Cinta Yang Terlupakan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 2 May 2017

Ingin rasanya aku melupakanmu
Melupakan rupa indahmu
Menghapus namamu dalam hatiku
Tapi,
Semakin aku mencoba melupakan
Bayangan dirimu semakin nyata dalam hidupku
Namamu selalu terukir indah di hatiku

Sedikit puisi untuk mengungkapkan kesedihanku saat ini, namaku Biyan, dulu aku tidak pernah segalau ini, tapi semenjak kejadian yang membuat Dina amnesia, aku jadi seperti ini, Dina adalah gadis yang ingin aku nikahi, waktu itu aku dan Dina berniat fiting baju pernikahan, tapi di perjalanan mobil kami mengalami kecelakaan, keadaan kami pada saat itu sama sama parah, tapi aku tidak menyangka Dina mengalami luka yang sangat parah, dia mengalami cidera di kepalanya, dokter bilang Dina mengalami hilang ingatan semntara, seiring berjalannya waktu ingatan Dina akan kembali lagi seperti dulu, dikarenakan kecelakaan itu, pernikahan kami pun tetunda, tapi yang membuat aku semakin tidak mengerti adalah ketika semua ingatannya Dina belum kembali kenapa dina bisa mengingat satu nama seorang laki-laki yang sering dia sebut, Prasetiya. hanya nama itu yang kini bersarang di ingatanya, setelah aku tanyakan dengan dokter yang menangani Dina waktu itu, dia menanyaiku sesuatu yang memang aku sendiri tidak tau.

“apa sebelumnya Dina pernah mengalami kecelakaan?”. ucap dokter
“saya sendiri tidak tau dok”. jawabku yang benar-benar tidak mengerti tentang itu.
“jika Dina dulu pernah mengalami kecelakaan, mungkin ingatannya sekarang terjebak di masa lalunya, jadi ingatan dia berjalan mundur, dia sudah mulai mengingat lagi, tapi sayangnya bukan yang sekarang yang dia ingat, melainkan masa lalunya?”. penjelasan dari dokter cukup membuatku terkejut, seandainya ini memang benar, aku tidak yakin Dina akan mengingatku lagi, dan saat itulah aku membiarkan apa yang terjadi biar terjadi, karena aku menginginkan kebahagiaan Dina, seharusnya aku yang ada di samping Dina sekarang, bukan masa lalunya, tapi bagaimanapun Dina sedang sakit, tugasku hanya meberinya semangat, walaupun sebenarnya hati dan fikiran saling bentrok. Tidak masalah untukku yang sekarang hanya menjadi teman sementara untuknya, melihatnya tertawa dengan prasetya sudah sangat membuatku bahagia.

“echem..”. lamunanku buyar seketika itu saat pras tiba-tiba menghamipiriku
“ada apa pras, bukannya kamu seharusnya menemaninya makan malam?”. tanyaku yang memulai obrolan saat itu, dan prasetya pun duduk di sebelahku, dia seidikit canggung denganku.
“sudah saatnya kamu bicara yang sebenarnya biyan, bantu Dina untuk mengingatnya kembali saat-saat indah bersamamu, aku tidak bisa membohongi dia lebih lama lagi, aku hanya bagian dari masa lalunya, bukan masa depannya!”.
“tidak pras, aku tidak akan menghancurkan kebahagiaannya, aku sudah memutuskan untuk membatalkan pernikahanku, kebahagiaan Dina lebih penting pras, akan aku lakukan apapun”. jawabku dengan nada lemah, aku yakin di dunia ini takdir semua manusia sudah ditentukan, mencintai bukan harus memiliki, ada cara lain untuk tetap mencintai Dina, yaitu dengan memberi semua impianku untuknya.

“ada apa ini…?”. suara itu mengagetkan kami yang sedang asik mengobrol, kehadiran Dina yang tidak kami ketauhi membuat kami panik saat itu.
“Din, emm, itu sebenarnya”. belum sempat aku dan pras menjelaskan Dina sudah berlari dan kembali ke kamarnya, kami langsung menyusulnya, di dalam semua orang sudah panik, termasuk orangtuaku yang kebetulan juga berada di rumah Dina, berulang kali prasetya mengetuk pintu kamar Dina tidak ada jawaban sama sekali, akhirnya pintu kamar aku putuskan untuk mendobraknya, betapa kagetnya aku saat itu, melihat tubuh Dina yang tergeletak di lantai, kami langusng membawanya ke rumah sakit, berharap ada keajaiban, itu yang terus aku fikirkan, kami semua sangat cemas menunggu kabar dari dokter, aku yang pada saat itu sangat merasa bersalah.

“dok, bagaimana Dina?”. aku langsung menanyakan keadaan Dina setelah dokter keluar dari ruanganya,
“ada sedikit bentrokan di kepalanya, karena saat Dina sadar tadi dia sering mngeluh sakit di kepanya, dia kadang menanyakanmu Biyan, tapi kadang prasetya, ingatannya belum stabil, sekarang dia dalam biusan kami, saya harap ini bisa membantunya tenang!”. setelah dokter menjelaskan keadaan Dina, dokter kembali ke ruanganya, aku sangat lemas mendengar penjelasan dokter, aku sangat merasa kasihan sama Dina, dia merasakan sakit yang terus menerus di kepalanya, mungkin dia berusaha mengingat siapa aku. aku sangat menyesal.
“maafkan aku dina?”. aku memutuskan untuk pulang dan menitipkan Dina pada prasetya, karena jika Dina melihatku nanti dia akan terus merasakan sakit di kepalanya.

2 hari sudah aku tidak menemui Dina, aku bahkan tidak tau kabar dia sekarang, tapi aku tetap mendoakan untuk kesembuhannya, pagi ini aku beberes untuk menyiapkan keberangkatanku ke Surabaya, karena menerima perintah dari atasanku, aku sengaja tidak menemui Dina, karena akan sangat berat untukku meninggalkannya.
“Bi, kamu yakin tidak pamit dulu sama Dina, kalau kamu mau kita bisa bareng kerumahnya nanti, ibu dengar Dina sudah di rumah keadaanya mulai membaik?”. ucap ibu ku yang sedang membantuku mempersiapkan pakaian.
“tidak usah bu, alhmdulillah keadaan Dina sudah membaik, nanti Biyan nitip sesuatu aja buat Dina, ibu bisa berikan itu nanti saat ingatan Dina sudah kembali”. jawabku yang masih sibuk dengan baju-bajuku, setelah semuanya selesai aku berjalan ke lemari dan mengambil sebuah kotak yang sebenarnya ini sudah aku siapkan untuk Dina, kotak ini untuk hadiah ulang tahunya, tapi karena kejadian itu aku menyimpanya kembali, dan sekarang sudah saatnya aku memberikan hadiah kecil ini. aku menitipkannya untuk di bawa ibu ke rumah Dina.

“Biyan pamit ya bu’… do’akan biyan supaya biyan bisa kembali dengan selamat”. aku mencium ibuku dan memeluknya, selama ini sudah banyak masalah yang aku alami tetapi ibu selalu berada di sampingku, ibu hanya terdiam dan memelukku kembali dengan erat, setelah mobil jemputan dari kantor datang aku langsung pergi meninggalkan ibu dan rumah yang penuh dengan kenangan.

Krriiiinggg… krriiinggg… suara telepon rumah memanggil ibuku yang masih berada di luar rumah yang baru saja melepas kepergianku,
“hallo, tante, ini pras, apa Biyan di rumah?”. tanya prasetya dengan nada tergesa gesa.
“Biyan, baru saja berangkat dia mau ke stasiun pras, dia ada tugas di Surabaya, ada apa ya?”.
“Dina tante, Dina tadi menemukan album foto di bawah tempat tidurnya, dan seketika dia mengingat semua kenangannya dengan Biyan, Biyan harus tau tante, ini kabar yang baik buat mereka”. akhirnya setelah prasetya menceritakan semuanya, mereka langsung menuju ke stasiun untuk mencariku, pada saat itu mungkin mereka telah berfikir terlambat mengejarku, tapi pada saat yang bersamaan mobil kantor yang menjemputku mengalami kebocoran ban, yang membuatku harus menunggu lebih lama.

Sesampainya di stasiun aku mengambil ponselku, ada panggilan tidak terjawab berulang kali dari Dina dan Pras, aku sempat berfikir untuk apa mereka meneleponku sebanyak ini, lalu aku mencoba menghubungi prasetya, aku terus mencoba meneleponnya tapi sama sekali tidak ada jawaban, aku sangat gelisah, aku cemas,

“Biyan pradita…?”.
“iya…?”. aku terkejut dengan apa yang aku lihat, seorang wanita yang sangat manis dan anggun berada tepat di depanku.
“apa dengan cara seperti ini kamu meninggalkan calon istrimu, aku tidak tau Biyan apa yang sebenarnya terjadi, kalau saja aku tidak menemukan album foto kita?”. Dina masih tetap berada di depanku, air matanya mulai membasahi pipi-pipinya, dia memberikan album foto yang berada di tangannya, aku sangat bahagia akhirnya Dian bisa mengingatku kembali, aku melihat dari kejauhan ibu dan pras ikut meneteskan air mata, aku tidak sanggup jika menahan kebahagiaan ini sendiri, aku menghampirinya dan mengusap air matanya.
“aku tau, kamu pasti akan sembuh dan bisa mengingatku lagi, tapi sekarang pulanglah, tunggu aku di rumah, setelah tugas ini selesai aku akan kembali, kita akan menikah, pernikahan yang kamu impikan, aku janji aku akan kembali”. aku memegang erat tangan Dina dan berusaha membuatnya percaya. ibu dan pras menghampiri kami, ibu berusaha membawa Dina pulang, karena jadwal keberangkatan kereta ku yang akan datang sebentar lagi.

“Bi… bawa ini, kamu boleh buka saat sudah berada di dalam kereta, jaga diri baik-baik ya, aku akan menunggu kepulanganmu, we canot be together, but you’re always in my heart for now and forever”. ucap Dina dengan melepas genggaman tangannya, perlahan dia pergi meninggalkanku, ada sedikit rasa kecewa, tapi aku sekarang harus berjuang demi Dina, sesampainya di dalam kereta, aku mnaruh ransel dan koperku, aku hampir lupa dengan surat yang Dina kasih.

for: Biyan pradita
Sungguh kebahagiaan yang tak terkira
Saat kita bisa bersama, Waktu yang berjalan terasa begitu cepat
Rasanya tak ingin segera berpisah… Aku ingin kau selalu ada di sini
Menemani aku di setiap hari-hariku,
Sungguh aku takkan mampu Jika aku harus melihatmu pergi
Walaupun untuk sebuah kewajiban, Tapi hati ini terlalu berat untuk melepaskan
Kau begitu berarti untukku
Karena kau adalah bagian dari hidupku
Aku berjanji akan menjaga cinta ini, Kesetiaan ini selalu untukmu, Kutunggu kepulanganmu sayang.

TAMAT

Cerpen Karangan: Sinta Andriyani
Facebook: Raquell Puu Aurora

Cerpen Cinta Yang Terlupakan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Dinda

Oleh:
Suasana pagi berselimut sejuk. Udara rindang pepohonan selepas menepis embun menyiarkan harum khas pepagian. Awal hari mulai berjalan. Sang kehidupan telah menulis ceritanya kembali. Aku berjalan menyusuri koridor sekolah.

Gadis Cantik dan Pribumi Tampan

Oleh:
“Terimakasih Anda sudah menolong saya” ucap seorang Nona pada pemuda yang sudah menolongnya dari laki-laki hidung belang. Nona cantik berparas khas Negara Kincir Angin, merasa sangat berhutang budi. Karena

Green Tea Latte

Oleh:
Secangkir green tea latte dan dua buah donat dengan topping green tea pun menemani sudut kesendirianku yang mengingatkan aku pada dirimu. Terik cuaca di luar terasa begitu menyengat. Aku

Bukit Bintang

Oleh:
“Kakak kelas sialan. Kenapa MOSnya harus manjat bukit segala sih!” gerutu Aline. Tangannya terus menancapkan tongkatnya ke tanah dan mendaki gunung itu. Peluhnya bercucuran kemana-mana. Sivia yang berada di

Kebahagiaan yang Tak Terduga

Oleh:
Bismillah… Hari pertama kerja mudah-mudahan tidak mengecawakan bos. Demi anak aku harus bekerja keras sendiri, membesarkannya sendiri. Disinilah tempatku bekerja. Resto Xiaoci Taiwanesse, dimana di tempat ini pula aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *