Cinta…

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 22 October 2012

Namanya Hilman Aditya Natria, seseorang yang membuatku jatuh cinta. Dia satu kelas denganku, Jani Rahmania Kiranti. Setiap hari, dia selalu menghampiriku untuk sekedar curhat atau bercerita. Setiap hari, dia selalu menghiburku, bercanda denganku, hingga pulang sekolah pun, aku ditemaninya. Mungkin, karena kebaikannya, aku jatuh… aku jatuh cinta dan takhluk adanya. Dia membuat janntungku semakin berdegup kencang. membuatku semakin malu menatap wajahnya yang keren itu.

Suatu hari, dia mengirimiku SMS, isinya sederhana, hanya menanyakan kabar dan apa yang sedang kulakukan. Segera, aku langsung membalasnya sesuai dengan fakta yang ada, “Aq lgi nulis,nich. Kmu?…” begitulah balasan yang kuketik untuknya. Lalu kutekan tombol “send” di layar hanphone-ku. Akupun menunggu balasannya dengan harapan, dia membalasnya. Jantungku berdetak kenceng sembari menunggu balasannya. Setelah beberapa menit handphonekupun berdering…

“Halo, Jani. Ini aku Hilman…” katanya membuka pembicaraan kami di telefon.
“Eh, i..iya.” aku menjawab telfonnya dengan gugup.
“Lagi nulis apa, nih??…”
“Aku lagi nulis cerpen, sekalian belajar menulis…”
“Oooohh..”
“Oh iya, besok, ada tugas gak?..” Kini, giliran aku yang bertanya padanya. Aku tahu, dia adalah cowok yang paling rajin dikelas kami. Dia juga sering mendapatkan nilai sempurna pada ulangan Kimianya. Hal ini juga yang membuatku suka padanya.
“Ada, yang disuruh membuat tabel tentang masalah sosial dan solusinya…”
“Oh,iya,iya. Yang halaman 24 di buku cetak itu, kan??..”
“Iya..”
“Mmmm… ngomong-ngomong, kamu ini lagi ngapain??..”
“Aku lagi memandangi bintang, nih. Coba deh, kamu keluar, bintangnya cantok, loh…” Akupun langsung menyikap gorden jendela kamarku. Benar, bintangnya indah sekali…
“Iya, kamu bener.”
“Mmmm.. jujur ya… sebernarnya… aku… aku..”
“Aku apa?.”
“Aku suka kamu, Jani.”
“EH?!!!….Aku juga… suka kamu” Akupun terkaget mendengar perkataannya barusan. Dia membuatku semakin malu. Pipiku juga mulai memerah.
“Iya, aku serius.”
“Jadi…?”
“Jadi apa???..”
“Sekarang, kita pacaran?..”
“Kalau kamu mau, ya sudah..”
“Mmmm.. terserah kamu saja.”
“Aku sih, mau… Beneran, ya??..” Katanya antusias. Semoga saja dia benar-benar serius.
“Iya..” jawabku tersenyum.

Esok harinya….
Aku sudah sampai disekolah. Hari ini sungguh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, jauh lebih indah dan berwarna karena kehadiran Hilman… Jantungku langsung berdebar memikirkannya.
“Jani!!..” terdengar suara dibalik badanku. Sepertinya, suara itu tak jauh dari sini. Suara itu begitu akrab ditelingaku. Sepertinya, itu suara Hilman.
“Hilman… Kamu baru sampai?.” Aku kaget begitu berbalik. Ternyata, memang Hilmanlah yang memanggilku.
“Iya, kita ke kelas, yuk!”
“Ayo..” jawabku semangat mendegar ajakannya.

Dikelas kami bercerita banyak hal, kami tertawa bersama, bersenda gurau bersama. Pada malam harinya, dia juga menelfonku. Kami begitu akrab. Kami memang pacaran. Aku jadi semakin menikmati indahnya bercinta dengannya.
Ternyata inilah yang namanya cinta. Ternyata, benar kata orang, cinta memang indah. Lebih indah dari apapun. AKupun mulai mengerti, cinta adalah hal terindah yang Tuhan ciptakan untuk kita semua…. 🙂

Cerpen Karangan: Risti Fauziyah Habibie
Blog: http://mimie97.blogspot.com

Cerpen Cinta… merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Cinta

Oleh:
Sebuah nama yang ada di alam bawah sadarku akhir-akhir ini muncul ke permukaan. Nama seorang wanita yang pernah aku coba untuk dihapus dari memory otakku, kini muncul kembali. Dia

Sekarang Aku Bersamamu

Oleh:
Namaku Nawa, cowok berumur 20 tahun di bulan agustus tahun ini. Saat ini aku tinggal dengan kedua orangtuaku dan adik perempuanku yang cerewet mirip ibu, kadang bikin kesel juga.

Begitulah Rindu

Oleh:
Cinta sejak awal memberi tanda dan —sama-sama sadar. Sama-sama sadar ketika sejak awal cinta timbul dan kobarannya makin besar. Besarnya kobaran itu mulai membakar ketakutan—sama-sama sadar. Sama-sama sadar dan

Kesedihanku

Oleh:
Aku duduk dibangku kelas. Diam membisu seperti biasa. Menatap satu persatu teman yang sedang asyik ngobrol dengan tatapan semu. Biasanya aku, Andika, Ifan, dan Rafli akan bercerita tentang hal-hal

Berlalu Seperti Rintik Hujan

Oleh:
Dalam tubuhku Megalir cinta kita Yang begitu syahdu Mengalun riang gembira Aku menjadi doa bagimu Begitu juga kau Menjadi malam bagiku Dimana aku selalu Bersahaja memikirkan Tubuh-tubuh kita Sajak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *