Cinta Tulusku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 16 September 2016

Hembusan angin yang semilir pagi ini membuat tubuhku merasa sedikit kedinginan. “Dingin…” ujarku dalam hati sambil kupeluk tubuhku sendiri. Aku yang saat ini sedang duduk di bawah pohon depan rumah, sembari berdoa agar dia datang lagi untukku.

Matahari pun mulai menampakkan sinarnya, begitu pula ibuku yang tiba-tiba memanggilku dari dalam jendela rumah.. “Ara..”
“Iya ibu..”. lalu aku masuk rumah. Beginilah hidupku yang apa-apa diatur ibu. Ayah sudah lama meninggal dunia akibat kecelakaan mobil 10 tahun yang lalu, ketika aku masih berumur 9 tahun. Aku sekarang kuliah, ambil jurusan sastra inggris. Aku berangkat ke kampus selalu di antar ibu dan pulang pun juga di jemput. Ibu punya alasan dibalik perhatiannya yang lebih. Memang sulit untukku bisa pergi dengan teman tanpa didampingi seorang ibu. Awalnya aku sangat tidak menyukai kehadiran ibu yang selalu ikut kemanapun aku pergi, namun keadaan yang membuatku rela dan mengerti.

Pukul 14.00 aku duduk di depan kampus dengan sahabatku Rita, dia sedang menunggu jemputan dari kekasihnya. Sedangkan aku biasa… menunggu jemputan dari ibu. Berkali-kali aku lihat jam tangan, ibu belum datang. Dan tidak lama kemudian seorang laki-laki dengan vespanya berhenti di depanku dan Rita. Ketika aku memandang wajahnya, seperti bukan seseorang yang asing bagiku. “Ayoo..” Laki-laki itu mengisyaratkan pada Rita untuk naik ke boncengannya. Suaranya pun tidak asing lagi di telingaku, diam-diam aku menatap matanya.
“Apakah itu kamu?…” tanyaku dalam hati. Cinta yang sengaja aku tinggalkan 3 tahun yang lalu.
“Ara.. aku duluan”. ujar Rita sembari pergi.
Aku hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kepala. Dan tidak lama kemudian ibu datang.
Setelah tiba di rumah, aku menceritakan kejadian tadi ke ibu.
“ibu..”
“Iya Ara..”.
“Ara tadi seperti melihat Setya..”
“Ah.. masa sih Ara”. Ujar ibu ragu, mungkin ibu hanya berpura-pura tidak percaya agar aku tidak memikirkan Setya lagi.
“Entahlah ibu..”. Aku mencoba mengalah, namun aku percaya bahwa tadi yang aku lihat adalah Setya.

Setya adalah mantan dan cinta pertamaku, aku mengenal Setya sejak aku kelas 2 SMP dan seketika itu juga aku pacaran dengan Setya. Cinta jarak jauh itu aku jalani dengannya hampir 1 tahun. Awalnya dia memutuskan aku tanpa alasan yang jelas, namun rasa ini tidak kalah begitu saja.
Aku tetap mencintainya, mungkin rasa itu masih ada sampai sekarang. Sampai di suatu hari dia memberiku kabar tentang keberadaannya, dan kami pun mulai dekat lagi. Namun seolah-olah dia hanya memberiku harapan palsu. Setya meninggalkan aku lagi untuk yang kedua kalinya. Aku ingin lari dari perasaan ini.
Aku mencoba mendekati banyak laki-laki, berharap agar aku dapat dengan segera melupakan Setya. Usahaku tidak sia-sia, aku menemukan seorang laki-laki yang sholeh. Danang namanya, dia satu tahun lebih muda dariku. Meskipun dia satu tahun lebih muda dariku, namun pemikirannya lebih dewasa. Awalnya aku kira hubungan ini akan berjalan lama, tapi ternyata aku yang jahat. Aku memaksa agar hubungan ini cukup sampai disini, hanya karena alasan yang bodoh. Hanya karena Setya kembali dan karena teringat janji setia sehidup semati dulu. Aku merasa menjadi wanita yang sangat kejam, membiarkan Danang menangisiku yang jahat.

Semua bayangan bahagia dengan Setya hancur, Setya meninggalkan aku untuk ketiga kalinya. Sejak itualah aku mulai sakit-sakitan, dan dia teman dekatku datang yang seolah-seolah menjelma menjadi sesuatu yang berharga dalam hidupku yaitu.. “cinta”.

Hubungan kami tanpa diawali dengan adegan tembak menembak seperti yang ada di drama-drama. Aku biasa memanggilnya Erwin. Dia yang selalu menemani aku di setiap hariku, sehingga hari-hariku menjadi bewarna, meskipun bayangan Setya masih menyiksa batin. Saat itu aku masih SMA kelas 1, aku kira hubungan ini akan menjadi akhir dari kisah cinta remajaku. Ternyata TIDAK. Aku masih tetap tidak bisa menyembunyikan rasa cinta untuk Setya.
Meskipun Setya berkali-kali mengirim pesan, bahwa dia akan menikah. Tapi entah kenapa aku tetap tidak berhenti untuk mencintainya.
Hingga suatu hari Setya datang lagi, dengan seribu rasa manis yang dia ungkapkan. Lalu dia pergi lagi untuk keempat kalinya.
Saat itu juga sahabatku (Handrik) meminta rasaku untuknya, dan aku mencoba untuk memberikan rasa ini pada dia. Hubungan kami sangat baik, aku kira hubungan ini akan berjalan lama. Kejahatanku pun mulai muncul, aku tidak dapat menahan rasaku pada Setya untuk kesekian kalinya. Aku suka update status di media sosial tentang rasaku ini pada Setya dan aku beri inisial s. Akhirnya Handrik memutuskan untuk mengakhiri hubungannya denganku, aku bisa apa?. hanya janji-janji pada Setya yang aku ingat.

Aku memutuskan untuk sendiri, dengan rasa yang masih untuk Setya. Tidak peduli apa yang akan terjadi. Akankah Setya menikah dengan orang lain, namun aku tetap menepati janji sehidup semati dengannya.
Aku yakin bahwa yang sejati dan terbaik hanya ada satu.
Tiba-tiba Setya datang dengan seribu janjinya untuk mencintaiku dengan segenap jiwa dan raganya.
Dia mengecup keningku untuk yang kedua kalinya. Hubungan kami berjalan baik-baik saja. Namun semuanya berubah ketika sakitku mulai parah, aku jarang memberi kabar ke Setya. Aku juga tidak cerita ke Setya kalau aku sakit parah. Kira-kira 1 bulan setelah aku sembuh, aku buka lagi media sosialku. Ada banyak pesan dari Setya. Aku baca pesan-pesan dari dia, dia mengira aku sudah melupakannya dan rasanya sekarang sudah hilang untukku.. “Padahal rasaku masih ada utuh untukmu Setya”. ujarku dalam hati.
Dan mulai saat itu aku tidak ingin menghubungi setia lagi.. aku merasa tidak akan bisa membahagiakannya. Meskipun masih ada rasa.. “aku tidak akan dan tidak ingin melupakanmu”.
Dan hingga saat ini..
“Ara.. nanti ikut aku makan siang ya..”. Ujar Rita.
“ditraktir nggak nanti?…”. candaku.
“iya dong, anggap aja ini pajak anniversary aku sama mas Setya”.
Senyumku berhenti seketika mendengar nama Setya di sebut Rita. Seperti ada sakit di dalam lubuk hatiku yang terdalam.

Sebelum berangkat makan siang Rita menghubungi ibuku lewat telepon untuk meminta izin. Dan sialnya ibuku memberi izin, padahal aku berharap ketidakadaanku di acara makan siang Rita dengan Setya. Ini adalah hal yang sangat sakit buatku.

Di sepanjang makan siang ini Setya selalu mencuri-curi pandang denganku, aku berusaha berpaling pandang dari pandangannya. “Owh.. sampai lupa. Mas ini kenalin temanku, Ara. Nama lengkapnya Annisa Tiara”. Rita mengenalkan Setya denganku. Aku hanya tersenyum dan pura-pura tidak mengenal Setya.. “Ara”. Ujarku pada Setya.
“Setya..”. Setya menjabatkan tangannya, dan aku pun membalas jabatan tangannya.
“Ya udah dilanjut ya perkenalannya, aku mau ke toilet dulu”.. Rita pun buru-buru pergi ke toilet.

Sikapku pada Setya pun berubah dingin sekali, sementara Setya terus-terusan memandang wajahku.
“Ara..” Panggil Setya.
Aku menatapnya.. Tiba-tiba Setya memelukku, dan berbisik “maafkan aku, aku merindukanmu Ara..”
“Aku juga Setya..”. Balasku.
Segera aku lepas pelukannya. Lalu kami menceritakan hidup kami masing-masing setelah berpisah dan aku menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ada penyesalan dalam diri Setya.. “Untuk apa kamu menyesal Setya, semuanya sudah terlanjur”.
“Jujur aku masih mencintai kamu Ara..”. Balasnya.
“Tapi ada yang lebih mencintai kamu. Rita lebih bisa buat kamu bahagia, bukan aku yang sakit-sakitan”. Jelasku pada Setya.
“Ara, aku akan memutuskan Rita dan kita bisa melanjutkan hubungan kita”..
“Setya, aku ngga nyangka ya.. kalau kamu bakal punya pemikiran seperti ini..”
“Aku mencintai kamu Ara..”
“Aku nggak akan membiarkan kamu melakukan hal bodoh itu, aku nggak mau bahagia di atas penderitaan sahabat aku sendiri”.
Dengan segera aku meninggalkan Setya. Aku pulang dengan air mata yang bertetesan di pipi.

Tepat hari selasa pagi pukul 06.00. Aku membuka pintu depan, sekuntum mawar putih tergeletak di depan pintu dengan surat kecil yang bertuliskan “selamat pagi”.
“Dari siapa ini..?”. Tanyaku dalam hati.
Aku simpan mawar putih itu.

Hari selanjutnya, pada waktu yang sama. Aku menemukan sekuntum mawar putih lagi di tempat yang sama.
“Siapa yang sebenarnya menaruh mawar putih disini?”.
Aku masuk ke dalam rumah, dan bertanya pada ibu.. “Ibu tahu siapa yang menaruh mawar putih di depan pintu rumah?”
“Setahu ibu tidak ada orang yang datang ke sini tuh Ar..”. Jawab ibu keheranan.
Hingga aku ingin mengetahui sendiri orang yang menaruh mawar putih di depan pintu.

Pukul 05.00, setelah shalat shubuh aku mengintip dari dalam jendela rumah. keadaan luar rumah sepi, tidak ada siapa-siapa. Aku jadi merinding… Kulihat seorang laki-laki dengan motor vespanya berhenti di pinggir jalan depan rumah. Lalu dia berlari dengan membawa mawar putih dan hendak ditaruhnya di depan pintu, seketika itu juga aku membuka pintu.
Bunga itu pun dijatuhkannya seraya memanggil namaku.. “Ara..”
“Setya, hentikan sikap kamu yang seperti anak kecil ini”. Ujarku penuh emosi dan segera aku menutup pintu (BROKKK…). “Setya maafkan aku. sebenarnya aku masih mencintai kamu, namun aku tidak ingin menyakiti hati Rita”. Ujarku dalam hati dibalik pintu.

Seperti biasa… Aku di kampus selalu bareng-bareng dengan Rita. “Rita.. kenapa kamu diam saja dari tadi?”. Tanyaku ke Rita, karena sikapnya yang diam tidak seperti biasanya.
Dia malah nangis dan memelukku.. “Mas Setya Ar..”
“Mas Setya kenapa?”.
“Mas Setya putusin aku Ar..”. Tangisnya malah menjadi-jadi.
“Kenapa mas Setya putusin kamu?”.
“Karena dia tidak mencintai aku dan dia bertemu lagi dengan kekasihnya yang lama tidak ada kabar..”.
“Ya Allah, apa yang harus aku katakan pada sahabatku ini?”. Tanyaku dalam hati.
“Sudah jangan kamu tangisi mas Setya, mungkin ini jalan terbaik untuk kalian berdua”.
“Tapi aku masih mencintai mas Setya Ar..”. Bantah Rita.

Tanggal 17 Juli, pukul 00.01 ada pesan masuk di ponselku.
Nomor yang tidak aku kenal mengirim pesan, “Assalamu’alaikum cantik, selamat ulang tahun yang ke 20.. semoga tambah sholehah, tambah pinter, tambah cantik lahir batin.. Amiin”.
“Wa’alaikum salam, terima kasih untuk ucapannya. Tapi maaf.. dengan siapa ya ini?”. Balasku, namun pesan yang baru aku kirim langsung gagal terkirim.
“Happy Brithday.. sayang”. Ujar ibuku sembari membuka pintu kamarku dan langsung memelukku erat. “Makasih ibu..”. Tidak lupa aku menciumi pipi kanan dan kiri ibuku.

Rasanya aku ingin pergi ke tempat kenangan. Aku duduk di bawah pohon, di tempat biasa aku dan Setya dulu duduk. Aku duduk disitu sambil mengingat-ingat kenangan dulu yang pernah aku lewati dengan Setya, sambil aku baringkan badanku pada pohon dan ku pejamkan mata. Tiba-tiba ada seseorang yang memegang tanganku.
Dengan segera aku membuka mata.. “Setya..”.
Setya tiba-tiba berada di sampingku.
“Kamu kangen kita bareng-bareng kayak dulu ya..?”. Tanyanya. Aku hanya diam, tanpa sepatah kata pun. haruskah aku jawab “tidak” pasti itu tidak baik, karena itu adalah jawaban bohong. Haruskah aku jawab “Ya..” tapi aku malu untuk menjawabnya.
“Kamu ngikutin aku ya?”. Tuduhku.
“Ngga.. keGRan banget kamu, aku kesini itu.. emang aku kangen sama kamu, dan semua kenangan kita”. Sembari dia tarik hidungku.
“Aw.. sakit tau”. Jeritku.

Kita hanya diam-diaman sambil melihat orang-orang yang ada di atas perahu.
“Kenapa kamu putusin Rita?”. Tanyaku memecah keheningan.
“Karena aku masih mencintai kamu..”
“Basi..” Balasku.
Dengan segera Setya mengangkat daguku dan mencium bibirku.
“Harus bagaimana lagi aku membuktikan rasa cintaku ini”. Ujarnya meyakinkan. Aku hanya diam menanggapi dia.
“Oh.. ya, ini kan hari ulang tahun kamu. Aku punya sesuatu buat kamu”. Dia membuka tas ranselnya dan mencari-cari sesuatu di dalamnya.
“Ini..”. Di kalungkannya rajutan syal yang bewarna ungu di leherku.
“Makasih..”. Ujarku.

Beberapa hari ini sikap Rita ke aku begitu aneh, sikapnya berubah jadi diam. Hingga akhirnya aku tanya ke dia. “Rita..”. Panggilku.
“Hmmzz..” Tanggapnya sambil sibuk membulak-balik buletin.
“Rita, aku salah ya? Kenapa sikap kamu berubah gini sama aku?”. Tanyaku.
“Nggak.” Jawabnya tetap cuek.
“Rita.. tolong lihat aku, kamu ngga bisa terus-terusan gini. Kamu cerita dong sama aku kalau ada masalah”.
Tiba-tiba Rita berdiri dan.. “Kamu mau apalagi? Kamu puas sudah merebut kebahagiaan aku? Mas Setya ninggalin aku itu gara-gara kamu”.
Aku tidak mengerti, dengan semua kata-kata Rita. Seolah-olah dia berubah menjadi monster yang sengaja memojokkan aku. Aku merasa menjadi orang yang paling bersalah di dunia.

Seharian ini aku hanya merenung di dalam kamar, sampai ibu menghampiriku. “Apa yang telah terjadi nak?”. Tanya ibu. Aku langsung memeluk erat tubuh ibu. “Apa yang telah terjadi nak?”. Tanya ibu lagi.
Lalu aku menceritakan kejadian dan kata-kata Rita kemarin. Ibu hanya diam tanpa memberi saran.
Sakitku mulai kambuh, sudah beberapa hari nggak masuk kuliah.

Nomor yang tidak aku kenal mengirim pesan ke ponselku. “Assalamu’alaikum cantik, aku kangen kamu. Kamu kemana aja”.
Tanpa ada tanggapan dariku, aku hanya mendiamkan saja.
“Tok.. tok.. tok..”. Suara pintu yang terketuk dari depan rumah. “Tok.. tok.. tok..”. Pintu itu terketuk lagi.
“Ibu..”. Aku panggil ibu, namun tidak ada balasan dari ibu. “Ibu..”. Aku panggil ibu lagi, namun hasilnya sama. Hingga akhirnya aku sendiri yang membukakan pintu. Setelah aku membuka pintu, ternyata Setya yang ada di balik pintu. “Ara.. kamu pucet, kamu sakit?”. Sambil di sentuhnya pipiku.
Dengan segera aku langsung membuang tangan Setya dari pipiku. “Nggak..”.
“Siapa Ara..?” Tanya ibu dari dalam rumah.
“Bukan siapa-siapa ibu”. Jawabku. Lalu ibu menghampiriku. “Eh.. nak Setya, ayo.. masuk”. Ibu mempersilahkan Setya untuk masuk. Setya pun masuk dan duduk di sofa.
“Ara.. ada temanya kok nggak disuruh masuk”. Ujar ibu nyloteh.
“Mau tante buatin minum apa nak Setya?”.
“Teh dingin aja bu..”. Balas Setya malu-malu. Lalu ibu pergi ke dapur.

Aku hanya mendiamkan Setya. “Ara.. kamu marah sama aku?”. Tanya Setya.
“Iya.. Aku marah sama kamu, soalnya kamu sudah menghancurkan persahabatan aku dengan Rita”.
“Kamu jangan salah paham Ara, aku hanya ingin membebaskan diri dari cinta hambar tanpa rasa itu”. Bela Setya.
“Dengan cara kamu menyakiti hati orang lain?! Itu maksud kamu?”.
Ibuku datang dengan membawa teh dingin dan beberapa makanan ringan untuk dihidangkan ke Setya.
Aku lalu diam sambil melirik Setya Yang sedang menyeruput teh dingin buatan ibu.

Lagi-lagi aku datang ke tempat kenangan itu. Aku duduk sendiri di bawah pohon, tempat biasa aku dan Setya duduk. Beberapa kenangan perlahan-lahan memasuki angan-anganku, tak terasa airmata ini jatuh. Lama-lama rasa rindu ini semakin memojokkan batinku, aku tidak mampu menahan rasa ini.. Akhirnya kuteriakkan di tengah hembusan angin. “Aku kangen kamu Setyaaaaaa..” Aku berharap angin akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini.
“Aku juga kangen kamu Ara..”. Suara Setya terdengar dari belakangku. Ketika aku balikkan badan, ternyata Setya dan Rita ada di belakangku. “Ara.. maafin aku”. Ujar Rita sembari memelukku.
“Ara.. Setya sayang kamu, jangan kamu sia-siain Setya ya..”. Bisik Rita di dekat telingaku. Aku lihat Setya tersenyum padaku.
“Ara.. yang mengirim pesan dengan nomor yang tidak dikenal itu adalah aku..”. Ujar Setya.
“Kamu jangan khawatir dengan aku Ara, aku sudah relain Setya buat kamu. Setya sayang kamu.. kamu sayang Setya. Kamu mau apalagi?”. Tambah Rita. Rita menarik tanganku dan tangan Setya, lalu digandengnya tanganku oleh Setya. Dan ditariknya aku menuju danau oleh Setya..
“byurrrrrr…”. Seluruh badanku dan badan Setya basah.
“Ara.. kamu kenapa?”. Ditanyanya aku yang saat itu kedinginan hebat, karena kondisiku yang sedang sakit.
“Dingin Setya..”. Meskipun badanku kedinginan, namun aku cukup bahagia. tuhan mengabulkan do’aku selama ini. Tanpa banyak bicara Setya memeluk erat tubuhku dan mencium keningku, Terlihat Rita yang tersenyum bahagia melihat aku dan Setya bahagia.
“semoga kamu yang terakhir untukku setya..” Do’aku dalam hati.

Cerpen Karangan: Hayu Meifitasari
Facebook: Adibah Ufairah Ii

Cerpen Cinta Tulusku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pahlawan Penyakit

Oleh:
“Firli! Kamu gak apa-apa kan?! Firli!” Bunda berusaha membangunkanku yang sedang terbaring lemah di Trotoar, Aku Hanya bisa mendengar teriakan Bunda “Kamu ya! Kalo jalan pake mata dong! Udah

Cintaku Pergi Ke Jakarta

Oleh:
“tok… tok… Tok…” Ketukan pintu terdengar nyaring. “Siapa?” suara terdengar jelas dari dalam rumah itu. “Ini saya dedek buk” jawabnya. “Oh nak dedek, ada apa nak?” “Wahyu ada?” “Ooo

Jodoh di tangan Tuhan

Oleh:
“Masih adakah rasa itu untukku?” pertanyaan yang sama itu terus berputar mengelilingi otakku. Aku terbangun dengan mata sembap dan.. ya aku baru ingat aku menangis semalam. “Sudah pagi ya,

You Are The Best Friend

Oleh:
Aku tidak tau apa yang terjadi dengan Chika akhir-akhir ini. Dia seperti menjauhiku. Sepertinya aku telah melakukan suatu kesalahan padanya. Tapi kenapa? Padahal dulu aku dan Chika adalah sahabat

Pria Bawahan Dewi Fortuna

Oleh:
“Kalau saja angin tak sekencang ini pasti aku udah jalan bareng sama Vinni, sial!” gerutuku di depan jendela. Selalu saja begini. Ayah, kakak, adik, abang, semuanya terlalu ikut campur

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *