasarnya temanku yang satu ini, memang suka sekali menggoda. Bahkan sampai di dalam bus pun, ia tak henti-hentinya menggodaku.
“Jangan-jangan dia naksir sama kamu Wi…” sentaknya kemudian.
“Ngaco!” elakku tak percaya. Namun tak bisa kupungkiri, sikapnya akhir-akhir ini yang begitu perhatian membuatku cemas memikirkannya. Akan tetapi aku tidak ingin tertipu, bisa saja dia hanya sedang bermain-main denganku.

Keesokan harinya perubahan drastis lagi-lagi datang mengejutkanku. Entah bagaimana kebenarannya, tiba-tiba saja, Joni mendatangiku dan menyampaikan bahwa Roni mengirim salam padaku. Ditambah Feri yang muncul ke kelasku, memberikan pertanyaan mengagetkan. “Dewi, aku dengar katanya kamu suka ya sama Roni?” celetuknya.
“Hah…!!!” sentakku melongo. “Nggak lah! Lagian siapa yang bilang begitu?”
“Roni sendiri yang bilang padaku tadi di kantin.”
“Wah… itu anak benar-benar harus dikasih pelajaran deh!” geramku langsung beranjak pergi mencari tau keberadaannya. Setelah celingukan cukup lama, akhirnya aku menemukan mahkluk nyebelin itu tengah duduk menikmati makanan bersama teman-temannya di pojokan kantin. Tanpa pikir panjang aku langsung menghampirinya.
“Hey! Apa maksudmu?! Kenapa kamu bilang sama Feri, kalau aku suka sama kamu? Jangan kePDan kamu!” bentakku tepat di depan telinganya. Semua mata melihat kami berdua, tapi aku tak ingin mempedulikannya. Sekarang ini yang aku pikirkan adalah gosip yang tengah menyebar, membuatku geram mendengarnya. Bisa turun harga diriku, kalau orang-orang mengira aku menyukai cowok rese dan nyebelin ini.
Roni masih terdiam, tak menggubris ucapanku. Melihat sikapnya, aku jadi makin geregetan. “Bisa gawat kalau dia nggak nyahut apa-apa, nanti mereka malah ngirain kalau aku beneran suka sama nih cowok… duh… ngeselin banget sih…!” pikirku tak karuan antara perasaan yang mulai simpati padanya dan gengsiku yang tinggi.
“Ron, jadi ini cewek yang kamu bilang kemarin?” tanya salah seorang teman padanya. Roni cuma membalas dengan anggukan kepala. Kepalaku rasanya sudah ingin meledak.
“Ingat ya! apapun yang dikatakan cowok ini, jangan percaya. Lagian mana mungkin aku menyukai cowok dingin, angkuh, dan sok kegantengan macam dia!” kesalku menunjuk muka Roni, lantas beranjak pergi.

Semenjak kejadian itu, aku berusaha menghindari Roni. Bahkan dalam berbagai kesempatan di sekolah, aku selalu berpura-pura tak melihat wajahnya, meskipun kami kerap bertemu. Baik saat melewati koridor sekolah, lapangan, laboratorium, maupun kantin. Tapi keadaan ini ternyata sangat menyulitkan. Aku justru tak bisa berhenti memikirkan cowok angkuh itu. Setiap saat, benakku terus saja terisi oleh bayangan wajahnya, serta bicaranya yang selalu ketus.

Sudah cukup lama rasanya, aku mendiamkan maupun berpura-pura tak mengenalnya. Rena pun terus menggodaku, apa aku tak merindukannya. Tentu saja aku bilang tidak. Meskipun sebenarnya, rasa rindu telah menyelimuti hatiku. Benar, merindukannya itulah yang kurasakan sekarang. Ketika aku jauh darinya. Namun aku tak ingin makhluk sok kecakepan itu mengetahuinya, bisa turun harga diriku. Walaupun aku selalu mengelak, akan tetapi Rena, Joni, juga Feri masih juga tiada henti-hentinya menggoda dan menjodohkanku dengan Roni. Aku semakin tidak mengerti, mengapa mereka malah berusaha menjodohkan kami.

Siang ini, tumben-tumbenan Riko mengajakku belajar bareng di taman saat jam istirahat. Meski satu kelas, tapi kami jarang belajar bersama. Mendadak aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya. Dia mengusap kepalaku, ketika jawabanku salah. Terang saja ini mengagetkanku, hal yang aku harapkan dilakukan oleh Roni.

“Tap… tap… tap… lepaskan tanganmu dari kepalanya!” gertak seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di depan kami. Nampak raut mukanya sangat marah, disertai kepalan tangan yang sudah siap menonjok.
“Apa-apaan sih dia? datang marah-marah!” geramku kesal melihat tingkahnya. Dia lelaki yang sangat kukenal. Ya, pria menyebalkan dan angkuh, siapa lagi kalau bukan Roni. Entah dari mana datangnya, membuatku kesal saja. Muncul langsung marah-marah nggak jelas.
“Tenang… jangan marah dulu…” ucap Riko menenangkan. Aku sedikit merasa lega, karena Riko bisa bersikap demikian.
“Bagaimana tidak marah?! Siapa yang mengijinkanmu menyentuh kepalanya?!” gertaknya lagi penuh kemarahan.
“Itu hal yang wajar…”
“Tidak! Tidak boleh ada yang menyentuhnya, termasuk kamu!”
Aku tak sanggup menahan lagi, melihat sikap kasar Roni. “Kamu kenapa sih Ron? Datang langsung marah-marah nggak jelas?! Sebetulnya apa masalahmu?!” gertakku berdiri dihadapannya. Terang saja mata kami saling bertatapan satu sama lain.
“Aku tidak suka aja dengan sikapnya!”
“Memang kenapa dengan sikapnya? Dia tidak melakukan hal buruk padaku!”
“Tapi aku tidak bisa melihat lelaki lain menyentuhmu!” gertaknya menatap tajam mataku. Sorot matanya yang tajam membuatku takut.
“Memangnya kenapa?!” balasku menggertak.
“Aku cinta sama kamu! Jadi aku nggak akan biarin cowok lain mendekatimu maupun menyentuhmu!” serunya kemudian. Sontak aku pun kaget mendengar ucapannya, antara percaya dan tidak.
“Apa kamu bilang?” sentakku masih tidak percaya dengan apa yang telah aku dengar barusan.
“Iya sebetulnya aku mencintaimu.”
“Pluk!” tanpa pikir panjang, aku langsung memeluknya. “Aku juga cinta sama kamu.”
“Plok! Plok! Plok!” tiba-tiba saja Rena, Joni, dan Feri muncul dari balik semak-semak dengan tepuk tangan. Nampak mereka sedang tertawa kegirangan. “Akhirnya dia ngaku juga!” seru Rena sembari mengedipkan mata dan tersenyum nyengir.
“Ini ada apa sih? Aku nggak ngerti deh…” ujarku kebingungan.
“Udah, jangan sok bingung begitu. Kita sudah tau, kalau sebenarnya kalian berdua saling cinta. Cuma gengsi aja untuk mengakuinya,” celetuk Rena.
“Kamu pikir, kenapa Roni buat gossip kalau kamu suka sama dia? Itu supaya kamu menyatakan perasaanmu lebih dulu padanya. Dia kan gengsi untuk bilang cinta lebih dulu,” imbuh Joni.
“Tapi ternyata, bukannya kamu mengakui perasaanmu padanya. Kamu malah mengelak kan?” susul Rena lagi.
“Nah, maka dari itu kita bertiga buat rencana!” seru Feri kemudian.
“Maksud kalian?” sentakku bingung.
“Iya jadi kita bertiga buat rencana mendekatkan kamu dengan satu cowok. Tentunya kami minta bantuan Riko teman sekelasmu. Awalnya sih dia nggak mau, tapi nggak tau tuh diapain Rena, akhirnya dia mau juga. Nah, dari situlah aku dan Feri yang bertugas membawa Roni secara tidak sengaja melihat kalian berdua. Dan ternyata rencananya berhasil bukan?” jelas Joni.
“Ohh… jadi ini rencana kalian bertiga!” celetuk Roni tampak geram.
“Hahaha… udah nggak usah sok marah begitu… toh udah jadian?” balas Joni cekikikan.
“Hahaha… lagian kalian berdua ini. Cinta kok gengsi!” ledek Rena tak mau kalah. Sontak kami semua tertawa bersamaan melihat kejadian itu.
Aku pun tak bisa menampiknya, kalau ledekan mereka memanglah benar. Aku memang menyukai Roni, begitu pula cowok itu terhadapku. Namun kami berdua sama-sama gengsi untuk mengakui perasaan satu sama lain.

Cerpen Karangan: Putri Andriyas
Blog / Facebook: www.putriandriyas.wordpress.com / Putri Andriyas
Saat ini tengah sibuk membuat cerpen dan aktif berbagi cerita yang inspiratif juga menyenangkan lewat blog. Untuk mengetahui lebih lanjut, bisa kunjungi blog pribadi saya.
Www.putriandriyas.wordpress.com
Ingin kontak saya? bisa via email maupun facebook.
Email : putriandriyas[-at-]gmail.com
Facebook : @putriandriyas

Cerpen Cinta Tapi Gengsi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


First Love

Oleh:
Aku tak punya pengalaman dalam pacaran. Setelah putus dengan pacar pertamaku 2 tahun yang lalu, aku tidak pernah dekat lagi dengan satu pun cowok. Aku merasa bahwa aku tidak

Rona Merah di Pipi Ratih

Oleh:
Hujan belum juga reda. Tetesan air masih turun ke bumi sambil menari-nari tanpa irama. Sesekali deru motor yang lewat menyelingi kesenyapan di ruangan itu. Ratih masih termenung di kursinya,

Hati Yang Terluka (Part 2)

Oleh:
“Lo kok bisa ada di sekolah ini?” Tanya Kenneth bingung melihat keberadaan Karin di sekolahnya. “Gue pindah ke sini, Ken. Gue bakalan bikin lo balik lagi sama gue.” Ucap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *