Cinta Untuk Alana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 14 August 2017

Bagi Alana, semuanya tergantung usaha. Begitu juga untuk cintanya. Sekeras apapun Azka menolak, sekeras itu pula Alana berjuang. Dia tidak akan menyerah begitu saja. Hatinya sudah terlanjur mencintai Azka dengan sangat kuat hingga terkadang sakit sekali rasanya.

Pagi itu di SMA Abeda, koridor-koridor terasa ramai oleh celoteh siswa-siswi yang megobrol di depan kelas masing-masing.
Sekali lagi Alana melirik jam tangannya. Bel sudah akan dibunyikan, tapi kenapa pangeran tampannya, Azka, belum juga datang?

Alana menghela nafas. Di tangannya sudah ada sekotak bekal untuk Azka hari ini. Setiap pagi gadis itu pasti akan selalu membuatkan Azka bekal. Tidak peduli Azka menolak bahkan membuang bekal itu di depannya. Dia sudah kebal. Cintanya membuat Alana bermuka badak.

Tiba-tiba saja mata Alana berbinar senang saat seorang remaja pria berjalan dari arah parkiran menuju koridor tempatnya duduk. Alana langsung berdiri, bersiap menyambut kakak kelas pujaannya.

“Pagi Kak Azka!” sapanya dengan riang. Azka hanya diam tanpa membalas. Tapi Alana terus mengikuti langkah lebarnya.
“Alana buatin Kak Azka bekal nih! Kali ini omlet sayur. Coba deh, pasti Kak Azka suka!” celotehnya. Azka masih tidak berniat menanggapi.
Alana tak kehabisan akal. Kali ini dia mencegat Azka yang akan berbelok ke kelasnya.

“Kak, ini bekalnya cobain!”
Dan berhasil! Azka sedikit menatapnya walau dengan ekspresi datar nan coolnya itu.
“Lo bisa diem?” ucap Azka. Alanna sedikit tersentak. Namun ia segera menormalkan lagi wajahnya.
“Ini buat Kak Azka!” Alana menyodorkan kotak bekal itu. Azka meliriknya malas.
“Gue gak butuh,”
“Tapi Alana sudah capek-capek bikin ini buat Kak Azka. Jadi harus dimakan!” paksa Alana. Cengiran lucu tercipta di wajahnya.
Azka mendengus. “Emang ada yang nyuruh lo buat bikinin gue sarapan, huh?” sinis Azka.
“Ada!” jawab Alana dengan pasti. Azka mengangkat sedikit sebelah alisnya. Berusaha terlihat penasaran.
“Oh, ya? Siapa?” tanyanya dengan datar.
“Hati aku!” lalu Alana tercengir lebar. Hingga Azka mendecak muak dan menarik kotak bekal Alana.

“Lo bilang bekal ini buat gue?”
Alana mengangguk semangat. Kedua tangannuya terkepal di depan dada menunggu respon Azka selanjutnya.
“Jadi, ini punya gue kan?” tanya Azka lagi. Dan lagi-lagi, Alana mengangguk senang.
“Baiklah.”
BUK!
Alana tercengang. Setelah melemparkan begitu saja bekal yang Alana berikan, Azka langsung memasuki kelasnya dengan cuek. Tanpa perduli berbagai pasang mata yang menatap Alana dengan kasihan.

Dengan tangan bergetar dan air mata yang sudah menggenang, Alana memunguti kembali omletnya. Memasukan lagi telur itu ke dalam wadahnya, lalu tersenyum manis di antara air matanya yang turun.
“Gak papa. Mungkin Kak Azka lagi bad mood karena tim bola kesukaannya kalah.” ucapnya. Berusaha menyemangati diri sendiri.
“Semangat Alana!”

Esoknya, Alana dengan langkah riang menghampiri Azka di lapangan dengan botol minum untuk Azka. Hari ini jadwal olahraga kelas Azka.
“Kak! Ini minumnya!” Alana menyodorkan botol minumannya pada Azka.
“Gue bawa sendiri.” Azka berucap datar. Ia menyeka keringatnya dengan tangan. Membuat Alana segera mengeluarkan sapu tangannya dan ikut menyeka keringat Azka.
“Sini Alana seka,”
Azka hanya diam saja. Mata tajamnya terfokus pada wajah Alana yang dengan serius membersihkan keringatnya.

“Al,” panggil Azka.
“Hm,”
“….”
Alana melirik Azka yang diam saja. Sedikit gugup saat pria itu menatapnya begitu intens.
“A..ada apa, Kak?” tanya Alana dengan pelan.
“Lo…”
“Iya?” tanya Alana saat Azka menggantung ucapannya.
“Jangan deketin gue lagi. Berenti kayak gini. Berenti bikin diri lo semakin terlihat murahan di mata gue!” tekan Azka. Alaa terdiam. Kepalanya menunduk dalam.
“Kenapa?” tanya Alana dengan suara serak.
“Karena Al, gue gak akan pernah mungkin nerima lo.”
Setelah berkata demikian, Azka meninggalkan Alana begitu saja.
‘apa aku semenjijikan itu, Kak?’

Saat bel pulang berbunyi, Alana langsung membereskan buku-bukunya di meja. Dia sudah tidak sabar pulang ke rumah mungilnya. Bertemu sang Bunda dan membantunya bekerja.

Alana mengayuh sepedanya dengan cepat. Rumahnya tak jauh. Jadi dengan seperda ‘pun cukup. Sampai di depan rumahnya, Alana turun dari sepeda. Meletakannya di depan pintu rumah lalu masuk dengan mengucap salam.

“Bunda,” Alana memanggil Bundanya. Terdengar sahutan dari arah belakang. Alana bergegas ke sana.
“Banyak cucian yah, Bun?” tanya Alana. Tangannya ikut membantu sang Bunda mengangkati baju-baju yang sudah kering.
“Iya, lumayan. Udah makan, Al?”
“Belum,” Alana tersenyum kecil saat kening Bundanya berkerut cemas.
“Habis ini Alana makan kok, Bun.”
“Ya sudah, sana makan dulu. Setelah itu antarkan baju-bajunya nak Azka yah!”
Wah, mengantar baju Azka? Alana jadi tidak sabar. Mungkin ia bisa berbaikan dengan Azka setelah aksi diamnya sejak 2 hari lalu.

Ia segera berlari ke dalam dengan semangat. Segera makan siang dan berganti baju.
‘Tunggu aku Kak Azka!’ ucapnya dalam hati.

Cerpen Karangan: Divia Rahma
Facebook: Himeka Karasuma
wattpad: DiviaRahma (Shasa)
twitter: @Divfphia2 go follow yah! Masih new nih!

Cerpen Cinta Untuk Alana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yang Bukan Segalanya

Oleh:
Bagaimana rasanya membenci sesuatu yang dicintai hampir semua orang? Dipuja mayoritas manusia? Bahkan sebagian orang dibutakan olehnya, rela mengorbankan segalanya. Sendiri melawan arus bukanlah hal yang mudah. Kau bisa

Janji

Oleh:
“Tentang janji yang kamu ucap sepuluh tahun lalu. Bukan kucatat hanya saja terasa. Ucapanmu terasa seperti ingin sekali bersamaku. Bahkan setelah entah dimana kamu. Janji yang terucap oleh bibir

Pertemuan Kedua

Oleh:
Pagi yang cerah, ku duduk di teras rumahku sambil memandang taman kecil di samping rumah. Daun-daun mawar masih basah, ku pikir mungkin karena hujan deras semalam yang mengguyur bumi

Hingga Akhir Waktu (Part 2)

Oleh:
“Kasihan Naaa Kak Ramly, aku melihat sendiri mukanya babbak belur dan darah mengucur deras di mulutnya.” “Liiin, sudah jangan menangis lagi. Mulai sekarang aku tak akan mengungkitnya di hadapanmu.

Menyesal Tanpamu

Oleh:
Hey, cowok itu kembali meluluhkan hatiku. Entah keberapa kalinya hatiku klepek-klepek dibuatnya. Dia selalu mencoba untuk meruntuhkan dan mencuri hatiku. Aku mengenalnya, dia teman satu kelasku, Fandy namanya. Saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *