Cinta Yang Terbalaskan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 17 July 2016

“Benci… benci… benci… benci, pokoknya aku benci sama Idham Khalik” teriak Wahyuni saudara kembarku, saya mencoba menjadi pendengar yang baik buat saudaraku yang sedang nelangsa karena seorang pria, diluapkan semua amarah dan kekesalannya kepadaku.

“Kakak kenapa sih semua cowok brengsek?! Kenapa sih cowok bikin sebel?! aku benci dengan Idham Khalik, si brengsek itu jalan berduaan sama perempuan lain” dan sekali lagi saya tidak menggubrisnya, saya cuma diam saja melihat tingkah laku saudara kembarku ini.

“Hei kenapa kau diam saja? memang laki-laki sama saja!” ketus Wahyuni kepadaku.

Saya hanya bisa menghela nafas melihat kelakuannya, sepersekian detik kutatap matanya dan sejurus kemudian meluncurlah kata-kata itu dari mulutku “Hei adikku yang manis, yang cantik, kenapa kau menagis terus hah!!! memangnya cuma Idham Khalik laki-laki di dunia ini?!” teriakku kepadanya, meluapkan amarah yang terpendam selama hampir satu jam mendengarnya meroceh merajuk karena cintanya bertepuk sebelah tangan, yah ada sedikit rasa legah menumpahkan amarah, namun di sisi lain terbersit rasa bersalah.

“Wahyuni, dengarkan saya…” sejenak aku memegangi pundaknya “kenapa kamu terus mengejar si Idham Khalik itu? bukankah dia pernah mengatakan dengan baik kepadamu bahwa Wahyuni yang cantik ini dan Idham Khalik yang tampan itu hanya sebatas teman, tidak lebih dan tidak kurang. Perhatiannya yang diberikan kepadamu hanya sebatas teman, lebih baik kamu cari saja yang lain camkanlah itu Wahyuni” saranku kepada Wahyuni dengan bijak atau mungkin sok bijak? Atau mungkin hanya basa-basi menghiburnya.

“Hei kakak jangan sok bijak deh kayak om Mario Teguh, memangnya kamu pernah merasakan Cinta Ha…!!!” bentaknya kepadaku. Sepertinya dia menyerangku dengan fakta bahwa saya belum pernah berpacaran.

“Sepertinya saya salah mencurahkan perasaannku kepadamu” Wahyuni tersenyum kecut kepadaku sambil mengelap mata sembabnya.

“Memang kamu benar, saya belum pernah pacaran, tapi Wahyuni perlukah saya pacaran terlebih dahulu agar bisa merasakan cinta? Setidaknya saya tidak dibutakan cinta seperti kamu, mengejar-ngejar si Idham Khalik yang nyatanya menolakmu, kamu malah melonjak dan tidak terima kenyataan itu”

Saya hanya menghela nafas, entah kenapa dia begitu tergila-gila dengan Idham Khalik? selama 3 tahun lebih dia mengejarnya

Perasaan cinta Wahyuni terhadap Idham Khalik mulai tumbuh ketika kami berstatus mahasiswa baru. Saya masih ingat saat itu ada tugas kelompok dari dosen dan beruntunglah Wahyuni sekelompok dengan Idham Khalik.

“Kakak senang deh bisa sekelompok dengan Idham Khalik, udah tinggi ganteng cerdas lagi” sahutnya. Saya Cuma mengangguk dan menjawab “iya” “oh” “ho’o” “hmm” begitulah caraku menjawab selama sejam lebih dia berbicara dari mulai kampus, di mobil, hingga di pagar rumah. Ini anak keseurupan apa? Dari tadi cuma membicarakan Idham Khalik, Idham Khalik dan Idham Khalik, ini anak sudah cinta gila apa? Gumamku dalam hati sembari memandang wajah Wahyuni yang merah merona senyam-senyum sendiri.

Singkat kata Wahyuni berinisiasi mengajak Idham untuk menggunakan rumah kami sebagai tempat mengerjakan tugas.

“Idham Khalik ke rumah aku yuk untuk kerja kelompok?” kata Wahyuni dengan nada yang ‘menggoda’. Kulihat Idham Khalik hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya sedikit.

“ke..ke.. ke rumahmu? kerja kelompok?” sahut Idham Khalik dengan sedikit perasan gugup.

Wahyuni mengangguk sambil tersenyum kepada Idham Khalik “iya ke rumahku mau kan?” rayu Wahyuni kemudian melingkarkan lengannya ke lengan Idham Khalik sambil merajuk meminta Idham Khalik untuk mengabulkan ‘permohonannya’

Idham Khalik pun kikuk karena tingkah laku Wahyuni. “Hei Wahyuni kamu itu jangan membuat Idham Khalik ketakutan seperti itu” sahutku sambil melototkan mata kepada Wahyuni, Wahyuni hanya tersenyum sinis kepadaku.

Kekaguman Wahyuni terhadap Idham Khalik bukan hanya dikarenakan wajah dan postur tubuhnya yang hampir sempurna, dalam pandangan Wahyuni, Idham adalah sosok yang ramah dan menghangatkan hati, tapi kuakui tutur kata dan peringainya yang sopan dan halus membuatku kagum, wajarlah Wahyuni jatuh hati dengannya.

Rasa cinta Wahyuni bertambah besar kepada Idham Khalik ketika insiden demonstrasi besar-besaran yang membuat suasana kampus chaos. Saat itu kulihat batu melayang kearah fakultas kami. Saya, Idham Khalik dan Wahyuni terjebak dalam suasana chaos itu, wajah Wahyuni mulai pucat, tangannya memegang lengan baju Idham Khalik.

“Idham Khalik sepertinya kita harus pulang cepat?! kau lihat kampus mulai diserang kan?” sahutku ke Idham Khalik. Idham Khalik menggenggam erat tangan Wahyuni dan mencoba menenangkannnya.

“Iya sebaiknya kali ini kita harus menghindar, lagi pula Wahyuni adikmu sudah mulai gusar dan ketakutan, mari kita bergegas pergi dari tempat ini Faiz” kami pun menyusuri koridor kampus dan bergegas menuju basement, hingga tiba-tiba tanpa disadari batu melayang ke arah kami, dengan sigap Idham Khalik memeluk Wahyuni bermaksud untuk melindunginya, namun naas untuk Idham kulihat kepalanya bocor terkena lemparan batu, darah segar mulai mengalir di pelipis wajahnya.

“Kau baik-baik saja kan Wahyuni?” tanya Idham Khalik tanpa menghiraukan darah segar yang mengucur deras. Wahyuni hanya meneteskan air mata dan mengangguk pelan.

“Idham Khalik kau tidak apa-apa kan?” sahutku rasa khawatir terbersit melihat kondisi Idham Khalik yang bajunya berubah warna, dari putih menjadi merah darah.

“Saya tidak apa-apa Faiz sebaiknya kita kebasement sebelum seluruh kampus ini dikepung”

Saya merobek lengan kemeja panjangku dan membalut kepala Idham Khalik. Dan bergegas meninggalkan kampus yang sudah chaos.

Selama perjalanan kulihat Wahyuni menlingkarkan lengannya ke Idham Khalik dan menatapnya dengan cemas. “Idham Khalik kamu tidak apa-apa kan?” tanyanya dengan nada cemas. Idham Khalik hanya mengangguk, wajahnya mulai pucat pasi, Wahyuni pun mulai panik melihat kondisi Idham Khalik.

“Hei Wahyuni kamu jangan panik masih untung kita bisa kabur” sahutku dari balik kemudi mobil.

Setelah insiden itu Wahyuni semakin dekat dengan Idham Khalik selama sepekan dirawat di rumah sakit Wahyuni dengan setia menemani Idham Khalik, hingga Idham Khalik sembuh total. Hingga suatu hari Wahyuni menyatakan perasaannya kepada Idham Khalik.

Sayang cinta Wahyuni bertepuk sebelah tangan, Idham Khalik menolaknya dengan halus dan menganggap Wahyuni hanya sebatas teman. “Terima kasih Wahyuni kamu telah mencintaiku dengan tulus tapi untuk saat ini saya hanya menganggapmu sebagai teman tidak lebih” jawabnya sambil mengumbar senyum yang menawan.

Sakit hatikah Wahyuni? sakit hatikah Wahyuni ketika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan? Tidak! Wahyuni semakin kagum dan cinta dengan Idham Khalik, walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan namun penolakan Idham Khalik yang halus membuatnya semakin cinta.

Perasaan Cinta Wahyuni berubah menjadi cemburu dan sakit hati yang menyayat hati ketika Wahyuni melihat Idham dengan mesranya bersama dengan gadis lain.

Memori itu masih tersimpan rapi di ingatanku, kami secara tidak sengaja melihat Idham Khalik bersama seorang gadis cantik berambut ikal. Dengan tatapan mesra berjalan bergandengan dan sesekali mengacak-ngacak rambutnya.

Kulihat Wahyuni mengampiri Idham Khalik dengan tatapan yang penuh api cemburu kepada Idham Khalik, Idham Khalik terkejut karena tatapannya. “Idham Khalik kamu jahat!” seru Wahyuni, suara itu terdengar jelas dari jarak yang jauh dan entah apa yang merasuki Wahyuni ia melayangkan sebuah tamparan di pipi putih Idham Khalik hingga berbekas.

Kulihat Idham Khalik hanya terpaku berdiri disana, wajahnya pucat, gadis yang bersama Idham Khalik juga kaget. Wahyuni dengan mata yang berlinang berlari meninggalkan Idham Khalik.

“Idham Khalik maafkan Wahyuni” hanya itu yang kukatakan kepada Idham sesaat insiden tamparan itu dan aku bergegas mengejar Wahyuni.

Setelah kejadian itu Wahyuni hanya mengurung diri dikamarnya, Mommy dan Daddy pun khawatir akan kondisi psikis Wahyuni.

“Faiz temani adikmu dulu, dikamar nagis terus” sahut Mommy dengan nada penuh kekhawatiran, kulihat Daddy menatapku dengan tatapan penuh tanya.

“Masalah cowok?” sahut Daddy kepadaku.

“Entahlah daddy, mungkin karena dimakan api cemburu” sahutku. Daddy hanya menghela nafas dan menepuk pundakku dan tersenyum kepadaku. “temani sana adikmu, dia butuh kamu”. Saya mengangguk dan menuju kamar Wahyuni.

Pintu kamar Wahyuni yang dicat putih kuketuk dan kubuka dengan perlahan, kulihat adikku yang cantik itu duduk sambil memeluk bantal, kudekati dia dan duduk di sampingnya.

“Wahyun, hei Wahyuni! sudah jangan nagis kasihan Daddy dan Mommy khawatir dengan kamu” sahutku. Wahyuni perlahan-lahan mengangkat kepalanya yang terbenam dibantal putih itu, matanya sembab dan ia pun menangis dengan kerasnya, saya hanya menghela nafas melihat pemandangan itu.

Siang hari, Café tempat biasa aku meminum cappucino tidak terlalu ramai. Café dengan nuansa khas didekor sendiri oleh Idham Khalik, sang pemilik café. Seperti biasa setiap pergi ke café ini aku mengambil tempat duduk di sudut café melaluli sudut café ini saya dengan leluasa dapat melihat eisi café, beberapa saat kemudian Seorang pelayan menghampiriku dan memberikan daftar menu café ini “Aku pesan Cappucino” sahutku singkat, kupandangi seisi café ini dan entah mengapa tiba-tiba aku menemukan sosok Idham Khalik bersama gadis yang pernah kutemui di mall bersama Wahyuni beberapa waktu lalu tapi dia tidak berdua, gadis itu ditemani seorang pria muda dengan kulit putih dan rambut ikalnya berbincang di depan pintu café reflek kuperbaiki posisiku agar tidak ketahuan.

Selama seminggu ini aku sengaja menghindar dari Idham karena malu insiden di mall, namun ironisnya saya malah ke cafenya untuk menenangkan pikiran.

Pelayan pun menghampiriku sembari membawa segelas cappucino, kemudian dia beralih ke meja nomor 6 yang berada tepat di depanku. “selamat siang mau pesan apa?” sahut pelayan itu dengan sopan. Sejenak ekspresi pelayan itu berubah ketika melihat wajah pemilik café ini.

“Maaf tuan Idham Khalik saya tidak mengenal anda, saya kira orang lain. Tapi maaf tuan ada apa gerangan dengan pipi anda yang diplester ini?” sahut pelayan tersebut dengan penuh hormat.

“Tidak apa-apa kamu bekerja saja dengan baik layani para tamu” sahut Idham Khalik, dengan sangat jelas kudengar perbincangan antara pelayan café, dan pemilik cafe

“Oh iya perkenalkan gadis cantik ini adalah sepupu saya namanya Shanti dan pria tampan ini adalah kekasihnya Musa. Musa dan Shanti perkenalkan gadis cantik ini adalah Ade Widury pelayan café sekaligus Manajer disni”

Saya mencoba mencuri-curi perbincangan mereka, kunikmati segelas cappucino ini dengan tenang dan memasang telinga ini baik-baik. “Oh iya seperti biasa yah Ade saya pesan caffe Latte dan mereka berdua Caramel Macchiato tambahkan sedikit susu di atasnya” sayup-sayup kudengar ucapan Idham Khalik.

“Oh iya Ade kamu boleh cuti besok hingga minggu depan, biar tugas-tugasmu aku yang kerjakan, sebaiknya kamu fokus dulu untuk persiapan pernikahanmu”

“Baik tuan” sahut pelayan itu.

Saya belum beranjak dari tempat itu dan masih membelakangi Idham Khalik dan lawan bicaranya, saya mencoba menikmati cappucino ini namun entah mengapa hari ini minuman ini rasanya tak seperti biasa, mungkin karena perasaan cemas ini, mencuri-curi perbincangan seseorang.

“Idham Khalik kamu tidak apa-apa? Pipimu sampai harus diplester segala, memang salah kamu apa sehingga gadis sinting itu menamparmu?” terdengar suara perempuan dengan nada ketus bercampur gelisah.

“Tidak apa-apa shanti, tidak usah khawatirkan kondisi saya, sebaiknya kamu harus fokus untuk persiapan pernikahanmu dengan musa” sahut Idham Khalik.

“Shanti memangnya kenapa Idham Khalik? Sehingga wajah yang ganteng itu harus diplester, dan siapa perempuan sinting yang kamu sebutkan tadi?” Kini terdengar suara pria yang pastinya bukan Idham Khalik.

“Itu loh sayang satu minggu lalu saya dan Idham Khalik kan ke mall ambil pesanan cinin pengantin kita, nah singkat cerita tiba-tiba ada perempuan sinting menghadrik Idham Khalik dengan sebutan laki-laki jahat dan sepersekain detik tamparan melayang ke pipinya setelah itu dia lari, aneh kan? sinting nggak tuh perempuan?” sahut Sahanti dengan nada bicara yang terdengar tidak enak di telingaku.

“Ohh gitu rupanya, perempuan itu cemburu sama kamu makanya kalau jalan sama Idham jangan seperti orang pacaran, pasti kamu main pegang tangan peluk-pelukan dan bermanis manja, aduh kebiasanmu itu tidak pernah hilang”

Kudengar suara tawa renyah dari mereka bertiga, Idham Khalik juga tertawa dengan lepas, seperti biasa Idham Khalik memang begitu tawa riang yang khas.

“Dia bukan perempuan sinting, namanya Wahyuni. Perlakuannya kepadaku seminggu lalu mungkin dikarenakan cemburu pada Shanti, Wahyuni perempuan baik, cantik, ramah, dan periang” kudengar Idham Khalik menggambarkan sosok Wahyuni di hadapan sepasang kekasih itu, menceritakan bagaimana dia bertemu, bagaimana perlakuan Wahyuni terhadapnya, perhatian yang begitu lebih kepadanya, dan peristiwa ketika Wahyuni menyatakan cinta padanya, semua diceritakan dengan begitu jelas dan gamblang, penjelasan itu membuatku kagum pada sosok yang satu ini. Dan yang membuatku terhenyak adalah satu pernyataan Idham Khalik yang membuat jantungku berdetak kencang.

“Sebenarnya saya sangat mencintai Wahyuni, ketika dia menyatakan perasaannya kepadaku hatiku begitu senang sekaligus sakit” sahut Idham Khalik dengan nada terdengar serius dan sesaat terdiam.

“Saya takut ketika menerima cinta Wahyuni itu hanya menyakiti hatinya, jika harus menerima kenyataan bahwa pria yang dicintainya akan meninggalkannya. Saya takut berpisah dengan Wahyuni jika menerima cintanya, lebih baik kukubur dalam-dalam perasaan ini“

“Apa karena kamu menderita kanker Idham Khalik?” sahut Shanti.

“Iya…” jawab Idham Khalik dengan pelan dan lirih.

“Dan kamu takut kalau menerima cinta Wahyuni, kamu tidak siap untuk berpisah? Kamu takut menyakiti perasaan Wahyuni? dan takut mengakui bahwa umurmu hanya tinggal beberapa bulan lagi? Dan kamu takut Wahyuni tidak akan siap dengan kondisimu? Dan takut kamu akan berpisah dengannya?” Sahut Shanti dengan nada yang menyerang hati Idham.

“Idham Khalik…!” seru Shanti. “Itu hanya menyakiti perasaan kalian berdua, menyakiti perasaan Wahyuni dan menyakiti perasaanmu sendiri, dan saya menarik kata-kata sinting kepada perempuan itu, tamparan seminggu yang lalu itu sebenarnya adalah bukti dia sangat menyayangimu dan bukti dia juga sangat membencimu, sebelum semua terlambat Idham Khalik sebaiknya kamu ungkapkan perasaanmu yang sesungguhnya, ingat Idham Khalik ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dekaplah ia, walaupun pedang di sela-sela sayapnya melukaimu” entah apa sebenarnya yang terjadi namun perkataan Shanti serasa menusuk jantung Idham Khalik, kudengar dengan jelas Idham Khalik terisak-isak, hingga kuputuskan meninggalkan tempat itu dan menuju kasir membayar pesananku.

Saya berdiri di balkon rumah merenungi perbincangan siang tadi memandangi bintang-bintang yang bersinar, ternyata selama ini Idham Khalik mencintai Wahyuni dan Wahyuni juga mencintai Idham Khalik, Wahyuni masih berdiam diri di dalam kamarnya, daddy dan mom sudah mulai mengkhawatirkan kondisi Wahyuni yang depresi karena cinta.

Hingga tiba-tiba ponselku berdering kulihat panggilan masuk “Ny. Ima Ibunda Idham Khalik” aku melihat dengan tatapan bingung mengapa ibunda Idham Khalik menelpon tidak seperti biasanya.

“Hallo tante tumben telfon” sahutku, kudengar suara panik di ujung sana dan isakan tangis ibunda Idham Khalik, ku bergegas menuju kamar Wahyuni dan mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban.

“Wahyuni… Wahyuni.. buka pintunya!!!” teriakku, sambil menggedor-gedor pintu, tidak ada pilihan lain gumamku aku kemudian mengambil beberapa langkah ke belakang dan kudobrak pintu itu hingga engsel pintu itu rusak. Sontak terdengar suara keras yang membuat sesisi rumah geger, Daddy dan Mom langsung bergegas menuju kamar Wahyuni. kulihat Wahyuni juga kaget dan pucat menatapku berdiri di pintu kamar. Kudekati Wahyuni dan kutarik tangannya.

“Wahyuni kamu sudah keterlaluan membuat Daddy dan Mom khawatir, dan kamu tahu apa lagi? kita harus ke rumah sakit sekarang Idham Khalik sekarat” mendengar ucapanku Wahyuni gemetar, Daddy dan Mom juga kaget dan heran atas perkataanku, kutarik Wahyuni ke luar pintu dan menuju garasi mobil, Daddy dan Mom juga kaget melihat perangaiku kami berempat bergegas menuju rumah sakit.

Wahyuni menggigit kuku jarinya, Daddy dan Mom berusaha menenangkan Wahyuni. “Faiz sebenarnya apa yang terjadi? Coba jelaskan apa gerangan semua ini?” sahut Daddy kepadaku.

“Daddy saya juga bingung situasi ini, tapi Idham Khalik sekarat, kata ibundanya sebelum masuk rumah sakit Idham Khalik sempat memanggil-manggil nama Wahyuni”. Sahutku dari balik kemudi dan memacu kendaraan ini bergegas menuju rumah sakit.

Tidak berselang lama saya pun tiba di rumah sakit, kulihat Nyoya Ima dan Tuan Ashari, Ibunda dan Ayahanda Idham Khalik. Kulihat Daddy dan Momy menghampiri ibunda dan ayahanda Idham Khalik, dari kejauhan ia berbincang serius, tidak berselang lama ibunda Idham Khalik menghampiriku dan Wahyuni. Kulihat ibunda Idham Khalik menggenggam lembut tangan Wahyuni dan menceritakan kondisi Idham Khalik saat ini, airmata Wahyuni berlinang mendengarkan penjelasan ibunda Idham Khalik, raut wajah Wahyuni berubah dipenuhi penyesalan, Ny. Ima mengantarkan Wahyuni ke kamar V.I.P tempat terbaringnya Idham Khalik. Aku mengikuti Wahyuni langkahnya goyah hingga harus dipapah oleh Ny. Ima.

Kami bertiga memasuki ruangan yang luas itu, kamar pasien yang begitu nyaman menurutku, kulihat terbaring lemah Idham Khalik dengan selang infus di tangnnya, dan masker oksigen menutupi mulut dan hidungnya. Tidak hanya saya, Ny. Ima dan Wahyuni yang berada di ruangan itu, kulihat juga perempuan cantik dan pria tampan berdiri di samping Idham Khalik.. Wahyuni kemudian menghampiri tubuh Idham Khalik yang terbaring kaku dan menggenggam tangan Idham Khalik dengan penuh kelembutan.

“Idham Khalik… bangun Idham Khalik… bangun… maafkan aku Idham Khalik” sahut Wahyuni. Kami pun meninggalkan Wahyuni sendirian untuk memberi waktu mereka berdua.

Sudah seminggu Idham Khalik masih terbaring lemah, kanker hati stadium akhir menggerogoti tubuhnya, saya masih tidak percaya bahwa Idham Khalik mengidap penyakit itu, penyakit yang menggerogotinya selama dua tahun terakhir. Selama seminggu itu pula Wahyuni dengan setia menemani Idham Khalik, menggenggam tangannya dengan penuh kelembutan, dan seminggu itu pula Wahyuni, Shanti, dan Musa begitu akrab, kesalah pahaman yang terjadi antara Wahyuni dan Shanti juga terselesaikan.

“Maaf kak Shanti saya sudah salah paham pada kak Shanti, aku termakan api cemburu” Seulas senyuman tersungging diwajah cantik shanti “Yah tidak apa-apa, kamu harus menjaga Idham Khalik, asalkan kamu tahu saja dia sangat mencintaimu loh?!” sahut Shanti yang mencoba menghibur Wahyuni.

“Sudah sana pergi temani Idham Khalik yang masih terbaring lemah” mendengar pernyataan Shanti, Wahyuni pun pamit dan menuju kamar tempat terbaringnya Idham Khalik.

“Idham bangun, bangun Idham… aku kini paham mengapa kamu menolak cintaku dan terima kasih atas semua perhatianmu padaku, Idham Khalik aku akan tetap mencintaimu walaupun kita harus bersama sebulan, tidak… walaupun hanya sehari kita bersama itu suadah cukup bagiku” Wahyuni kemudian mengecup kening Idham Khalik, dan sebuah tetesan air mata mengalir dari sudut kerling wajah Idham Khalik.

Suara anak berlari dengan riang memanggilku dengan senyumannya yang indah dan wajahnya yang tampan, mengingatkanku pada sahabatku Idham Khalik. “Paman-paman, kenapa baru datang, paman sibuk yah?” sahut anak tampan itu

“Tidak jagoan kecil, paman ada urusan penting di Padang, maaf yah paman tidak bawa oleh-oleh dan tidak hadir di hari ulang tahunmu yang ke enam” sahutku.

“Paman seperti ayah… yang selalu pergi, paman dan ayah sama-sama jahat” ketus anak tampan itu yang membuatku sontak tertawa geli melihat kepolosannya.

Kulihat seorang gadis cantik menghampiriku senyumannya begitu manis dan sangat kukenal, wajahnya hampir mirip denganku.

“Wildan kamu tidak boleh bicara seperti itu sama paman Faiz, nanti Papa marah loh” sahut perempuan cantik itu. Kulihat anak tampan itu malah cemberut.

“Hmm tidak Papa, tidak Paman selalu saja begitu. Kalau aku butuh Papa, Papa pergi… Kalau butuh teman bermain Paman juga tidak ada, Wildan kan kesepian” saya hanya tertawa mendengarkan coletehan anak tampan itu.

“Oh iya kak Faiz kenapa datangnya tiba-tiba? seharusnya telpon dulu supaya bisa dijemput di bandara” Sahut ibunya Wildan.

“Tidak apa-apa kamu tidak usah menjempuku” kemudian aku sejenak memandangi rumah yang bergaya kolonial dan taman rumahnya yang asri.

“rumahmu memang bagus, sejuk dan asri, tidak salah suamimu memilih rumah ini. Suasana Kota Malino memang sejuk oh iya mana suamimu?” tanyaku pada Wahyuni.

“Ohh dia ke perkebunan teh yang tak jauh dari sini” Wahyuni menunjuk kearah kebun teh yang terletak tak jauh dari rumahnya.

“Baiklah Wahyuni saya kesana bertemu suamimu dulu” kususuri jalan setapak ini menyusuri setiap sudut-sudut kebun teh tak berselang lama kulihat sosok pria yang sangat kukenal. Ia melambaikan tangan kearahku dan mengulas senyuman.

“Hei Faiz kapan balik dari Padang?!” seru pira itu, saya menghampiri pria itu dan berbincang begitu hangat.

“Hei Idham Khalik, kemarin baru balik dari Padang” sahutku, kemudian kami beranjak dari kebun hijau menuju bale-bale yang terbuat dari bambu, berbincang sembari memandangi suasana alam Kota Malino.

“Oh iya Faiz, isterimu dimana? Kok saya tidak lihat si Merry?” tanya Idham kepadaku.

“Merry masih berada di Tana Toraja masih meneliti budaya pemakaman Rambu Solo, maklum dia kan lagi menyusun disertasi” sahutku dengan sedikit membanggakan isteriku.

“Oh Iya Idham Khalik, terimah kasih yah sudah menjaga adik kembarku si Wahyuni. Aku sangat bersyukur kini kamu bahagia bersamanya dan juga kamu sudah sembuh dari penyakit kankermu” sahutku sembari memandangi kebun teh dan kubis milik Idham Khalik.

“Itu mungkin karena kekuatan cinta tulus dari Wahyuni” sahut Idham dengan lugas.

Kususuri jalan penuh cahaya itu, kulihat seorang pria berdiri di suatu gerbang yang penuh cahaya, aku mengerenyitkan mata dan kutatap wajah itu, mirip sosok Kakekku ketika muda dan kulihat seorang perempuan cantik jelita berdiri di sampingnya sekilas ia mirip Nenekku ketika muda. Ia memanggil-manggil namaku…

“Idham Khalik… Idham Khalik… sini nak” sahut mereka berdua

Kuhampiri dia “Kamu siapa?” tanyaku.

“Aku Kakekmu dan ini Nenekmu” jawabnya.

“Tidak mungkin, Kakek dan Nenek sudah lama meninggal” jawabku.

“Iya betul, yang meninggal adalah jasadnya dan kami adalah ruh yang ditiupkan tuhan” jawabnya.

“Jadi saya sudah meninggal?” tanyaku kepada mereka berdua.

Mereka pun memegang tanganku dan mengajakku berjalan di sebauh taman yang indah, surgakah ini? “Nak apakah kamu ingin ikut bersama kami?” sahut Kakekku, aku tidak bisa menjawabnya dan hanya terdiam, “Apakah kamu mau ikut bersama kami?” kini nenenkku mengulangi pertanyaan Kakekku.

“Tempat ini nyaman Kakek, Nenek, tapi apakah saya sudah meninggal dan harus ikut Kakek dan Nenek?” tanyaku.

“Jawaban itu ada pada hatimu nak, jika kamu mau ikut kami genggam tangan kami dan mari lewati pintu yang penuh cahaya itu” sahut Kakekku. Aku mengggenggam tangan Kakek dan Nenekku, langkah kakiku menapaki anak tangga menuju pintu yang penuh cahaya, Kini tinggal selangkah anak tangga lagi, namun tiba-tiba terdengar suara memanggilku dari arah yang berlawanan.

“Idham bangun, bangun Idham… aku kini paham mengapa kamu menolak cintaku dan terima kasih atas semua perhatianmu padaku, Idham Khalik aku akan tetap mencintaimu walaupun kita harus bersama sebulan, tidak… walaupun hanya sehari kita bersama itu suadah cukup bagiku”

Suara itu menggema dan aku mengenalinya, mengenali suara itu, suara yang indah itu. Kupalingkan pandanganku mencari sumber suara itu, dan kurasakan kedua tangan memegang pundakku, kubalikkan tubuhku kulihat Kakek dan Nenekku memandangiku dengan tatapan yang begitu senduh.

“Nak kau tahukah kau suara siapa itu? Dia adalah suara bidadari surga yang diciptakan tuhan untukmu” sahut Kakekku.

“Nak dia begitu tulus mencintaimu dan kau juga harus tulus mencintainya” sahut Nenekku.

“Nak mungkin belum saatnya kamu ikut dengan kami” Kakekku menggenggam tanganku dengan lembut. “nak kamu harus pulang dan temui gadis itu” Nenekku mencium keningku, Kakekku juga melakukan hal serupa. Mereka berdua meninggalkanku dan perlahan-lahan memasuki pintu yang penuh cahaya itu kurasakan tetesan mata mengalir di kerlingku perlahan-lahan pintu itu tertutup dan cahaya itu mulai redup…

Gelap namun perlahan-lahan cahaya mulai terang kulihat sesosok samar-samar wajah cantik yang kukenal “Wahyuni? kaukah itu Wahyuni? apakah aku di surga Wahyuni?” sahutku. Kudengar sayup-sayup Wahyuni memanggil Faiz, Shanti, dan Musa. Sesekali kudengar sayup-sayup Wahyuni memanggil nama ayah dan ibuku. Tetesan air mata berlinang di mata mereka, menatapku dengan penuh syukur.

Kurasakan dekapan dan genggaman hangat Wahyuni. Yah ini surga, surga kecil di dunia karena bersama orang yang mengasihi aku dan menyayangi aku, dan Allah Swt. Memberikanku kesempatan kedua untuk bersama mereka, terutama Wahyuni.

Cerpen Karangan: Ilyas Ibrahim Husain
Twitter: @adilbabeakbar
Facebook: Ilyas Ibrahim Husain

Cerpen Cinta Yang Terbalaskan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Embun di Atas Awan

Oleh:
Aku memaksakan senyum dan memasang wajah ceriaku. Sebenarnya jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa benci dengan kepura-puraan ini. Aku benci jika harus mengucapkan sayang di hadapannya. Aku benci

Senja Bersamamu

Oleh:
Embun pagi telah menyusuri celah rumah rita yang masih terlelap. Suara nyaring dari jam alarm tepat di sebelah tempat tidurnya belum mampu membangunkan orang yang dikenal dengan tukang tidur

Aufa

Oleh:
“Dia kembali, diantara awan awan kelabu yang menutupi indahnya mentari dia kembali, membuatku tersenyum, membuatku kembali, dan bersyukur karena diriNya memberikanku yang terbaik” “eh liat tuh si Mila murung

Verbotene Liebe

Oleh:
Di sebuah danau yang terletak di dalam hutan. Seorang wanita berparas cantik sedang berdiri mematung di pinggiran danau. Dengan mengenakan gaun putih yang cantik, entah apa yang sedang ia

Sakit Tak Berujung

Oleh:
Mungkin yang pergi itu cinta, tetapi yang akan datang nanti jodoh. Aku pernah mencintai seseorang sampai aku tidak tahu apakah itu cinta atau pembodohan. Aku pernah menyayangi seseorang sampai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *